© 2019 Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

PU-Net
      

Berita SDA

Kumpulan Berita Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Kolaboraksi Untuk Air di Negeri Ini
Kolaboraksi Untuk Air di Negeri Ini

 

Seiring bertambahnya penduduk di Indonesia maka kebutuhan akan air untuk rumah tangga juga semakin besar, dan tentu saja akan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kebutuhan akan pangan, pertanian dan industri, sehingga diperlukan semakin banyak tampungan air untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

 

Bukan itu saja, perubahan iklim juga menjadi tantangan dalam penyediaan air baku, panjangnya musim kemarau mengakibatkan kekeringan, dan meningkatnya intensitas hujan dan permukaan air laut berdampak pada banjir. Begitu juga dengan berbagai tantangan lainnya seperti degradasi daerah aliran sungai di daerah hulu, juga menurunnya debit pada sumber air dan tinggi laju sedimentasi pada tampungan-tampungan air seperti waduk, embung, danau, dan situ. Di samping itu, kualitas air juga semakin turun akibat tingginya tingkat pencemaran pada sungai dan sumber-sumber air lainnya yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

 

Permasalahan teknis dan non teknis tersebut tentu saja semakin memperparah kondisi kelestarian air di Indonesia. Tak ayal lagi, banyak lembaga yang saling menyalahkan program yang sudah ada tanpa memberi solusi yang nyata. Tidak itu saja, banyak pula masyarakat yang mengeluh saja tanpa berbuat sesuatu untuk perubahan. Hal ini tentu saja tidak bisa dibiarkan terlalu lama, karena tidak akan memberi manfaat apa-apa. Satu dari sekian banyak solusi yang bisa dilakukan adalah gotong royong.

 

Hal inilah yang disampaikan Direktur BPSDA Fauzi Idris yang hadir mewakili Direktur Jenderal Sumber Daya Air Hari Suprayogi pada Seminar Nasional Hari Air Dunia 2019 di Gedung Serbaguna Pascasarjana Universitas Sriwijaya, Palembang hari ini (21 Maret 2019). Sebagai Keynote Speaker dalam acara tersebut, Fauzi menyampaikan bahwa Kementerian PUPR melalui Ditjen SDA selalu meningkatkan program-program pembangunan infrastruktur untuk sumber-sumber air yang tersebar di Indonesia. Kegiatan ini tergolong dalam kegiatan struktural.

 

Ia menambahkan bahwa pemerintah, masyarakat dan akademisi dapat berkolaborasi melalui aksi non struktural, seperti membudayakan menanam pohon (tanaman) pada setiap lahan yang ada di sekitar mereka. Tentu saja ini bisa sangat bermanfaat untuk menyimpan air. Bagaimana bisa pohon dapat menjadi tempat menyimpan air? Karena pada saat hujan turun pasti akan masuk ke dalam tanah. Pohon yang ada di sekitar akan langsung menjadi tempat penyimpanan air yang diresap oleh tanah melalui akar-akar pohon. Jika tidak ada pohon yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan air maka air tersebut akan langsung terbuang begitu saja baik ke sungai maupun ke laut, sehingga dapat menyebabkan makhluk hidup yang ada di sekitar kekurangan sumber air. Secara struktural, Ditjen SDA telah membangun banyak tampungan air untuk menampung air hujan tersebut.

 

Seminar Nasional yang dihadiri oleh Walikota Palembang Harnojoyo, dan Rektor Universitas Sriwijaya Anis Saggaff tersebut cukup disambut antusias oleh ratusan mahasiswa, akademisi juga masyarakat. “Direktorat Jenderal Sumber Daya Air akan terus membenahi sumber-sumber air melalui program konservasi SDA, juga meningkatkan sistem informasi sumber daya air agar semua orang mendapatkan akses akan air. Namun, kami butuh kontribusi dari semua lapisan masyarakat agar berbagai program tersebut bisa berjalan dengan baik dan berkelanjutan,” tutur Fauzi dalam paparannya. (dro kompusda)

 

21 Maret 2019 Selengkapnya

Kongres Sungai Indonesia Coba Atasi Permasalahan Banjir di Indonesia
Kongres Sungai Indonesia Coba Atasi Permasalahan Banjir di Indonesia

Permasalahan sungai sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Hal yang paling sering adalah kejadian banjir.  Frekuensi kejadian banjir di Indonesia pada kurun waktu 20 tahun terakhir ini cenderung meningkat. Pada tahun 2017 misalnya, kejadian tersebut meningkat menjadi 146 kejadian per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa banjir bukan lagi hal yang dapat diabaikan. Banjir bukan hanya dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi, namun juga sebagai implikasi atau dampak dari aktivitas lainnya, contohnya penggundulan hutan di daerah hulu, yang menyebabkan aliran air menjadi lebih cepat ke daerah hilir. Hal tersebut selanjutnya menimbulkan sedimentasi pada dasar sungai dan akan mengurangi kapasitas tampung sungai.

