© 2019 Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

PU-Net
      

Berita SDA

Kumpulan Berita Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Rangkaian HAD XXV BWS Sumatera VI
Rangkaian HAD XXV BWS Sumatera VI

Hari Air Dunia (HAD) atau World Water Day adalah peringatan tahunan yang ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya air bagi kehidupan dan pengelolaan air yang berkelanjutan, sedangkan tema HAD tahun 2017 adalah “ Air dan Air Limbah “.

Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWS) VI Provinsi Jambi dalam peringatan HAD tahun ini  bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jambi, Dinas Pekerjaan Umum  dan Penataan Ruang Provinsi Jambi, Pemerintah Kota Jambi, Dinas Pekerjaan Umum Kota Jambi, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Batanghari, Universitas Negeri Jambi ( UNJA ), Universitas Batanghari ( Unbari ), Satker Pengembangan Sistem PLP Provinsi Jambi serta Gerakan Restorasi Sungai Indonesia 19 Jambi dengan Komunitas Mayarakat Peduli Sungai Jambi.

Adapun acara puncak Hari Air Dunia XXV Provisi Jambi Tahun 2017 dilaksanakan pada Rabu 22 Maret 2017 bertempat di Pintu Air Sungai Tembuku, Kelurahan Kasang, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi.

Acara dimulai dari jam 07.00 WIB diawali dengan penyerahan bibit pohon dan peralatan dilanjutkan dengan aksi besih sungai di 4 titik lokasi sungai Tembuku. Sedangkan acara seremonialnya diawali laporan Ketua Panitia HAD, Andi Sudirman selaku Kepala Balai BWS Sumatera VI Prov. Jambi.

Dalam sambutannya Gubernur Jambi Bapak Zumi Zola ZulKifli. menghimbau kepada masyarakat Provinsi Jambi untuk serta menjaga ketersediaan dan kualitas air, mengingat pentingnya air untuk kehidupan sebagai kebutuhan primer. Setiap tahun kita memperingati Hari Air Dunia, agar kita sadar dan peduli betapa pentingnya air untuk kehidupan. Peringatan Hari Air Dunia memiliki esensi yang ingin disampaikan, bahwa ketersediaan air sangat dibutuhkan, bukan hanya kita tapi untuk cucu kita nantinya. Tantangan kedepan yang menjadi sorotan dan perhatian kita adalah bagaimana kita dapat mengelola sumber air dengan baik, terpadu dan berkelanjutan. Selanjutnya Gubernur Jambi juga menyampaikan, masih banyaknya masyarakat yang belum terpenuhi ketersedian air. Untuk itu, kita harus membuat komitmen bersama dalam menjaga ketersedian air tanah dan menjaga kualitas air, baik dibagian hulu maupun bagian hilir sungai. Gubernur Jambi juga menghimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, khususnya membuang sampah ke sungai. Kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai memberikan dampak pencemaran air, selain itu kegiatan Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI), perambahan hutan di hulu sungai dapat menghancurkan kelestarian sumber air.

Sedangkan Staf Ahli Menteri PU-PR Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan Bapak Khalawi Abdul Hamid, dalam sambutannya mengatakan untuk menjaga air, baik dari kualitas maupun dari kuantitas, ada beberapa langkah yang harus dilakukakan, antara lain membangun bendungan untuk restorasi air baku, meningkatkan peran masyarakat dalam menjaga, dan meningkatkan sarana dan prasarana air limbah, serta meningkatkan kelembagaan untuk pengelolaan air yang lebih baik lagi.

Selanjutnya Staf Ahli Menteri PU-PR Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan menyampaikan bahwa “Pencemaran air lebih banyak berasal dari limbah rumah tangga. Peran masyarakat sangat penting dalam menjaga air ini. Dengan mulai banyaknya komunitas pecinta sungai belakang ini, sangat membantu dalam memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah dan limbah ke sungai”, ujar Khalawi.

Pada acara tersebut juga dilakukan penyerahan Plakat Piagam Penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Jambi, , Pemerintah Kota Jambi, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Batanghari, Universitas Negeri Jambi (UNJA), Universitas Batanghari (Unbari), dan Gerakan Restorasi Sungai Indonesia 19 Jambi dengan Komunitas Mayarakat Peduli Sungai Jambi, juga penyerahan Piagam Penghargaan kepada Asosiasi penyedia Jasa Konstruksi dan Jasa Konsultasi atas partisipasi dalam penyelenggaraan Hari Air Dunia XXV Provinsi Jambi Tahun 2017.

 

Ada 4 ( Empat ) Kegiatan/aksi untuk  memperingati HAD Provinsi Jambi tahun 2017 yaitu :

  1. Aksi peduli sungai

Aksi peduli sungai berupa aksi membersihkan sungai Tembuku Kota Jambi di 4 titik lokasi pada hari Rabu 22 Maret 2017, dilakukan oleh semua peserta aksi BWS S VI, Pemerintah Kota Jambi, Komunitas Masyarakat Peduli Sungai dan GRSI 19 Jambi serta Masyarakat setempat.

  1. Kampanye Hari Air Dunia

Aksi Kampanye ini dilakukan sendiri oleh Gubernur Jambi Bapak Zumi Zola Zulkifli, S.TP. MA. bersama Staf Ahli Menteri PU-PR Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan Bapak Ir. Khalawi Abdul Hamid, M.Sc. MM. Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera VI, Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Jambi dan Kota Jambi serta dimeriahkan Anak-anak Duta Sanitasi dari Satker Pengembangan Sistem PLP Provinsi Jambi berjalan kaki. Aksi kampanye dilakukan dengan membagikan ke warga kaos HAD, tempat sampah, merc­­­­­­­handise berupa PIN, Stiker, Totebag dan Tumblr bertema HARI AIR DUNIA.

  1. Aksi Menanam Pohon

Aksi ini dilakukan selama 2 hari pada tanggal 21 dan 22 Maret 2017 berlokasi disepanjang sungai Tembuku berawal dari pintu air ke arah hilir sungai sebanyak 1000 pohon. Pada tanggal 21 Maret 2017 penanaman pohon dilakukan oleh karyawan dan karyawati BWS Sumatera VI dan tanggal 22 Maret 2017 dilakukan oleh Staf Ahli Menteri PU-PR Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan Khalawi Abdul Hamid bersama Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli, serta peserta aksi lainnya.

