© 2019 Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

PU-Net
      

Berita SDA

Kumpulan Berita Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Koordinasi Antar Tim Kerja Kementerian GN KPA
Koordinasi Antar Tim Kerja Kementerian GN KPA

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bersama dengan beberapa Kementerian dan Lembaga lainnya melakukan rapat koordinasi mengenai keberlangsungan GN-KPA (Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air) pada hari Senin (01/07) yang dihadiri berbagai Kementerian seperti Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, juga lembaga dan komunitas terkait.

GN-KPA ini telah dicanangkan sejak tahun 2005 lalu pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan akan segera berakhir tahun ini. Untuk itu rapat ini diadakan dalam rangka membahas bagaimana tindak lanjut gerakan ini pasca berakhirnya Kesepakatan GN-KPA.

Dalam rapat tersebut Hari Suprayogi selaku Dirjen Sumber Daya Air menyampaikan beberapa evaluasi pelaksanaan GN-KPA yang telah bersiri selama lebih dari satu dekade ini, diantaranya GN-KPA merupakan gerakan yang sangat baik, melibatkan seluruh sektor dan bergerak di hampir seluruh Indonesia. Namun dalam pelaksanaannya belum nampak jelas bagaimana struktur dalam menjalankan gerakan ini, hal ini disebabkan fasilitas serta dana yang kurang memadai selama ini. Oleh karenanya, gerakan ini sangat perlu untuk dilanjutkan dengan beberapa penyempurnaan.

Mendukung hal yang disampaikan oleh Dirjen Sumber Daya Air sebelumnya, Kementerian Agraria dan Tata Ruang  menyampaikan bahwa GN-KPA memang harus dilanjutkan dan juga menekankan bahwa penegakan hukum perlu ditingkatkan agar gerakan ini dapat berjalan dengan baik, sehingga tujuan GN-KPA secara keseluruhan dapat terlaksana sukses. Hal ini tentu dapat terealisasi jika mendapat dukungan dari semua pihak seperti pemerintah pusat maupun daerah, badan usaha, serta masyarakat.

Perlu digarisbawahi, bahwa dengan adanya gerakan ini tidak bermaksud menambah tugas pokok dan kewajiban suatu Kementerian, melainkan Kementerian tetap melaksanakan tugas masing-masing namun dengan bingkai yang sama untuk mencapai tujuan GN-KPA, sehingga seluruh Kementerian dan Lembaga dapat berjalan bersama-sama dalam waktu yang sama meski dengan kewenangan masing-masing.

Pada akhir pertemuan disepakati bahwa GN-KPA beserta program-programnya akan tetap dilanjutkan namun masih diperlukan pembahasan lanjutan secara lebih rinci seperti, apakah akan ada penambahan atau pengurangan Kementerian/Lembaga lain dalam kerja sama ini. Dengan adanya GN-KPA ini, diharapkan dapat mempererat kerja sama antar Kementerian/Lembaga dalam penyelamatan sumber daya air. (KompuSDA - HAN/ AMS)

05 Juli 2019 Selengkapnya

Serayu Opak TV Bukan Sekedar Tontonan Tapi Tuntunan Bagi Informasi Bidang SDA
Serayu Opak TV Bukan Sekedar Tontonan Tapi Tuntunan Bagi Informasi Bidang SDA

Peran media massa semakin menunjukkan kekuatannya dalam kehidupan sehari hari. Khususnya media elektronik seperti televisi mempunyai kemampuan untuk menyebarluaskan informasi secara audiovisual ditambah lagi dengan media sosial yang menjalar ke berbagai lapisan masyarakat, mulai keluarga petani pemanfaat air irigasi hingga pengelola pemerintahan menggunakan media tersebut untuk berbagai tujuan.

“Untuk itu sebagai bagian dari tugas pemerintah di bidang infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat khususnya sumber daya air, penguasaan terhadap perkembangan teknologi yang teraktual menjadi penentu keberhasilan pengelolaan sumber daya air. Televisi sebagai bentuk media audiovisual telah dikenal dengan baik oleh masyarakat luas sejak masa-masa revolusi terjadi di negara kita. Konsep televisi telag berubah menjadi sesuatu yang portable, do-able, dan simple untuk dilakukan bahkan oleh setiap individu. Celah-celah penyederhanaan dan berbagai simplifikasi inilah yang harus dapat kita manfaatkan untuk dapat menyebarluaskan informasi sumber daya air dan mendapatkaan umpan balik mengenai opini masyarakat luas terhadap kebijakan kebijakan-kebijakan bidang sumber daya air,” jelas Kepala  BBWS Serayu Opak, Agus Rudyanto, dalam acara Launching Serayu Opak TV, 1 Juli 2019, di Yogyakarta. Turut dihadiri oleh para narasumber yaitu Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Biro Komunikasi Publik, Krisno Yuwono mewakili Kepala Biro Komunikasi Publik, Dwi Agus Kuncoro, Kepala Bidang Perencanaan Umum dan Program BBWS Bengawan Solo, dan Kepala Sub Bagian Komunikasi Publik, Ade Satyadharma mewakili Sekretaris Direktorat Jenderal SDA.

