/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Penandatangan Surat Perjanjian Kerja Rehabilitasi Bendungan Pacal

Dalam rangka menciptakan pembangunan dan pengembangan infrastruktur yang memberikan manfaat di bidang sumber daya air (SDA) seluas-luasnya, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melakukan penandatanganan Surat Perjanjian Kerja (SPK) di Kantor BBWS Bengawan Solo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (13/11/2020). Acara yang dilaksanakan tetap dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

SPK tersebut terkait pekerjaan Rehabilitasi Bendungan Pacal di Kabupaten Bojonegoro, yang ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan (OP) Sumber Daya Air (SDA) IV, Antonius Suryono, S.H., M.M.T., dengan General Manager PT Adhi Karya (Persero), Ir. Harimawan, M.M., dengan nilai kontrak Rp90.264.142.545 dan disaksikan oleh Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., beserta pejabat lainnya.

Bendungan yang terletak di Kecamatan Temayang tersebut memiliki tipe urugan batu dengan membran beton di udik. Tinggi maksimal bendungan yakni 35 meter dan lebar puncak 7 meter. Bendungan Pacal menjadi sumber air bagi daerah irigasi (DI) Pacal dengan luasan baku sawah 16.688 Ha.

Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech. dalam arahannya juga berpesan bahwa bendungan tersebut usianya sudah tua yang dimanfaatkan sejak tahun 1933, sehingga sudah saatnya mendapatkan perhatian khusus dari BBWSBS. “Masalah geologi menjadi hal yang perlu diperhartikan dalam pekerjaan rehabilitasi Bendungan Pacal ini. Semoga hasil pekerjaan nantinya memenuhi kualitas, kuantitas, dan sesuai dengan spesifikasinya. Namun, yang paling penting adalah tepat waktu dan tepat mutu sehingga fungsi infrastruktur yang ada dapat segera dimanfaatkan kembali oleh masyarakat sekitar,” imbuhnya. (BBWSBS/Ferri)

Pelatihan Operasi dan Pemeliharaan Bendungan Gondang

Dalam rangka meningkatkan kemampuan dan pengetahuan teknis mengenai Operasional dan Pemeliharaan pada Bendungan Gondang di Kabupaten Karanganyar, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melaksanakan kegiatan pelatihan Operasi dan Pemeliharaan Bendungan di Kantor SNVT Pembangunan Bendungan BBWS Bengawan Solo dan Bendungan Gondang Kabupaten Karanganyar, Rabu-Kamis (11-12/11/2020).

Khoirul Murod, ST, MT selaku Subkoordinator Pelaks. Tugas Pengendalian Pelaks. Bendungan dan Danau mewakili Kepala Bidang PJSA Bengawan Solo menyampaikan suatu bangunan apapun itu akan bisa dinikmati atau dimanfaatkan manakala pembangunan itu dilakukan dengan cara yang sesuai dan kemudian tak lupa ada proses pemeliharaan yang baik. Sehingga secara keberlanjutan manfaat itu dapat diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.

“Mudah-mudahan ilmu yang disampaikan narasumber dapat diserap semua oleh rekan-rekan sekalian, supaya nanti kedepannya didalam pelaksanaan operasi dan pemeliharaan berjalan lancar,” pesannya.

Kepala SNVT Pembangunan Bendungan Bengawan Solo Dony Faturochman, ST, MT menjelaskan proses dari Bendungan Gondang ini sudah melewati Sertifikat Desain, Sertifikat Impounding, nah kita saat ini dalam proses sertifikasi O&P, jadi dalam proses pemantauan sehingga memang perlu waktu untuk disetujuinya proses operasi dan pemeliharaan ini. Salah satu kewajiban kita adalah melatih teman-teman O&P agar kedepannya ada yang bisa menjaga melaksanakan O&P di Bendungan Gondang.

“Proses operasi dan pemeliharaan prinsipnya sebetulnya kita memelihara fungsi tujuan dari bendungan ini agar tetap berfungsi sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk pengendali banjir, air baku, irigasi, dan listrik, bagaimana menjaga fungsi-fungsi bendungan ini tetap terjaga dengan operasi dan pemeliharaan ini,” jelasnya.