“Sungai itu dibutuhkan sampai kapan pun sehingga perlu adanya kegiatan konservasi yang juga berkelanjutan, peran PUPR terhadap sungai itu sebagian besar kita dominan di kuantitas air kalau di kualitas kita sebagai pendukung. Masalah sungai tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja namun semua pihak kita kolaborasi, seperti swasta, masyarakat, akademisi,” ujar Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada acara Kongres Sungai Indonesia 4.0 di Cibubur (21/3).

Kegiatan Kongres Sungai Indonesia merupakan kegiatan rutin tahunan, yang bertujuan untuk menjadi wadah bersama bagi seluruh 2 pihak, tidak hanya dari kalangan Pemerintahan, namun juga dari akademisi, para pemerhati sungai, maupun masyarakat luas pada umumnya, bertukar informasi dan pengalaman, serta mendiskusikan berbagai alternatif solusi atas permasalahan-permasalahan terkait pengelolaan sungai di Indonesia. Kongres Sungai tahun ini dilaksanakan untuk menyambut pengembangan industri generasi keempat dengan mengusung tema “Sungai Sebagai Pusat Peradaban Bagi Peningkatan Kualitas Hidup Manusia”.

Pemerintah melalui Kementerian PUPR, bersama dengan seluruh pihak terkait baik itu Pemerintah Daerah, akademisi, ataupun badan usaha, tidak hanya berkomitmen untuk membangun infrastruktur pengendali banjir atau melaksanakan normalisasi sungai, dalam rangka mengatasi berbagai masalah sungai, tapi semua itu juga dibarengi dengan upaya nonstruktural lainnya, sebagaimana yang disebutkan dengan melibatkan masyarakat dan berbagai pihak. Misalnya saja melalui kegiatan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air atau GNKPA.

Lalu, dengan konsep industrial 4.0 yang inovatif, bagaimana dengan pengelolaan sungai kita ke depan untuk menjawab tantangan perkembangan jaman ini? Maka perlu bergerak dimulai dari pendekatan yang sifatnya konvensional menuju pendekatan yang lebih modern. Penggunaan teknologi sistem informasi hendaknya sudah menjadi bagian terintegrasi pada pengelolaan sungai di Indonesia.

 

21 Maret 2019 Selengkapnya

Infrastruktur dan SDM Sebagai Prioritas Pembangunan
Infrastruktur dan SDM Sebagai Prioritas Pembangunan

Menteri PUPR turut membuka Indobuildtech Expo 2019 yang diselenggarakan di ICE BSD City, Tangerang Selatan (21/3). 
 
Acara yang berlangsung selama empat hari ini bertujuan untuk mendorong pengembangan industri konstruksi guna memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur yang masih menjadi prioritas pembangunan. 
 
Salah satu upaya pengembangan industri konstruksi adalah dengan meningkatkan tenaga kerja handal yang memiliki sertifikat kompetensi keahlian.
 
Data BPS tahun 2018 menunjukkan jumlah tenaga kerja konstruksi di Indonesia secara total sebanyak 8,3 juta orang. Dari jumlah tersebut, hanya 20% atau 1,6 juta orang yang tergolong tenaga ahli konstruksi. 
 
Bila ditilik jumlah tenaga kerja ahli yang telah memiliki Sertifikat Kompetensi Keahlian (SKA) sesuai data Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional, tahun 2018 ada sebanyak 195.312 orang. Artinya, masih sekitar 1,4 juta tenaga ahli konstruksi yang perlu disertifikasi.
 
Untuk itulah Menteri PUPR pada kesempatan yang baik ini secara simbolis memberikan sertifikat digital kepada perwakilan tenaga kerja konstruksi yang hadir di Indobuildtech Expo 2019.
 
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam sambutannya memberikan pesan kepada tenaga kerja yang telah disertifikasi sebagai ahli konstruksi agar dapat memanfaatkan sertifikatnya dalam berkarya di bidang konstruksi.
 
Sementara kepada 500 orang yang akan disertifikasi selama 5 hari ini, diharapkan dapat memanfaatkan peluang sertifikasi gratis yang disediakan oleh negara dengan sebaik-baiknya.
 
Acara yang memadukan pameran dan Business Programs ini mengambil tema “Establishing Architecture 4.0” dan berlangsung sejak tanggal 21 Maret sampai dengan 24 Maret 2019.
 
Turut hadir dalam acara ini Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin. (KompuSDA•kty/nan)

21 Maret 2019 Selengkapnya

Water Day Fest Ajak Generasi Muda Peduli Air
Water Day Fest Ajak Generasi Muda Peduli Air

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono membuka acara Final Water Day Fest 2019 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air di Jakarta (19/3). Acara digelar dalam rangka memperingati Hari Air Dunia (HAD) ke-XXVII bertemakan “Leaving No One Behind” yang diadaptasi dalam tema Indonesia “Semua Harus Mendapatkan Akses Air”.