  1. Lomba Fotografi

Lomba Fotografi dalam rangka HAD tahun 2017 bertemakan “ Air dan Air Limbah” pendaftaran peserta dari tanggal 8 Maret 2017 dan ditutup tanggal 20 Maret 2017. Lomba fotografi ini merebutkan hadiah Juara I Piala + Piagam + Uang Pembinaan 4 juta rupiah, Juara II Piala + Piagam + Uang Pembinaan 3 juta rupiah, Juara III Piala + Piagam + Uang Pembinaan 2 juta rupiah, Juara Harapan I Piagam + Uang Pembinaan 1 juta rupiah, Juara Harapan II dan III masing mendapat Piagam dan Uang Pembinaan 500 ribu rupiah. Sampai dengan batas akhir pendaftaran sebanyak 39 orang yang mendaftar dengan 83 buah foto. Pada tanggal 21 Maret dilakukan penilaian dan pemberitahuan pemenang lewat email. Penyerahan hadiah dilakukan pada acara puncak HAD tanggal 22 Maret 2017 bertempat di Pintu Air Sungai Tembuku.

24 Maret 2017 Selengkapnya

Bersihkan Sungai dari Limbah, BWS Kalimantan II Gelar Lomba Angkat Lumpur dan Sampah
Bersihkan Sungai dari Limbah, BWS Kalimantan II Gelar Lomba Angkat Lumpur dan Sampah

 

Hari Air Dunia (HAD) atau World Water Day yang diperingati pada tanggal 22 Maret adalah perayaan tahunan yang ditujukan untuk mengedukasi masyarakat dunia akan pentingnya air bagi kehidupan dan pengelolaan air yang berkelanjutan. Pada tahun 2017, HAD mengambil tema “Air dan Air Limbah”. Peringatan ini menjadi momentum bagi seluruh masyarakat dunia untuk bekerja sama menjaga kualitas dan kuantitas air demi keberlangsungan hidup di masa depan. Di Indonesia sebagai negara maritim, persoalan ketersediaan air bersih dan degradasi kualitas air akibat pencemaran limbah masih menjadi tantangan untuk diatasi. Terlebih dengan pertumbuhan prosentase penduduk yang semakin tinggi terutama di kawasan perkotaan yang kini menjadi tempat tinggal 53% penduduk, berdampak langsung meningkatnya kebutuhan air bersih dan lingkungan permukiman yang lebih sehat.

 

Untuk lebih menggemakan peringatan Hari Air Dunia di daerah-daerah, Kementerian PUPR melalui Balai di lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dan Satuan Kerja di daerah melaksanakan berbagai kegiatan antara lain susur dan bersih sungai, penanaman pohon di situ, embung dan waduk, lomba daur ulang sampah rumah tangga, edukasi kali bersih untuk usia dini, pembersihan saluran drainase dan pembentukan gerakan masyarakat peduli sungai. Beberapa aksi nyata tersebut juga diselenggarakan oleh BWS Kalimantan II, seperti penanaman 1000 pohon, pemberian 100 tong sampah ke 10 sekolah dasar, dan lomba angkat lumpur dan sampah di sungai.

 

Lomba angkat lumpur dan sampah merupakan acara puncak yang dilaksanakan oleh BWS Kalimantan II dalam memperingati HAD XXV. Kegiatan yang dilaksanakan pada 22 Maret 2017 ini berlokasi di Ruas Sungai Teluk Dalam, Jl Mayjen Sutoyo, Banjarmasin. Lomba angkat lumpur dan sampah ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat masyarakat untuk menyelamatkan sungai dengan membiasakan diri mengelola sampah dengan baik, dan tidak membuang sampah sembarangan terutama ke sungai.

 

Lomba ini turut melibatkan pelajar, mahasiswa, komunitas peduli sungai, dan masyarakat sekitar Banjarmasin. “Ada 40 kelompok yang turut berpartisipasi dengan jumlah anggota masing-masing kelompok 10 orang. Harapannya, mereka akan semakin termotivasi untuk memulihkan kondisi daerah aliran sungai, sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk lebih aktif merawat kebersihan dan kelestarian sungai”, tutur Kepala Pusat Air Tanah dan Air Baku Dwi Sugiyanto yang hadir dalam pembukaan lomba tersebut.

 

Dwi menambahkan bahwa Direktorat Jenderal Sumber Daya Air telah menggandeng beragam komunitas masyarakat yang berada di kawasan sungai agar bisa membangkitkan rasa peduli terhadap sungainya melalui aktivitas seperti pembersihan sungai dari sampah. Berbagai komunitas ini nantinya juga berperan penting membantu pemerintah dalam membangun fasilitas sanitasi yang baik bagi masyarakat. (dro kompuSDA)

 

23 Maret 2017 Selengkapnya

HAD 2017, TINGKATKAN KOORDINASI DENGAN BERBAGAI PIHAK
HAD 2017, TINGKATKAN KOORDINASI DENGAN BERBAGAI PIHAK

Indonesia mempunyai potensi sumber daya air sebesar 3.906,5 miliar m3/tahun dan potensi  air di tiap-tiap wilayah berbeda-beda seperti di Sumatera 841 miliar m3, Jawa 164 miliar m3, Maluku 177 miliar m3 dan Papua 1.602 miliar m3. Hal tersebut mengakibatkan sebagian wilayah ada yang kekurangan air dan ada yang kelebihan air.

“Pengelolaan sumber daya air harus dikelola secara berkelanjutan untuk menjamin pembangunan infrastruktur sumber daya air yang dapat digunakan oleh generasi yang akan datang. Guna mengoptimalkan kebutuhan air bagi masyarakat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR terus melakukan pembangunan 65 bendungan yang secara keseluruhan ditargetkan selesai tahun 2020, rehabilitasi 3 juta ha lahan irigasi, pembangunan 1 juta ha lahan irigasi baru, hingga pembersihan sungai dan pembangunan/peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan air baku sebesar 67,52 m3/dtk. Hal tersebut dilakukan untuk mewujudkan Nawacita Pemerintahan Jokowi-JK yaitu Ketahan Pangan,”kata Lolly Martina Martief, Sekretaris Direktorat Jenderal SDA selaku Ketua Umum Tim Pelaksana Panitia Nasional Hari Air Dunia Tahun 2016-2020, dalam acara Bingkai Inspirasi Kompas TV, di Jakarta (220317).