Lanjut Agus Rudyanto, Serayu Opak TV mempunyai harapan agar sasaran pengelolaan air di Wilayah Sungai Serayu Opak berhasil. “Serayu Opak ingin menyambungkan niat dan upaya sebagai pengelola sumber daya air dengan pelibatan para pemangku kepentingan yg dilakukan secara aktif dan berkelanjutan melalui berbagai acara. Dewan SDA, Komisi Irigasi, P3A dan GP3A, akademisi, aktivis komunitas sungai adalah partner SOTV yang akan menjadi bintang tamu yang akan digali pemikirannya sehingga ada pemahaman yang menyatu baik antara pengelola maupun pemanfaat sumber daya air,” kata Agus Rudyanto.

Dalam sesi SOTV talkshow, Kasubbbag. Komunikasi Publik Setditjen SDA, Ade Satyadharma, mengatakan bahwa dengan adanya SOTV maka bertambahlah media dalam penyebarluasan informasi publik di lingkungan Direktorat Jenderal SDA, “Selain SOTV, BBWS Cimanuk Cisaanggarung dan BBWS Bengawan Solo telah melakukan hal yang sama, mendirikan media elektronik yaitu televisi di BBWS, dan saya berharap meskipun media televisi saat ini salah satu media yang tepat untuk menyebarluasan informasi, teman-teman di BBWS Serayu Opak juga tidak lupa untuk tetap mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan tupoksinya dan untuk content dari SOTV dapat berkoordinasi dengan kami, Subbag. Komunikasi Publik, Bagian Hukum dan Komunikasi Publik,” kata Kasubbag. Komunikasi Publik Setditjen SDA.

Hal senada juga diungkapkan oleh Krisno Yuwono, Biro Komunikasi Publik sebagai pembina bidang komunikasi publik di Kementerian PUPR, menyatakan bahwa BBWS sebagai salah satu corong informasi bagi Kementerian PUPR khususnya bidang sumber daya air dapat memberikan infirmasi yang aktual dan terpercaya dalam menyebarluaskan informasi terutama infrastruktur sumber daya air di Yogyakarta. “Dan tetap berkoordinasi dengan kami di pusat mengingat saat ini sudah ada UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, jadi ada beberapa informasi yang wajib disediakan dan diumumkan untuk publik dan ada pula yg dikecualikan,” lanjut Krisno Yuwono.

Sedangkan Dwi Agus Kuncoro, yang merupakan pelopor dari Cimanuk Cisanggarung TV dan Bengawan Solo TV, memberikan masuka  tentang format acara yang dapat ditayangkan di SOTV. “Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya, dapat dijadikan materi acara untuk SOTV, misalnya acara tentang kearifan lokal tentang pengelolaan air di Yogyakarta dan tentang budaya masyarakat Yogyakarta dalam mengelola dan memelihara kelestarian air. Dan untuk tim SOTV diharapkan agar lebih kreatif sehingga dapat memberikan banyak informasi yang berguna bagi masyarakat,”kata Dwi Agus Kuncoro.

Kepala BBWS Serayu Opak mengharapkan agar SOTV tetap eksis dan dapat menayangkan berbagai macam informasi yg menarik tentang sumber daya air, dan bukan hanya sekedar tontonan tapi juga menjadi tuntunan untuk penyebarluasan informasi publik bidang sumber daya air di Yogyakarta. (tin kompuSDA)

 

01 Juli 2019 Selengkapnya

Dirjen SDA Hari Suprayogi Tinjau Banjir di Sulawesi Tenggara
Dirjen SDA Hari Suprayogi Tinjau Banjir di Sulawesi Tenggara

Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Tenggara sejak awal Juni kemarin akhirnya berdampak pada meluapnya Sungai Konaweha dan Sungai Lahumbuti, yang mengakibatkan banyak desa di Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utata, dan Kota Kendari tergenang air. Dari bencana ini, banyak warga yang mengungsi, banyak fasilitas umum dan rumah warga yang rusak, berbagai infrastruktur sumber daya air seperti tanggul sungai, tanggul irigasi yang berdampak pada sawah juga ikut rusak. Dari berbagai dampak tersebut, banyak aktivitas yang terganggu bahkan terhenti.

 

Tanpa memandang siapa dan darimana asal kita, ayo mari dengan tulus hati kita kirimkan bantuan dari apa yang kita punya, setidaknya doa yang tulus agar teman-teman kita yang sedang tertimpa bencana bisa tetap kuat untuk bangkit. Untuk memberi sedikit suntikan semangat kepada teman-teman di Konawe, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono didampingi Direktur Jenderal Sumber Daya Air Hari Suprayogi, dan Direktur Sungai dan Pantai Jarot Widyoko mengunjungi posko bencana yang menampung para korban banjir.

 

Basuki Hadimuljono menyampaikan bahwa dalam masa tanggap darurat seperti ini, yang paling dibutuhkan adalah ketersediaan prasarana dan sarana air bersih dan sanitasi, sembako, obat-obatan, pakaian untuk keperluan sehari-hari mereka. Kunjungan Menteri PUPR tersebut turut didampingi Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi, juga Kepala BWS Sulawesi IV Kendari Haeruddin C. Maddi ikut memberikan penjelasan tentang banjir tersebut, dan penanangan yang telah dilakukan.