Basuki mengatakan peringatan HAD merupakan perayaan yang ditujukan sebagai usaha-usaha untuk menarik perhatian publik akan pentingnya air dan pengelolaan sumber-sumber air yang berkelanjutan. Momentum HAD digunakan oleh Menteri Basuki untuk mengajak generasi millenial untuk turut berperan aktif menjaga lingkungan dan air.

“Saya titip pesan kepada semua untuk melakukan kampanye dari pintu ke pintu untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya air atau daya rusak air apabila lingkungan tidak dijaga. Kalau lingkungan dan air dirawat dengan tidak baik bisa menjadi “musuh” tetapi kalau dirawat dengan baik akan menjadi “kawan”. Perlakuan kita terhadap lingkungan akan meresonansi perlakuan lingkungan terhadap kita. Apabila terus terjadi penebangan liar maka akan terjadi kekeringan dan banjir,” ujar Basuki.

Pada kesempatan yang sama Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Hari Suprayogi mengatakan, semua pihak wajib menjaga ketahanan air, karena semua masyarakat berhak atas akses air bersih. “Seperti tagline kita tahun ini, semua harus dapat akses air. Itu artinya luas sekali, supaya kita menjaga ketahanan air. Ketahanan air ini tujuannya untuk air untuk semua. Maka untuk menjaga ketahanan air, semua unsur harus terlibat,” ungkap Hari.

Menurut Hari, tugas Kementerian PUPR tidak hanya membangun infrastruktur saja, tetapi juga non infrastruktur. Salah satunya menjaga ketahanan air. Saat ini, Kementerian PUPR juga telah menyusun kebijakan dalam menjaga ketahanan air. Seperti kebijakan pemanfaatan daya guna air yang efisien, konservasi, perlindungan dari pencemaran, sistem distribusi air yang baik agar tidak terjadi kebocoran.

“Air untuk semua, semua unsur terlibat. Kementerian PUPR selalu bangun infrastruktur, padahal tidak itu saja, harus didukung yang non-struktur, antara lain unsur sosial. Semua harus terlibat, baik generasi muda maupun tua,”pungkasnya.

Oleh karena itu, kata Hari, pemerintah dalam hal ini Kementerian PUPR berpartisipasi dan ikut menyadarkan masyarakat untuk mengkampanyekan pentingnya air bersih. "Kita untuk Indonesia berpartisipasi, makanya kita sadarkan semua masyarakat supaya ikut mengampanyekan air bersih,” sambung Hari.

Salah satu program yang dilakukan Kementerian PUPR untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya air bersih adalah dengan menggelar Water Day Fest 2019. "Sosialisasinya kita tidak dijalan-jalan, karena tidak efektif, dengan mengadakan Water Day Fest 2019 ini lebih efektif. Dengan Duta Hari Air, nanti di sekolah dia akan sosialisasi, syukur-syukur ada pelajaran yang di sekolah yang mengajarkan pentingnya air," tutup Hari.

Water Day Fest 2019 berisi perlombaan yang ditujukan bagi palajar SMA/SMK sederajat di Jabodetabek seperti lomba Duta Hari Air 2019, lomba paduan suara dan lomba tari tradisional. Berikut daftar pemenangnya:

Duta Hari Air 2019 Putra
Juara 1: Firhan Salim (SMAN Unggulan MH Thamrin)
Juara 2: Kevin Nanda Susanto (SMAN 90 Jakarta)

Juara 3: Dani Sefianto (SMAN 86 Jakarta)

 

Duta Hari Air 2019 Putri
Juara 1: Salsa Kania Purnamasari (SMAN 6 Jakarta)
Juara 2: Diandra Paramitha (SMAN 2 Kota Bekasi)

Juara 3: Zivanka Natania (SMA Tunas Bangsa Greenville)

 

Paduan Suara
Juara 1: SMAN 34 Jakarta
Juara 2: SMAN 8 Jakarta

Juara 3: SMAN 13 Jakarta

 

Tari

1. SMKN Jakarta 1

2. SMKN 57 Jakarta

3. SMAN 21 Jakarta

 

(ech-KompuSDA)

20 Maret 2019 Selengkapnya

Workshop Indonesia dan Perancis dalam Pengelolaan Bendungan
Workshop Indonesia dan Perancis dalam Pengelolaan Bendungan

Workshop bertajuk "Construction, Rehabilitation and Improvement of Existing Dam in Indonesia" ini bertujuan untuk mempererat kerja sama Indonesia-Perancis dalam hal pengelolaan bendungan dalam bentuk pertukaran teknologi, pertukaran pengalaman dan pengetahuan di antara kedua negara.
 
Tidak hanya dalam pengelolaan bendungan, dalam workshop ini Dirjen SDA juga membahas mengenai kemungkinan investasi di sektor sumber daya air. "Terdapat beberapa kemungkinan investasi di bidang sumber daya air, seperti investasi di mini atau mikro hidro dan hidro power; instalasi early warning system penyediaan alat berat dan pompa air," jelas Hari Suprayogi.
 
