© 2019 Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

PU-Net
      

Berita SDA

Kumpulan Berita Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Dirjen SDA Sosialisasikan Gerakan Donor Darah
Dirjen SDA Sosialisasikan Gerakan Donor Darah

World Water Day atau Hari Air Sedunia adalah perayaan tahunan yang diakukan untuk kembali menarik perhatian publik pada pentingnya air bersih dan penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. Salah satu rangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Air Sedunia yang memiliki tema “Water and Jobs”, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) menyelenggarakan Gerakan Donor Darah. Gerakan Donor Darah ini diselenggarakan pada Rabu, 20 April 2016 yan bertempat di Ruang Perpustakaan Ditjen. SDA Lobby Gedung Ditjen. SDA.

Acara yang diikuti dengan antusias oleh pegawai di Lingkungan Kementerian PUPR ini berhasil mengumpulkan 128 kantong darah dari 165 pendonor yang hadir. Kantong darah yang terkumpul tersebut diberikan ke PMI DKI Jakarta, Kramat Raya, Jakarta Pusat. “Dengan mengkonsumsi air bersih yang banyak, sirkulasi darah akan semakin lancar. Agar darah semakin sehat, perlu dilakukan donor darah secara rutin. Kegiatan donor darah merupakan langkah yang baik untuk menstimulasi pembuatan darah baru. Pendonor tidak hanya mendapatkan kesehatan secara fisik, melainkan juga akan sehat secara psikologis,” ujar dr.Sari Ardian selaku Ketua tim PMI yang hadir pada Gerakan Donor Darah tersebut. (dro/KompuSDA)

21 April 2016 Selengkapnya

Ditjen SDA Ikut Serta dalam Agrinex Expo Ke 10
Ditjen SDA Ikut Serta dalam Agrinex Expo Ke 10

Agrinex Expo merupakan pameran tahunan yang diselenggarakan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk meningkatkan kepedulian dan apresiasi semua pihak terhadap bidang pertanian. Pada tahun 2016 ini Agrinex Expo telah masuk tahun ke-10 penyelenggaraan, dan seperti tahun sebelumnya pameran yang fokus pada bidamg pertanian ini diselanggarakan di Jakarta Convention Center pada tanggal 1-3 April 2016.

Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia Penyelenggara bahwa dukungan semua pihak terhadap perkembangan pertanian di Indonesia masih kurang mumpuni. Padahal potensi pertanian Indonesia sangat besar. Hambatan utama datang dari perkembangan perkebunan sawit yang makin mendesak keberadaan lahan untuk pertanian. "Oleh karena itu kami membutuhkan dukungan semua pihak untuk maju," sebut Rifda Ammarina, Ketua Panitia Penyelenggara dalam pembukaan Agrinex Expo (1/4).

Ketersediaan lahan, kebijakan keberpihakan lahan kepada petani dan program kemandirian pangan Pemerintah merupakan beberapa bentuk dukungan yang dapat diberikan untuk peningkatan potensi pertanian. Salah satu bentuk dukungan datang dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam bentuk penyediaan infrastruktur pertanian. Pada Tahun Anggaran 2016 ini, Ditjen SDA berencana membangun 1.250 km jaringan irigasi, atau setara dengan lahan untuk pertanian seluas 43.263 Ha. Selain pembangunan baru, Ditjen SDA juga akan merehabilitasi jaringan irigasi sepanjang 1.631 km atau setara dengan 308.903 Ha lahan pertanian.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan dalam sambutannya berharap agar dukungan terhadap lahan pertanian tidak hanya dilakukan sebatas menjadi peserta ataupun menghadiri Agrinex Expo, tetapi diwujudkan dalam bentuk nyata. "Ketegasan dan keberpihakan negara untuk bidang pertanian sangatlah dibutuhkan. Saya akan dukung sepenuhnya dan saya pastikan akses kepada tanah harus dimiliki oleh semua warga negara Indonesia demi kesejahteraan dan ketentraman hidupnya. Terutama tanah untuk pertanian yang memang penting demi kesejahteraan bangsa," jelas Menteri Agraria dan Tata Ruang.

