/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Impounding Bendungan Gondang Direncanakan Maret 2019

Pengisian sebuah Bendungan yang baru selesai dibangun merupakan suatu fase yang sangat krusial karena didalamnya terkandung potensi bahaya sebagai konsekuensi dari perubahan kandungan sifat-sifat material pembentuk bendungan maupun lingkungan yang disebabkan oleh pengaruh kadar air yang berubah. Sebelum dilakukan impounding terlebih dahulu dilakukan pembahasan untuk mengevaluasi pembangunan Bendungan Gondang.

Setelah kemarin melakukan kunjungan lapangan ke Bendungan Gondang, hari ini tanggal 29 Januari 2019 di Ruang Sidang Bengawan Solo diadakan Sidang Teknis Komisi Keamanan Bendungan untuk membahas hasil pembangunan Bendungan Gondang yang dibuat oleh PT Waskita Karya (Persero) dan Konsultan Supervisi PT Binatama Wirawedha Konsultan Jo, PT Brama Seta Indonesia dan PT Barunadri Engineering Consultant.

Turut hadir Tim Komisi Keamanan Bendungan Dr. Ir. Aries Firman, M.Sc, Ir. Ibnu Kasiro, Dipl, HE, Ir. Rusfandi Usman, M.Eng., Dr. Ir. Bambang Hargono Dipl HE M.Eng., Prof. Dr. Ir. Eko Winar Irianto,M.T., Ir. Ketut Suryata, dan Ir. Bastari M.Eng. Sedangkan dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dihadiri oleh Pejabat Esselon dan Kesatkeran.

Berdasarkan hasil sidang teknis tersebut Komisi Bendungan memberikan saran-saran yang harus segera ditindak lanjut oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Charisal menambahkan impounding direncanakan pada Maret tahun 2019 (BBWSBS/sita).

Menanam Pohon Untuk Kesejahteraan Negeri

Kementerian PUPR bersama DWP Kementerian PUPR bekerjasama dengan Pokja Revitalisasi Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) mempelopori acara menanam pohon yang dilaksanakan secara serentak di Seluruh Wilayah Indonesia (34 Provinsi) dalam rangka Hari Menanam Pohon Indonesia, Hari Bhakti PUPR Ke-73, dan HUT Dharma Wanita Persatuan Ke-19 Tahun 2018 dengan tema “Menanam Pohon bagi Penyelamatan Lahan dan Air”, Senin (17/12/18).

Kegiatan Menanam Pohon yang dilaksanakan di Greenbelt Waduk Cengklik Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ini merupakan sinergi antara Kementerian Keuangan melalui KPPN Surakarta yang memiliki Program Go Green dan Kementerian PUPR melalui BBWS Bengawan Solo serta Kementrian Kehutaanan melalui BPDASHL Solo yang memiliki Program Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA).

“Kementerian Keuangan memiliki Program Go Green yang dimulai dari penghematan ATK, kertas, listrik (dan) sebagai upaya menyelamatkan lingkungan salah satunya adalah dengan menanam pohon. Bahwa satu orang berkewajiban menanam 25 pohon seumur hidupnya sebab menanam pohon dapat bermanfaat bagi generasi selanjutnya” Pesan Sugiarso selaku Kepala KPPN Surakarta.

Dalam kegiatan Menanam ini Menteri PUPR yang diwakili oleh Ir Dodi Krispratmadi, M.Env. E selaku Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR menyampaikan sambutan dari Menteri PUPR Basuki Hadimuljono bahwa Gerakan ini merupakan salah satu aksi konkrit untuk memulihkan kondisi daerah aliran sungai, sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk lebih aktif menanam pohon, dan merawatnya. Penanaman pohon akan meningkatkan luasan dan kualitas ruang terbuka hijau sebagai fungsi esensial ekologis dan ruang kehidupan kita yang lebih berkualitas, meningkatkan infrastruktur hijau kita, bukan sekedar sebagai objek fisik, melainkan juga menjadi tempat wisata dan pengembangan sosial-ekonomi masyarakat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Jenis tanaman yang ditanam dalam Kegiatan Menanam Pohon ini adalah Multi Purpose Tree Species yang terdiri dari Pohon Mangga (Mangifera Indica), Kelengkeng (Dimocarpus Longan) dan Rambutan (Nephelium lappaceum L.) sejumlah 1.500 bibit pohon, turut hadir dalam acara ini Karyawan Karyawati BBWS Bengawan Solo, DWP BBWS Bengawan Solo. Muspida Kabupaten Boyolali, Bank Mandiri Selaku perwakilan BUMN, TNI, Polri, para Civitas Akademika yang ada di Solo Raya serta masyarakat sekitar .