 

Satgas Tanggap Darurat BWS Sulawesi IV Kendari telah mengirimkan bahan banjiran karung (sandbag) sebanyak 1000 lembar dan bronjong pabrikasi sebanyak 150 lembar. Berbagai sembako, pakaian, dan obatan-obatan juga telah dikirimkan untuk meringankan beban para korban banjir. Penanganan darurat lainnya yang dilakukan yaitu memperbaiki tanggul Daerah Irigasi Wawotobi yang tergerus sepanjang 22 meter di Bendung Wawotobi. Satu per satu usaha dilakukan untuk meringankan beban warga, semoga bencana di Sulawesi Tenggara, dan kembali seperti sedia kala. (kompuSDA)

 

20 Juni 2019 Selengkapnya

Jokowi Tinjau Waduk Muara Nusa Dua di Bali
Jokowi Tinjau Waduk Muara Nusa Dua di Bali

Bali sudah menjadi destinasi wisata internasional yang membanggakan Indonesia. Setiap tahunnya, wisatawan mancanegara terus berdatangan ke Pulau Dewata ini untuk menikmati keindahan alam dan budayanya. Bukan itu saja, wisatawan dari domestik juga beramai-ramai menikmati pesona wisata yang ada di negeri mereka ini. Kalau kamu sudah pernah belum? Semoga bisa jadi salah satu wishlist kamu ya Sob. Dijamin bakal nagih loh.

 

Karena semakin populer, tentu saja semakin banyak perubahan yang terjadi di Pulau Dewata tersebut, diantaranya pertumbuhan industri (semua sektor), dan meningkatnya jumlah penduduk baik yang sementara (wisatawan) maupun tetap. Perubahan yang terjadi diberbagai sector tersebut tentu saja akan berpengaruh pada kebutuhan airnya. Kalau tidak diantisipasi sejak dini, bisa-bisa Bali akan kewalahan nanti. Jadi, Ditjen SDA melalui BWS Bali Penida segera membenahi dan membangun berbagai infrastruktur sumber daya air. Banyak lah pokoknya. Salah satunya dengan merehabilitasi, meningkatkan, dan menata Kawasan Wisata Waduk Muara yang ada di Kota Denpasar. Kegiatan ini dilaksanakan karena semakin tingginya tingkat sedimentasi ke waduk yang tentu saja akan mengurangi kapasitas tampungannya, meningkatnya kebutuhan air baku, dan ini yang paling sering terjadi, apalagi kalau bukan banyaknya sampah yang masuk ke waduk, jadinya kualitas airnya menurun.

 

Agar kegiatan ini terlaksana dengan baik, Presiden Joko Widodo yang didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, juga Dirjen SDA Hari Suprayogi datang untuk melihat langsung sudah sejauh apa progres kegiatannya. Tak lupa, Jokowi menyemangati para pekerja agar selalu memberikan yang terbaik, juga mengingatkan masyarakat setempat agar ikut serta menjaga lingkungan.

 

Pengerukan sedimentasi akan mengembalikan tampungan efektif Waduk Muara yaitu sebanyak 595.000 meter kubik. Tidak hanya itu, perbaikan penampang tanggul juga dilakukan, pun membuat saluran pengarah dan trashrack untuk mengangkat sampah agar kualitas airnya tetap baik. Satu yang terpenting adalah suplai air baku akan meningkat yang tadinya hanya 300 liter/detik menjadi 500 liter/detik. (kompuSDA)

 

15 Juni 2019 Selengkapnya

Dirjen SDA Hari Suprayogi Tinjau Banjir di Samarinda
Dirjen SDA Hari Suprayogi Tinjau Banjir di Samarinda

Banjir tidak bisa dihilangkan sama sekali, hanya bisa diminimalisir saja. Bencana yang satu ini, dimanapun ia menghampiri, memang tidak bisa dihilangkan sama sekali. Kenapa? Karena semakin ke sini, curah hujan semakin tinggi, belum lagi durasinya yang semakin lama. Tapi bukan itu saja penyebabnya. Daya serap tanah yang terus berkurang, tentu tidak bisa maksimal menyerap air hujan yang turun.


Bisa jadi karena di bagian hulu sungai sudah semakin gundul akibat penebangan pohon sembarangan. Bisa juga karena semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk yang menuntut naiknya rumah hunian, juga gedung lainnya yang artinya drainase semakin berkurang. Belum lagi, hunian di bantaran sungai yang semakin marak.


Yang terparah adalah kebiasaan buang sampah sembarangan ke saluran maupun sumber-sumber air, sungai misalnya, yang akhirnya mengurangi kapasitasnya dalam menampung air. Itulah sebabnya, jika semua kebiasaan tersebut dibuat sesukanya, banjir akan terus bertambah parah.