Turut hadir dalam pembukaan Agrinex Expo Perwakilan Kementerian Pertanian, Perwakilan Kemenko Perekonomian, Perwakilan Kementerian UMKM dan beberapa wakil kementerian lainnya yang berpartisipasi dalam perhelatan ini. (KompuSDA)

01 April 2016 Selengkapnya

Dirjen SDA: Jangan Membenarkan yang Biasa, Biasakan yang Benar
Dirjen SDA: Jangan Membenarkan yang Biasa, Biasakan yang Benar

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA), Mudjiadi melantik sebanyak 407 orang Pejabat Perbendaharaan, pada Rabu (30/3) di Jakarta. Dalam sambutannya Mudjiadi kembali menyampaikan sekaligus menegaskan bahwa kita harus menjunjung tinggi semangat “Ayo Kerja”. Semangat tersebut sangat tepat bagi kita yang saat ini sedang berjuang mewujudkan infrastruktur yang lebih baik guna merealisasikan Indonesia yang lebih makmur, aman, damai, adil, demokratis dan sejahtera dalam kerangka NKRI.

“Kita saat ini dalam periode percepatan pembangunan infrastruktur, kita merupakan tulang punggung pembangunan infrastruktur di Indonesia. Jadi harapan Bapak Presiden dalam pelaksanaan nawacitanya terletak pada bahu bapak ibu sekalian, karena semua pembangunan di pekerjaan umum, khususnya Direktorat Jenderal (Ditjen) SDA, bapak ibulah yang melaksanakan,” lanjut Mudjiadi.

Mudjiadi mengatakan bahwa Pejabat Perbendaharaan yang dilantik merupakan pejabat-pejabat yang bertanggung jawab terhadap keuangan negara. “Jadi saya mengingatkan, jika mengambil keputusan harus jelas dasar hukumnya. Pesan saya hanya satu jangan membenarkan yang biasa tetapi biasakan yang benar. Begitu dilantik bapak ibu harus menandatangani pakta integritas, karena pembangunan infrastruktur menjadi prioritas maka hukumannya akan lebih berat,” jelasnya.

Perubahan nomenklatur satuan kerja dan anggota Pejabat Perbendaharaan yang baru tentunya harus dimaknai dengan tingginya harapan masyarakat atas hasil kerja Pemerintah yang dapat lebih cepat dirasakan. Prinsip bahwa dampak kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) harus dapat dirasakan masyarakat, hendaknya menjadi landasan kerja.

Di tahun 2016 ini, Ditjen SDA kembali mendapatkan amanah untuk melaksanakan kegiatan berdasarkan prinsip tersebut dengan porsi anggaran yang besar. Dengan tujuan agar pelaksanaan realisasi pembangunan fisik dan penyerapan anggaran Kementerian PUPR menjadi sangat signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga kinerja kementerian bisa cepat dirasakan oleh masyarakat.

Lebih lanjut, Dirjen SDA menjelaskan bahwa sebagai tindak lanjut pelaksanaan Reformasi Birokrasi, ia menekankan kepada seluruh Unit Kerja, sebagaimana diamanahkan dalam Permen PAN dan RB Nomor 52 Tahun 2014, bahwa dalam pelaksanaan pekerjaan harus berani menargetkan tercapainya peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi, pemerintah yang bersih dan bebas KKN, serta peningkatan pelayanan publik melalui upaya pembangunan Zona Integritas pada Unit Kerja menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani.

Dalam rangka mengakselerasi pencapaian sasaran hasil tersebut, maka Dirjen SDA telah menetapkan pilot project pembangunan Zona Integritas pada dua Balai Besar dan Balai Wilayah Sungai, yaitu BBWS Pemali Juana dan BWS Sumatera V. Kedua unit kerja ini diharapkan dapat menjadi percontohan penerapan bagi unit-unit kerja lainnya.

