© 2019 Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

PU-Net
      

Berita SDA

Smart Water Management Sebagai Refleksi 39 Tahun HATHI

Smart Water Management Sebagai Refleksi 39 Tahun HATHI


Kategori : Berita SDA

  22 Januari 2020



Foto : Menteri PUPR bersama Para Pengurus HATHI


 
Terdapat dua hal yang menjadi konsentrasi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimoeljono saat menyampaikan sambutan dalam rangka Ulang Tahun Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) yang ke-39.
 
“Ada dua hal yang harus kita sampaikan, apa yang sudah kita lakukan dan akan kita lakukan. Sudah kita lakukan adalah waktunya mengevaluasi tentang water management untuk wilayah-wilayah sungai khususnya yang prioritas seperti Ciliwung, Citarum, Cimanuk, Pemali Juana, Bengawan Solo, dan Brantas,” ujar Basuki pada acara Refleksi 39 Tahun HATHI di Jakarta (22/1).
 
Menteri PUPR mengambil contoh pada Sungai Brantas usai dilakukan evaluasi, Brantas tidak hanya untuk pengendalian banjir namun juga penyediaan air baku. “Conflicting juga makin besar, jadi saya rasa HATHI bisa masuk di situ untuk melakukan evaluasi,” lanjutnya. 
 
Saat ini, pengelolaan sumber daya air di Indonesia memang telah menerapkan Integrated Water Resources Management (IWRM). Namun di satu sisi kita dihadapkan pada keterbatasan ketersediaan air pada musim tertentu di beberapa wilayah Indonesia, tuntutan peningkatan kualitas layanan, tuntutan efisiensi, penyelesaian konflik antar kelompok pengguna, upaya pengendalian bencana yang dipicu oleh air dan tuntutan dalam menjaga kelestarian lingkungan demi pembangunan yang berkelanjutan. Sementara di  sisi lain, kita juga memiliki peluang dalam pemanfaatan kemajuan teknologi informasi, seperti penggabungan penerapan IWRM dan penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang akan menghasilkan kualitas pengelolaan sumber daya air ke tahapan kualitas pengelolaan yang lebih tinggi, yang dikenal sebagai Pengelolaan Cerdas Sumber Daya Air atau Smart Water Management (SWM).
 
Itulah yang menjadi perhatian kedua dari Menteri PUPR bahwa hal kedua adalah menuju kepada Smart Water Management. Hal ini ke depannya menuntut teknologi sistem informasi yang dipunya, termasuk nanti di Ibu Kota Negara yang baru. Dirinya menegaskan untuk menuju hal itu harus diperlukan kesiapan yang matang.  
 
“Kita harus siap betul, kalau tidak kita jadi konvensional. Bisa kita lakukan jika bekerja sungguh-sungguh. Karena salah satu indikator smart water management bukan hanya digitalisasi, tapi ada indikator-indikator yang harus kita capai,”
 
Adapun keistimewaan Smart Water Management memungkinkan kita menyediakan data real-time otomatik mengenai kondisi sumber daya air dan lingkungan, serta prakiraan kondisi cuaca dan iklim untuk digunakan dalam menyelesaikan tantangan-tantangan terkait pengelolaan sumber daya air yang telah dilakukan berdasarkan Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. SWM dapat digunakan mulai dari tahapan perencanaan hingga operasional, mulai dari penggunaan sehari-hari hingga pengaturan dan menunjang pengambilan kebijakan pada berbagai tingkatan pengelolaan, lintas kelompok pengguna sumber daya air dan lintas wilayah. SWM memungkinkan pemerintah, industri, pemerhati dan pengguna mengintegrasikan prinsip-prinsip IWRM ke dalam strategi perkotaan, regional, dan nasional. Potensi penerapan SWM dalam pengelolaan sumber daya air sangat luas, antara lain mencakup pengelolaan kuantitas, kualitas, efisiensi penggunaan air baku untuk irigasi maupun air minum, pemantauan keamanan infrastruktur sumber daya air, penanganan resiko bencana alam terkait air, dan kekeringan. 
 
Tantangan demi tantangan global dalam pengelolaan Sumber Daya Air tersebut menjadikan HATHI sebagai organisasi pendukung pemerintah menuangkan berbagai ide agar dapat membantu SDA dikelola secara terpadu, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.  Pengelolaan SDA ini didasarkan pada wilayah sungai dengan memperhatikan keterkaitan penggunaan air permukaan dan air tanah dengan mengutamakan pendayagunaan air permukaan dimana seluruh permasalahan ini menuntut analisis dan perumusan solusi yang mendalam dan akurat, namun harus dilakukan dalam waktu yang cepat, maka solusinya yakni dengan penekanan penggunaan teknologi informasi di era 4.0 melalui Water in industry 4.0 dengan penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi SDA atau disebut Hydroinformatics, misalnya dengan penerapan pemakaian pintu air otomatis.
 
Begitu juga dengan  tantangan SDM dan perkembangan media social, karena pengelolaan air sangat penting, namun isu dapat mudah teralihkan dengan hal-hal yang dianggap orang lebih menarik, padahal peluang menggunakan media social untuk awareness tentang sda sangatlah perlu. 
 
Ketua HATHI Imam Santoso mengatakan dalam dalam perjalanannya, HATHI telah banyak melakukan kiprahnya dalam pertemuan ilmiah maupun seminar dan hal yang berkaitan dengan sumber daya air, hingga tahun 2020 anggota HATHI telah mencapai 7140 orang. “Sejak Tahun 2003, HATHI telah terakreditasi di LPJKN. Pada saat ini cabang HATHI berjumlah 30 cabang dimana perlu kami sampaikan bahwa kepengurusan cabang terdiri dari akademisi, praktisi, pemerhati SDA, pegawai pemerintah pusat yang bergerak di bidang SDA, dari Aceh sampai Papua. HATHI juga telah melakukan beberapa kegiatan pengabdian masyarakat seperti penanaman pohon, juga peduli masyarakat kepada bencana yang terjadi juga santunan kepada yatim piatu,” ucap Imam. 
Acara Refleksi 39 HATHI turut dihadiri oleh Menteri Pekerjaan Umum terdahulu, Djoko Kirmanto, Para Senior SDA dan Pejabat Tinggi Pratama lainnya. (kompusda-dnd/ech/hana/ams)


Bagikan :

Cetak