Hari ini, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Hari Suprayogi yang didampingi Direktur Bina PSDA Fauzi Idris datang menghampiri saudara-saudara kita yang sedang terkena musibah banjir di Samarinda, Kalimantan Timur. Bukan hanya untuk memantau bantuan apa saja yang sudah diberikan, tapi juga bertukar pikiran dengan Sekretaris Daerah Kota Samarinda Sugeng Chairuddin, dan Kepala BWS Kalimantan III Anang Muchlis terkait solusi jangka panjang apa yang akan dilakukan untuk meminimalisir banjir di Samarinda.


Banjir yang melanda Samarinda sejak 9 Juni sampai dengan hari ini, diakibatkan curah hujan yang tinggi dengan durasi hujan lebih dari 8 jam. Dampaknya, banyak wilayah yang digenangi air setinggi 50-150 cm. Banyak kegiatan yang lumpuh, juga kerugian yang menimpa warga.


Sebagai pengelola infrastruktur sumber daya air, Ditjen SDA melalui BWS Kalimantan III tentu siaga melaksanakan tanggung jawabnya, yaitu mendukung Badan Nasional (Daerah) Penanggulangan Bencana. Alat berat, perahu karet dan sembako sudah disalurkan BWS Kalimantan III untuk meringankan beban para korban banjir. Dirjen SDA Hari Suprayogi mengingatkan agar teman-teman yang tergabung dalam Satuan Tugas Bencana BWS Kalimantan III tetap fokus dan bekerja keras memberikan bantuan, sampai banjir benar-benar surut.


Oh ya Sob, sekedar mengingatkan saja, sebanyak atau sebagus apapun infrastruktur pengendali banjir yang dibangun Ditjen SDA, manfaatnya tidak bisa maksimal dalam meminimalisir banjir, jika saja kebiasaan-kebiasaan di atas itu tuh, masih terus berlanjut. (Kompu SDA)

13 Juni 2019 Selengkapnya

DI Leuwigoong Naikkan Panen di Garut
DI Leuwigoong Naikkan Panen di Garut

Untuk mendukung kebutuhan pangan dikarenakan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, maka Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air terus berbenah dalam membangun dan merehabilitasi Daerah Irigasi yang tersebar di Indonesia, salah satunya adalah Daerah Irigasi Leuwigoong.

Daerah Irigasi Leuwigoong memiliki seluas 5.313 hektar (ha) yang merupakan gabungan dari sebelas irigasi teknis yaitu Irigasi Ciojar (73 ha), Irigasi Cibuyutan Utara (531 ha), Irigasi Situ Bagendit (409 ha), Irigasi Citikey (528 ha), Irigasi Cermot (107 ha), Irigasi Citameng II (82 ha), Irigasi Citameng III (91 ha), Irigasi Citameng IV (498 ha), Irigasi Cipacing (593 ha), Irigasi Cibuyut (89 ha), Irigasi Situhiang (70 ha) dan sisanya sawah tadah hujan seluas 2.242 ha.

Kegiatan pembangunan dan rehabilitasi terhadap Daerah Irigasi tersebut disebabkan sebagian kondisi jaringan irigasinya sudah dalam keadaan rusak. Selain itu, terjadi pendangkalan pada saluran irigasi, serta terdapat kerusakan pada beberapa pintu saluran irigasi sehingga tidak dapat dioperasikan. Disamping itu, akibat dari pendangkalan sungai setelah letusan gunung Papandayan tahun 2002, mengakibatkan debit air yang diambil dari sungai-sungai kecil tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan areal irigasi yang ada. Bahkan areal sawah di bagian hilir yang memiliki luas 2.242 ha tidak memiliki sumber air, sehingga hanya mengandalkan air hujan.

Kegiatan pembangunan dan rehabilitasi DI Leuwigoong yang dikerjakan oleh BBWS Cimanuk Cisanggarung terdiri dari tiga kegiatan yaitu pembangunan Bendung Copong dari tahun 2010 – 2014, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan jaringan primer dan sekunder yang dimulai sejak tahun 2013 dan telah selesai pada tahun 2018. Dan, di tahun ini (2019 – 2021) akan dimulai pembangunan jaringan tersiernya.

Pembangunan bendung dan jaringan irigasi di Daerah Irigasi Leuwigoong ini akan mengairi areal sawah di 11 kecamatan di Garut seluas 5.313 hektar. Dengan adanya jaringan irigasi yang andal, tentu akan meningkatkan indeks pertanaman petani Garut dari 191% sekarang, menjadi 250%. Artinya bisa tanam padi 2 kali dan 1 kali palawija. (kompusda)

 

18 Mei 2019 Selengkapnya

Penandatanganan KSB SPAM Regional Gorontalo Raya
Penandatanganan KSB SPAM Regional Gorontalo Raya

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) pada hari Selasa ini (14/5) melakukan penandatangan KSB Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Gorontalo Raya yang dilaksanakan di Jakarta. Direktur Jenderal SDA Hari Suprayogi mengatakan bahwa penandatanganan kesepakatan ini merupakan persiapan dalam rangka SPAM Regional Gorontalo Raya.