Lebih lanjut, Dirjen SDA berharap kegiatan ini dapat menjadi forum yang bermanfaat dalam mengembangkan perspektif pengelolaan air yang inovatif. (KompuSDA)

19 Maret 2019 Selengkapnya

Bangun Pengaman Pantai Untuk Selamatkan Warga dan Naikkan Pariwisata
Bangun Pengaman Pantai Untuk Selamatkan Warga dan Naikkan Pariwisata

 

Ketika berkunjung ke Pantai, banyak dari kita yang mungkin pernah melihat bangunan seperti tanggul di pesisir pantai. Nah, tanggul pengaman pantai ini banyak manfaatnya loh. Kita tahu gelombang laut yang tiap hari menyapa pesisir pantai, lama-lama mengikis pasirnya (daratan), dan akhirnya semakin menjorok ke darat. Kalau tidak ditangani segera, pemukiman warga yang ada di sekitar pantai, pun jalan yang ada di dekat pantai pasti lama kelamaan akan tergenang air.

Inilah salah satu fokus kegiatan Ditjen SDA pada pantai-pantai di Indonesia, satu diantaranya ada di Pantai Panjang, Provinsi Bengkulu. Pembangunan Pengaman Pantai Panjang Kota Bengkulu sudah dilaksanakan sejak tahun 1993 sampai 2017 kemarin oleh BWS Sumatera VII, yang merupakan perpanjangan tangan Ditjen SDA untuk wilayah Bengkulu dan sekitarnya. Pembangunan ini bertujuan untuk melindungi kawasan Kelurahan Malabero Kota Bengkulu.

Dijelaskan oleh PPK Sungai Pantai II Fitriyadi bahwa kondisi gelombang laut di sekitar Pantai Panjang sangat besar, sehingga mengikis daerah daratan dengan cepat, dan dapat menyebabkan banjir ROB ke jalan dan pemukiman warga sekitar, sehingga perlu dibangun tanggul untuk mengamankan pesisir pantainya. Banjir ROB yang disebutkan tersebut pernah terjadi pada tahun 1992 dimana terjadi gelombang pasang yang tinggi yang mengakibatkan kawasan Kelurahan Malabero terendam air, sehingga perlu dilakukan relokasi ke kawasan lainnya.

Ditambahkan oleh PPK Perencanaan BWS Sumatera VII Faris Iqbal Tawakal, dulunya kawasan ini merupakan Tawan Wisata Alam di bawah naungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam. "Karena cakupan pekerjaan mereka adalah pekerjaan non fisik, maka kami turun tangan berkontribusi untuk menyelamatkan pesisir pantai melalui pembangunan pengaman pantai tersebut," jelas Faris.

Dari total panjang pesisir pantai 10,8 kilometer, telah diselesaikan sepanjang 8,6 kilometer dan akan dirampungkan segera sisanya. Setelah itu, BWS Sumatera VII akan fokus ke pantai-pantai lainnya, yang nantinya diharapkan bisa meningkatkan potensi pariwisata di provinsi Bengkulu. (dro kompusda)

18 Maret 2019 Selengkapnya

Embung Sidodadi Embung Unik
Embung Sidodadi Embung Unik

Embung Sidodadi yang berlokasi di Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu, merupakan embung yang unik karena berada di tengah – tengah sawah. Dan embung ini merupakan embung yang didambakan oleh masyarakat setempat sejak lama, karena pembangunan embung ini memakan waktu 3 tahun, berawal dari tahun 2016 dan selesai tahun 2018, dan hari ini , Senin, 18 Maret 20019, diresmikan  oleh Direktorat Jenderal SDA melalui BBWS Citarum yabg berkerjasama dengan pemerintah Kabupaten Indramayu.

“Pembangunan embung inj dilatarbelakangi oleh kurangnya air untuk mengairi irigasi masyarakat. Sebelum ada embung ini masyarakat terutama para petani kesulitan untuk meengairi sawahnya pada saat musim kemarau. Alhasil produksi padi petani tidak maksimal dan pendapatan petani belum bisa ditingkatkan. Namun saat ini dengan adanya Embung Sidodadi para petani dapat mengairi sawahnya pada musim kemarau karena embung ini mempunyai luas 3,2 ha dengan volume tampungan 90.000 m3 dan sumber air dari embung ini adalah berasal dari mata air, saluran pembuangan saluran sungai Kadanghaur dan Sungai Cipancuh,” jelas Direktur OP, Agung Djuhartono mewakili Direktur Jenderal SDA, di Indramayu, Jawa Barat.

Embung Sidodadi  mempunyai manfaat untuk mengairi sawah seluas 900 ha utk 3000 KK, air baku dan pariwisata. Pembangunan embung ini dibiayai oleh APBN senilai Rp. 25 milyar dengan 3 tahap pelaksanaan dari tahun 2016 – 2018.