Dari 407 orang pejabat yang dilantik diantaranya ialah Drs. I Made Widiantara, M.Si, Kepala Satuan Kerja Sekretariat Direktorat Jenderal SDA, Muzakkir, SE, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Ketatalaksanaan BWS Sumatera I, Euis Rosanah, SE, MM, Pejabat Penandatanganan Surat Perintah Membayar (PP-SPM) Satuan Kerja BBWS Citarum, Riz Anugerah, ST,MT, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan SDA I BWS Kalimantan III, I Gusti Ngurah Ketut Aryadi, S.Sos, MAP, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengelolaan Aset Bendungan Satuan Kerja BWS Bali Penida, Dra. Hj. I Sakka, Bendahara Pengeluaran Satuan Kerja BBWS Pompengan Jeneberang, Muhammad Yunus, ST, M.Eng, M. Fardan Saleh, SE, Pejabat Penandatanganan Surat Perintah Membayar (PP-SPM) Satuan Kerja BWS Maluku Utara, Muhammad Yunus, ST, M.Eng Kepala Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air BWS Papua Barat.(KompuSDA)

31 Maret 2016 Selengkapnya

Gelaran AWC resmi dibuka
Gelaran AWC resmi dibuka

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang diwakili Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Mudjiadi memukul gong sebagai tanda dimulainya The 1st General Assembly for Asia Water Council di Nusa Dua, Bali pada hari kamis (24/2). Asia Water Council (AWC) dibentuk melalui forum Asian Water High Level Round Table (AWHot) yang diinisiasi oleh Indonesia, Jepang, Korea, Laos, Nepal, Mongolia, Singapura, Thailand, Uzbekistan dan Perancis sebagai perwakilan dari World Water Forum.  

“Permasalahan di Asia berbeda dengan benua lainya. Asia memiliki curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan masalah banjir. Lalu tanaman padi, sebagai sumber bahan makanan pokok penduduk di Asia  juga terkait dengan kebutuhan air irigasi. Selain itu arus urbanisasi menambah rumitnya (kompleks) permasalahan air,” tutur Mudjiadi.

 â€œKita berkumpul membentuk AWC ini bertujuan untuk bertukar informasi dan tantangan yang dihadapi berbagai negara di Asia. Permasalahan ini kita kumpulkan dan kita angkat ke level lebih tinggi seperti PBB dan Earth Summit, sehingga permasalahan yang terjadi di Asia menjadi perhatian. Bila sudah menjadi agenda utama dan perhatian dunia, maka sumber pendanaan lebih banyak, Kehadiran AWC akan memiliki kontribusi terhadap solusi yang paling efisien, efektif dan berkelanjutan dalam manajemen sumber daya air yang bijak baik untuk perkotaan, kebutuhan industri dan swasta.” ucap Direktur Jenderal SDA. Kehadiran AWC tidak hanya seminar namun juga akan ada langkah konkrit yang dilakukan, “Kita usulkan pilot project untuk Water Management in Urban Area di Jabodetabek,” lanjut Mudjiadi.

Dalam sambutannya Gubernur Bali, Made Mangku Pastika yang dibacakan oleh wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta mengatakan bahwa pertemuan ini memiliki posisi yang sangat penting dalam membahas sumber daya air di Asia, selain itu diharapkan mampu mendorong dan mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dengan melibatkan semua pihak di Asia.

“Strategi-strategi yang nanti dihasilkan dalam pertemuan ini harus dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada sehingga air tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dan merata, serta pengelolaannya menjadi lebih baik,” kata Pastika. Dalam kesempatan tersebut Pastika mengucapkan selamat datang kepada para peserta dan berharap suasana Bali mampu memberikan inspirasi dan inovasi yang tinggi dalam memecahkan dan mencarikan solusi terhasap permasalahan sumber daya air tersebut.

Acara yang digelar pada hingga tanggal 26 Maret 2016 ini dihadiri oleh Menteri SDA Bangladesh, Muhammad Nazrul Islam, Sekretaris Internasional Hidrologi Program (IHP) dan Direktur Divisi Ilmu Air, UNESCO, Blanca Jiménez-Cisneros, Wakil Presiden Asian Development Bank Bambang Susantono, Presiden Korea Water Forum Jung Moo Lee, CEO K-Water Gyewoon Choi, dan perwakilan dari organisasi non pemerintah di bidang sumber daya air. (KompuSDA)

 

25 Maret 2016 Selengkapnya

Air dan Lapangan Pekerjaan
Air dan Lapangan Pekerjaan

Hari Air Dunia (HAD) atau World Water Day diperingati setiap tanggal 22 Maret di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat, pemerhati lingkungan, perguruan tinggi dan swasta mengadakan Kampanye Peduli di Bundaran Bank Indonesia (bundaran patung Kuda Arjuna Wiwaha) untuk memperimgati HAD pada tahun 2016 ini.

