/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Gerakan Peduli Mitigasi Bencana Melalui Penanganan Sampah dan Penghijauan

Menanam pohon merupakan upaya menyelamatkan bumi, menjaga keragaman hayati, menghemat dan menumbuhkan mata air yang baru, serta memberikan oksigen bagi kehidupan. Keberhasilan program penanaman dan pemeliharaan pohon sangat tergantung pada 6T : tepat perencanaan, tepat pemilihan jenis, tepat pembibitan, tepat waktu penanaman, tepat pemeliharaan dan tepat waktu pemanenan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Bina Investasi Infrastruktur Ditjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Masrianto saat membacakan sambutan Menteri PUPR dalam acara Penanaman Pohon dalam Rangka Gerakan Peduli Mitigasi Bencana melalui Penanganan Sampah dan Penghijauan. Acara dilaksanakan di Proyek Pembangunan Bendungan Gondang, Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (28/11) di tengah guyuran hujan deras, namun tidak menyurutkan semangat para peserta.

Gerakan Peduli Mitigasi Bencana yang dilakukan dalam rangka Hari Bakti PU ke-72 mengambil tema “Perlindungan dan Optimalisasi Fungsi Situ, Danau, Embung, Waduk, dan Sumber Air Permukaan Lainnya”. Tema ini mengandung makna bahwa saat ini yang menjadi penyebab utama terjadinya bencana alam di Indonesia adalah penyempitan badan air, alih fungsi lahan, sedimentasi, pendangkalan, hilangnya mata air, dan pengelolaan sampah yang belum dilaksanakan dengan baik oleh masing-masing individu.

Acara ini dihadiri Muspida Kabupaten Karanganyar, BBWS Bengawan Solo, Balai Sungai, PJT I, Balai Jalan Nasional V, DWP PUPR, dan Komunitas.

Menteri Agraria & Tata Ruang / Kepala BPN Kunjungi Proyek Waduk Gondang

Menteri Agraria & Tata Ruang / Kepala BPN, Sofyan A. Djalil Mengunjungi proyek pembangunan Bendungan Gondang di Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah, Selasa (7/11). Sofyan datang ke lokasi proyek di Desa Gempolan Kecamatan Kerjo sekitar pukul 10.30 WIB. Ia sempat berkeliling ke spillway dan gardu pandang untuk melihat proses pekerjaan disana dan dilanjutkan santap siang bersama dengan menu tengkleng solo di kantin yang ada di proyek.

Bendungan Gondang ini memiliki manfaat Irigasi 4.680 Ha, Air Baku 200 lt/detik dan Reduksi banjir 639,22 m3/detik atau 52,36 m3/Ha. Proses pembangunan Bendungan Gondang ini direncanakan selesai bulan Juni tahun 2018.

Kementerian PUPR Targetkan 65 Bendungan Selesai di 2022

SOLO—Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) menargetkan 65 waduk dan bendungan terbangun di periode 2015-2022. Hal itu terungkap dalam Seminar Peluang dan Tantangan Pembangunan Bendungan Guna Menunjang Ketahanan Nasional, di Hotel Novotel, Solo, Sabtu (4/11).

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Imam Santoso menyampaikan pembangunan waduk dan bendungan tersebut menjadi salah satu prioritas yang dikebut Kementerian PUPR. Selain 65 waduk dan bendungan di seluruh Indonesia, pemerintah juga membangun jaringan irigasi seluas 1 juta hektare dan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 3 juta hektare serta pembangunan 1088 embung dan prasarana pengendalian banjir sepanjang 3080 kilometer.

Kementerian PUPR menargetkan pembangunan waduk dan bendungan tersebut dapat rampung dalam tempo 3-4 tahun. Jika tahun ini memulai pembangunan, maka diharapkan selesai 2020-2022 mendatang. Imam menyebut 65 bendungan tersebut dibangun menyebar di seluruh wilayah Indonesia.

Hal itu sejalan dengan Program Nawacita Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk pemerataan pembangunan. Hingga tahun ini, Kementerian PUPR telah membangun 39 bendungan. Pada 2018 nanti, 9 bendungan di antaranya ditarget selesai. Dilanjutkan Imam, beberapa bendungan yang sudah jadi diantaranya Bendungan Jatigede di Sumedang, Jawa Barat memiliki dampak cukup besar bagi masyarakat.

Selain memenuhi kebutuhan air di Jawa Barat, beberapa daerah rawan banjir seperti Cirebon, Indramayu tidak lagi kebanjiran lagi karena sudah ditahan di Jatigede. Selain itu, pasokan air ke irigasi bertambah karena di bendung rentang dari bendungan Jatigede yang terdapat sekitar 90 ribu hektar sawah yang dilalui aliran air dari Jatigede.

“Pembangunan bendungan ini salah satu upaya memperbaiki perekonomian masyarakat,” kata Imam. Saat ini, Indonesia telah memiliki sekitar 230 bendungan. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 11 persen dari 7,4 juta hektar lahan sawah irigasi yang terlayani.

Sementara, bila 65 proyek bendungan itu rampung, diperkirakan presentase hanya bertambah 8 persen, menjadi 19 persen dari 7,4 juta hektar lahan. Itu artinya, baru sekitar 1,41 juta hektar lahan yang terlayani irigasi saat seluruh proyek bendungan itu rampung.

“Tanpa bendungan, petani mungkin hanya bisa panen 1-2 kali dalam setahun. Sementara, dengan bantuan bendungan, panen dapat dilakukan sampai 3 kali. Kalau dikalikan produknya berapa dalam ton, kan bisa dikali 2 atau 3 kali lagi,” sebutnya.

Dengan bertambahnya jumlah panen yang ada, produksi padi dan tanaman lainnya pun akan semakin meningkat. Dengan demikian upaya pemerintah dalam mewujudkan program ketahanan pangan akan selangkah lebih mudah.

Imam mengatakan pembangunan puluhan bendungan dan waduk tersebut bakal menyesuaikan kearifan lokal daerah setempat. Pasalnya, selain berfungsi sebagai penahan air, bendungan juga dapat menjadi destinasi wisata baru. “Bisa saja nanti bendungannya berbentuk koteka kalau dibangun di Papua,” kata dia.

Dari target 65 bendungan, 7 di antaranya diproyeksikan berada di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kawasan tersebut kerap mengalami kekeringan, sehingga masyarakat kerap mengalami kesulitan air, termasuk irigasi dan pertanian.

“Provinsi ini merupakan yang paling banyak mendapat bendungan selain Jawa Tengah,” kata Imam. Seminar yang menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Civil Week 2017 Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia dan masyarakat umum.

Imam berharap peserta seminar dapat menjadi bagian dari pembangunan bendungan. Hal tersebut lantaran setiap pembuatan bendungan merupakan proyek tahunan dan melibatkan sedikitnya ratusan pekerja.

Selain Imam, narasumber lain dalam seminar itu yakni Prasetyo Budi Yuwono, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Tengah dengan moderator Dosen Fakultas Teknik UNS, Agus Hariwahyudi. Prasetyo dalam paparannya mengungkapkan ihwal pembangunan 1.000 embung di Jawa Tengah.