"Dalam hal ini saya sampaikan dalam rangka Pengelolaan SPAM Regional yang membutuhkan 2.200 liter/detik dibutuhkan persiapan. Sumber perlu kita cari untuk memenuhi kebutuhan tersebut antara lain mengharapkan dari pembangunan Bendungan Boalemo Ulu," ujarnya. Sementara Bendungan Boelamu Ulu sendiri saat ini masih dalam tahap persiapan pembangunan, direncanakan Bendungan tersebut nantinya dapat menampung 117 juta meter kubik. Disana diperuntukkan antara lain untuk irigasi seluas 4.200 ha dan untuk air baku yang sudah dibahas dengan Komisi Keamanan Bendung sebelumnya yakni 1.160 meter kubik/detik.

Pun begitu, Dirjen SDA tetap optimis dapat memenuhi kebutuhan SPAM di Gorontalo melalui upaya lainnya, seperti melakukan sinkronisasi program bersama Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim mengutarakan ucapan terima kasih kepada Ditjen SDA dan Ditjen Cipta Karya atas terwujudnya penyelenggaraan SPAM Regional Gorontalo Raya ini. "Sesuai dengan data yang ada bahwa di Provinsi Gorontalo capaian air minum baru mencapai 79,20% dan kita mengharapkan sesuai target SDG’s goals yaitu 100% air minum tahun 2030, sehingga dengan adanya SPAM Regional Gorontalo Raya dapat mempercepat pelaksanaan target SDG’s ini, " tutur Idris.

Dikatakannya lagi bahwa jika pelaksanaan ini dilaksanakan hanya dari dana APBD akan terasa berat sehingga Provinsi Gorontalo sangat mengapresiasi bahwa dengan adanya SPAM Regional Gorontalo ini secara keseluruhan capaian air minum Provinsi Gorontalo dapat cepat terpenuhi, minimal dalam kurun waktu 3 - 4 tahun ke depan capaiannya sudah mencapai 90%. SPAM Regional Gorontalo Raya direncanakan akan melayani 3 wilayah yaitu Kabupaten Gorontalo, Kota Gorontalo, dan Kabupaten Bone Bolango.

Ke depannya, Pemerintah Gorontalo juga berharap daerah Gorontalo Utara, Boalemo dan Pohuwato dapat segera menyusul. Penandatanganan kesepakatan ini turut dihadiri oleh Direktur Pengembangan SPAM Ditjen Cipta Karya Agus Ahyar, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II Adenan Rasyid, Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo, Bupati Bone Bolango Hamim Pou, dan Wali Kota Gorontalo Marten Taha. (kompusda-ech/dnd/ams)

14 Mei 2019 Selengkapnya

Rayakan Puncak Hari Air Dunia XXVII Ditjen SDA Gelar Beragam Kegiatan di Situ Lido
Rayakan Puncak Hari Air Dunia XXVII Ditjen SDA Gelar Beragam Kegiatan di Situ Lido

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merayakan Puncak Hari Air Dunia (HAD) XXVII, di Situ Lido Bogor Jawa Barat. Turut hadir dalam acara ini segenap insan Ditjen SDA, Pemerintah Daerah Jawa Barat maupun Bogor, Organisasi masyarakat peduli air, serta perwakilan dunia pendidikan dari TK hingga Perguruan Tinggi. Turut hadir Penasehat DWP Kementerian PUPR, Kartika Basuki Hadimuljono.

 

Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Hari Suprayogi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan upaya pihaknya untuk mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya ketersediaan serta akses terhadap air bersih. Tahun ini perayaan HAD mengusung tema 'Semua Harus Mendapatkan Akses Air'.

 

"HAD telah diperingati selama 27 tahun sejak ditetapkan pada Sidang Umum PBB tanggal 22 Maret tahun 1992. Pada tahun ini tema yang diangkat adalah 'Semua Harus Mendapatkan Akses Air' yang diadopsi dari tema international 'Water for All: Leaving No One Behind' yang mengandung pengertian air untuk semua tanpa terkecuali," kata dia, dalam sambutan, Selasa (30/4).

 

Dia pun menjelaskan, berdasarkan data UN-WATER, secara global, masih terdapat 2,1 miliar orang yang belum mendapatkan akses terhadap air bersih. Secara global pula, masih terdapat 80 persen penduduk yang tinggal di area pedesaan masih menggunakan air dari sumber yang tidak laik.

 

"Selain itu, tidak kurang dari 68,5 juta orang berada di pengungsian karena bencana alam, peperangan maupun konflik sosial politik dan mengalami kendala akses air," lanjut dia.

 

"Demikian pula, kelompok masyarakat seperti perempuan, penyandang disabilitas, pekerja, anak-anak, pelajar, masyarakat adat dan Iainnya masih mengalami krisis kebutuhan air," imbuhnya.

 

Di Indonesia, air dan salah satu penyediaannya juga menjadi tantangan dalam pengelolaan sumber daya air. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh Badan Pusat Statistik (BPS), tidak ada provinsi di Indonesia yang memiliki akses terhadap sumber air yang layak hingga 100 persen.

 

"Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) melakukan konservasi, revitalisasi dan digitalisasi terhadap pembangunan infrastruktur sumber daya air di Indonesia untuk mencapai pembangunan yang lebih tepat sasaran berdasarkan skala prioritas dan manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat," tegas dia.