“Water and Jobs” diangkat sebagai tema HAD 2016, mengingat hampir setengah dari pekerja di dunia (1,5 miliar orang) bekerja di sektor yang terkait dengan air, bahkan bisa dikatakan hampir semua pekerjaan tergantung pada air.

Saat ini, begitu banyak masyarakat yang bekerja pada sektor yang berkaitan dengan air atau menggantungkan pendapatannya di atas atau di dekat air. Namun, mereka sering tidak memperhatikan bagaimana menjaga kebersihan dan ketersediaan air di muka bumi.

Untung Budi Santosa mengatakan, “Tema HAD tahun ini merupakan inspirasi buat kita yang bekerja terkait  dengan air untuk meningkatan pelayanan. Isu terbesar mengenai air di Indonesia pada saat ini ialah tentang pengelolaan air.” Untung Budi Santosa merupakan Sekretaris Harian Dewan Sumber Daya Air dan bertindak sebagai ketua Panitia Peringatan HAD tahun 2016.”

Tema HAD tahun ini mengajak kita semua untuk mampu mengatur penggunaan air bersih secara bijak, juga mengajak kita semua mampu mengatur air bersih untuk masa depan. Seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini sudah banyak pencemaran air yang terjadi, tidak terkecuali di Indonesia. “Saya mengharapkan masyarakat ikut berpartisipasi menjaga kebersihan lingkungan air dan sebijak mungkin menggunakan air sehingga kita tidak mengalami kekeringan pada saat musim hujan serta tidak mengalami banjir pada saat musim penghujan,” tutup Untung.

22 Maret 2016 Selengkapnya

Indonesia menjadi Tuan Rumah Penyelenggaraan Pertemuan Asia Water Council yang Pertama
Indonesia menjadi Tuan Rumah Penyelenggaraan Pertemuan Asia Water Council yang Pertama

Indonesia sebagai salah satu pelopor berdirinya Asia Water Council ditampuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pertemuan Asia Water Council yang pertama. “Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi wadah berbagi pengetahuan, pengalaman dan solusi seputar permasalahan sumber daya air yang melanda Asia,” jelas Agus Suprapto, Direktur Bina Penatagunaan Sumber Daya Air Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, yang merupakan Ketua Panitia Penyelenggara Pertemuan Asia Water Council yang pertama dalam Jumpa Pers yang dilaksanakan di Jakarta (21/3).

Rencananya pertemuan profesional para pejabat tinggi negara di bidang sumber daya air ini akan berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada tanggal 24 – 26 Maret 2016, dan akan dihadiri oleh sekitar 200 peserta, di mana 50 orang dari peserta mewakili organisasi terkait sumber daya air di wilayah Asia.

“Dalam acara ini, diharapkan Indonesia bisa berbagi pengalaman dan tantangan yang kiranya perlu mendapatkan masukan pemikiran dari negara-negara lain di Asia dengan kondisi dan tantangan yang serupa dengan yang dialami oleh Indonesia. Di sisi lain, kita juga bisa berbagi solusi mengenai masalah sumber daya air yang pernah kita alami,” jelas Agus Suprapto.

Agus Suprapto juga menambahkan bahwa Asia Water Council lahir dilatarbelakangi oleh kebutuhan negara-negara di Asia akan adanya wadah pertemuan untuk membahasa tantangan bidang sumber daya air, dengan area yang lebih regional. Selama ini pertemuan professional untuk membahas masalah sumber daya air di wilayah Asia dinaungi oleh World Water Council. (KompuSDA)

21 Maret 2016 Selengkapnya

Presiden RI Resmikan Bendungan Nipah di Madura
Presiden RI Resmikan Bendungan Nipah di Madura

Dalam upaya meningkatkan produksi padi di wilayah Jawa Timur, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melaksanakan pembangunan Jaringan Irigasi Nipah yang terletak di Desa Tabanah, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang.

