© 2019 Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

PU-Net
      

Berita SDA

Hidup Berdampingan Dengan Air

Hidup Berdampingan Dengan Air


Kategori : Berita SDA

  13 Februari 2015



Foto : 13022015


Setiap tahun kota Jakarta dilanda banjir. Pemprov DKI Jakarta telah berupaya untuk mengatasi banjir namun itu tidaklah mudah karena membutuhkan bantuan dan koirdubasi dengan semua pihak termasuk masyarakat. Pada tahun 1600-an masalah banjir di sebabkan satu sungai yaitu sungai Ciliwung namun sekarang penyebabnya tidak hanya satu sungai tapi ada beberapa salah satunya kali Pesanggrahan. Hal tersebut juga didukung oleh pertambahan penduduk dan industri sehingga mengakibatkan bertambahnya kebutuhan air meningkat namun tidak selaras dengan pertumbuhan penduduk,lahan dan industri.

"Dari segi pemanfaatan lahan, Jakarta dari dulu sudah banyak cekungan air. Dengan bertambahnya penduduk akan mengakibatkan konflik pemanfaatan air. Dimana yang seharusnya tempat tinggal air namun menjadi tempat tinggal manudia," jelas Plt. Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Mudjiadi saat menghadiri acara Bincang Pagi di Metro TV, (11/2).

Senada dengan Mudjiadi, Rizal seorang sejarahwan mengatakan air sering dianggap sebagai musibah bukan anugerah. Masalah kita adalah bagaimana mengatasi kelebihan air pada musim hujan dan mengatasi kekurangan pada musim kemarau. Harusnya air disimpan bukan dibuang ke laut.

Terkait dengan hal tersebut ada tiga konsep filosofi banjir yaitu jauhkan air dari manusia seperti normalisasi, membuat tanggul. Yang kedua jauhkan manusia dari air, yang berarti jauhkan manusia dari lokasi yang seharusnya merupakan tempat tinggal air contohnya kampung pulo harus di relokasi. Yang terakhir adalah live harmony with water seperti yang tinggal di rumah panggung,walaupun banjir tapi tidak menjadi masalah.

Living harmony with water di Jakarta tentu berbeda dengan di daerah lain di Indonesia, di Jakarta living harmony with water yaitu dengan cara menjaga dan memelihara sungai, waduk. Sungai harusnya menjadi bagian dari yang kita pelihara, jangan menbuang sampah sembarangan.

Banjir ini adalah akibat meluapnya air dari sungai dan hal itu merupakan gejala alam tapi jika banjirnya di hutan tidak ada masalah. Saat ini yang harus dicegah adalah banjir jangan menjadi bencana karena sudah ada permukiman penduduk. Menghilangkan banjir itu tidak mungkin, jika hujannya besar tetap akan baniir tinggal bagaimana cara mengurangi dampak banjir tersebut.

"Sekarang ini dalam menanggulangi banjir lebih banyak dilakukan ke struktural karena daerah ini sudah berkembang, tempat yang seharusnya air sudah menjadi permukiman. Sekarang saja untuk normalisasi sungai, pengadaan lahannya sudah susah sekali. Pendekatan ke depan sudah berbeda bukan flood control lagi tapi flood management.


Bagikan :

Cetak