 

Sementara Ketua Pelaksana Harian Perayaan Hari Air Dunia XXVII, Muhammad Arsyadi mengatakan, dalam rangka peringatan HAD XXVII tahun 2019, telah dilaksanakan rangkaian kegiatan yang di Pusat dan Balai-Balai Wilayah Sungai di seluruh Indonesia

 

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada Balai Besar dan Bala Wilayah Sungai antara lain, meliputi kegiatan bersih-bersih sungai sepanjang 88.258 Km, bersih-bersih lingkungan, serta penanaman pohon.

 

"Ada kegiatan donor darah, tournament Gatebal, pembuatan Biopori, penebaran benih ikan, lomba mewarnai, menggambar, tari dan paduan suara, sosialisasi cuci tangan yang benar menggunakan sabun, serta pemanenan air hujan," jelas dia.

 

Selanjutnya, juga dilaksanakan kuliah umum, seminar dan sarasehan yang terkait dengan SDA dan akses air. "Seluruh kegiatan di BWS/BWS tersebut dilaksanakan bersama-sama dengan Pemerintah Daerah dan instansi terkait serta dengan melibatkan organisasi masyarakat peduli air dan sekolah-sekolah dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi," imbuhnya.

 

Sementara rangkaian kegiatan di pusat Kementerian PUPR, meliputi kegiatan publikasi dilaksanakan sejak minggu pertama bulan Maret melalui spanduk dan Umbul-Umbul, Poster, Balon Udara, Website, koran dan majalah. Di samping itu juga dilakukan melalui media online, media sosial serta pemasangan sticker pada bus-bus.

 

Pencanangan HAD XVI Tahun 2019, kata dia, dilaksanakan di Kampus PUPR pada tanggal 2 Maret 2019 dengan pelepasan 27 Merpati, bersih-bersih lingkungan Kampus, demo teknologi pompa air tenagah hidro, penyerahan bantuan alat pembuatan biopori dan pemberian pupuk organik padat pada sekolah-sekolah atau kampus dan kelurahan dibsekitar Lingkungan Kampus PUPR.

 

"Juga dilakukan friendly match gateball tournament, Water Day Fest yang meliputi lomba duta air, paduan suara dan tari tradisional untuk tingkat SMA/SMK, kegiatan donor darah yang dilakukan pada tanggal 26 Maret 2019 dan tanggal 2 April 2019," jelas dia.

 

"Lomba menggambar dan mewarnai untuk Siswa SD se-Jabodetabek yang berkerjasama dengan UNESCO, lomba karya ilmiah tingkat SMA/SMK se-Indonesia yang dilaksanakan oleh Puslitbang SDA, dan dialog nasional dengan topik 'Penyediaan Air Bersih Bagi Seluruh Masyarakat'," lanjut dia.

 

Pada puncak acara hari ini telah dilaksanakan penebaran 150.000 benih ikan nila dan ikan baung yang merupakan dukungan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) penanaman 200 Pohon jenis cemara Norfolk, Glodakan Tiang, Eucalyptus Jabon dan Mahoni dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

 

"Serta sosialisasi Program Cuci Tangan pakai sabun oleh anak-anak TK Pertiwi Cigombong," tandasnya.

(kty/dnd-KompuSDA)

30 April 2019 Selengkapnya

Kementerian PUPR Ajak Masyarakat Peduli Akses Air Bersih
Kementerian PUPR Ajak Masyarakat Peduli Akses Air Bersih

Dalam rangka Hari Air Dunia ke-XXVII tahun 2019, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggelar Dialog Nasional dengan mengangkat tema “Penyediaan Air Bersih bagi Seluruh Masyarakat”, Senin (29/4) di Jakarta. 

Acara dibuka oleh Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Lukman Hakim mewakili Menteri PUPR. Ia menyampaikan, tema yang diangkat pada tahun ini juga berkaitan dengan air bersih dan sanitasi yang layak serta menjamin akses air dan pengolahan sumber daya air yang berkelanjutan bagi semua orang. 

Lukman mengatakan, banyak sekali tantangan besar yang dihadapi dalam pemenuhan kebutuhan air, pangan, dan energi yang semakin meningkat. "Melihat penduduk Indonesia yang semakin meningkat dan gaya hidup dan pola konsumsi yang semua itu akan memberi tekanan besar bagi penyediaan air ke depan," ujarnya. 

Tema ini, katanya, sesuai dengan komitmen pemerintah dalam memberikan pelayanan air minum dan sanitasi seratus persen bagi seluruh masyarakat Indonesia pada tahun 2019, atau dikenal dengan universal access. Melalui kegiatan dialog nasional ini juga diharapkan dapat menghasilkan ide kreatif dan inovasi, serta menghasilkan kesepakatan yang dapat dilaksanakan bersama dalam pengelolaan sumber daya air. 

"Selain itu, saya ingin memberi apresiasi yang tinggi dan semangat khsusnya pada adik-adik generasi muda untuk terus mengembangkan ide dan inovasi kreatif dalam bidang pengelolaan sumber daya air," tutupnya.

