/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

PKM 1 D.I Waduk Rande Kabupaten Lamongan

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melalui PPK Perencanaan Umum dan Program Ery Suryo Kusumo, S.Pd, MT dalam melaksanakan PKM 1 D.I Waduk Rande di Kecamatan Deket Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Rabu, 31/10/2018).

Integated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) diharapkan dapat mendorong pembaharuan dalam sector irigasi, diantaranya adalah penguatan system dan kapasitas kelembagaan irigasi pertanian berkelanjutan, perbaikan pengelolaan dan OP irigasi, peningkatan infrastruktur jaringan irigasi dan peningkatan pendapatan pertanian beririgasi.
“Kegiatan IPDMIP itu kurang lebih akan berjalan sekitar lima tahun mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan. Kami akan siap jika ada sesuatu yang diperlukan, oleh karena itu silahkan apabila terdapat saran, masukan dan rekomendasi” Pesan Ery dalam sambutannya.

Waduk Rande yang memiliki luas sebesar 96 ha ini memiliki kapasitas tampung sebesar 444.196 m yang dimanfaatkan untuk irigasi.
“Mata pencaharian utama warga desa Srirande ini sebagian besar adalah petani, sehingga pemanfaatan air sangat diperlukan. Kami sangat antusias terhadap pembangunan ini” Kata Kepala Desa Sri Rande.

Diantara permasalahan yang terjadi selama ini di Waduk Rande adalah banyaknya tanaman didalam waduk yang membuat sulit untuk melakukan pembagian air, pintu waduk yang rusak, terjadinya penyempitan dimensi saluran, pendangkalan saluran dan sedimentasi waduk.

“Kami berharap agar setelah jadi nanti pembagian air terjadi secara merata sehingga tidak menimbulkan kecemburuan social yang mengakibatkan kecemburuan ekonomi” Pesan Munir selaku perwakilan dari HIPA.

Semoga dengan adanya pembangunan ini dapat menaikan trend positif dalam produksi pertanian seperti meningkatnya hasil produksi pertanian di wilayah Lamongan, keberhasilan kemandirian pangan dan terpenuhinya kebutuhan pangan secara merata (BBWSBS/sita)

PKM 1 D.I Pirang Kb. Bojonegoro & D.I Nglirip Kabupaten Tuban

Dalam rangka mencapai produktivitas tanam yang optimal diperlukan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi partisipatif untuk peningkatan kerja system irigasi. Hal tersebut yang melatarbelakangi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melalui PPK Perencanaan Umum dan Program Ery Suryo Kusumo S.Pd, M.T melakukan Pertemuan Konsultasi Masyarakat untuk mensosialisaikan tentang Pekerjan Survey Investigasi dan Desain (SID) DI Kewenangan Provinsi (IPDMIP) (Selasa 30/10/2018).

“Masyarakat sudah paham hak dan kewajibannya, kami berharap desain ini dapat dirancang dengan baik dan segera dilakukan pekerjaan yang hasilnya dapat dimanfaatkan” Terang perwakilan dari PHT Kabupaten Bojonegoro.

PKM ini dilaksanakan di D.I. Pirang dan D.I. Nglirip. D.I. Pirang terletak di Kabupaten Bojonegoro memiliki luas 1347 ha dan mencakup Kecamatan Bojonegoro, Dander dan Kapas. Pembagian wilayah irigasi dibagi menjadi dua wilayah yaitu D.I Pirang Kiri seluas 844 ha dan D.I Pirang Kanan seluas 463 ha. Adapun D.I. Nglirip berada di Kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban mencakup wilayah seluas 1292 ha yang memiliki saluran panjang saluran kanan seluas 5714 m dan saluran kiri seluas 5316 m.

“Saat ini terdapat kerusakan pintu, pintu ini merupakan pintu utama yang merupakan pintu otomatis yang apabila terjadi banjir akan sulit beroperasi” Ungkap salah seorang perwakilan dari HIPA Kecamatan Dander.

Beberapa warga memberikan informasi terkait kendala dan permasalahan yang ada dan harapan dimasa mendatang. Pertemuan ini bermanfaat karena mendapat informasi yang informatif dari petani, mantra, juru perairan dan kelompok tani secara lengkap yang merupakan pengguna air secara langsung sehingga paham dengan kondisi yang ada.