Lolly mengatakan pengelolaan sumber daya air membutuhkan perhatian semua pihak karena saat ini kualitas air sudah sangat menurun. Salah satunya disebabkan oleh air limbah. Air limbah yang tidak dikelola dengan baik akan memiliki dampak negatif.  Air limbah khususnya air limbah domestik yang tidak terolah merupakan penyumbang terbesar pencemaran air permukaan (termasuk di dalamnya sungai, danau, waduk dan bendungan) dan air tanah, contohnya hasil pemantauan terhadap air sumur di DKI Jakarta oleh BPHLD DKI Jakarta tahun 2014, yang menunjukkan bahwa 80-90 persen air tanah di DKI Jakarta tercemar bakteri E. Coli. Sedangkan sumber air baku untuk air minum di Indonesia sangat bergantung pada air permukaan dan kedepannya mayoritas air minum kita masih bersumber pada air tanah (bukan jaringan perpipaan).

“Untuk itu dalam rangka Hari Air Dunia tahun 2017 dengan tema Air dan Air Limbah, saya mengharapkan agar masyarakat baik sebagai bagian dari sumber pencemar maupun masyarakat sebagai pihak yang berhak atas kualitas air yang baik, dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga kualitas air. Dan untuk pemerintah, pemerintah daerah dan pemerintah kabupaten/kota perlu melakukan pembinaan dan pendampingan masyarakat yang bertujuan untuk membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya industri dan bersanitasi secara sehat,”jelas Lolly.

Menurut Lolly , sebenarnya selama ini Direktorat Jenderal SDA Kementerian PUPR sudah berkolaborasi dengan pihak lain diantaranya penyediaan infrastruktur air bersih khususnya SPAM, kerjasama antara pemerintah dengan Badan Usaha; penyediaan infrastruktur SPAM Umbulan Jawa Timur, proyek kerjasama yang dilakukan pemerintah dengan badan usaha untuk penyaluran air baku untuk melayani + 1.3 juta jiwa dan pengembangan SPAM Karian yang direncanakan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih Provinsi Banten dan DKI.

Aksi Daerah

Peringatan Hari Air Dunia tahun ini lebih difokuskan pada aksi daerah yang dilakukan oleh BBWS dan BWS di lingkungan Direktorat Jenderal SDA. Kegiatan aksi daerah diantaranya bersih sungai dan pantai, kampanye publik,  seminar, dialog nasional dan penanaman pohon.

“Selama ini kami menginginkan agar  BBWS dan BWS dapat melakukan aksi nyata di daerah dengan melibatkan pemerintah daerah dan komunitas air setempat. Hal tersebut bertujuan untuk menggugah kepedulian masyarakat akan pentingnya air bagi kehidupan dan memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuang limbah rumah tangga dan industri di sumber air sehingga dapat mengurangi pencemaran air. Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah yang dioperasikan dan dipelihara dengan baik mampu menghilangkan substansi beracun dari air yang tercemar,” kata Lolly Martina Martief dalam wawancaranya dengan Jaringan Internasional VOI RRI melalui sambungan telepon, di Jakarta (220317).

Lolly juga menjelaskan Direktorat Jendral SDA dalam usahanya memberikan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat selain melibatkan komunitas, juga dengan melibatkan Gerakan Cinta Operasi dan Pemeliharaan (CINOP).

Gerakan CINOP ini menyadarkan masyarakat terutama para petani untuk melakuan operasi dan pemeliharaan terhadap saluran irigasi setempat, sehingga saluran irigasi tersebut dapat memberikan manfaat yang tahan lama dan meningkatkan produktivitas pertanian. (tin/nan kompuSDA)

23 Maret 2017 Selengkapnya

Aksi Bersih Sungai Dalam Peringatan HAD XXV 2017
Aksi Bersih Sungai Dalam Peringatan HAD XXV 2017

Dalam rangka memperingati Hari Air Dunia ke-XXV tahun 2017, Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air (SDA) melalui Balai Besar /Balai Wilayah Sungai (BBWS/BWS) secara serentak melakukan berbagai aksi nyata di 34 provinsi di Indonesia. Salah satunya adalah gerakan bersih sungai yang dilaksanakan BBWS Mesuji Sekampung, Lampung.

“Kegiatan hari ini berupa aksi bersih sungai bersama komunitas peduli sungai, masyarakat sekitar, TNI dan tim dari BBWS maupun dari pemerintah kota yang dilakukan di tiga sungai yaitu Way Sukamaju, Way Kuripan dan Way Bakau. Selain itu juga penyerahan alat kebersihan kepada komunitas-komunitas peduli sungai, serta aksi identifikasi pencemaran air di lima sungai,” jelas Syafruddin, Kepala BBWS Mesuji Sekampung, dalam sambutannya pada acara seremoni Gerakan Masyarakat Peduli Sungai di Kecamatan Panjang, Bandar Lampung (21/3).

Sesuai dengan tema Hari Air Dunia tahun ini yaitu “Air dan Air Limbah”, lebih lanjut Syafruddin menerangkan bahwa sungai merupakan sumber kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang dalam perkembangannya menjadi salah satu badan air yang terkena pencemaran dari berbagai kegiatan rumah tangga, industri dan pertanian.

“Untuk itu, aksi bersih sungai ini dilakukan sebagai langkah-langkah peningkatan kesadaran kepada masyarakat bahwa sungai harus dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk air bersih sesuai dengan peraturan yang berlaku.”

Dalam acara yang juga dihadiri oleh pemerintah daerah, dinas, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat setempat dan komunitas peduli sungai, Syafruddin mengharapkan terjalin koordinasi dan kerja sama dengan semua pihak tersebut untuk mengawasi, melindungi serta menjaga kualitas air sungai dengan meningkatkan sinergitas seluruh pihak.