Sementara itu, Direktur Bina Penatagunaan Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR sekaligus Ketua Panitia Dialog Nasional, Fauzi Idris menyampaikan tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk menularkan penyediaan akses air dari lokasi ke lokasi lain, meningkatkan peran masyarakat dalam penyediaan air bersih, serta guna meningkatkan kepeduliaan pemerintah daerah dalam penyediaan air bersih bagi masyarakat.

Acara ini mengundang narasumber dari beberapa kelompok masyarakat yang bergerak di bidang penyediaan air minum dan pemerintah daerah yang berhasil mencapai target Universal Access dan PDAM yang memiliki kinerja baik.

Selain Dialog Nasional pada hari ini juga telah diselenggarakan Lomba Karya Ilmiah Bidang Sumber Daya Air untuk SMA/SMK/MS tingkat nasional yang dimulai dari tanggal 14 Februari hingga 27 April 2019. Berikut daftar pemenangnya:

Juara I : MA Al Irsyad, Bali. Judul Makalah: Teknologi Mesin Air Minum Portabel Dalam Kebencanaan

Juara II : SMAN 1 Kediri, Jawa Timur. Judul Makalah: Pemanfaatan Ekstraksi Kitosan Pada Tepung Larva Lalat Hitam (Hermetia Illucens) sebagai Absorben Logam Pb dan Cu

Juara III : SMK BPI Bandung, Jawa Barat. Judul Makalah: e-CAI Versi 2.0 Inovasi Sistem Penyediaan Air Minum “Easy Cash Zero Waste” di Lingkungan Sekolah

(ech/din-Kompu SDA)

 

29 April 2019 Selengkapnya

KNIBB Kunjungi  Bendungan Sindang Heula
KNIBB Kunjungi Bendungan Sindang Heula

Seminar Nasional Bendungan Besar Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Indonesia untuk Bendungan Besar pada Sabtu kemarin (27/4) mengunjungi pembangunan Bendungan Sindang Heula di Kabupaten Serang dalam rangka kunjungan lapangan rangkaian kegiatan KNIBB yang dilaksanakan pada 26 – 28 April 2019.

Field Trip ini merupakan rangkaian kegiatan Seminar Nasional Bendungan Besar Tahun 2019, pertama ada Focus Group Discussion (FGD), kedua Kegiatan Seminar dan Pameran dan sekarang kunjungan lapangan. Tujuannya  adalah untuk menampung pemikiran-pemikiran dan inovasi-inovasi dari para intelektual sehingga akan bisa memelihara dan membangun bendundungan besar efektif efisien dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Field trip kali ini mengenalkan kepada para peserta bahwa di Provinsi Banten ada pembangunan Sindang Heula, nanti di sini termasuk para pe-makalah bisa berdiskusi langsung dengan teman-teman pelaksana di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau-Ciujung-Cidurian. Ini memerlukan proses yang panjang salah satunya membangun bendungan, me-manage catchment area di wialayah sungai, pemerintah membangun bendungan jika tidak dibarengi oleh pemanfaatan wajah mustahil bisa tercapai,” ujar Direktur Sungai Pantai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Jarot Widyoko.  

Di lain tempat, Kepala BBWS C3 Tris Raditian mengatakan Bendungan Sindang Heula ini bermandaar untuk mensuplai air baku ke Kabupaten/Kota Serang dan Kabupaten Cilegon sebesar 0,80 m3/detik, dan suplai air irigasi sebesar 0,80 m3/detik serta pengendalian banjir, tampungan air sebesar 9.257.948 m3 dengan luas genangan 129,5 ha.

“Ada juga potensi untuk PLTA walau kecil, tapi untuk membiayai proyek ini jika dipakai bisa mengurangi biaya listriknya, belum lagi potensi pariwisata yang otomatis nanti akan ada jika bendungan ini jadi. Orang senang berkreasi berpariwisata, perekonomian tumbuh,” ujarnya. (kompusda)

 

28 April 2019 Selengkapnya

Seminar Nasional KNIBB untuk Inovasi Bendungan
Seminar Nasional KNIBB untuk Inovasi Bendungan

Komite Nasional Indonesia Bendungan Besar (KNI-BB) dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) hari ini (27/4) mengadakan Seminar Nasional Bendungan Besar 2019 dengan tema "Pembangunan dan Pengelolaan Bendungan untuk Mencapai Visium 2030" sebagai rangkaian dari kegiatan KNI-BB 26 – 28 April 2019 ini. Diikuti oleh lebih dari 600 profesional dan ahli bendungan, seminar ini mempresentasikan 48 makalah sebagai rekomendasi peningkatan sumber daya manusia (SDM) serta inovasi sistem cerdas bendungan untuk ketahanan air yang berkelanjutan di Indonesia.

Tantangan yang dihadapi saat ini adalah jumlah bendungan yang ada di Indonesia hanya mampu mengairi 11% lahan pertanian dari total 7,3 juta hektar di seluruh Indonesia. “Target 65 bendungan baru di Indonesia harus terpenuhi agar persentase lahan pertanian yang mendapat jaminan air dari bendungan dapat meningkat hingga 20%. Ini memaksimalkan aktivitas pertanian, karena dengan adanya bendungan, proses menanam bisa berlangsung lebih dari 2x setahun. Sementara tanpa bendungan, hanya 1x saja mengandalkan curah hujan,” ujar Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono.