Jaringan Irigasi Nipah direncanakan dapat mengairi areal persawahan seluas 1.150 Ha, dengan bangunan pengambilan utama dari Bendung Tebanah dan Bendung Montor. Jaringan irigasi ini terdiri dari 925 Ha sawah baru yang merupakan pengembangan sawah tadah hujan dan sisanya adalah Daerah Irigasi (DI) Montor seluas 225 Ha yang merupakan sawah eksisting.

Sebenarnya, studi mengenai pembangunan Bendungan Nipah sudah dilakukan sejak tahun 1973, kemudian dimulai pembebasannya pada tahun 1982. Namun, di tahun 1993 terjadi kendala sosial pada pelaksanaan pembangunan Bendungan Nipah, sehingga pelaksanaannya sempat terhenti dan dilanjutkan kembali pada tahun 2004. Pembangunan Bendungan Nipah selesai pada tahun 2008, namun karena terkendala pembebasan lahan, proses pengisian baru dimulai pada tahun 2015.

"Bendungan ini disiapkan untuk jangka panjang produksi pangan kita," kata Presiden Joko Widodo saat meresmikan pengoperasian Bendungan Nipah di Sampang, Madura, seperti dikutip dari keterangan tertulis Tim Komunikasi Presiden, Sabtu (19/3). “Nantinya masih akan ada lagi pembangunan bendungan di beberapa tempat karena kita tahu nantinya dengan pertambahan penduduk dunia itu manusia akan rebutan dua hal, yaitu energi dan pangan. Karena kuncinya ada di air, jika air mencukupi maka pangan dan energi kita akan mecukupi hingga kedepannya,” lanjut Presiden RI.

Selain untuk mengairi DI, Bendung Nipah juga bermanfaat sebagai konservasi sumber daya air, dan perikanan darat. Presiden Joko Widodo mengatakan pentingnya koordinasi dan kerjasama yang baik antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah akan menghasilkan sinergi yang baik. Selain itu pendekatan kepada masyarakat adalah kunci untuk melancarkan pekerjaan pelaksanaan pembangunan.

Turut hadir dalam acara tersebut, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Wakil Gubernur Jawa Timur, Ketua Komisi V DPR R dan Para Pejabat Eselon II di lingkungan Ditjen SDA.

21 Maret 2016 Selengkapnya

Kunjungan Kerja Presiden RI ke Bendungan Jatigede
Kunjungan Kerja Presiden RI ke Bendungan Jatigede

Presiden Jokowi didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan kunjungan kerja di Jawa Barat dengan meninjau tinggi air di Bendungan Jatigede, Sumedang pada kamis (17/3). Ini merupakan kunjungan Presiden pertama ke Bendungan Jatigede pasca impounding pada Agustus 2015.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Sumarno, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian (PUPR) Mudjiaji dan Kepala Balai Besar Cimanuk Cisanggarung Tri Sasongko Widianto serta sejumlah pejabat lainnya.

Presiden Joko Widodo mengatakan proses pengisian air di Waduk Jatigede saat ini telah mencapai 40 persen dengan tinggi permukaan air mencapai 243 meter dari dasar waduk. "Ini Waduk Jatigede sedang digenangi. Alhamdulillah saat ini sudah 40 persen, kami harapkan nanti di Januari 2017 itu sudah maksimal sesuai yang kita inginkan,"" katanya.

Presiden Joko Widodo pun menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Kementerian PUPR, Gubernur Jawa Barat dan semua pihak yang telah bekerja keras menyelesaikan bendungan Jatigede yang telah digagas sejak tahun 1960-an tersebut. "Saya berterimakasih kepada Kementerian PUPR, Gubernur Jawa Barat dan semua pihak yang telah bekerja keras menyelesaikan Jatigede."
Masalah terbesar dalam pembangunan bendungan ini adalah soal pembebasan lahan yang berlarut-larut. "Pembebasan lahan dan ganti rugi dari 10.924 KK (Kepala Keluarga), sekarang tinggal 614 KK,” tutur beliau.

