PUPR Targetkan Sungai di Yogyakarta 80 Persen Normal

Salah satu indikator baik buruknya kondisi masyarakat dapat dilihat dari kondisi sungai di wilayahnya. Namun ironisnya, saat ini keadaan sungai begitu memprihatinkan, dan justru dijadikan tempat pembuangan sampah. Lebar sempadan sungai menjadi berkurang karena banyak lahan sungai direbut oleh manusia untuk membangun rumah hingga ke bibir sungai. Kondisi ini mendorong Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak menargetkan sungai-sungai di Yogyakarta dapat ke kondisi 80% normal.

Hal tersebut ditegaskan Kepala BBWS Serayu Opak Tri Bayu Adji saat dirinya menjadi narasumber Sarasehan Peringatan Hari Sungai Nasional pada Sabtu (28/7) di Bantul, Yogyakarta.

“Pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian PUPR melalui kami (BBWS Serayu Opak) bersama pemerintah daerah dan dengan bantuan seluruh masyarakat kami ajak bersama untuk berusaha menjaga dan memelihara sungai, menjadikan sungai 80% normal seperti sedia kala,” ungkap Tri Bayu.

Dirinya menjelaskan, pemeliharaan sungai dapat dilakukan dengan dua cara, pertama secara teknis yaitu dengan melakukan operasi dan pemeliharan pada sempadan sungai dan bendung. Lalu yang kedua secara non-teknis yakni melakukan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di bahu sungai untuk mundur 3-5 meter sehingga memberikan ruang sempadan sebagai tempat air mengalir bilamana terjadi luapan air saat musim penghujan.

Hari Sungai Nasional diperingati setiap tanggal 27 Juli. Pada tahun 2018 ini, para pegiat sungai di Yogyakarta mengusung tema “Sungaiku Martabatku”. Tema tersebut diangkat sebagai bentuk kegelisahan dan hasil temuan di lapangan terkait kondisi sungai yang semakin diabaikan martabatnya. “Sebagaimana diri kita yang tidak ingin dihina, direndahkan martabatnya, sungai pun demikian. Jika sungai bisa bicara, pasti ia akan berteriak, ia tidak ingin dihina, tidak ingin dijadikan tempat pembungan sampah maupun limbah. Maka melalui peringatan Hari Sungai Nasional kali ini kita berniat mengangkat martabat sungai, menghargai sungai seperti menghargai dan menghormati diri kita sendiri,” terang Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) Endang Rohjiani.

Sarasehan Hari Sungai Nasional yang diselenggarakan di Lapangan Mojo Desa Donotirto Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul tersebut berlangsung responsif. Tugiono, pemuda Karang Taruna Desa Argomulyo yang juga bertugas sebagai petugas bendung di Sleman mengutarakan kegelisahanya terkait masih banyaknya warga yang “nongkrong” (buang air besar di sungai) di pinggir sungai serta banyaknya septic-tank warga yang mengucur langsung ke sungai sehingga menyebabkan sungai tercemar. “Pintu bendung pun penuh dengan sampah, sementara peralatan yang ada tidak bisa digunakan untuk mengangkat sampah yang ada di bendung yang setiap hari bertambah jumlahnya,” ungkap Tugiono.

Menanggapi kegelisahan warga, Tri Bayu mengatakan bahwa pihaknya siap membantu. “Laporkan kebutuhan apa yang diperlukan untuk membantu membersihkan sampah yang terkumpul di bendung, karena sebagian bendung di kita memang belum memiliki saringan sampah, jika kewenangan sungai ada di kabupaten nanti akan kami bicarakan lebih lanjut dengan pemerintah kabupaten agar mendapatkan solusi terbaik,” jelasnya. (rfq/ifn)