Semoga upaya ini memberikan manfaat dalam Pengelolaan Sumber Daya Air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mari kita wariskan mata air untuk generasi mendatang. Salam hijau negerik(BBWSBS/sita).

Workshop penerapan Bendung Karet Teknologi Jepang

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menjadi tuan rumah dalam workshop hasil kegiatan Verification Survey With the Private Sector for Disseminating Japanese Technologies for Rambatan Rubber Dam Rehabilitation in Indramayu, West Java pada hari Kamis tanggal 8 November 2018. Bertempat di Ruang Sidang BBWS Bengawan Solo, workshop ini merupakan rangkaian dari tiga workshop dan yang pertama sudah dilaksakan di Cirebon pada bulan oktober lalu.

Kegiatan ini merupakan hibah dari JICA (Badan Kerjasama Internasional Jepang) yang bekerjasama dengan kementerian PUPR dalam rangka peningkatan kerjasama untuk mendukung kegiatan rehabilitasi infrastruktur sumber daya air sekaligus untuk menyebarkan teknologi yang ada di jepang.

Pada tahun 2016 dilakukan  survey terhadap kondisi beberapa bendung karet terutama bendung karet yang berada di pulau jawa. Ada dua bendung karet yang di pilih untuk dilakukan rehabilitasi, yaitu Bendung Karet Rambatan yang berada di Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung dan Bendung Karet Jati yang berada di Wilayah Sungai Bengawan Solo. Sesuai dengan pertimbangan aspek teknis, ekonomi, serta manfaatnya, pada tahun 2017 diputuskan hanya merehabilitasi Bendung Karet Rambatan saja. Hasil dari rehabilitasi ini di lakukan workshop dengan harapan adanya transfer ilmu dari bagaimana metode konstruksinya, spesifikasi bendung karet, serta operasi dan pemeliharaannya.

Rehabilitasi Bendung Karet Rambatan dilaksanakan oleh Nippon Jido-Kiko CO., LTD yaitu perusahaan jepang yang memproduksi bendung karet, instalasi, serta pemeliharaan peralatan dan bangunan air. Di Indonesia, Nippon Jido-Kiko CO., LTD menggandeng PT Djawa Baru dalam pelaksanaannya. Prembat dari PT Djawa Baru menjelaskan teknologi rubber dam yang telah diaplikasikan dalam rehabilitasi bendung karet rambatan.

“Dalam diseminasi dan demonstrasi ini kami tidak hanya melakukan rehabilitasi saja, tetapi juga memantau property dalam jangka menengah, mengevaluasi daya tahan produk dan evaluasi relatifitas terhadap produk perusahaan lain yang telah dikumpulkan” Kata Prembat dalam menutup presentasinya.

Workshop ini dihadiri pula oleh Perwakilan dari BBWS Serayu Opak (Yogyakarta) dan Pemali Juana (Semarang), dalam waktu dekat rencananya akan dilaksanakan Workshop ketiga di Surabaya (DATIN BBWSBS/jendar).

Penandatanganan Kontrak Pekerjaan Pembangunan Bendungan Jlantah

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air yang dalam hal ini diwakili oleh Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melaksanakan penandatanganan kontrak pekerjaan Pembangunan Bendungan Jlantah, Kamis (08/11/18) di Jakarta.

Penandatanganan kontrak pembangunan bendungan ini merupakan bagian dari wujud nyata dukungan program nawacita dalam meningkatkan daya saing nasional yang bertujuan untuk memberi kesejahteraan pada masyarakat dalam hal ketahanan pangan, ketahanan air dan ketahanan energi.

Hal ini dikarenakan manfaat dari Bendungan Jlantah bersifat multipurpose yang berarti mampunyai banyak manfaat yaitu untuk irigasi, tenaga listrik, air baku sampai dengan pariwisata. Total nilai kontrak pembangunan Bendungan Jlantah ini mencapai 965 milyar, dengan kontraktor pelaksana Waskita – Adhi KSO.

Pembangunan Bendungan Jlantah dilakukan di Sungai Jlantah, Desa  Tlobo dan Desa Karangsari, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar.

Bendungan Jlantah merupakan salah satu waduk serbaguna yang mempunyai tipe bendungan urugan random sand gravelly zonal inti tegak dengan tampungan air normal sebesar 10,97 juta m3. Waduk ini akan memiliki tinggi bendungan 65 m (dari dasar sungai), panjang puncak 404 m, lebar puncak 12 m, elevasi puncak bendungan +690 m.