Menurut Mudjiadi ditempat terpisah mengatakan, “saat ini untuk ganti rugi pembayarannya sudah 94% atau Rp 680 miliar, sebab ada beberapa yang double namanya, ada juga beberapa ahli waris yang belum bisa kita bayarkan sebab menunggu penetapan waris dari pengadilan agama. Untuk yang double itu tidak akan dibayarkan lagi dan di blokir, selain itu juga ada yang di titip di konsinyansi pengadilan sebab anggarannya hanya setahun sesuai dengan tahun anggarannya.“
Mudjiadi menuturkan, “sekarang ini yang baru jalan baru irigasinya saja, sedangkan untuk air minum itu kita harus membuat saluran untuk air bakunya terlebih dahulu, dan infrastruktur lainnya yang memang masih di proses.”

“Sedangkan untuk fungsi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebetulnya ketinggian airnya memang sudah mencukupi, akan tetapi PLTA nya sendiri masih dalam pembangunan. Secara hidroliknya memang sudah bisa dan sudah bisa melalui penstock (pipa pesat) juga sudah di buat intake dan terowongan sepanjang 100m dan nantinya PLN tinggal menyambungkannya saja, artinya kalau kita buka airnya sudah bisa mengalir untuk menggerakkan turbin,” tutup Mudjiadi. (KompuSDA)

18 Maret 2016 Selengkapnya

Upaya Penanggulangan Bencana Banjir Kabupaten Bandung
Upaya Penanggulangan Bencana Banjir Kabupaten Bandung

Bencana banjir akibat luapan Sungai Citarum menggenangi kawasan Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung, Minggu pagi (13/3). Akibatnya ribuan rumah di kawasan itu terendam banjir, terutama di kawasan Kelurahan Andir dan Baleendah di Kecamatan Baleendah dan Kelurahan Bojongasih dan Cibodas di Kecamatan Dayeuhkolot. Lokasi terparah terdapat di kawasan Kampung Cigosol dan Andir setinggi ± 3 meter, dengan elevasi banjir + 660,5 di Dayeuh Kolot.

Ketinggian air di kawasan Dayeuhkolot berkisar 50 hingga 70 cm. Banjir di daerah ini berpotensi meninggi karena hujan lebat yang mengguyur dalam beberapa hari terakhir. Tingginya curah hujan juga mengakibatkan ratusan rumah warga Kampung Cieunteung, Kecamatan Baleendah kembali terendam banjir dengan ketinggian 50 cm pada hari Minggu pagi (13/3). Selain merendam ratusan rumah warga, akses jalan pun tertutup oleh banjir hingga mengganggu aktivitas warga. Warga harus menggunakan perahu kayu untuk melintasi genangan banjir. Sebagian warga bahkan terpaksa mengungsi ke masjid terdekat. Warga pun khawatir banjir terus naik mengingat intensitas hujan yang masih cukup tinggi.

Bencana banjir yang kerap terjadi di Kecamatan Baleendah dikarenakan kawasan ini lebih rendah dari aliran Sungai Citarum. Sehingga jika musim hujan tiba dan Sungai Citarum meluap, luapannya kemungkinan akan menggenangi kawasan ini.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) cq. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum melakukan beberapa upaya untuk meminimalisir dampak banjir saat ini dan mencegah kemungkinan potensi banjir di masa mendatang. Oleh karena itu, Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono melakukan kunjungan lapangan, ke salah satu kawasan terdampak bencana banjir, yaitu Curug Jompong, sekaligus melakukan koordinasi menindaklanjuti tindakan penanganan banjir Kabupaten Bandung, didampingi oleh Direktur Jenderal SDA Mudjiadi, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Arie Setiadi Moerwanto dan Kepala BBWS Citarum Yudha Mediawan (14/3). Turut hadir dalam kunjungan lapangan tersebut, Kepala Dinas PSDA Provinsi Jawa Barat dan Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat.

Untuk meminimalisir kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir ini, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum berencana melakukan beberapa penanggulangan, seperti pembangunan Kolam Retensi Cieunteung dengan luas total area 8,7 Ha. BBWS Citarum juga merencanakan pembangunan Floodway Cisangkuy dengan bangunan-bangunan pelengkapnya sepanjang 8,143 meter dari Desa Tarajusari Kecamatan Banjaran sampai dengan Desa Sangkanurip di Kecamatan Katapang.