PPK Perencanaan Bendungan BBWS Bengawan Solo Arif Gunawan, ST, MT mengatakan dalam kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri dari 11 orang Petugas O&P Bendungan dan 24 orang dari SNVT Bendungan.

Dalam kegiatan pelatihan ini disampaikan beberapa materi yaitu tentang Pengenalan Operasi dan Pemeliharaan Bendungan secara umum oleh Ir. Tulus Hery Basuki, Geoteknik Bendungan Gondang oleh Ir. Anwar Makmur, O&P Peralatan Hidromekanikal dan Elektrikal di Bendungan Gondang oleh Ir. Sarwanto, Penyiapan Pola Operasi Bendungan Gondang oleh Harimukti Rosita Rahmawati, ST, MT, serta Pengamatan dan Evaluasi O&P dan Instrumentasi Bendungan Gondang oleh Dani Sunandar, ST. Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi bangunan intake dan outlet di Bendungan Gondang Kabupaten Karanganyar.

Semoga dengan acara ini rekan-rekan petugas O&P baik yang berasal dari SNVT Bendungan sendiri maupun dari Bidang O&P dapat bersinergi bersama untuk mencari ilmu dan mencari bekal yang lebih banyak sehingga nanti pada saat pelaksanaan dilapangan bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin(BBWSBS/kharis).

Pengelolaan Greenbelt Bendungan untuk Konservasi Lahan Berkelanjutan

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) melakukan kunjungan kerja (kunker) di wilayah Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis-Jumat (05-06/11/2020). Dalam kesempatan ini Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) (Sampu) Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat, Ir. Sudirman, M.M., didampingi Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., beserta pejabat dan staf, meninjau pengelolaan area sabuk hijau (greenbelt) di kawasan Bendungan Serbaguna Wonogiri dan Bendungan Gondang.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rayat (PUPR) akan memanfaatkan area sabuk hijau (greenbelt) bendungan untuk ditanami berbagai jenis pohon yang bernilai ekonomis. Untuk itu, setiap bendungan harus ditata dan memiliki kawasan greenbelt yang memadai melalui penanaman pohon yang disesuaikan dengan struktur tanah dan memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Selain berfungsi untuk penataan lingkungan di sekitar infrastuktur, greenbelt juga bermanfaat untuk menciptakan ruang terbuka hijau (RTH). Bila ekosistem bendungan yang dibangun indah dan asri tentunya akan meningkatkan meningkatkan estetika serta memunculkan karakteristik tersendiri.

Ir. Sudirman, M.M., disela kegiatan juga menyampaikan bahwa Menteri Basuki menginstruksikan agar dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur harus berlandaskan prinsip-prinsip terkait pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan (sustainable). “Dalam konstruksi sebuah infrastruktur, yang dalam hal ini bendungan, harus memiliki kawasan greenbelt yang memadai dan tertata melalui penanaman pohon. Varietasnya juga disesuaikan dengan struktur tanah yang ada sekaligus memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat,” imbuhnya.

Upaya konservasi yang dilakukan melalui penanaman pohon di area greenbelt, turut menyumbang pengembangan potensi ekonomi lokal di sekitar bendungan. Tentunya, dilakukan tanpa mengganggu fungsi utama bendungan sebagai tampungan air. Oleh karena itu, peran aktif dari masyarakat sekitar sangat diperlukan,” pesan Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech.

Kepala SNVT Pembangunan Bendungan Bengawan Solo, Dony Faturochman S., S.T., M.T., menjelaskan bahwa di Bendungan Gondang terdapat greenbelt seluas 18,6 Ha dan sudah ditanami sekitar 450 pohon, namun akan tetap berproses setiap tahunnya dengan penanaman sekitar 220 pohon yang terdiri dari jenis buah-buahan seperti durian, mangga, kelengkeng, dan jambu.