Bupati indramayu yang diwakili oleh Asisten Pembangunan  Ekonomi dan Kesra Setda  Kabupaten Indramayu, Maman Kostaman, Embung Sidodadi adalah dambaan masyarakat setempat. “Pemkab indramayu sebagai penyangga ketahanan pangan dan tergantung pada infrastruktur yang ada meskipun sudah ada waduk jatigede dan waduk cipanas, tetap kita harus membenahi semua infrastruktur sumber daya air yang ada agar hasilnya maksimal dan sampai ke masyarakat. Untuk itu kami mengapresiasi semua yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Pusat melalui Direktorat Jenderal SDA Kementerian PUPR yang dikerjakan oleh BBWS Citarum. Semoga kedepannya masih terus dilakukan sinergitas antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi dan tentunya dari para petani yang akan memanfaatkan embung ini untuk kebutuhan irigasi,” kata Maman Kostaman.

Indramayu adalah andalan untuk target kebutuhan  pangan nasional. Indramayu menuju swasembada pangan sehingga sedikit demi sedikit kita dapat mandiri utk ketahanan pangan, untuk itu menurut Maman Kostaman, Pemerintah Kabupaten Indramayu sedang menyediakan lahan seluas 92.370  ha utk lahan ketahanan pangan yang lahannya tidak boleh  dialihfungsikan dan saat ini sednag disiapkan semua perangkatnya termasuk peraturannya.

Sementara Direktur OP,  Agung Djuhartono, mengatakan bahwa embung ini  sesuai  dengan program Presiden  Jokowi untuk meningkatkan perekonomian petani. Untuk itu dengan berkembangnya embung ini nantinya saya harapkan masih dijaga juga jangan hanya jadi tempat pariwisata dan semoga bisa 2 kali panen dalam setahun atau bertambah jadi 3 kali dalam setahun secara berkelanjutan sehingga dapat terus meningkatkan pendapatan petani. “Program seperti ini selalu dilaksanakan di semua provinsi di Indonesia. Dan sebenarnya saat ini pepemrintah berusaha membantu para petani di Indonesia nelalui program P3TGAI untuk menjaga dan merawat saluran tersier yang sebenarnya menjadi tanggung jawab petani. Saya mengharapkan agar program ini dapat lebih banyak lagi memberdayakan petani dan dapat meningkatkan perekonomian petani,” ujar Agung Djuhartono.

 

 

Anggota Komisi V DPR RI Yoseph Umar Hadi mengatakan, acara ini sebenarnya merupakan wadah untuk dialog yang konstruktif dan sebagai penyampaian aspirasi tentang infrastruktur sumber daya air. Embung ini diharapkan dapat memberikan banyak manfaat bagi masyarakat setempat terutama para petani. “Kita memfasilitasi masyarakat untuk menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak, komunikasi juga salah satu fungsi.untuk mewujudkan cita-cita sehingga masyarakat dapat menyampaikan keinginannya  dan harapannya untuk menuju yang lebih baik dan terealisasi dengan baik,” lanjut Yoseph Umar Hadi.

Koordinasi Berkelanjutan

Menurut Kepala BBWS Citarum, Bob Arthur Lombogia, bahwa embung ini merupakan inisiasi para kuwu, camat dan pemerintah daerah yang proaktif ingin agar permasalahan air khusus untuk irigasi dapat diberikan solusi oleh pemerintah pusat. “Hal ini membuat koordinasi kami dengan pemerintah setempat menjadi lebih mudah dan difasilitasi dengan lahan masyarakat  desa. Dan untuk kewajiban monitoring konstruksi dari embung ini agar dapat tetap dimanfaatkan oleh masyarakat seterusnya,” imbuh Kepala BBWS Citarum.

Hal tersebut senada dengan yang diutarakan oleh Komaruddin, Kuwu Desa Sidadadi, yang menyatakan bahwa sebenarnya embung ini diawali inisiatif para petani Desa Sidadadi, yang sudah sangat lama memdambakan solusi dari permasalahan air untuk irigasi. “Awalnya sawah-sawah yang ada di desa ini adalah sawah tadah hujan dan kami merasa prihatin biaya produksi untuk sawah tinggi sekali dan penghasilannya tidak maksimal dan saat itu 1 hektar paling banyak menghasilkan 4 ton sehingga kalau dihitung secara produksi tidak maksimal, sehingga kami mengajukan ke pemerintah solusinya agar dibangun infrastruktur sumber daya air bagi desa kami yaitu dengan menggunakan tanah desa seluas 4 ha. Kami mengajukan proposal dengan bantuan pak Yoseph Umar Hadi yang akhirnya dapat dibantu oleh BBWS Citarum Direktorat Jenderal SDA Kementerian PUPR. Mudah-mudahan dengan adanya embung ini Desa Sidadadi dapat meningkatkan produksi selain padi padi mudah mudahan dapat menanam palawija,” ungkap Pak Komaruddin. (KompuSDA•tin/nan)

18 Maret 2019 Selengkapnya

Menteri PUPR Kunjungi Pembangunan Bendungan Sindang Heula
Menteri PUPR Kunjungi Pembangunan Bendungan Sindang Heula

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono hari ini (15/3) melakukan kunjungan ke kantor Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC-3) di Banten. Pada kunjungan singkat tersebut, Menteri PUPR bertemu dan berbincang dengan para Aparatur Sipil Negara (ASN)  di sana, dalam obrolannya, Basuki berpesan agar seluruh pegawai di Kementerian PUPR dapat bekerja dengan nyata dan tidak berpolitik kecuali berpartisipasi dalam pemilihan umum (Pemilu) tanggal 17 April 2019 nanti. Menteri PUPR juga mendengarkan aspirasi-aspirasi yang disampaikan oleh para pegawai di BBWSC-3.
 
