BBWS Serayu Opak Segera Lakukan Penanganan Embung Rawa Bendungan


Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak Ditjen SDA Kementerian PUPR akan segera melakukan pekerjaan penanganan secara komprehensif terhadap Embung Rawa Bendungan di Cilacap yang selama ini belum tertangani. Penanganan tersebut akan didahului dengan audit teknis maupun penyusunan masterplan, dan salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi sedimentasi dan tumbuhan eceng gondok yang ada di Rawa Bendungan, sehingga daya tampung airnya dapat ditingkatkan.

Demikian salah satu poin penting yang mengemuka dalam acara Diskusi Penanganan Rawa Bendungan yang diselenggarakan di kantor Dinas PSDA Kabupaten Cilacap, Selasa (10/4).

Kasubbag Barang Milik Negara (BMN) BBWS Serayu Opak Duki Subagyo menjelaskan penanganan tersebut dilakukan mengingat status aset Rawa Bendungan saat ini sudah jelas. “Berawal dari proses revaluasi aset BBWS Serayu Opak bersama dengan Kementerian Keuangan beberapa waktu yang lalu, maka dapat dipastikan bahwa Embung Rawa Bendungan merupakan aset BBWS Serayu Opak. Dan, sehubungan dengan momen Hari Air Dunia (HAD) ke-26 Tahun 2018, maka sebagai langkah awal akan diselenggarakan kegiatan Bersih Rawa Bendungan pada tanggal 18 April mendatang,” paparnya.

Duki menjelaskan, pada saat dibangun, Embung Rawa Bendungan awalnya didesain untuk tujuan konservasi. Jika Rawa Bendungan kering, maka dikhawatirkan sumur-sumur di Cilacap akan ikut kering bahkan terintrusi air laut. Ia mencontohkan pembangunan Embung Tambakboyo di Sleman, DIY. “Sebelum embung tersebut dibangun, kedalaman sumur di area sekitarnya mencapai 15-20 meter, dan setelah Tambakboyo dibangun, maka ketinggian air di sumur mulai naik menjadi hanya sekitar 9-10 meter,” katanya.

Sementara itu, Pejabat Fungsional Teknik Pengairan Madya BBWS Serayu Opak, Sudarto, menjelaskan bahwa luasan awal Rawa Bendungan adalah 110 hektar. “Pada tahun 2012, BBWS Serayu Opak sebenarnya pernah melaksanakan kegiatan pembuatan jalan inspeksi di dekat embung sepanjang 1,5 km, tetapi setelah itu belum ada pekerjaan lagi,” jelasnya.
Sudarto menambahkan, BBWS Serayu Opak akan melakukan audit teknis sebelum melakukan penanganan di Rawa Bendungan. “Akan dilakukan studi, misalnya berapa banyak volume gulma dan eceng gondok yang perlu diangkat,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Plt Kepala Dinas Pengelolaan SDA Cilacap Saeful Hidayat mengapresiasi langkah BBWS Serayu Opak yang banyak melaksanakan pekerjaan pembangunan sumber daya air (SDA) di Kabupaten Cilacap, misalnya penanganan Daerah Irigasi (DI) Serayu dan sungai Kali Yasa. “Dengan adanya komunikasi dan koordinasi, alhamdulillah apa yang menjadi kebutuhan masyarakat secara bertahap mulai dipenuhi,” katanya.

Saeful menambahkan, terkait dengan Rawa Bendungan, pihaknya yakin apabila dikelola dengan baik maka akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, terutama untuk irigasi. “Sebab masih ada area sawah di sekitarnya yang belum terairi irigasi, terutama yang elevasinya tinggi. Kami sudah mencoba rekayasa teknis dengan sistem hidram, tetapi kapasitasnya belum begitu luas. Dengan adanya penanganan Rawa Bendungan ini, maka dapat dimanfaatkan untuk irigasi, air baku, maupun pariwisata,” katanya.(ifn-bbwsso)