“Untuk bendungan yang saat ini masih on progress pembangunannya juga memiliki area greenbelt dengan luasan lahan yakni, Bendungan Tukul di Kabupaten Pacitan seluas 8 Ha, Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo seluas 69,16 Ha, Bendungan Gongseng di Kabupaten Bojonegoro seluas 130,32 Ha, Bendungan Pidekso di Kabupaten Wonogiri seluas 8,7 Ha, dan Bendungan Jlantah di Karanganyar seluas 11,85 Ha,” sambungnya.

Sebagai informasi pendukung, Bendungan Serbaguna Wonogiri mampu mengairi lahan pertanian dengan luas sekitar 23.200 ha, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas 12,4 MW, pengendali banjir sekaligus potensi pariwisata.

Dan untuk Bendungan Gondang yang dibangun dengan tipe urugan random zona inti tegak, dapat dimanfaatkan sebagai penyedia air baku bagi Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen masing-masing sebesar 100 liter/detik. Selain itu dapat mengairi lahan pertanian seluas 4.066 ha, serta mereduksi debit banjir sebesar 6,74% atau dari 639,22 m3/detik menjadi 596,12 m3/detik. (BBWSBS/Ferri)

Seminar Tata Kelola Air dan Penandatanganan RTD Bendungan Gongseng

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) mengikuti acara Seminar Tata Kelola Air dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara Terpadu yang dirangkai dengan Penandatanganan Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan Gongseng di ruang Angling Dharmo Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jumat (23/10/2020).

Bendungan Gongseng yang berada di Desa Papringan, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, progres pembangunannya sudah mencapai sekitar 84% dan rencananya akan diresmikan pada bulan Desember 2020. Sementara, untuk impounding (pengisian waduk) akan mulai dilaksanakan pada pertengahan tahun 2021 mendatang.

Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., dalam sambutannya menyampaikan bahwa setiap pembangunan dan pengelolaan bendungan beserta waduknya harus dilaksanakan berdasarkan pada konsep keamanan bendungan, sehingga harus dilengkapi dengan dokumen RTD.

“Dokumen RTD bertujuan untuk memberikan petunjuk yang sistematis mengenai permasalahan terkait keamanan bendungan, sehingga dapat segera diberikan respon yang cepat guna mencegah terjadinya keruntuhan bendungan. Sekaligus mempersiapkan upaya-upaya untuk memperkecil resiko jatuhnya korban jiwa dan kerusakan harta benda,” pesannya.

Bendungan Gongseng nantinya dapat menampung 22 juta m3 air dengan tinggi 34 meter dan dapat digunakan untuk keperluan irigasi seluas 6.200 ha, air baku 300 liter per detik. Selain itu sebagai konservasi lahan yang juga memiliki potensi pariwisata.

Dalam pidato Bupati Bojonegoro, Dr. Hj. Anna Mu’awanah, berharap nantinya Bendungan Gongseng dapat mengairi lahan pertanian yang tidak dapat dijangkau dari Bendungan Pacal. “Masyarakat sudah betul-betul sangat menunggu hadirnya infrastruktur ini, dan Pemkab Bojonegoro juga telah merespons terhadap perencanaan anggaran 2021 agar segera dibangun saluran sekunder dan tersier untuk daerah irigasi Bendungan Gongseng. Jadi, saya yakin kedepannya akan semakin makmur,” pungkasnya. (BBWSBS/Ferri)

Penandatangan Kontrak Paket Pekerjaan Rehabilitasi Bendungan Lalung

Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) melakukan penandatanganan kontrak paket pekerjaan di Kantor BBWS Bengawan Solo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (02/10/2020). Paket pekerjaan yang akan dilaksanakan yakni Rehabilitasi Bendungan Lalung yang ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan (OP) Sumber Daya Air (SDA) II, Ika Yulianti, S.T., M.T. dengan Direktur PT Taruna Putra Pertiwi, Nana Herdiana, dengan nilai kontrak Rp 66.857.274.869 dan disaksikan disaksikan oleh Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., beserta pejabat lainnya.