Sebelum mengunjungi kantor BBWSC-3, Menteri PUPR bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani  didampingi Gubernur Banten Wahidin Halim mengunjungi Bazaar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Desa Sindangsari, dalam kegiatan ini sejumlah BUMN dan UMKM memperkenalkan produk masing-masing, dengan tujuan memantau pemanfaatan pembiayaan ultra mikro. Setelah itu, masih berada di Banten, Basuki menyempatkan diri mengunjungi Bendungan Sindang Heula untuk mengetahui perkembangan terkini. Tris Raditian selaku Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC-3) menjelaskan secara detail daerah yang akan di aliri air oleh Bendungan yang akan diresmikan pada tahun ini. (humas bbwsc-3/kompusda)
 
 

15 Maret 2019 Selengkapnya

Empat Program Prioritas Digenjot di Tahun 2020
Empat Program Prioritas Digenjot di Tahun 2020

Menurut data dari Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) terdapat 21 program yang dimonitor sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) prioritas. Diantaranya 9 (sembilan) program telah tercapai di tahun 2018, 8 (delapan)  program perlu kerja keras untuk bisa tercapai, serta 4 (empat) program yang agak sulit tercapai.

Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang hari ini (11/3) resmi membuka Konsultasi Regional Kementerian PUPR TA 2019 Wilayah Sumatera di Banda Aceh.

Dikatakan oleh Menteri PUPR, adapun 9 sasaran pokok tercapai antara lain 55 waduk yang telah terbangun dari target 65 waduk, jalan tol telah terbangun 782 km dari target 1000 km, irigasi dan rawa sebanyak 865.393 ha dari 1 juta ha, rehabilitasi irigasi 2.650.824 ha dari target 3 juta ha, pelatihan konstruksi, jalan baru, kota baru, serta sertifikasi konstruksi.

Sementara 8 sasaran pokok perlu kerja keras yaitu kemantapan jalan, daya tampung, sanitasi, air irigasi dari waduk, air baku, air minum bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), irigasi tambak serta penanganan pemukiman kumuh.

“Sedangkan 4 sasaran pokok yang sulit tercapai itu pengendalian banjir, air minum dan sanitasi, sanitasi bagi MBR, dan penyediaan hunian layak. Bukan berarti gagal namun menjadi program selanjutnya yang harus diperhatikan dalam program tahun 2020 nanti,”ujar Basuki.

Konsultasi Regional Tahun 2019 ini menjadi momen yang tepat dalam menyusun program Tahun 2020 di Kementerian PUPR, sesuai dengan prioritas nasional Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang mengangkat tema Peningkatan Sumber Daya Manusia Untuk Pertumbuhan Berkualitas, maka pentingnya pembangunan manusia dan pengentasan kemiskinan, konektivitas dan pemerataan, nilai tambah ekonomi dan kesempatan kerja, ketahanan pangan, air, energy dan lingkungan hidup, serta stabilitas pertahanan dan keamanan.

“Kita tetap harus melaksanakan kegiatan konstitusi setiap tahunnya, alias programming. Kita melaksanakan tiga hal, yaitu mempertanggung jawabkan yang sudah kita kerjakan, melaksanakan kegiatan tahun ini, memprogramkan pekerjaan tahun ke depannya. Setiap tahun melakukan tiga hal itu dimana pun kita ditugaskan,”pesan Menteri PUPR.

Sementara itu, Plt Gubernur Provinsi Aceh Nova Iriansyah meminta agar Kementerian PUPR dapat mendukung ketahanan pangan, air baku dan pengendalian daya rusak air dari sektor Sumber Daya Air. “Sangat memerlukan penanganan terhadap pembangunan Bendungan Seulimum dan Bendung Peureulak serta penyediaan air baku di Langsa,” ujarnya.

Kegiatan Konreg Tahun 2019 wilayah Sumatera ini turut sebagai penyemangat bagi Kementerian PUPR dalam menghadapi tantangan pembangunan di Pulau Sumatera, mengingat wilayah tersebut sangat rentan dengan bencana alam, maka setiap program kerja sudah harus memperhitungkan ketahanan terhadap bencana alam. Terutama sinkronisasi program pembangunan antara pusat dan daerah. Lantaran tujuan Konreg 2019 itu sendiri memastikan dan memantapkan sinkronisasi program pembangunan pusat-daerah.