Bendungan Jlantah penting untuk dibangun karena berfungsi sebagai penyediaan air baku sebesar 150 liter per detik, selain itu waduk ini juga memiliki manfaat untuk peningkatan intensitas tanam daerah irigasi esksisting seluas 805 hektar serta pembukaan areal irigasi baru seluas 688 Hektar, dan PLTM sebesar 625 kW.

Turut hadir dalam acara penandatanganan kontrak Seditjen Sumber Daya Air, Muhammad Arsyadi,  Direktur Irigasi dan Rawa, Mochammad Mazid, Kepala Pusat Bendungan, Ni Made Sumiarsih, Kuasa Waskita – Adhi KSO, Fakih Usman, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Charisal Akdian Manu serta para pejabat Eselon dan Kesatkeran BBWS Bengawan Solo (DATIN BBWSBS/maw).

 

Pembukaan Penajaman Program Bendungan, Danau, Situ, Embung Tahun 2019

Sehubungan dengan Kegiatan Penyusunan Program dan Anggaran Bendungan, Danau, Situ dan Embung Tahun 2019 di lingkungan Pusat Bendungan Tahun 2018, Pusat Bendungan mengadakan Penajaman Program (Surakarta 26/7/2018)

“Mari kita tingkatkan untuk belajar permasalahan sosial, karena kalau soal teknis pasti kita sudah terbiasa. Mudah-mudahan kehadiran kita untuk pembangunann bendungan di Indonesia akan bergairah dan mendapat dana yang cukup dari pemerintah” Nasihat Charisal A. Manu dalam sambutannya selaku tuan rumah dalam acara ini.

Acara ini dibuka oleh Ni Made Sumiyarsih  selaku Kepala Pusat Bendungan. “Sebagian besar fisik itu lancar, namun petugas emon nya tidak terupdate datanya hal-hal seperti ini yang terkadang menjadi miss komunikasi antara kita. Oleh karena itu kita harus meningkatkan komunikasi karena kita punya banyak project seperti e-program, kerjasama dengan BMKG dan lain-lain” Ungkapnya dalam sambutannya.

Acara ini akan berlangsung sampai hari Jum’at, dalam susunan acara diagendakan untuk membahas Intrumentasi Terintregasi jaringan BMKG, Inventarisasi Danau Situ Embung dan dilanjutkan dengan diskusi. Acara ini sangat bermanfaat untuk pembangunan dan pemeliharaan Bendungan yang lebih baik (DATINBBWSBS/sita)

Jelajah Ponorogo

Seiring berjalannya waktu, kondisi dan fungsi sarana prasarana infrastruktur bidang irigasi dapat mengalami penurunan. Pembangunan infrastruktur bidang irigasi tidak akan bertahan lama tanpa adanya kegiataan pemeliharaan yang berkesinambungan. Hal ini terjadi pula pada Daerah Irigasi Sungkur di Kabupaten Ponorogo.

Balai Besar Wilayah Bengawan Solo melalui Kepala Bidang Pelaksanaan Pemanfaatan Sumber Air (PJPA) Bengawan Solo Isgiyanto, PPK Irigasi dan Rawa II Ni Nyoman Indah Pramadewi dan PPK Pendayagunaan Air Tanah Hariyo Priyambodo bersama tim konsultan melakukan survey lapangan di Daerah Irigasi Sungkur di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur (20/07/2018). Survey lapangan kali ini bertujuan untuk mengetahui kondisi di lapangan sekaligus membuat rencana pemeliharaan.

“Pekerjaan yang sudah selesai diantaranya adalah Clearing Lokasi, Penggalian dan Pembuatan akses. Rencananya selesai akhir November, karena yang mau ditambah lebar bendungan jadi kita fokus ke hulu dan hilirnya” Terang Indah.

Kunjungan kali ini dilanjutkan dengan kunjungan ke penyediaan air tanah untuk air baku di Desa Suren, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo. Proyek ini direncanakan selesai pada bulan November 2018.

“Debit 2.5 liter/det diharapkan dapat menyediakan air baku untuk 80 kartu keluargau di Desa Suren” Ungkap Hariyo.