Kedua rencana kegiatan tersebut sudah terkontrak pada tahun 2016 dan saat ini sedang tahap pengadaan tanah. Selain itu, Menteri PUPR menyatakan bahwa akan dibangun sebuah tunnel di samping Curug Jompong untuk memperlancar aliran air ke Waduk Saguling. Namun, rencana ini masih berada dalam tahap pengkajian.

Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat menangani permasalahan bencana banjir Citarum dimasa yang akan datang. (AdminBBWSC-KompuSDA)

17 Maret 2016 Selengkapnya

Kunjungan Presiden RI ke Waduk Gondang
Kunjungan Presiden RI ke Waduk Gondang

Presiden Joko Widodo melakukan rangakaian kunjungan kerjanya di Solo, salah satunya dengan meninjau progress pembangunan Waduk Gondang yang membedung Sungai Melikan (Garuda) yang terletak di Desa Gempolan dan Desa Ganten, Kecamatan Kerjo serta Desa Jatirejo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah pada Jumat (11/3). Saat meninjau Waduk Gondang, Presiden mengatakan bahwa pembangunan Waduk Gondang saat ini sudah mencapai 24 persen dari target 19 persen dan diharapkan akhir 2017 sudah selesai karena dikerjakan dengan 3 shift. “Nanti alirannya 80 persen ke Sragen dan saya harapkan setelah selesainya waduk akan meningkatkan produksi padi dan produksi lainnya,” lanjut Joko Widodo.

Saat melakukan peninjauan, Presiden didampingi oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Karanganyar Juliyatmono, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Mudjiadi, Kepala Pusat Bendungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Imam Santoso dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo Ditjen SDA Yudi Pratondo.
 
Presiden yang akrab disapa Jokowi ini menuturkan bahwa tahun kemarin ada tiga belas pembangunan waduk, tahun ini delapan pembangunan dan masih menyisakan 28 pembangunan lagi. "Dalam pembangunan waduk, ada yang selesai dalam tiga tahun, dua setengah tahun dan ada juga yang sampai empat tahun, tergantung dari besar kecilnya waduk," jelas Jokowi.
 
Pembangunan Waduk Gondang sangat diperlukan dalam rangka pengembangan infrastruktur irigasi guna mendukung ketahaan pangan nasional dan pengendali banjir di wilayah Kabupaten Karanganyar. “Waduk Gondang tampungannya 9,15 juta meter kubik, panjang bendungan 604 meter dan tingginya 71 meter (dari galian pondasi), pemanfatannya adalah untuk meningkatkan intensitas tanam di daerah irigasi seluas 4.680 Ha. Saat ini intensitas masa tanamnya adalah 1,4 sampai 1,6 kali per tahun, dengan adanya waduk ini diharapkan meningkat menjadi 2,5 kali masa tanam per tahun,” ucap Mudjiadi.

“Kini pembangunan waduk tersebut sedang dalam tahap pembangunan spillway, tubuh bendungan dan diversion tunnel. Manfaat lainnya adalah untuk air baku sebanyak 200 liter per detik, konservasi daerah aliran sungai (ground water recharge), retensi banjir sekitar ± 2 juta meter kubik dan juga dapat dimanfaatkan untuk pariwisata dan olahraga air,” tutup Mudjiadi. (arg/KompuSDA)

13 Maret 2016 Selengkapnya

Program SDA Harus Terstruktur, Masif dan Fungsional
Program SDA Harus Terstruktur, Masif dan Fungsional

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyelenggarakan Konsultasi Regional dan Peyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2017 Bidang Sumber Daya Air di Jakarta, Rabu (03/03).

Konsultasi Regional Ditjen SDA merupakan forum koordinasi dan sinkronisasi program tahunan dan sebagai salah satu tahapan penyiapan program yang diselenggarakan guna mensinergikan sumber daya pembangunan bidang SDA. Melalui penyelenggaraan Konreg ini diharapkan dapat dihasilkan rancangan program tahunan yang lebih matang, baik untuk tahap persiapan, konstruksi, operasi, perawatan, maupun pemanfaatan pasca-konstruksi. Program yang dilakukan dengan baik akan sangat membantu pelaksanaan kegiatan yang bermuara pada kualitas pekerjaan yang baik dan sejalan dengan waktu pelaksanaan sebagaimana direncanakan.

