/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) mendampingi Tim Komisi Keamanan Bendungan (KKB) melakukan inspeksi di Wilayah BBWS Bengawan Solo. Kegiatan tersebut diadakan sehubungan dengan rencana 13 bendungan yang akan selesai pelaksanaan konstruksinya pada tahun 2021. Kegiatan inspeksi dilaksanakan pada 25-28 April di lokasi pembangunan Bendungan Gongseng, Bendungan Bendo, dan Bendungan Pidekso yang berada di wilayah kerja BBWS Bengawan Solo.

Kegiatan berlanjut dengan diskusi hasil inspeksi yang turut dihadiri Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech. Disebutkan oleh Agus Rudyanto bahwa kegiatan Balai Keamanan Bendungan dan Balai Teknik Bendungan tersebut dalam rangka pengecekan lapangan. “Sejak tanggal 25 April kemarin, Balai Teknik Bendungan melakukan pengecekan lapangan dalam rangka persiapan pengisian air (impounding) untuk peresmian yang nantinya ada 3 bendungan tercepat dari 13 bendungan di Indonesia. Untuk bengawan Solo ada Bendungan Gongseng yang sesuai dengan urutan tercepat di Bojonegoro. Kemudian yang kedua di Bendungan Bendo, Ponorogo dan yang ketiga di Bendungan Pidekso, Wonogiri,” paparnya.

Sebagai informasi, Bendungan Gongseng, yang berada di Desa Papringan Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro dibangun pada tahun 2014. Bendungan Gongseng diperkirakan bisa menampung 22 juta meter kubik air dengan tinggi 34 meter dan bisa mengairi keperluan irigasi seluas 6.200 hektar. Sedangkan untuk air baku 300 liter per detik dan untuk potensi listrik sebesar 0,7 mega watt.

Sedangkan Bendungan Bendo merupakan bendungan yang dibangun dengan tinggi 71 meter yang akan membendung Sungai Keyang, yakni anak Sungai Bengawan Madiun yang juga merupakan anak Sungai Bengawan Solo. Bendungan Bendo juga dirancang mampu menampung air sebesar 43,11 juta m3, dan bermanfaat sebagai sumber air baku domestik serta industri berkapasitas 790 liter per detik dengan komposisi 418 liter per detik untuk Kabupaten Madiun dan 372 liter per detik bagi Kabupaten Ponorogo. Selain itu, bendungan ini akan mereduksi banjir di Ponorogo dari 1.300 m3 per detik menjadi 490 m3 per detik sekaligus menjadi pembangkit tenaga listrik sebesar 1,56 megawatt.

Bendungan Pidekso merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di bidang sumber daya air untuk mewujudkan ketahanan air dan pangan nasional. Bendungan multifungsi dengan kapasitas 25 juta meter kubik ini direncanakan mampu mengairi area irigasi seluas 1.500 hektar. Air irigasi dari bendungan akan meningkatkan Intensitas tanam dari 133 persen (2000 ha) ke 240 persen (3600 ha). Bendungan Pidekso yang berada di hulu Sungai Bengawan Solo ini juga memiliki manfaat untuk penyediaan air baku sebesar 300 liter per detik di wilayah Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Kota Solo dan sekitarnya. Kemudian memiliki potensi listrik tenaga hidro sebesar 0,5 MW.

Lebih lanjut, Agus Rudyanto mengurai harapannya terkait kegiatan diskusi inspeksi yang telah dilaksanakan. Kepala BBWS Bengawan Solo itu menyebut jika kegiatan yang diselenggarakan berguna untuk mendeteksi dini dalam pengecekan masalah yang terjadi. “Hasil cek lapangan tidak ada masalah yang signifikan, mudah-mudahan sesuai dengan rencana pada Bulan yang sudah ditentukan yakni Juli, September, dan Oktober. Dengan melakukan pengecekan dari apa yang disampaikan nantinya kita akan kita lihat dan akan dimonitor semuanya. Jangan sampai setelah impounding tadi ada masalah. Jadi kalau ada masalah sebelum impounding bisa dilakukan deteksi dini dahulu,” paparnya. (BBWSBS/Fira)