“Kami sangat mengapresiasi segala informasi yang telah disampaikan, nantinya dapat sebagai menjadi pertimbangan dalam melakukan desain pembangunan. Kegiatan IPDMIP ini terdapat 3 fase yaitu perencanaan, fiisk dan kontruksi. Rangkaian kegiatan ini tidak hanya memperhatikan aspek teknis saja namun juga aspke non teknis seperti kelembagaan, social dan ekonomi” Pesan Ery dalam penutupan pertemuan.

Pekerjaan ini merupakan dana loan yang merupakan kewenangan provinsi, sehingga Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo memiliki kewajiban dalam mendesain sebelum dilakukan pekerjaan lapangan. Semoga segala informasi hari ini dapat mendukung desain yang akan dibangun. (BBWSBS/sita).

Peningkatan Daerah Irigasi Bendo di Kabupaten Ponorogo

Peningkatan jaringan irigasi merupakan salah satu faktor penunjang dalam mempertahankan dan meningkatkan swasembada pangan yang berorientasi  untuk kesejahteraan petani seperti daerah irigasi Bendo yang merupakan gabungan dari 4 jaringan irigasi existing yaitu D.I Ngindeng seluas 131 ha, D.I Tambak Watu seluas 597 ha, D.I Kori seluas 680 ha dan D.I Wilangan seluas 1756 ha.

Untuk membangun daerah irigasi Bendo dengan luas 3.299 ha masih mengalami kendala diberbagai titik. Terdapat lahan milik provinsi, milik pemerintah kabupaten dan hak milik. Hari ini Selasa (23/10/18) Ir. Isgiyanto, MT selaku Kepala Bidang Pelaksanaan Pemanfaatan Sumber Air (PJPA) Bengawan Solo didampingi Ni Nyoman Indah Pramadewi, ST., M.Eng selaku PPK Irigasi dan Rawa II melakukan koordinasi dengan Dinas Perumahan Rakyat Kabupaten Ponorogo.

“Saya berharap ada kerjasama dengan pemerintah setempat, pembebasan lahan harus cepat selesai,” pesan Isgiyanto dalam sambutannya.

Pertemuan ini diawali dengan pemaparan terkait rencana pekerjaan peningkatan Daerah Irigasi Bendo yang dilanjutkan dengan diskusi.

“Saya berharap pekerjaan ini tidak hanya siap secara teknis namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat setempat” Kata salah satu tamu undangan.

Penyelesaian masalah perijinan harus segera selesai karena ijin merupakan salah satu sarat untuk memulai suatu proyek pekerjaan. Dengan berlangsungnya pertemuan ini diharapkan segala kendala dapat segera diatasi guna kelancaran pekerjaan peningkatan daerah Irigasi Bendo (BBWSBS/sita).

PKM Ke II Studi Pengendalian Sedimen Waduk Tukul

Setelah dilakukan Pertemuan Kosnultasi Masyarakat pada Bulan Mei lalu, Balai besar Wilayah Sungai Bengawan Solo kembali melaksanakan PKM tentang Studi Pengendalian Sedimen Waduk Tukul (Kamis 18/10/2018).

“Saya yakin Waduk Tukul dibangun dengan perencanaan yang baik. Baik secara social ekonomis, geografis, teknis sehingga kami mendukung semuanya” Kata Camat Arjosari dalam sambutannya.

Dalam rangka menjaga dan meminimalisir terjadinya sedimentasi serta merumuskan upaya pengendaliannya dan meminimalisir sedimen yang masuk ke Waduk Tukul  sehingga direncanakan desain pengendali sedimen di hulu waduk.

“Kami akan melakukan evaluasi atas setiap kejadian, termasuk banjir dan longsor yang berkaitan dengan Waduk ini” Kata Gadhang Swastyastu, ST, M.Eng selaku Kepala Seksi Perencanaan Umum BBWS Bengawan Solo.

Waduk yang dapat menyuplai air irigasi untuk sawah seluas 600 hektar, air baku sebesar 300 liter per detik, dan listrik mikrohidro sebesar 2 x 132 kW ini keberadaanya begitu berarti bagi masyarakat Pacitan khususnya di Kecamatan Nawangan dan Arjosari.

