/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) melakukan kunjungan kerja (kunker) di wilayah Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis-Jumat (05-06/11/2020). Dalam kesempatan ini Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) (Sampu) Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat, Ir. Sudirman, M.M., didampingi Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., beserta pejabat dan staf, meninjau pengelolaan area sabuk hijau (greenbelt) di kawasan Bendungan Serbaguna Wonogiri dan Bendungan Gondang.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rayat (PUPR) akan memanfaatkan area sabuk hijau (greenbelt) bendungan untuk ditanami berbagai jenis pohon yang bernilai ekonomis. Untuk itu, setiap bendungan harus ditata dan memiliki kawasan greenbelt yang memadai melalui penanaman pohon yang disesuaikan dengan struktur tanah dan memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Selain berfungsi untuk penataan lingkungan di sekitar infrastuktur, greenbelt juga bermanfaat untuk menciptakan ruang terbuka hijau (RTH). Bila ekosistem bendungan yang dibangun indah dan asri tentunya akan meningkatkan meningkatkan estetika serta memunculkan karakteristik tersendiri.

Ir. Sudirman, M.M., disela kegiatan juga menyampaikan bahwa Menteri Basuki menginstruksikan agar dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur harus berlandaskan prinsip-prinsip terkait pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan (sustainable). “Dalam konstruksi sebuah infrastruktur, yang dalam hal ini bendungan, harus memiliki kawasan greenbelt yang memadai dan tertata melalui penanaman pohon. Varietasnya juga disesuaikan dengan struktur tanah yang ada sekaligus memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat,” imbuhnya.

Upaya konservasi yang dilakukan melalui penanaman pohon di area greenbelt, turut menyumbang pengembangan potensi ekonomi lokal di sekitar bendungan. Tentunya, dilakukan tanpa mengganggu fungsi utama bendungan sebagai tampungan air. Oleh karena itu, peran aktif dari masyarakat sekitar sangat diperlukan,” pesan Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech.

Kepala SNVT Pembangunan Bendungan Bengawan Solo, Dony Faturochman S., S.T., M.T., menjelaskan bahwa di Bendungan Gondang terdapat greenbelt seluas 18,6 Ha dan sudah ditanami sekitar 450 pohon, namun akan tetap berproses setiap tahunnya dengan penanaman sekitar 220 pohon yang terdiri dari jenis buah-buahan seperti durian, mangga, kelengkeng, dan jambu.

“Untuk bendungan yang saat ini masih on progress pembangunannya juga memiliki area greenbelt dengan luasan lahan yakni, Bendungan Tukul di Kabupaten Pacitan seluas 8 Ha, Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo seluas 69,16 Ha, Bendungan Gongseng di Kabupaten Bojonegoro seluas 130,32 Ha, Bendungan Pidekso di Kabupaten Wonogiri seluas 8,7 Ha, dan Bendungan Jlantah di Karanganyar seluas 11,85 Ha,” sambungnya.

Sebagai informasi pendukung, Bendungan Serbaguna Wonogiri mampu mengairi lahan pertanian dengan luas sekitar 23.200 ha, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas 12,4 MW, pengendali banjir sekaligus potensi pariwisata.

Dan untuk Bendungan Gondang yang dibangun dengan tipe urugan random zona inti tegak, dapat dimanfaatkan sebagai penyedia air baku bagi Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen masing-masing sebesar 100 liter/detik. Selain itu dapat mengairi lahan pertanian seluas 4.066 ha, serta mereduksi debit banjir sebesar 6,74% atau dari 639,22 m3/detik menjadi 596,12 m3/detik. (BBWSBS/Ferri)