Sementara itu Direktur Jenderal SDA Hari Suprayogi mengatakan untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan peningkatan SDM, inovasi, serta program terencana dengan arah yang jelas. Apalagi, saat ini angka di Indonesia hanya mencapai 50m3 per kapita per tahun, angka ini masih jauh di bawah Thailand yang sudah mencapai 1,200 m3 per kapita per tahun. Sejalan dengan target visium 2030, Indonesia harus memenuhi kapasitas tampung 1,200 m3 per kapita per tahun di tahun 2030.

Selain penerapan teknologi, untuk mitigasi bencana alam, saat ini Ditjen SDA juga terintegrasi dengan Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Tujuannya, saat terjadi resiko bencana atau cuaca buruk, penindaklanjutan bendungan akan berlangsung saat itu juga. Termasuk saat musim kemarau, data jumlah kebutuhan air akan langsung terintegrasi dengan BMKG, sehingga lahan yang mengalami kekeringan akan cepat mendapatkan irigasi dari waduk.(kompusda)

27 April 2019 Selengkapnya

Kesempatan Belajar dari Pembangunan 65 Bendungan
Kesempatan Belajar dari Pembangunan 65 Bendungan

"Dengan pembangunan 65 bendungan besar yang harus diselesaikan seperti saat ini, saya berharap generasi muda penerus memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan ini. Karena belum tentu diulang di tahun-tahun berikutnya," begitu penjelasan yang disampaikan oleh Menteri PUPR di Jakarta (26/4).
 
"Saya kira ini merupakan kesempatan yang tidak boleh disia-siakan (bagi para generasi muda) sehingga kita punya expert bidang bendungan besar di kemudian hari," imbuh Menteri PUPR.
 
Pesan tersebut disampaikan oleh Menteri PUPR ketika membuka acara Seminar Nasional Bendungan Besar tahun 2019 dengan tema Pembangunan dan Pengelolaan Bendungan untuk Pencapaian Visium 2030, yang berlangsung di Auditorium Kementerian PUPR, Jakarta (26/4).
 
Disampaikan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Hari Suprayogi selaku Ketua Komite Nasional Indonesia Bendungan Besar (KNI-BB), salah satu Visium 2030 yang dicanangkan adalah pembangunan bendungan atau tampungan air multifungsi yang dapat memenuhi kapitas sebesar 120 meter kubik per kapita per tahun. Di mana kapasitas tampungan Indonesia saat ini sebesar 50 meter kubik per tahun. 
 
"Ini adalah tugas berat dan besar. Sehingga untuk mencapai hal tersebut diperlukan peningkatan sumber daya manusia, iptek, kerja keras, dan inovasi melalui program dan proses yg terencana, serta nemiliki arah dan tujuan yang jelas untuk diselesaikan," jelas Dirjen SDA.
 
Guna mendukung visium tersebut KNI-BB telah berkembang, hingga saat ini KNI-BB memiliki anggota sebanyak 1.858 orang. Dari jumlah ini sebanysk 1.014 orang atau 54% telah memiliki SKA.
 
"KNI-BB juga mendukung penerbitan sertifikat elektronik bersama LPJK dan menyelenggarakan bintek bekerja sama dengan BPSDM Kementerian PUPR dan beberapa universitas ternama," imbuh Dirjen SDA sebagai salah saru cara melahirkan expert bidang bendungan besar di Indonesia.
 
Pada kesempatan yang baik ini, KNI-BB juga memberikan penghargaan kepada para senior yang tanpa kenal lelah berkontribusi terhadap pembangunan bendungan besar dan juga terhadap pengembangan KNI-BB dari masa ke masa. Beberapa di antaranya yang mendapatkan penghargaan adalah Basuki Hadimuljono, Suryono Sosrodarsono, Djoko Kirmanto, RM Sedyatmo, dan Masduki Umar.
 
Seminar Nasional Bendungan Besar kali ini akan berlangsung sejak 26 April sampai dengan 28 April 2019, diisi dengan focus group discussion pada 26 April yang diikuti oleh 150 peserta dan pemakalah dari K-Water Korea Selatan.
 
Pada 27 April acara akan dilanjutkan dengan Seminar Bendungan Besar dimana 48 makalah akan dipresentasikan dan dihadiri oleh 600-700 peserta. "Semua makalah yang masuk akan dijadikan buku dan diajukan ke Perpustakaan Nasional untuk mendapatkan ISBN," ujar Jarot Widiyoko, Direktur Sungai dan Pantai yang bertindak selaku Ketua Panitia Penyelenggara.
 
Di hari terakhir, para peserta akan mengikuti field trip ke Bendungan Sindangheula, salah satu bendungan besar di Provinsi Banten yang termasuk kedalam rencana pembangunan 65 bendungan.
 
Acara diselenggarakan berkat kerja sama antara Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR dengan Komite Nasional Indonesia Bendungan Besar, Forum Perencana Pelaksana Pengelola Bendungan Besar, juga Balai Bendungan, BBWS Ciliwung Cisadane dan BBWS Cidanau Ciujung Cidurian.
(KompuSDA)

27 April 2019 Selengkapnya