“Kami sampaikan ke para Kepala Balai, kita juga harus bisa mendesign package-package pekerjaan dengan tujuan untuk menciptakan kesempatan kerja bagi para pekerja konstruksi,” tutup Basuki.

Turut hadir dalam Konreg 2019 Plt Gubernur PRovinsi Aceh Nova Iriansyah, Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Hari Suprayogi, Direktur Pengembangan Jaringan SDA Edy Juharsyah, Direktur Bina Penatagunaan SDA Fauzi Idris, dan Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera I Djaya Sukarno. (dnd-KompuSDA)

11 Maret 2019 Selengkapnya

Terowongan Nanjung Kontribusi Solusi Atasi Banjir Bandung
Terowongan Nanjung Kontribusi Solusi Atasi Banjir Bandung

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah mempercepat proyek Terowongan Nanjung di Kabupaten Bandung. Dua buah pipa raksasa akan menjadi aliran baru menyodet lekukan badan sungai di kawasan Curug Jompong. Titik itu dinilai turut memicu tertahannya air Citarum yang menyebabkan banjir di sejumlah wilayah. 

Direktur Jendral Sumber Daya Air Hari Suprayogi mengatakan bahwa Terowongan Nanjung menjadi salah satu struktur sistem pengendalian Sungai Citarum. Proyek itu melengkapi langkah nonstruktural lainnya, seperti normalisasi anak sungai serta pembuatan kolam retensi dalam rangka menuntaskan masalah banjir.

"Ini kan dalam rangka pengendalian banjir Citarum. Pengendalian banjir itu tidak bisa hanya dengan satu struktur saja. Harus kombinasi, struktural dan nonstruktural," ujar Hari saat ditemui dalam kegiatan peninjauan Terowongan Nanjung bersama Presiden Joko Widodo, Minggu (10/3/2019).

Terowongan sepanjang 230 meter dengan garis tengah 8 meter ini akan memiliki dua pintu air slice gate. Kemudian dengan panjang bangunan inlet 28 meter, outlet 100 meter, dan jarak antar terowongan sekitar 10 meter, terowongan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas sungai hingga 700 m3/detik.

Hari memaparkan bahwa kondisi Q50 yang ada akan mempercepat dan memperluas aliran. Proyek senilai Rp 352,9 miliar ini dieksekusi oleh Wika-Adhi KSO dan diharapkan akan rampung di akhir tahun ini. “Ini sudah 22 persen, malah target kita terowongannya Juli-Agustus sudah selesai," tutur Hari.

Dirinya pun mengakui jika Terowongan Nanjung tak sepenuhnya menjamin kawasan Bandung Selatan bebas banjir. Namun, setidaknya kehadiran Terowongan Nanjung mampu mempercepat aliran air sehingga genangan dapat lebih cepat surut.

"Kita kan gak bisa instan. Sistem Citarum itu kan ada pola pengelolaan wilayah sungai termasuk banjir. Kemudian ada rencana pengelolaan, ada feasibility study, sehingga muncul kegiatan apa yang akan dilakukan, semuanya ini kombinasi. Ini belum selesai masih ada lagi, masih panjang," paparnya.

Genangan banjir di kawasan ini secara keseluruhan terdapat di empat lokasi seluas lebih dari 3000 hektar, yaitu Dayeuhkolot, Baleendah, Rancaekek, dan Sapan. Berfungsinya sistem ini diharapkan dapat mengurangi banjir seluas 700 hektar, meski masih ada genangan di daerah dengan elevasi rendah seperti Dayeuhkolot.

Selain itu, Hari mengungkapkan bahwa pengendalian Sungai Citarum merupakan struktur sistem yang besar. Ia pun memastikan, Terowongan Nanjung bukan pekerjaan terakhir yang dilakukan pemerintah.(ech/arg)

 

11 Maret 2019 Selengkapnya

Tampilan Baru Danau UNS
Tampilan Baru Danau UNS

Danau UNS yang sebagaimana namanya terletak di kompleks Universitas Negeri Sebelas Maret di Surakarta, Jawa Tengah, memiliki wajah baru yang lebih menawan setelah dilakukan revitalisasi oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.

Danau UNS sebenarnya merupakan sebuah embung yang airnya bersumber dari Sungai Kendil, salah satu anak Sungai Bengawan Solo yang merupakan sungai kewenangan Pemerintah Pusat. Pekerjaan Revitalisasi Danau UNS dilakukan sejak tahun 2017 sampai dengan tahun 2018.

Sebelum direvitalisasi, kondisi Danau UNS sangat memprihatinkan. Seperti semakin meningkatnya sedimentasi yang mengakibatkan danau penuh dengan lumpur dan kualitas air yang semakin menurun karena banyaknya limbah padat maupun limbah cair yang sebagian besar berasal dari sampah domestik. Meningkatnya sedimentasi dan banyaknya limbah di danau menyebabkan kapasitas tampungan danau semakin kecil.

