Puncak Peringatan HAD Digelar di Rawa Pening


Puncak peringatan Hari Air Dunia (HAD) tahun 2018 di Bukit Cinta, Danau Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (7/4) meneguhkan kembali pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga kelestarian alam untuk air.

Meski peringatan HAD dilakukan setiap tanggal 22 Maret, namun momentum ini dimanfaatkan untuk terus mengkampanyekan kepedulian perlindungan tampungan air seperti Sungai, Danau, Embung dan Waduk (SDEW). Masyarakat diingatkan kembali bahwa air tidak bisa tergantikan, air adalah sumber kehidupan.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar dan Balai Wilayah Sungai di berbagai daerah menyelenggarakan kampanye peduli air melalui kegiatan bersih sungai bersama komunitas, tanam pohon di bantaran SDEW, seminar, sosialisasi panen air hujan, pembuatan lubang biopori, lomba daur ulang sampah, lomba karya ilmiah dan lomba menggambar bertemakan HAD.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Imam Santoso mengatakan dipilihnya Danau Rawa Pening sebagai lokasi puncak HAD 2018 merupakan bagian dari kampanye kepada publik bahwa danau yang memberi banyak manfaat ini perlu dijaga bersama kelestariannya.

Dalam acara tersebut juga diisi oleh pembacaan Deklarasi Rawa Pening yang berisi ajakan memperkuat kerjasama dan melibatkan masyarakat dalam kelestarian SDEW. Selain itu juga dilakukan kegiatan tabur sebanyak 26 ribu benih ikan.
Danau Rawa Pening merupakan danau alam di Kabupaten Semarang. Lokasinya berjarak sekitar 40 km ke arah selatan dari Kota Semarang ibukota Provinsi Jawa Tengah.

Keberadaan danau memberikan manfaat bagi masyarakat sebagai sumber air baku, sumber air irigasi lahan pertanian di Daerah Irigasi Tuntang, Glapan, Playaran Buyaran seluas total 20.067 Ha serta menjadi tempat budidaya ikan air tawar warga. Air Danau Rawa Pening juga menjadi sumber pembangkit listrik PLTA Timo sebesar 12 MW dan PLTA Jelok sebesar 20 MW.

Namun meningkatnya jumlah dan luasan eceng gondok mengakibatkan menurunnya fungsi danau dan memberikan tambahan tekanan sedimentasi dan pencemaran. Bahkan pada tahun 2015 menutup hampir 47% dari luasan danau. Pencemaran danau juga disumbang dari limbah deterjen, limbah ternak, dan limbah budidaya ikan yang berasal dari 600 unit keramba ikan.

Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana melakukan pembersihan eceng gondok menggunakan alat seperti berky, truxor, dredger dan tenaga manual. “Saat ini dioperasikan 6 alat berat dengan kemampuan memanen 1 Ha/hari. Tahun ini akan ditambah 2 alat lagi sehingga bisa 1,5 Ha/hari. Progresnya sudah 40% dan ditargetkan tahun ini sudah dapat dibersihkan. Kita harapkan kondisi Danau Rawa Pening menjadi rawa bening,” jelas Imam.
Danau Rawa Pening yang bersih nantinya juga bisa digunakan sebagai lintasan dayung. Sekarang sudah dilakukan ujicoba namun masih terganggu adanya eceng gondok. Sementara untuk mengurangi sedimentasi, dibangun cek dam penahan sedimentasi di daerah hulu sungai. (pu.go.id)