Bendungan Lalung yang dibangun pada 1943 tersebut memiliki tipe urugan tanah homogen. Bendungan tersebut mampu mengairi lahan pertanian seluas 2.000 ha dan dimanfaatkan warga untuk perikanan maupun pariwisata.

Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech. dalam arahannya juga berpesan agar tetap memperhatikan kondisi di sekitar area proyek, sehingga dalam pengerjaannya tidak sampai merugikan pihak manapun. “Semoga paket pekerjaan rehabilitasi Bendungan Lalung nantinya sesuai dengan spesifikasinya serta memenuhi kualitas, kuantitas, dan tepat waktu,” imbuhnya.

Kepala Satker OP SDA Bengawan Solo, Surendro Andi Wibowo, S.T., MPSDA., turut menambahkan bahwa setelah melalui proses yang cukup panjang akhirnya rencana rehabilitasi dapat terealisasi. “Pekerjaan rehabilitasi bendungan di Kabupaten Karanganyar dengan kapasitas volume mencapai 4 juta m3 ini, ditargetkan akan selesai pada akhir tahun 2021 mendatang,” tutupnya. (BBWSBS/Ferri)

Pembayaran Ganti Kerugian Pengadaan Tanah Bendungan Jlantah Blok 38 dan 39

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melakukan pelepasan hak dan pembayaran ganti kerugian warga yang terdampak pengadaan tanah pembangunan Bendungan Jlantah Blok 38 dan 39 di Aula Balai Desa Karangsari, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar dengan tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19, Rabu (07/10/2020).

Berdasarkan hasil Konsultasi Publik dihasilkan pendataan awal jumlah bidang calon terdampak Pembangunan Bendungan Jlantah sejumlah 849 Bidang dengan rincian Desa Tlobo 607 Bidang dan Desa Karangsari 242 Bidang.

PPK Perencanaan Pembangunan Bendungan Bengawan Solo Arif Gunawan, ST, MT menjelaskan bahwa pelepasan hak dan pembayaran ganti kerugian pengadaan tanah pembangunan Bendungan Jlantah untuk Blok 38 dan 39 hari ini sebanyak 61 bidang tanah dari sekitar 134 bidang tanah yang berada di Desa Karangsari, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar. Untuk Blok 38 dan 39 ini menjadi prioritas dikarenakan terkait konstruksi, jadi harus benar-benar bebas dulu tanahnya.

“Kami dari BBWS Bengawan Solo mengucapkan terimakasih kepada bapak dan ibu sekalian atas berkenan telah menerima hasil perhitungan oleh tim, semoga semangat positif ini bisa kita tularkan kepada teman-teman yang lain yang masih berproses dan mudah-mudahan apa yang sudah bapak ibu terima bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya,” sambungnya.

Edy Musthofa selaku Kepala Seksi Pengadaan Tanah Kantor Pertanahan Kabupaten Karanganyar mengatakan bahwa sebagaimana dalam undangan yang kita kirimkan, bapak ibu harus hadir dengan suami atau istri. Semisal pagi ini ada yang belum bisa hadir dengan suami atau istri nanti akan kita fasilitasi kapan akan kita sepakati dan kita fasilitasi untuk kelancarannya.

“Kami mewakili Pemerintah Kecamatan Jatiyoso menyampaikan banyak terimakasih kepada warga Desa Karangsari atas kerjasama dan kesabarannya selama ini. Kami berpesan pergunakanlah dengan bijak dana yang akan “panjenengan” terima hari ini,” jelas Adzani Priyanggodo selaku Kepala Kecamatan Jatiyoso.

Untuk diketahui Bendungan Jlantah ini nantinya akan menghasilkan air baku sebesar 150 liter/detik, serta mampu mengairi lahan seluas 1.493 Ha di kawasan Kecamatan Jatiyoso, Jumapolo, dan Jatipuro. Bendungan yang dirancang dengan kapasitas tampungan total sebanyak 10,97 juta m3 tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebesar 0,625 mega watt, pengendalian banjir, serta konservasi pariwisata di wilayah Kabupaten Karanganyar(BBWSBS/kharis).

