Pengumuman ( 5):

Seminar Nasional KNIBB untuk Inovasi Bendungan


Print Friendly and PDF
Foto : Seminar Nasional Bendungan Besar KNIBB 2019

Komite Nasional Indonesia Bendungan Besar (KNI-BB) dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) hari ini (27/4) mengadakan Seminar Nasional Bendungan Besar 2019 dengan tema "Pembangunan dan Pengelolaan Bendungan untuk Mencapai Visium 2030" sebagai rangkaian dari kegiatan KNI-BB 26 – 28 April 2019 ini. Diikuti oleh lebih dari 600 profesional dan ahli bendungan, seminar ini mempresentasikan 48 makalah sebagai rekomendasi peningkatan sumber daya manusia (SDM) serta inovasi sistem cerdas bendungan untuk ketahanan air yang berkelanjutan di Indonesia.

Tantangan yang dihadapi saat ini adalah jumlah bendungan yang ada di Indonesia hanya mampu mengairi 11% lahan pertanian dari total 7,3 juta hektar di seluruh Indonesia. “Target 65 bendungan baru di Indonesia harus terpenuhi agar persentase lahan pertanian yang mendapat jaminan air dari bendungan dapat meningkat hingga 20%. Ini memaksimalkan aktivitas pertanian, karena dengan adanya bendungan, proses menanam bisa berlangsung lebih dari 2x setahun. Sementara tanpa bendungan, hanya 1x saja mengandalkan curah hujan,” ujar Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono.

Sementara itu Direktur Jenderal SDA Hari Suprayogi mengatakan untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan peningkatan SDM, inovasi, serta program terencana dengan arah yang jelas. Apalagi, saat ini angka di Indonesia hanya mencapai 50m3 per kapita per tahun, angka ini masih jauh di bawah Thailand yang sudah mencapai 1,200 m3 per kapita per tahun. Sejalan dengan target visium 2030, Indonesia harus memenuhi kapasitas tampung 1,200 m3 per kapita per tahun di tahun 2030.

Selain penerapan teknologi, untuk mitigasi bencana alam, saat ini Ditjen SDA juga terintegrasi dengan Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Tujuannya, saat terjadi resiko bencana atau cuaca buruk, penindaklanjutan bendungan akan berlangsung saat itu juga. Termasuk saat musim kemarau, data jumlah kebutuhan air akan langsung terintegrasi dengan BMKG, sehingga lahan yang mengalami kekeringan akan cepat mendapatkan irigasi dari waduk.(kompusda)