Terutama dengan hadirnya komunitas-komunitas peduli sungai dalam acara yang berlangsung di bantaran Sungai Kuripan ini, Kepala BBWS Mesuji Sekampung berharap komunitas dapat menjadi motor penggerak di wilayahnya dalam hal menjaga kualitas air sungai dan meningkatkan kepedulian masyarakat akan kondisi sungai di sekitar tempat tinggalnya.

“Aksi bersih sungai diharapkan dapat menjadi agenda rutin bersama dengan masyarakat di sekitar sungai,” sebut Syafruddin. Ditambahkan juga oleh Syafruddin bahwa Komunitas Masyarakat Peduli Sungai Way Kuripan telah aktif berdiri selama kurang lebih tiga tahun, dan termasuk ke dalam sepuluh besar komunitas peduli sungai terbaik yang dibina oleh Ditjen SDA.

Atas kepeduliannya terhadap sungai di Kota Lampung, terutama Sungai Kuripan, Komunitas Masyarakat Peduli Sungai Kuripan dijadikan percontohan untuk pembentukan komunitas peduli sungai lainnya di Kota Lampung. “Pada tanggal 14 Maret 2017 dibentuk komunitas peduli sungai lainnya, yakni Komunitas Way Sukamaju, Way Boko dan Way Keteguhan,” jelas Syafruddin.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia HAD tahun 2017 di BBWS Mesuji Sekampung, Mirza Nirwansyah, menjelaskan bahwa rangkaian acara Hari Air Dunia di Lampung telah dimulai sejak tanggal 1 Maret, diantaranya yaitu Lomba Poster Hari Air Dunia, Fasilitasi Pembentukan Komunitas Peduli Sungai, Bakti Sosial berupa donor darah, Gerakan Bersih Sungai dan diakhiri dengan Workshop Pengelolaan Air dan Air Limbah Berkelanjutan yang berisi talkshow media televisi, diskusi panel dan pengumuman pemenang lomba. (ech/kty KompuSDA)

22 Maret 2017 Selengkapnya

Peringati Hari Air Dunia, Kementerian PUPR Gandeng Masyarakat untuk Peduli Air
Peringati Hari Air Dunia, Kementerian PUPR Gandeng Masyarakat untuk Peduli Air

Hari Air Dunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret  menjadi sebuah momentum bagi seluruh warga dunia untuk saling bekerja sama menjaga kualitas dan kuantitas air demi keberlangsungan hidup di masa depan. Indonesia sebagai negara maritim pun, masih memiliki berbagai persoalan yang perlu diselesaikan terkait air bersih, di tengah meningkatnya jumlah penduduk Indonesia serta ancaman krisis lingkungan hidup.

 

"Berbicara air bersih, tentunya ini menyangkut dua hal, terkait dengan kualitas dan kuantitas air bersih. Sehingga, untuk memahami pokok persoalan kita harus melihat dari dua hal itu terlebih dahulu," ujar Imam Santoso selaku Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), saat ditemui wartawan Kompas di ruang kerjanya, (20/3/2017).

 

Dari segi kuantitas, Imam menjelaskan bahwa Indonesia memiliki volume sumber daya air sebesar 3,9 triliun meter kubik per tahun. Sedangkan yang potensial untuk dimanfaatkan bagi kehidupan masyarakat, berkisar 691 miliar meter kubik per tahun. 

 

"Indonesia saat ini sudah memanfaatkan sekitar 175 miliar meter kubik air per tahun. Sementara sisanya sekitar 516 miliar meter kubik air yang potensial belum dimanfaatkan secara maksimal. Sisanya ini yang akan kami optimalkan," jelasnya.

 

Imam memaparkan bahwa untuk mengoptimalkan kebutuhan air bagi masyarakat, Kementerian PUPR terus meningkatkan kuantitas air melalui pembangunan 65 bendungan yang ditargetkan selesai keseluruhan pada tahun 2021, rehabilitasi 3 juta hektar lahan irigasi, pembangunan 1 juta hektar lahan irigasi baru, hingga pembersihan sungai. 

 

"Optimalisasi potensi air saat ini juga menjadi bagian untuk mewujudkan Nawacita pemerintahan Jokowi-JK, yang salah satunya memuat isu ketahanan pangan," papar Imam.

 

Selain menunjang ketahanan pangan, peningkatan kuantitas air juga demi memenuhi aspek kebutuhan manusia lainnya seperti kebutuhan air rumah tangga (domestik), perkotaan (municipal), dan kegiatan industri (industrial).

 

Sementara, dari sisi kualitas, Imam mengakui bahwa sebagian besar air yang bisa dimanfaatkan berkualitas buruk. Hal itu dikarenakan adanya limbah serta kerusakan tanah sebagai resapan air akibat alih fungsi lahan oleh masyarakat.

 

"Jadi, misalnya saja begitu hujan, hutan yang awalnya lebat kemudian mengalami alih fungsi lahan itu bisa menimbulkan erosi tanah yang nantinya bisa membuat daerah aliran sungai (DAS) menjadi jelek, terbatas daya tampungnya, air pun akan menjadi kotor," jelasnya.

 

Kekuatan Masyarakat

 

Menurut Imam, paradigma lama masyarakat Indonesia yang memandang bahwa sungai sebagai tempat sampah harus diubah dengan menjadikan sungai sebagai teman hidup yang perlu dilestarikan. Oleh karena itu, pada momentum Hari Air Sedunia ini, Kementerian PUPR menjalin kerja sama dengan masyarakat sebagai kekuatan tersendiri dalam pemberdayaan pengelolaan air.

 

"Kami memanfaatkan momentum ini untuk mengajak masyarakat lebih menjaga sumber airnya, mencintai sungainya lewat beragam aktivitas yang melibat berbagai komunitas-komuntas yang ada di masyarakat," tuturnya.

 

Kementerian PUPR telah menggandeng beragam komunitas masyarakat yang berada di kawasan sungai agar bisa membangkitkan rasa peduli terhadap sungainya melalui aktivitas seperti pembersihan sungai dari sampah. Komunitas ini nantinya juga berperan penting membantu pemerintah dalam membangun fasilitas sanitasi yang baik bagi masyarakat.