Tahap Pengisian Awal Proyek Strategis Nasional Bendungan Tukul di Pacitan

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) yang diwakili oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melaksanakan pengisian awal (impounding) waduk di Bendungan Tukul di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Kamis (01/09/2020). Impounding tersebut dilakukan secara simbolis oleh Direktur Bendungan dan Danau Ditjen SDA, Airlangga Mardjono, S.T., M.T., Bupati Pacitan, Indartato, Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., dan Kepala Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur, Ir. M. Abduh M. Mattalitti, CES., dengan menekan tombol sirene yang sekaligus menandai penutupan saluran pengelak untuk membendung aliran Sungai Telu. Acara yang dilaksanakan tetap dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Bendungan Tukul merupakan salah satu dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan menambah kapasitas tampungan air sehingga keberlanjutan suplai air irigasi ke sawah terjaga. Kehadiran bendungan ini juga memiliki potensi air baku, energi, pengendalian banjir, dan pariwisata yang akan menumbuhkan ekonomi lokal.

Infrastuktur tersebut dibangun di lahan seluas 44,81 ha, tepatnya di Desa Karanggede, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, dan dapat mengairi sekitar 600 ha lahan persawahan. Selain itu juga berfungsi sebagai penyedia air baku sekaligus sebagai konservasi lahan.

Tak hanya sebagai irigasi dan menjadi sumber air baku sebesar 300 liter/detik, Bendungan Tukul dibangun dengan tipe urugan random dan Zonal Inti Tegak, yang memiliki kapasitas tampungan total sebesar 8,68 juta m3 dan dapat menjadi penggerak PLTA Mikrohidro sebesar 2 x 132 KW. Selain itu juga dapat mereduksi banjir hingga 44,86 m3/detik.

Direktur Bendungan dan Danau Ditjen SDA, Airlangga Mardjono, S.T., M.T., turut menyampaikan bahwa pengelolaan SDA dan irigasi akan terus dilanjutkan dalam rangka mendukung produksi pertanian yang berkelanjutan. “Hadirnya bendungan juga akan meningkatkan produktivitas di bidang pertanian untuk mendukung ketahanan pangan Nasional. Kami berharap Bupati Pacitan beserta jajarannya dapat meneruskan program yang sudah ada, dengan demikian bendungan yang dibangun dengan biaya besar dapat segera dimanfaatkan dan airnya mengalir hingga ke persawahan milik petani,” pesannya.

Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., menyampaikan dalam pidatonya pembangunan Bendungan Tukul telah melewati banyak hal yaitu sertifikasi persetujuan desain, izin pelaksanaan konstruksi, dan sertifikasi persetujuan pengisian bendungan. “Saat ini progres fisik bendungan yang pembangunannya dilaksanakan mulai tahun 2013 ini telah mencapai 90% dan telah memasuki akhir pekerjaan konstruksi, sehingga diperlukan pengisian awal waduk sebagai salah satu persyaratan pengoperasian bendungan,” imbuhnya.

Bupati Pacitan, Indartato, turut menyampaikan bahwa atas nama Pemerintah Kabupaten Pacitan bersama masyarakat mengungkapkan terimakasih kepada BBWS Bengawan Solo dengan dibangunnya Bendungan Tukul. “Mari kita dukung dan pelihara pembangunan infrastuktur bendungan ini, karena manfaat yang dihasilkan akan membawa kemakmuran bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Pengelolaan sumber daya air di Indonesia merupakan hal yang kompleks sehubungan dengan pemanfaatan air. Baik dalam pemenuhan hajat hidup masyarakat, mendukung roda perekonomian, pertumbuhan industri, dan lain sebagainya. Semoga dengan dibangunnya infrastruktur bendungan yang memadai, dapat memberikan tekanan dan manfaat yang besar bagi lingkungan, dalam hal ini ketersediaan SDA yang terbarukan dan berkelanjutan. (BBWSBS/Ferri)

Persiapan Impounding Bendungan Tukul

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melaksanakan acara Sosialisasi Penggenangan Bendungan Tukul di Ruang Rapat Kantor Bupati, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Kamis (10/09/2020).

Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) Bengawan Solo Ir. Isgiyanto, MT, mewakili Kepala BBWS Bengawan Solo menyampaikan bahwa pengelolaan sumber daya air di Indonesia menghadapi permasalahan yang kompleks sehubungan dengan multi-fungsi air dari sisi sosial-budaya, ekonomi dan lingkungan, yang masing-masing dapat saling bertentangan. Pemanfaatan air baik guna pemenuhan hajat hidup masyarakat, guna mendukung roda perekonomian dan pertumbuhan industri, pariwisata dan lain sebagainya, telah memberikan tekanan yang besar terhadap lingkungan dalam hal ketersediaan sumber daya air yang terbarukan dan berkelanjutan.

“Oleh karena itu, penyediaan infrastruktur skala besar seperti bendungan merupakan salah satu bentuk implementasi konservasi dan pendayagunaan SDA yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat,”jelasnya.

Dony Faturochman S., ST, MT selaku Kepala SNVT Pembangunan Bendungan Bengawan Solo menjelaskan Bendungan Tukul sendiri terletak di Desa Karanggede, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan ini pekerjaanya telah memasuki tahap akhir pekerjaan konstruksi sehingga diperlukan pengisian awal bendungan sebagai salah satu persyaratan pengoperasian bendungan. Bendungan Tukul direncanakan memiliki manfaat untuk dapat memenuhi kebutuhan irigasi seluas 600 Ha, penyediaan air baku sebesar 300 liter/detik, dan potensi energi listrik sebesar 2 x 132 kW.

“Pengisian awal sebuah Bendungan yang baru selesai dibangun merupakan suatu fase yang sangat penting dan perlu diketahui oleh seluruh pihak yang berkepentingan didalamnya, khususnya Pemerintah Daerah. Sehingga dalam implementasinya diperlukan dukungan dan kerjasama banyak pihak, yakni para pemangku kepentingan dan instansi terkait lainnya agar pengisian air bendungan bisa berjalan lancar dan aman,”sambung Doni.

Bupati Pacitan Drs. Indartato, MM menyampaikan banyak terimakasih kepada BBWS Bengawan Solo atas dibangunnya Bendungan Tukul ini, segingga diharapkan masyarakat Kabupaten Pacitan bisa menikmati manfaatnya, khususnya warga Desa Karanggede, Kecamatan Arjosari. “sehingga harus terus dilakukan komunikasi dan koordinasi agar kegiatan ini berjalan dengan lancar,”tutupnya(bbwsbs/kharis).

SEGUDANG MANFAAT DIBALIK PESONA BENDUNGAN GONDANG

Bendungan Gondang yang dibangun oleh Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, memiliki kapasitas tampung hingga 9,15 juta M3. Air dari bendungan ini dapat memasok kebutuhan irigasi lahan pertanian seluas 4.066 hektare di Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen. Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech, bersama pejabat dan staf melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke Bendungan Gondang, di Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (13/08/2020).

Selain dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari 200 menjadi 270 per tahun, bendungan tersebut juga menjadi sumber air baku yang menghasilkan sebesar 100 liter/detik. Bendungan Gondang juga bermanfaat untuk mereduksi banjir dari 639,22 M3/detik menjadi 596,12 M3/detik.

Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., disela kegiatan monev turut menyampaikan bahwa pembangunan bendungan tersebut utamanya untuk memenuhi kebutuhan irigasi dan pemenuhan kebutuhan air baku. “Selain berfungsi sebagai penyedia air baku seperti bendungan pada umumnya, Bendungan Gondang juga sebagai konsevasi sumber daya air (SDA) khususnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Garuda sekaligus pengembangan pariwisata di Kabupaten Karanganyar.”