Mengingat sebentar lagi akan masuk musim kemarau dan kebutuhan air bersih yang semakin meningkat maka pekerjaan ini diharapkan selesai tepat waktu (DATINBBWSBS/rizal-sita)

Ekspedisi Pacitan

Proses konstruksi tidak lepas dari sebuah perencanaan desain. Desain yang matang harus sudah memprediksi dan memberikan gambaran terkait aspek teknis maupun non teknis. Salah satu tahapan penting penyusunan desain adalah dengan survey lapangan untuk mendapatkan gambaran kedua aspek diatas.

Pacitan merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk sekitar 599.476 jiwa. Kabupaten Pacitan mempunyai visi misi meningkatakan kualitas hidup dan membangun perekonomian masyarakat dengan didukung ketersediaan infrastruktur yang memadai. Salah satu permasalahan yang ada di Kab Pacitan adalah ketersediaan air terutama air baku dan keperluan irigasi.

Embung merupakan salah satu infrastruktur yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut diatas. Di tahun anggaran 2018 ini BBWS Bengawan Solo melalui PPK Perencanaan dan Program, Satker BBWS Bengawan Solo berusaha mengakomodir permasalahan tersebut melalui Paket Perencanaan Identifikasi dan DD Embung di Kab. Pacitan.

Seperti diwartakan, Rabu (18/7/2018) Kepala Seksi Perencanaan Umum Gadhang Swastyastu S.T, M.Eng dan PPK Perencanaan Program Ery Suryo Kusumo S.Pd, MT berkunjung ke Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kab Pacitan dalam rangka koordinasi perencanaan desain embung-embung.

Kunjungan dilanjutkan dengan melakukan survey ke beberapa lokasi didampingi perangkat desa yakni di daerah Punung, Kebonagung, Ngadirojo dll. Nantinya dari beberapa embung tersebut akan dikerucutkan menjadi 3 (tiga) embung prioritas yang akan di detail desain. Sebelum mengakhiri kunjungan, rombongan tim BBWS Bengawan Solo menyempatkan diri ke Badan Kesbangpol Kab Pacitan guna konsolidasi perkembangan aspek sosial terkait pembangunan Waduk Wadah (DATINBBWSBS/sita-edy)

Menlu Belanda Kunjungi Bendungan Tertua di Indonesia

Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda H.E Stef Blok melakukan kunjungan ke Bendungan Prijetan, Lamongan, Jawa Timur (04/06/18). Kunjungan ini merupakan kunjungan bilateral resmi Menlu  Belanda pertama dibidang sumber daya air dan bersejarah.

“Bendungan merupakan prasarana sumber daya air yang memiliki nilai investasi tinggi dan mempunyai fungsi vital bagi kehidupan manusia seperti penyediaan air baku, irigasi dan PLTA. Bendungan Prijetan ini merupakan Bendungan yang umurnya lebih dari 100 tahun,” ungkap Muhammad Arsyadi, selaku Sekretaris Direktorat Jenderal SDA Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Dalam akhir sambutannya Setditjen SDA mengucapkan terima kasih atas kedatangan Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda ke Waduk Prijetan, “semoga dapat memberikan kenangan/memorial terhadap keluarga (kakek) yang pernah ikut berperan dalam pembangunan Waduk ini serta semoga juga dapat memberikan gambaran terkait pengelolaan Sumber Daya Air di Indonesia guna meningkatkan kerjasama diantara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Belanda,” ucap Arsyadi.

“Ini selalu terasa spesial bagi seorang Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda untuk mengunjungi Indonesia karena kita memiliki hubungan yang spesial dan juga memiliki masa depan yang cerah untuk bekerja bersama. Saya senang sekali dapat melakukan perjalanan kesini dan melihat perkembangan disini. Khusunya bagi saya pribadi, masa lalu dan masa depan datang bersama  karena kakek kami dulu bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum yang melaksanakan pembangunan Bendungan Prijetan ini” Jelas H.E Stef Blok dalam sambutannya.

Dalam kunjungan ini turut hadir Bupati Lamongan dan jajarannya serta kelompok tani yang menggunakan pengairan irigasi dari Waduk Prijetan. Rombongan juga menyempatkan untuk berziarah ke makam yang berada di dekat Bendungan Prijetan. Makan tersebut merupakan makan Mevr. JF A Dligoor yang merupakan salah satu leluhur Menlu Belanda.

Bendungan Tertua Di Indonesia

Bendungan Prijetan dibangun sejak tahun 1910 – 1916, pada saat itu yang menjadi pelaksana pembangunannya adalah : Tuan Dligur, Tuan Birman, Tuan Deles dan Tuan Ireng. Waduk Prijetan terletak di Desa Girik Kecamatan Ngimbang, Desa Tenggerejo dan Desa Mlati Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan.