Direktur Jenderal SDA, Mudjiadi mengatakan “bahwa kebijakan anggaran belanja 2017 tidak lagi berdasarkan money follow function, tetapi money follow program prioritas”. Penyiapan program dilakukan dengan memperhatikan dampak signifikan terhadap pencapaian sasaran pembangunan: pertumbuhan ekonomi, pembukaan lapangan kerja, penurunan jumlah kemiskinan, mendukung pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pangan. “Artinya, harus terstruktur, masif, dan fungsional. Tidak lagi ada pemrograman yang sifatnya sporadis dan tidak langsung fungsional” sambung Mudjiaji.

Tema program prioritas ialah perkotaan, perumahan dan permukiman,  desa dan kawasan perdesaan, kedaulatan pangan, maritim dan kelautan, kedaulatan energi, pariwisata, kawasan industri dan perbatasan. Sehingga kedepannya setiap proyek pekerjaan yang diajukan harus sesuai dengan program prioritas.

Dalam pidatonya, Mudjiaji mengatakan terdapat 5 hal yang harus dibenahi pada pelaksanaan program 2016, yakni progress fisik dan keuangan, progress lelang, pemanfaatan proses lelang, evaluasi MYC dan evaluasi laporan keuangan dan BMN. Evaluasi laporan keuangan dan BMN harus dilakukan dengan teliti dan teratur karena dapat mempengaruhi opini WTP (wajar tanpa pengeculian). “Jangan sampai Kementerian PUPR tidak mendapatkan WTP karena Ditjen SDA”, tegas Mudjiaji.

Dalam acara yang dihadiri oleh jajaran Direktur Ditjen SDA, Kepala Balai, Kepala Satker, dan PPK di lingkungan Ditjen SDA, dilakukan pula penyerahan buku renstra kepada balai dengan progress terbaik di setiap pulau di Indonesia. (KompuSDA)

08 Maret 2016 Selengkapnya

Bendung Gerak Sembayat Sumber Air Baku Gresik dan Lamongan
Bendung Gerak Sembayat Sumber Air Baku Gresik dan Lamongan

Menteri PUPR, Basuki Hadimoeljono, melakukan kunjungan lapangan ke Bendung Gerak Sembayat (120216) didampingi oleh Direktur Jenderal SDA, Mudjiadi, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Yudi Pratondo dan anggota Komisi V DPR RI, Nursyirwan serta pejabat Kementerian PUPR.

 

“Bendung Gerak Sembayat di Kabupaten Gresik, Jawa Timur yang ditargetkan selesai Agustus tahun ini akan menjadi sumber air baku bagi masyarakat di Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan dan sekitarnya,” kata Yudi Pratondo.

Lebih lanjut, Yudi  Pratondo, menjelaskan progres fisik Bendung Gerak Sembayat telah mencapai 95,7 persen. Bendung tersebut merupakan bagian dari Wilayah Sungai Bengawan Solo yaitu Bendung Gerak Babat yang selesai 2004, Bendung Gerak Bojonegoro yang selesai 2012, Bendung Gerak Sembayat sendiri yang dimulai pembangunannya tahun 2011, dan Bendung Gerak Karangnongko yang saat ini masih dalam proses AMDAL.

Pembangunan bendung tersebut dibiayai menggunakan APBN sebesar Rp 720 milyar. Manfaat dari Bendung Gerak Sembayat adalah memiliki tampungan Long Storage untuk keperluan penyediaan air baku sebesar 10 juta m3. Air baku tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk irigasi seluas 800 ha, irigasi pompa 3.569 ha, penyediaan air domestik dan industri 1.258 m3/dtk dan mencegah instrusi air laut.

 

Bendung Gerak ini memiliki 7 pintu air yang dikerjakan oleh PT. Waskita Karya, PT. Wijaya Karya dan PT. Brantas Abipraya. (kompuSDA/birkompupr)

 

22 Februari 2016 Selengkapnya