 

Imam juga menegaskan bahwa pihaknya akan memperkuat pengawasan terhadap pelaku industri agar tidak sembarangan membuang limbah di aliran sungai. Meskipun Indonesia telah memiliki sejumlah instalasi pengolahan limbah, ia tetap berharap masyarakat untuk aktif melaporkan ke balai wilayah sungai dan pemerintah daerah jika menemukan pelaku-pelaku industri yang nakal dalam pembuangan limbahnya. 

 

Sementara, di sisi lain Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Air selaku Ketua Umum Tim Pelaksana Panitia Nasional Hari Air Dunia Tahun 2016-2020, Lolly Martina Martief juga menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan sosialisasi terhadap mahasiswa di perguruan tinggi dan siswa-siswi di tingkat SD, SMP, dan SMA.

 

"Sosialisasi untuk anak-anak muda tentunya dikemas secara menarik, seperti lewat lomba melukis, sampai perlombaan ilmiah yang melibatkan berbagai kelompok ilmiah remaja di sekolah-sekolah," ungkap Lolly.

 

Lolly menuturkan, Kementerian PUPR juga akan menggelar aksi simpatik lainnya seperti jalan sehat dan kampanye publik bekerja sama dengan media-media nasional. Tak ketinggalan, ibu-ibu rumah tangga, para pelaku industri rumahan (home industry) hingga pelaku industri besar juga menjadi sasaran sosialisasi.


"Ini menjadi cara kita untuk mengingatkan bahwa urusan air bersih bukan urusan pemerintah saja, tetapi urusan bersama, dan menjadi tanggung jawab bersama," pungkas Lolly. (KompuSDA,Kompas)

 

22 Maret 2017 Selengkapnya

HAD 2017 SADARKAN KITA UNTUK KELOLA AIR SECARA BERKELANJUTAN
HAD 2017 SADARKAN KITA UNTUK KELOLA AIR SECARA BERKELANJUTAN

 

HAD 2017 SADARKAN KITA UNTUK KELOLA AIR SECARA BERKELANJUTAN

Hari Air Dunia selalu diperingati setiap tanggal 22 Maret setiap tahunnya dengan tema-tema khusus dengan tujuan untuk meningkatkan perhatian publik akan pentingnya air dan menyadarkan kita untuk mengelola sumber-sumber air yang lebih baik dan berkelanjutan.

Untuk tema Hari Air Dunia ke-25 tahun 2017 adalah Air dan Air Limbah. Hal ini dimaksudkan untu mengajak kita semua memperhatikan keterkaitan antara pemenuhan kebutuhan air dan manajemen air limbah dalam rangka pembangunan berkelanjutan. Selain itu, apabila masyarakat dari semua kalangan unsur dan profesi semakin sadar akan manfaat pengaturan air limbah yang baik.

“Dalam rangka membangun awareness masyarakat terhadap air dan air limbah, Kementerian PUPR secara struktural melaksanakan beberapa kegiatan salah satunya yaitu melakukan pembangunan tampungan berupa bendungan/embung dan SPAM Regional. Sedangkan secara non struktural, masing-masing BBWS/BWS melakukan aksi daerah seperti melakukan kegiatan bersih-bersih sungai dan pantai, penanaman pohon, bekerjasama dengan komunitas bidang sumber daya air dan masyarakat setempat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sehingga tampungan yang sudah ada dapat dipelihara dengan baik dan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk masyarakat,” jelas Lolly Martina Martief, Sekretaris Direktorat Jenderal SDA selaku Ketua Umum Tim Pelaksana Panitia Nasional Hari Air Dunia Tahun 2016-2020 pada acara Penanaman Pohon di Situ Lido dalam rangka memperingati HAD tahun 2017, di Bogor (210317). Turut dihadiri oleh Kepala BBWS Ciliwung Cisadane, T. Iskandar, Bupati Bogor, Nuryanti, DPRD kabupaten bogor, para SKPD kabupaten bogor, kepala balai PSDA kebupaten bogor, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat peduli Situ Kabupaten Bogor dan masyarakat setempat.

21 Maret 2017 Selengkapnya

BWS Kalimantan II Edukasi Siswa SD Untuk Kelola Sampah
BWS Kalimantan II Edukasi Siswa SD Untuk Kelola Sampah

 

Hari Air Dunia (HAD) atau World Water Day adalah perayaan tahunan yang ditujukan untuk mengedukasi masyarakat dunia akan pentingnya air bagi kehidupan dan pengelolaan air yang berkelanjutan. Tahun 2017, yang merupakan tahun peringatan Hari Air Dunia ke-25 memiliki tema “Air dan Air Limbah”. Melalui tema ini, setiap orang diberikan kesempatan untuk berperan menyelamatkan air dari limbah industri dan rumah tangga sebagai upaya untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

 

Dalam peringatan HAD XXV tahun 2017, Kementerian PUPR melaksanakan berbagai aksi nyata untuk meningkatkan kepedulian para pemangku kepentingan dan masyarakat, terkait pencegahan dan penanggulangan pencemaran akibat limbah ke sumber air.  Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR melalui seluruh BBWS/BWS se-Indonesia melaksanakan berbagai rangkaian Gerakan Aksi Daerah antara lain kegiatan susur dan bersih sungai, penanaman pohon, lomba daur ulang sampah rumah tangga, edukasi kali bersih untuk usia dini, pembersihan saluran drainase dan pembentukan gerakan masyarakat peduli sungai.

 

BWS Kalimantan II pun turut ambil bagian dalam penyelenggaraan aksi nyata pada peringatan HAD XXV, satu diantaranya adalah kegiatan Penyerahan 10 Tong Sampah untuk 10 Sekolah Dasar Negeri yang ada di Banjarmasin. “Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi dan menanamkan budaya akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dari sampah kepada anak-anak sekolah,” terang Edi Suwandi selaku Ketua Panitia Peringatan HAD XXV di Banjarmasin. Sekolah-sekolah tersebut diantaranya SDN Telaga Biru 5, SDN Basirih 6, SDN Kelayan Timur 12, SDN Sungai Lulut 7, SDN Benua Anyar 4, SDN Sungai Jingah 1, SDN Pangeran 2, SDN Telaga Biru 10, SDN Negeri Telaga Biru 6, dan SDN Pelambuan 2.

