/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) melakukan kunjungan kerja wilayah Kota Malang, Kabupaten Pacitan, dan berakhir di Kota Solo pada Kamis-Jumat, (08-10/04/2021). Dalam kesempatan ini Ir Soedhirman, M.M., selaku Staf Ahli Menteri (PUPR) (Sampu) Bidang Sosial, Budaya, dan Peran Masyarakat melangsungkan kunjungan di Bendungan Tukul, Pacitan, Jawa Timur pada Jumat, (09/04/2021). Kegiatan yang turut dihadiri oleh pejabat dan karyawan Balai Besar Wilayah Bengawan Solo (BBWSBS) tersebut sebelumnya sudah mengikuti protokol kesehatan Covid-19.

Pada kegiatan kunjungan kerja di Pacitan, Jawa Timur, keseluruhan rombongan mendatangi Bendungan Tukul. Sebagai informasi, Bendungan Tukul telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo yang ditandai dengan penekanan tombol sirine dan penandatanganan prasasti pada 14 Februari 2021. Bendungan Tukul yang dibangun di lahan seluas 44,81 ha, tepatnya di Desa Karanggede, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, tak hanya sebagai irigasi dan menjadi sumber air baku sebesar 300 liter/detik. Bendungan Tukul dibangun dengan tipe urugan random dan Zonal Inti Tegak, yang memiliki kapasitas tampungan total sebesar 8,68 juta meter kunik dan dapat menjadi penggerak PLTA Mikrohidro sebesar 2 x 132 KW. Selain itu, bendungan Tukul juga dapat mereduksi banjir hingga 44,86 meter kubik/detik.

Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) (Sampu) Bidang Sosial, Budaya, dan Peran Masyarakat, didampingi Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha Bambang, SE., ST., MT dan Kepala Bidang PJPA Bengawan Solo Heriantono Waluyadi, ST., MT beserta pejabat dan staf, meninjau pengelolaan area sabuk hijau (greenbelt) di wilayah Bendungan Tukul Pacitan, Jawa Timur.

Untuk diketahui, Kementrian PUPR akan memanfaatkan area greenbelt bendungan untuk ditanami berbagai jenis pohon yang bernilai ekonomis. Untuk itu, setiap bendungan harus ditata dan memiliki kawasan greenbelt yang memadai melalui penanaman pohon yang disesuaikan dengan struktur tanah dan memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat. Bendungan Tukul memiliki area greenbelt dengan luasan 8 Ha ini terdiri dari 12 zona dengan total 655 pohon. Zona tersebut ditanami oleh 50 pohon durian musang king, 300 pohon mangga, dan 305 pohon jeruk baby khas Pacitan yang berlokasi di desa Karanggede, Arjosari, Pacitan.

Dalam pernyataannya, Ir. Sudirman, M.M., menyebut jika bendungan memiliki peran yang penting untuk pengendalian banjir, mengairi sawah, air irigasi, dan juga penyediaan air baku kurang lebih 300 liter per detik. Selain berfungsi untuk penataan lingkungan di sekitar infrastuktur, greenbelt juga bermanfaat untuk menciptakan ruang terbuka hijau (RTH). Bila ekosistem bendungan yang dibangun indah dan asri tentunya akan meningkatkan meningkatkan estetika serta memunculkan karakteristik tersendiri.

“Yang penting bagi saya bahwa bendungan ini di-manage greenbelt-nya bersama-sama dengan masyarakat di sekitarnya. Artinya agar masyarakat di sekitarnya merasa memiliki bendungan walaupun fungsi irigasinya masuk ke Kabupaten Pacitan hampir 600 hektar. Kita sudah komitmen tinggal menindaklanjuti hitam di atas putih. Seperti biasa, nanti masyarakat diminta me-manage, nanti buahnya dihitung bersama-sama. Kemudian dibicarakan standarnya berdasarkan jenis tanamannya yang mengandung nilai buah dan ada nilai ekonomisnya. Tetapi, diiprioritaskan jenis pohon yang menjadi trademark-nya di daerah bendungan tersebut,” paparnya. (BBWSBS/Fira)