/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo menggelar Aksi Bersih Saluran Pembawa di kawasan Waduk Cengklik, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (07/10/2020). Kegiatan mebersihkan saluran pembawa dari Waduk Cengklik hingga Bendung Watu Leter tersebut dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegehan Covid-19. Aksi tersebut sebagai rangkaian dari Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA) tahun 2020.

Perlu diingat kembali bahwa keberlanjutan sumber daya air (SDA) bergantung pada ekosistem alami. Alamlah yang menyaring polutan, menangkal banjir dan badai, dan mengelola ketersediaan air. Menjaga air dari sisi kualitas dan kuantitas menjadi kunci untuk keberlangsungan kehidupan.

Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., disela kegiatan turut menyampaikan bahwa aksi bersih saluran pembawa di kawasan Waduk Cengklik tersebut untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan. “Kesadaran dalam hal ini tidak hanya soal memiliki hak untuk menggunakan SDA, tetapi juga tanggung jawab dan kewajiban kita bersama dalam menjaga kelestarian waduk yang ada,” imbuhnya.

Aksi yang bertema Jogo lan Noto Waduk Cengklik tersebut berupa kegiatan membersihkan sedimen pada saluran suplesi guna memperlancar air yang masuk dari Bendungan Watu Leter ke Waduk Cengklik. Dengan begitu, diharapkan volume tampungan waduk dapat bertambah sesuai kapasitas normal tampungan waduk. Acara tersebut juga diikuti oleh berbagai pihak yakni TNI, perwakilan Dinas PUPR Kabupaten Boyolali, kalangan akademisi di perguruan tinggi, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Air merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia, apabila tidak dirawat tentu dampaknya akan sangat besar, bahkan bisa saja menjadi bumerang bagi kita semua. Untuk itu, perawatan waduk yang baik, nantinya akan berdampak pada ketersediaan air yang melimpah bagi masyarakat.

GN-KPA yang bersifat lintas sektor menunjukkan betapa upaya penyelamatan air tidak dapat hanya dikerjakan oleh satu pihak, melainkan membutuhkan upaya bersama dari berbagai pemangku kepentingan. Tak hanya pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah, swasta, akademik, lembaga swadaya masyarakat, serta komunitas perlu bergotong-royong dalam pemeliharaan SDA berkelanjutan. (BBWSBS/Ferri)