 

Pemilihan kesepuluh sekolah tersebut telah melalui survei yang dilakukan oleh panitia HAD XXV BWS Kalimantan II. Menurut tim survei, masih banyak Sekolah Dasar di Banjarmasin yang belum memiliki fasilitas kebersihan yang memadai, terutama tempat sampah. Kegiatan edukasi ini perlu mendapatkan dukungan penuh dari pihak sekolah, orang tua dan masyarakat agar selalu mengajarkan budaya hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya pada anak-anak sejak dini. Dengan demikian, anak-anak tersebut akan terbiasa untuk tidak membuang sampah ke sungai yang nantinya bisa mencemari sungai tersebut, apalagi Banjarmasin merupakan kota yang memiliki julukan Kota Wisata Sungai. “Tiap pagi, kami selalu menyapu ruangan kelas dan memunguti sampah yang ada di sekitaran sekolah. Kami tidak mau sungai yang ada di belakang sekolah menjadi semakin tercemar karena sampah,” ujar Dina siswi kelas VI SDN Benua Anyar 4. (dro kompuSDA)

 

21 Maret 2017 Selengkapnya

Tanam 1000 Pohon, BWS Kalimantan II Lestarikan Taman Hutan Rakyat
Tanam 1000 Pohon, BWS Kalimantan II Lestarikan Taman Hutan Rakyat

 

Hari Air Dunia (HAD) atau World Water Day yang diperingati pada tanggal 22 Maret adalah perayaan tahunan yang ditujukan untuk mengedukasi masyarakat dunia akan pentingnya air bagi kehidupan dan pengelolaan air yang berkelanjutan. Pada tahun 2017 HAD mengambil tema “Air dan Air Limbah”. Peringatan ini menjadi momentum bagi seluruh masyarakat dunia untuk bekerja sama menjaga kualitas dan kuantitas air demi keberlangsungan hidup di masa depan. Di Indonesia sebagai negara maritim, persoalan ketersediaan air bersih dan degradasi kualitas air akibat pencemaran limbah masih menjadi tantangan untuk diatasi. Terlebih dengan pertumbuhan prosentase penduduk yang semakin tinggi terutama di kawasan perkotaan yang kini menjadi tempat tinggal 53% penduduk, berdampak langsung meningkatnya kebutuhan air bersih dan lingkungan permukiman yang lebih sehat.

 

Dalam peringatan HAD XXV tahun 2017, Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melaksanakan berbagai aksi nyata untuk meningkatkan kepedulian para pemangku kepentingan dan masyarakat, terkait pencegahan dan penanggulangan pencemaran akibat limbah ke sumber air, diantaranya kegiatan susur dan bersih sungai, penanaman pohon, lomba daur ulang sampah rumah tangga, edukasi kali bersih untuk usia dini, pembersihan saluran drainase dan pembentukan gerakan masyarakat peduli sungai.

 

Salah satu aksi nyata yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II adalah penanaman 1000 pohon di Taman Hutan Rakyat Sultan Adam Mandiangin, Banjarmasin. Kegiatan yang dilakukan pada 19 Maret 2016 ini merupakan satu dari rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh BWS Kalimantan II dalam memperingati HAD ke-25. Gerakan penanaman pohon ini merupakan upaya nyata untuk memulihkan kondisi daerah aliran sungai, sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk lebih aktif menanam pohon dan merawatnya. Selain itu, aksi nyata ini juga bertujuan untuk meningkatkan luasan dan kualitas ruang terbuka hijau sebagai fungsi esensial ekologis.

 

Kepala BWS Kalimantan II Wahyu Nugroho mengatakan bahwa penanaman 1000 pohon meranti dan mahoni di lokasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya hutan, tanah dan air untuk mendukung keberlangsungan hidup masyarakat. Aksi nyata penanaman pohon tersebut merupakan kerjasama BWS Kalimantan II dengan Pemerintah Kabupaten Banjar, Danrem 101 (Antasari), Dandim 1006 (Martapura), Polres Banjar, Dinas PU Provinsi Kalimantan Selatan, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, Satuan Kerja Cipta Karya Provinsi Kalimantan Selatan, PDAM Banjarmasin, Komunitas Peduli Sungai (MELINGAI Banjarmasin) dan Tahura Sultan Adam. (dro kompuSDA)

 

21 Maret 2017 Selengkapnya

Penanaman Pohon Guna Menyelamatkan Air
Penanaman Pohon Guna Menyelamatkan Air

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I melakukan kegiatan Penanaman Pohon  yang merupakan kegitan lanjutan dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Air Dunia ke XXV. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari minggu tanggal 19 Maret 2017 bertempat di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Titi Panyang Gampong Tibang Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh.

“Kegiatan penanaman pohon ini juga merupakan Komitmen Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam mensukseskan revitalisasi GN-KPA (Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air) yang merupakan kegiatan wajib BWS Sumatera I yang dilaksanakan rutin setiap tahunnya sesuai kebutuhan” terang Asyari, Ketua Panitia penamaman pohon RTH Titi Panyang Gampong Tibang.

Dalam sambutannya Walikota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal menerangkan bahwa pengelolaan air limbah saat ini sedang diperjuangkan untuk mewujudkan Banda Aceh Green City. “Hijau bukan berbicara hanya pohon saja tetapi juga berbicara mengenai air , sanitasi dan lingkungan. Dengan lingkungan yang terjaga, sanitasi baik dan pohon terawat maka air tanah juga akan baik dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan,” ucap Illiza.

Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon secara simbolis oleh Illiza Sa'aduddin Djamal didampingi oleh Kepala BWS Sumatera I, Maksal Saputra untuk menandai dimulainya kegiatan penanaman pohon.  

Acara ini dihadiri oleh Walikota Banda Aceh, Sekda Aceh,Perwakilan dari Universitas Syiah Kuala, Perwakilan dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Unsur Muspika dan Muspida Aceh, Ketua GN-KPA, BAPPEDA, Mahasiswa dan anggota GN-KPA Provinsi Aceh.