Tidak hanya itu, Danau UNS juga merupakan lintasan alur Sungai Kendil, yang mana harus siap dengan debit air yang bisa tiba-tiba meningkat, juga dengan material lain yang dibawa masuk oleh aliran Sungai Kendil.

“Dalam merevitalisasi Danau UNS kita mengerjakannya dalam beberapa tahap. Tahap pertama yang kita lakukan supaya bersih dulu. Karena dengan bersih biasanya menjadi sehat. Setelah sehat kemudian lingkungannya akan menjadi produktif. Sehingga dapat memberi manfaat sebesar-besarnya, baik kepada mahasiswa, kepada semua yang sering jogging di sini,” jelas Direktur Jenderal SDA saat meresmikan Danau UNS di Surakarta (9/3).

Rektor UNS Ravik Karsidi menyatakan bahwa Danau UNS sudah mulai dimanfaatkan, salah satunya sebagai lokasi penyelenggaraan Lomba Kano Open yang ditujukan bagi para mahasiswa/i UNS dan masyarakat umum di mana pelaksanaannya bertepatan dengan peresmian danau. Selain itu, kedepannya Danau UNS juga akan digunakan sebagai laboratorium dan tempat praktikum.

Sebagai penutup, Direktur Jenderal SDA berpesan agar pihak UNS menjaga keberlangsungan kelestarian danau dengan bekerja bersama Pemda dan BBWS Bengawan Solo, juga Balai-Balai Kementerian PUPR yang berwenang mengelola wilayah.

Hadir mendampingi Dirjen SDA dan Rektor UNS di antaranya Inspektur Jenderal Kemenristekdisti, Direktur Sungai dan Pantai Ditjen SDA Kementerian PUPR dan Kepala BBWS Bengawan Solo Ditjen SDA Kementerian PUPR.

(KompuSDA/Sandro,Kety)

11 Maret 2019 Selengkapnya

Penanganan Luapan Kali Jeroan di Kabupaten Madiun
Penanganan Luapan Kali Jeroan di Kabupaten Madiun

Kabupaten Madiun dilanda banjir terbesar selama 33 tahun terakir pada Kamis (7/3). Banjir ini diakibatkan oleh meluapnya Kali Jeroan yang merupakan anak Kali Madiun yang mengalir ke Sungai Bengawan Solo.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Hari Suprayogi dalam keterangannya di Madiun (7/3), mengatakan bahwa banjir yang terjadi saat ini akibat Kali Jeroan yang tidak mampu membendung debit air hujan.

Sebagai informasi, pada tanggal 5 sampai dengan 7 Maret terjadi curah hujan yang tinggi, puncaknya pada tanggal 6 Maret terjadi hujan kurang lebih selama tiga jam di Hulu DAS Jeroan dengan intensitas sebesar 150 milimeter.

“Air di Kali Jeroan sudah banyak hampir penuh ditambah dengan hujan selama 3 jam sehingga kapasitas 1.040 meter kubik per detik itu terlewati menjadi 1.063 meter kubik per detik sehingga air meluap kekanan kiri,” jelas Dirjen SDA.

Luapan Kali Jeroan ini juga mengakibatkan longsornya tanggul dibeberapa titik serta putusnya parapet sepanjang 20 meter di Kecamatan Balirejo, Kabupaten Madiun. Luapan ini juga mengakibatkan genangan seluas 253 hektar meliputi 6 desa termasuk ruas Jalan Tol Ngawi - Kertosono di KM +603 - KM +604 sepanjang 400 meter.

Upaya tanggap darurat yang telah dilaksanakan adalah dengan penutupan tanggul-tanggul yang jebol secara darurat dengan menggunakan sandbag. Sedangkan untuk penangangan permanen, pada tahun ini juga Direktorat Jenderal SDA melalui BBWS Bengawan Solo telah menganggarkan dana sebesar 10 milyar rupiah untuk memperbaiki parapet dan tanggung-tanggul yang kritis secara permanen.

”Sudah ada kontrak sebesar 10 milyar untuk menangani yang kritis-kritis ini secara permanen terutama yang 20 meter tadi. Kemudian dalam jangka menengah ada beberapa yang perlu kita selesaikan, kira-kira ada 15 kilometer parapet yang harus direhabilitasi karena beberapa parapet ini umurnya sudah 20 tahun,” ujar Dirjen SDA ketika melakukan koordinasi langsung ke lokasi banjir bersama dengan Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR, Gubenur Jawa Timur, Bupati Madiun, Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal SDA dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan (BBWS) Solo.

Direktorat Jenderal SDA melalui BBWS Bengawan Solo bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan BPBD Jawa Timur akan terus melakukan peninjauan lapangan dan penanganan darurat selama seminggu kedepan. Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan segera berkoordinasi dengan pihak BBWS Bengawan Solo ataupun instansi berwenang lainnya bila terjadi keadaan darurat maupun membutuhkan informasi lebih lanjut terkait bencana banjir. (DATIN BBWSBS/maw,sita/KompuSDA)

08 Maret 2019 Selengkapnya