Bendung Benua Aporo

From WikiSDA
Jump to: navigation, search

Benua aporo.jpg

Pada umumnya masyarakat/ petani yang bermukim pada lokasi pembangunan Bendung dan jaringan Irigasi DI. Benua Aporo adalah masyarakat pendatang, mereka berasal dari Sulawesi Selatan, pulau Jawa dan Bali sebagai pemukikm transmigrasi disamping kecil penduduk lokal. Dalam sistem pengolahan tanah mereka telah terbiasa menggunakan sarana pertanian termasuk irigasi Teknis. Yang menjadi kendala utama dalam pengelolaan lahan adalah kurangnya sarana pendukung yaitu irigasi teknis. Tidak adanya Irigasi Teknis telah menyebabkan pula sempitnya luas lahan yang dapat diolah oleh masyarakat. Hampir seluruh sawah dari 9 (sembilan) desa yang terkena langsung pembangunan irigasi ini mengandalkan sumber air dari hujan (sawah tadah hujan). Dengan adanya pembangunan Bendung dan Jaringan Irigasi DI. Benua Aporo diharapkan produksi pertanian khususnya produksi padi dapat meningkat hingga 5-6 ton/ha per tahun serta intensitas tanam dapat mencapai 300%

Contents

Data

Bangunan utamanya adalah berupa Bendung tetap dari pasangan batu dengan panjang 42 m, tinggi mercu 3,5 m, tinggi dari lantai olak 7,8 m. Jaringan Irigasi terdiri dari saluran Induk sepanjang 6,45 km, jaringan Sekunder 6,06 km dan jaringan tersier dengan jumlah petak tersier 22 petak dengan luas areal 1.000 ha. Pekerjaan lainnya berupa Normalisasi sungai 8,1 km, pembuatan jalan akses, bangunan pelengkap dan fasilitas PROM

Lokasi

Areal proyek terletak di Kecamatan Tinanggea dan Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, berjarak ± 110 km sebelah Barat Daya kota Kendari, dan lokasi bendung terletak pada Sungai Roraya di Desa Lere, Kecamatan Tinanggea.

Tujuan

Untuk meningkatkan taraf hidup dan standar hidup masyarakat di daerah proyek khususnya petani melalui peningkatan areal tanaman dan produksi pertanian.

Riwayat Singkat

Daerah Irigasi Benua Aporo Studi identifikasinya dilakukan sejak tahun 1982 oleh PU Pengairan, dan desain rincinya dilaksanakan pada tahun anggaran 1991/1992 dan Perencanaan jaringan Tersier dilakukan pada Tahun Anggaran 1994/1995 oleh Konsultan. Pekerjaan fisik Tahap I dalam program SSIMP III dimulai tahun 2001 hingga tahun 2004 dan dilanjutkan Tahap II dalam Program DISMP

Biaya

Biaya pembangunan Tahap I bersumber dari JBIC ODA Loan IP-499 dan untuk Tahap II dari JBIC ODA Loan IP-509.

Manfaat

Pembangunan Irigasi Benua Aporo Tahap I (1.000 ha) telah merubah lahan sawah tadah hujan ± 300 ha serta lahan tidur yang berupa alang-alang dan pepohonan ± 700 ha menjadi lahan sawah beririgasi teknis ± 1.000 ha. Pola tanam menjadi padi-padi dan hasil panen diperkirakan meningkat dari 2,5 ton/ha menjadi 4-5 ton/ha GKP.

Peran Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat dan kelembagaan dilakukan dengan pembentukan wadah P3A melalui pendekatan partifipatif dan pelatihan-pelatihan formal. Masyarakat dan LSM telah dilibatkan sejak awal kegiatan hingga pelaksanaan O & P-nya. Untuk pembangunan Tahap II, di lokasi daerah irigasi akan dibuatkan Demplot sebagai lahan percontohan bagi petani, yang bertujuan memberi pengetahuan baru kepada petani dalam penerapan teknologi pertanian yang terus berkembang.

Personal tools
Namespaces

Variants
Actions
Navigation
Toolbox