Adapun pohon yang akan ditanam berjumlah 500 batang terdiri dari pohon cemara sejumlah 400 batang dan pohon ketapang laut sejumlah 100 batang. Benih pohon berasal dari Balai Pengelolaan DAS (BP-DAS) Krueng Aceh Provinsi Aceh. (sisdaBWSSum-I/kompuSDA)

20 Maret 2017 Selengkapnya

Hari Air Dunia 2017, Pentingnya Menjaga Air
Hari Air Dunia 2017, Pentingnya Menjaga Air

Hari Air Dunia (HAD) atau World Water Day adalah peringatan tahunan yang ditujukan untuk menarik perhatian masyarakat dunia akan pentingnya air bagi kehidupan dan pengelolaan air yang berkelanjutan.

Hari Air Dunia pertama kali dicetuskan oleh United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) oleh PBB di Rio de Janeiro – Brasil tahun 1992. PBB menindaklanjuti hal tersebut dengan mengeluarkan Resolusi Nomor 147/1993 yang menetapkan pelaksanaan peringatan HAD setiap tanggal 22 Maret dan mulai diperingati pertama kali tahun 1993.

Sejak tahun 1994, peringatan HAD memiliki tema dan logo yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tema dalam dua tahun terakhir yang pernah diangkat pada peringatan HAD yaitu; 2015 - dengan tema “Air dan Pembangunan berkelanjutan” dan 2016 - dengan tema “Air dan Lapangan Pekerjaan”.

"Di bawah tema “Air dan Air Limbah” pada tahun 2017, kita diberikan kesempatan untuk mengkonsolidasikan dan membangun simbiosis antara pengelolaan air dan air limbah dalam upaya untuk pembangunan berkelanjutan," kata Sekretaris Dirjen SDA Lolly Martina Martief pada Diskusi Bersama Media di Jakarta(170317).

Turut hadir sebagai narasumber lainnya adalah Staf Ahli Menteri PUPR bidang Ekonomi dan Investasi sekaligus Plt. Direktur Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Mochammad Natsir, Sekretaris Ditjen Cipta Karya Rina Agustin, dan Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Ditjen Cipta Karya Dodi Krispratmadi.

Untuk lebih menggemakan peringatan Hari Air Dunia di daerah-daerah, Kementerian PUPR melalui BBWS/BWS di lingkungan Direktorat Jenderal SDA akan melaksanakan berbagai kegiatan antara lain susur dan bersih sungai, penanaman pohon, lomba daur ulang sampah rumah tangga, edukasi kali bersih untuk usia dini, pembersihan saluran drainase dan pembentukan gerakan masyarakat peduli sungai.

Selain itu juga akan diselenggarakan Dialog Nasional pada tanggal 26-28 April 2017 dengan tema “Pengelolaan Limbah untuk Masyarakat”.

Pentingnya menjaga air agar terhindar dari pencemaran dikarenakan bila sumber air tercemar, maka akan terjadi penurunan kualitas air dan kerusakan lingkungan. Pencemaran air salah satunya disebabkan oleh air limbah, baik limbah rumah tangga maupun limbah industri. Namun air limbah dapat dinilai berharga secara ekonomis, bila dikelola dengan tepat, serta menjadi solusi yang efisien bagi kesehatan manusia dan ekosistemnya.

Dalam pengelolaan air dan air limbah, Kementerian PUPR mengambil peran mengurangi pencemaran air khususnya sungai melalui pemberdayan masyarakat bantaran dalam pengelolaan kualitas air sungai.

Menurutnya pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air tidak akan berhasil mencapai kinerja yang efektif apabila tidak ada partisipasi aktif dari masyarakat baik sebagai bagian dari sumber pencemar maupun masyarakat sebagai pihak yang berhak atas kualitas air yang baik.

 “Kami bekerjasama dengan komunitas masyarakat peduli sungai dan sejumlah perguruan tinggi untuk membentuk sekolah sungai untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pemeliharaan sungai,” ujar Lolly.

Selain itu Kementerian PUPR juga berperan dalam kegiatan pembangunan dan rehabilitasi air baku, untuk kemudian disalurkan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat sehari-sehari seperti air minum.

Sementara itu Dodi Krispratmadi mengatakan, Kementerian PUPR melakukan dua pendekatan dalam penanganan pengolahan air limbah.

Pertama, yaitu pengelolaan air limbah berbasis masyarakat, yakni melalui program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas). Dalam program Sanimas masyarakat berperan langsung dalam kegiatan pembangunan prasarana sanitasi, sementara pemerintah memfasilitasi serta memberikan pendampingan  pelaksanaan kegiatan. Pembangunan Sanimas diprioritaskan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Beberapa kegiatan pembangunan Sanimas diantaranya seperti pembangunan prasarana Mandi Cuci Kakus (MCK), Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Kombinasi dengan MCK dan Sambungan Rumah (SR).

“Kami telah melakukan program Sanimas di sekitar 9.000 lokasi di seluruh Indonesia. Pada tahun 2016 ini sudah tercapai pembangunan sekitar 13.500 Sanimas, satu sanimas kira-kira bisa mencakup 70 kepala keluarga,” ujar Dodi.

Pendekatan yang kedua dalam penanganan limbah, dikatakan Dodi, melalui pola penugasan struktural kepada lembaga di tingkat daerah baik skala regional maupun kota.

“Sebagai contoh, ada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ditugaskan mengelola limbah, contoh PDAM di Solo, Medan, dan Bandung,” kata Dodi.(kompuSDA-Birkompu)

18 Maret 2017 Selengkapnya

Kementerian PUPR Tetapkan 3 Surat Edaran Untuk  Tertib Izin Pengusahaan dan Penggunaan SDA
Kementerian PUPR Tetapkan 3 Surat Edaran Untuk Tertib Izin Pengusahaan dan Penggunaan SDA

Dengan adanya pembatalan UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air oleh Mahkamah Agung karena dinyatakan bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tidak memiliki kekuatan hukum mengikat, maka berlaku kembali UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan.