Bendungan yang diresmikan oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo pada tahun 2019 lalu, juga dapat menghasilkan listrik sebesar 0,321 MW serta menambah jumlah tampungan air di Provinsi Jawa Tengah.

Kepala SNVT Pembangunan Bendungan Bengawan Solo, Dony Faturochman S., S.T., M.T., juga menambahkan bahwa saat ini Bendungan Gondang sedang dalam tahap sertifikasi Operasi dan Pemeliharaan (OP), dengan memantau perilaku bendungan dari segi fisik, maupun alat instrumentasi yang dipasang. “Apabila hal-hal yang terkait keamanan bendungan telah mendukung proses pembangunan dan sesuai dengan fungsinya, maka akan diproses dan mendapat persetujuan dari Komisi Keamanan Bendungan. Sehingga BBWS Bengawan Solo dapat melakukan kegiatan OP,” tutupnya. (BBWSBS/Ferri)

Sinergitas dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

Pembangunan bendungan merupakan upaya pengelolaan sumber daya air (SDA) dalam rangka mendukung produksi pertanian berkelanjutan. Infrastruktur bendungan juga sangat penting bagi sumber air irigasi. Tidak hanya di bidang pertanian, bendungan juga menjadi sumber air baku, pengendalian banjir sekaligus pembangkit sumber energi (PLTA). Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., bersama Bupati Bojonegoro, Dr. Hj. Anna Mu’awanah meninjau kawasan Bendungan Pacal, di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (28/07/2020).

Bendungan yang terletak di Kecamatan Temayang dan memiliki tipe urugan batu dengan membran beton di udik tersebut menjadi sumber air bagi daerah irigasi (DI) Pacal dengan luasan baku sawah 16.688 Ha. Kunjungan kerja (kunker) di infrastruktur yang dibangun pada masa kolonial di bawah pemerintahan Belanda tersebut untuk melihat area rencana pengerjaan paket revitalisasi.

Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., disela kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) tersebut untuk persiapan memasuki musim kemarau terkait ketahanan pangan. “Bendungan Pacal ini dapat mensuplai irigasi pertanian hingga 16.688 Ha. Rencana ke depan, kami dari BBWS Bengawan Solo akan menyelesaikan pembangunan Bendungan Gongseng serta Bendung Gerak Karangnongko, sehingga nantinya wilayah Kabupaten Bojonegoro sisi utara mendapatkan surplus air.”

Rombongan juga melanjutkan kegiatan monev ke area proyek pembangunan Bendungan Gongseng di Kabupaten Bojonegoro. Bendungan tersebut nantinya memiliki kapasitas tampungan total sebesar 22,43 juta m3 dengan manfaat suplesi irigasi seluas 6.191 Ha. Selain itu juga menghasilkan air baku sebesar 300 liter/detik, energi listrik sebesar 0,70 MW, dan dapat mereduksi banjir hingga 133,27 m3/detik. Untuk progres fisik pembangunan secara keseluruhan telah mencapai 81,30%.

Bupati Bojonegoro, Dr. Hj. Anna Mu’awanah, menyampaikan bahwa Kabupaten Bojonegoro selain sebagai sumber penghasil minyak dan gas, juga memerlukan suplai air. “Kami menjalin sinergitas dengan beberapa pihak terkait agar manajemen SDA di wilayah ini tercukupi dan terkendali, hal tersebut bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan Nasional melalui bidang pertanian.”

Dalam kesempatan ini hadir pula Ketua DPP PDIP Nusyirwan Soedjono yang juga menambahkan, bahwa bulan kemarau pada tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, dampak dari pandemi Covid-19. “Kita harus menjaga ketahanan pangan kita sendiri. Sehingga kami bersama tim ingin melihat langsung kesiapan khususnya untuk suplai air baku terkait pengairan bagi pertanian di Jawa Timur. Salah satunya di Bendungan Pacal. Kami juga berharap saat memasuki musim tanam kedua suplai air dapat tercukupi. Sebab Kabupaten Bojonegoro menjadi salah satu lumbung pangan Nasional.” (BBWSBS/Ferri)