HAD Momentum untuk Konservasi Air


Hari Air Dunia (HAD) harus dijadikan momentum untuk menjaga kelestarian air melalui langkah-langkah konvervasi. Di antaranya adalah dengan menanam pohon dan melestarikan sumber-sumber air.

Demikian salah satu hal yang mengemuka dalam Peringatan Hari Air Dunia (HAD) XXVI Tahun 2018 Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dilaksanakan di area Bendung Sapon, Kulon Progo, Rabu (28/3).

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BBWS Serayu Opak Tri Bayu Adji menekankan pentingnya menjaga sumber air, sebab diprediksi pada tahun 2025 Yogyakarta akan kesulitan air. “Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menjadi pemikiran kita bersama,” tegasnya.

Tri Bayu menjelaskan, konservasi air dilakukan dengan cara mengalirkan air. Hal ini dapat dilakukan dengan pembangunan bendungan maupun embung. Dan, dalam skala yang lebih kecil, dilakukan dengan pemasangan pipa untuk mengalirkan air dari rumah ke reservoir (penampungan).

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah menjaga kualitas air. Langkah ini diimplementasikan antara lain dengan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal. “Sehingga sungai kita tidak tercemar,” katanya.

Kepala BBWS Serayu Opak menambahkan, upaya lain untuk menjaga air adalah dengan menanam pohon. Langkah ini dinilai dapat menahan air yang mengalir ke bawah tanah, sehingga air tidak langsung terbuang. “Mari kita menghijaukan lahan dengan tanaman, terutama tanaman buah-buahan. Karena selain dapat menghijaukan, kita juga dapat memetik hasilnya,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Kulon Progo Sutedjo mengatakan, momentum peringatan HAD ke-26 diharapkan mampu memberikan nilai dan manfaat bagi pelestarian air di DIY melalui tata pengaturan air yang baik. Di sisi lain, dalam rangka pelestarian Sumber Daya Air (SDA), para sesepuh dan nenek moyang kita sebenarnya telah memberikan contoh pelestarian air, antara lain untuk tidak sembarangan menebang pohon.

“Ada kebiasaan di mana ketika seseorang menebang pohon, maka si penebang kemudian mengambil cabang pohon dan menanamnya. Ini merupakan edukasi simbolik yang diberikan oleh tetua-tetua kita. Kalau menebang pohon, maka harus mau menanam pohon,” kata Sutedjo.

Kabupaten Kulon Progo, kata Sutedjo, diprediksi akan mengalami pertumbuhan cukup pesat, disebabkan adanya beberapa mega proyek, misalnya pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA), pelabuhan Tanjung Adikarto, penambangan pasir besi maupun pengembangan kawasan industri Sentolo. Tentunya pembangunan ini membutuhkan banyak air baku untuk mendukung aktivitas perekonomian tersebut, sehingga pemenuhannya harus dipikirkan dan direncanakan dengan matang. (ifn/bbwsso)