“Sebenarnya alasan utama pembatalan UU No. 7 tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air adalah karena pasal-pasal yang dianggap memposisikan penggunaan air condong untuk kepentingan komersial dan menghilangkan tanggung jawab negara dalam pemenuhan kebutuhan air dan ada muatan penguasaan dan monopoli sumber-sumber air/swastanisasi  terselubung dalam penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air minum sehingga melahirkan mindset pengelola air selalu profit-oriented,”jelas Kepala Bagian Hukum dan Komunikasi Publik, Sekretariat Direktorat Jenderal SDA, Putranta Seyanugraha, mewakili Sekretaris Direktorat Jenderal SDA, Lolly Martina Martief dalam acara Sosialisasi dan Diskusi Terbatas Perizinan Bidang Sumber Daya Air, di Tangerang (160317).

Lanjut Putranta, implikasi dari putusan MK tersebut mengakibatkan semua jenis peraturan perundang-undangan yang telah dikeluarkan sebagai pelaksanaan dari UU SDA baik Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Keputusan Presiden dan Peraturan Menteri  turunan UU SDA secara hukum menjadi tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat; pemberlakuan kembali UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan oleh MK sebagai antisipasi untuk menghindari terjadinya kekosongan hukum  tidaklah cukup komprehensif untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan air dan pemberlakuan kembali UU Pengairan oleh MK tersebut juga tidak sesuai lagi dengan era otonomi daerah yang sekarang sedang di kedepankan oleh pemerintah. UU Pengairan tidak memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengelola sumber daya air yang berada di wilayahnya.

“Untuk itu sebelum RUU SDA baru disahkan, dan dalam rangka mewujudkan tertib penyelenggaraan izin pengusahaan sumber daya air dan izin penggunaan sumber daya air serta memberikan kepastian hukum bagi para pelaku dunia usaha di masa transisi ini, Kementerian PUPR telah menetapkan 3 buah Surat Edaran sebagai pelengkap Permen PUPR Nomor  01/PRT/M/2016 yaitu 1 buah SE Menteri Nomor 18/SE/M/2016 tentang Pedoman Umum Penerapan Sistem Perizinan Pengusahaan Sumber Daya Air dan Penggunaan Sumber Daya Air Berbasis Teknologi Informasi di Lingkungan Direktorat Jenderal SDA dan dua buah SE Dirjen yang meliputi SE Dirjen SDA Nomor 12A/SE/D/2016 tentang Prosedur Penyusunan Rekomendasi Teknis Perizinan Pengusahaan Sumber Daya Air dan SE Dirjen SDA Nomor 12B/SE/D/2016 tentang Prosedur Pelayanan Perizinan Pengusahaan Sumber Daya Air dan Penggunaan Sumber Daya Air,” kata Putranta.

Sosialisasi dan diskusi terbatas ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman terhadap proses perizinan pengusahaan sumber daya air atau perizinan penggunaan sumber daya air juga dimaksudkan untuk dapat memberikan pemahaman bagi para Tim Rekomtek Balai dan unit kerja terkait dalam mengimplementasikan izin sumber daya air satu sistem (ISDASS) yang terdiri atas e-rekomtek dan sistem perizinan sumber daya air berbasis teknologi informasi (SIPSDA). Acara ini turut dihadiri oleh Tenaga Ahli Bidang SDA selaku Ketua Pokja Saber Pungli Kementerian PUPR, Lucky Korah, Biro Hukum Sekjen Kementerian PUPR, BBWS/BWS, Unit Pelayanan Perizinan dan Tim Verifikasi Perizinan. (kompuSDA)

17 Maret 2017 Selengkapnya

Sungai haruslah bersih, nyaman dan bisa dinikmati
Sungai haruslah bersih, nyaman dan bisa dinikmati

Dalam rangka memperingati Hari Air Dunia ke 25, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum menggandeng para penegak hukum, warga dan komunitas untuk ikut bersama membersihkan sungai Cidurian.

Dari 46 sungai yang mengalir melintasi Kota Bandung Sungai Cidurian merupakan sungai terpanjang ke 2 setelah Sungai Cikapundung,. Dengan panjang 24,86 km, sungai Cidurian melintasi 16 kelurahan yang berada di Kota Bandung dan bermuara di Sungai Citarum di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Tidak kurang dari 350 orang yang terdiri dari pegawai BBWS Citarum, Satker Cipta Karya, Kogartap, Koramil, Kepolisian , mahasiswa ITB, mahasiwa Unisba, komunitas dan warga melaksanakan Bebersih sungai Cidurian pada Selasa (14/3).

Kepala BBWS Citarum Yudha Mediawan mengatakan bahwa acara ini memberikan pengertian kepada warga bandung bahwa sungai itu milik bersama dan harus dijaga bersama.

“Jika membicarakan banjir bukan selalu mengenai infrastruktur saja yang penting, tetapi bagaimana kita menjaga sungai tetap bersih, nyaman, bisa dinikmati dan tidak ada pendangkalan yang diakibatkan oleh sampah yang dibuang sembarangan oleh warga atau pun karena sedimentasi,” ucap Yudha.

Tujuan dari kegiatan bebersih sungai ini adalah sebagai salah satu cara untuk menjadikan sungai Cidurian menjadi contoh bagi anak sungai Citarum lainnya untuk memberikan kontribusi untuk kesejahteraan masyarakat yang berada disepanjang sungai.

Untuk mewujudkan itu maka dibutuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga sungai dilingkungan sekitarnya. “Membangun kesadaran masyarakat tidaklah mudah dan tidak bisa instan, tetapi harus dilakukan secara berkelanjutan. Jadi kami melakukan sosialisasi, edukasi, pendampingan dan aksi nyata agar anak sungai Citarum bisa dimanfaatkan secara kualitas dan kuantitas bagi masyarakat,” ucap Yudha.

Selain kegiatan Bebersih Sungai Cidurian, BBWS Citarum pada hari yang sama melakukan penataan sempadan Sungai Cidurian untuk mobilisasi dan aksesibilitas alat berat pada saat melakukan operasi dan pemeliharaan.

15 Maret 2017 Selengkapnya