Waduk Prijetan dengan luas tampungan 231 Ha, dulunya mampu menampung air dengan volume + 12.000.000 m3. Namun sekarang hanya mampu menampung + 9.750.000 m3. Areal baku sawah yang dilayani seluas 4.513 Ha meliputi 33 desa. Adapun daerah yang diairi terdiri dari 3 Kecamatan yaitu : Kec Kedungpring, Kec. Sugio dan Kec. Modo.

(DATIN BBWSBS/maw-sta)

Peninjauan Bendungan Wonogiri Bersama Sekertariat Dewan SDA

Dalam rangka peningkatan kapasitas SDM Sekretariat Dewan SDA Nasional untuk pengelolaan SDA melakukan peninjauan Bendungan Wonigiri (Sabtu 30 Juni 2018).

Setelah tiba di lokasi Gardu Pandang, seluruh anggota Sekretariat Dewan SDA Nasional melihat kondisi Waduk.  PPK DSE BBWS Bengawan Solo Abdul Mahmud S.T, M.T selaku pendamping memberikan penjelasan tentang sejarah singkat, fungsi, dan kondisi.

“Selain fungsi utama Bendungan Wonogiri sebagai pengendali banjir juga dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sumber untuk air minum, serta irigasi pertanian,” jelasnya.

“Sekarang yang menjadi masalah adalah sedimentasi dan penyumbang paling besar sedimentasi dari beberapa anak sungai adalah Sungai keduang untuk itu dilakukan pengelolaan Daerah Aliran Sungai di Daerah Tangkapan Air untuk mengurangi sedimentasi,” tambahnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi, menurut Kepala Perencanaan dan Program Sekretariat Dewan SDA Nasional Faliansyah S.T, M.Dev.Plg, setelah melihat kondisi Bendungan Wonogiri sampai saat ini dilihat dari umur rencana dengan kapasitas tampung waduk sebenarnya cukup baik, tapi permasalahan utama adalah sedimentasi.

Peninjauan dilanjutkan dengan melihat Checkc Dam kecil dan Watershed di Desa Jatirejo dan Desa Tempursari (DATINBBWSBS)

Diatas Getek, Tasyakuran dan Doa Bersama di Rawa Jombor Dilaksanakan

Dengan telah selesainya kerja bakti pembersihan Eceng Gondok di Kawasan Rawa Jombor hari ini Minggu (13/05/18) dilaksanakan Tasyakuran dan Doa Bersama Komunitas Peduli Rawa Jombor. Acara ini dihadiri oleh Bupati Klaten Sri Mulyani, Sekda Jawa Tengah Sri Puryono, Direktur OP SDA Kementerian PUPR Agung Djuhartono dan Kepala BBWS Bengawan Solo Charisal A. Manu.

Pada kesempatan kali ini juga dilaksanaan ikrar dan komitmen bersama antara komunitas, akademisi dan para pemangku kepentingan agar menjaga dan melestarikan Rawa Jombor untuk pembangunan berkelanjutan, bertekad memberdayakan sumber daya dan lingkungan untuk kesejahteraan masyarakat, serta bersedia melaksanakan penataan rawa jombor bersama pemerintah, akademisi, swasta dan pemangku kepentingan lainnya.

Kepala BBWS Bengawan Solo mengatakan pengembangan Rawa Jombor kedepannya diharapkan tidak hanya aspek pariwisata tetapi ketika sudah bersih dapat digunakan juga untuk pemenuhan air baku, “kita tata kedepan dengan satu masterplan yang sudah makro, akademisi terlibat, bidang lingkungan terlibat, semua terlibat untuk mewakili seluruh kepentingan, baik masyakart itu sendiri, baik dari aspek lingkungan, baik dari kami sendiri sebagai pihak pengelola,” ujar pria yang akrab disapa Roga ini.

Charisal juga mengatakan perlu waktu minimal 5 tahun untuk melakukan pengembangan dan penataan yang mendetail, “kalau penataan ini pasti 5 taun karena itu jangka panjang untuk mengedukasi pelaksanaan kegiatan ini, masyakarat sudah tahu mereka sudah siap untuk itu, tetapi tentu penataan untuk mereka itu perlu waktu yang panjang, tapi secara keseluruhan (perlu dipikirkan) jalan lintasnya seperti apa, bagaimana mungkin nanti ada penataan lampu-lampu warna-warni untuk malam hari dan bisa juga dibuat air mancur yang mengikuti irama musik,” kata Charisal. (DATIN BBWSBS/maw,ingga,agus)