“Kita semua berharap agar semua pekerjaan itu tetap memperhatikan analisis dampak lingkungan dan akses jalan tetap bisa dipakai” Pesan salah satu peserta yang merupakan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup.

Warga masyarakat berharap dapat turut serta dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan yang ada (BBWSBS/sita).

Pendayagunaan Air Tanah di Ponorogo

Ketika memasuki musim kemarau bencana kekeringan mengancam beberapa wilayah di Indonesia. Biasanya bencana kekeringan yang terjadi akibat musim kemarau berkepanjangan sehingga membuat cadangan air semakin tipis. Kejadian tersebut bukan pertama kali terjadi bahkan hampir setiap tahunnya sering terjadi bencana kekeringan. Bencana kekeringan juga membuat persediaan air bersih menjadi langka.

Sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan air baku didaerah yang kekurangan air, BBWS Bengawan Solo, melalui PPK Pendayagunaan Air Tanah (PAT) melakukan pembangunan penyediaan air tanah untuk air baku sebanyak  10 titik yang terletak di Kab. Klaten, Kab. Sragen, Kab. Karanganyar. Kab. Sukoharjo, Kab. Wonogiri, Kab. Pacitan, Kab. Ponorogo, Kab. Magetan, Kab. Tuban dan Kab. Lamongan.

Pembangunan penyediaan air tanah untuk air baku di Kab. Ponorogo, mendapat kunjungan dari Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Ir. Charisal Akdian Manu, M.Si didampingi oleh PPK Pendayagunaan Air Tanah Hariyo Priambodo ST, MM dan PPK Operasi dan Pemeliharaan SDA III Wahyana ST, MT. pada hari kamis (11/10/2018).  Lokasi pekerjaan ini tepatnya di Desa Suren Kecamatan Mlarak. Dengan kapasitas pompa sebesar 2,5 liter/detik, dapat menyuplai sebanyak 80 kk atau 320 jiwa.

“Meski sudah lancar semua tetap harus hemat, di desa saya dulu air mahal, ambilnya jauh. Makanya teman-teman disini yang sudah dipermudah harus menjaga air dengan baik” Kata Charisal dengan senang.

Pengelolaan Air Tanah ini tidak lepas dari dukungan pemerintah desa, gabungan kelompok tani, dan warga masyarakat desa setempat. Menutup kunjungan hari ini Charisal dan rombongan juga mengunjungi lokasi P3-TGAI di Desa Siwalan, Kecamatan Mlarak. Dan dilanjutkan kunjungan ke Waduk Bendo yang berlokasi  juga di Kabupaten Ponorogo (DATINBBWSBS/jndr-sita)

 

 

Kunjungan Bendungan Bendo

Masih dalam rangka kunjungan kerja di Kabupaten Ponorogo, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Ir. Charisal Akdian Manu, M.Si didampingi oleh PPK Bendungan I R. Panji Satrio S.T., M.T., MDM, PPK Pendayagunaan Air Tanah Hariyo Priambodo S.T, MM dan PPK Operasi dan Pemeliharaan SDA III Wahyana S.T, M.T melaksanakan kunjungan ke  Bendungan Bendo di Sungai Kali Keyang atau dikenal dengan Kali Ngindeng di Dusun Bendo, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Bojonegoro (Kamis 11/10/2018).

“Semua harus kerja cepat karena 2 bulan lagi (musim hujan), cuaca juga bisa berubah kapan saja jadi harus selalu siap” Pesan Charisal.

Saat ini progress fisik Bendungan Bendo telah mencapai 68,2% dari rencana 67,41. Charisal melakukan rapat internal untuk rencana percepatan Bendungan yang nantinya akan mengairi irigasi seluas 7.800 ha, penyedia air baku sebesar 370 lt/detik dan pengendali Banjir kota Ponorogo ini (BBWSBS/sita)

Safari P3-TGAI Madiun

Salah satu program Padat Karya Tunai yang dilakukan Kementerian PUPR adalah melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI). Program P3-TGAI bertujuan menyediakan air bagi kawasan pertanian melalui pemeliharaan, rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi kecil (luas kurang dari 150 hektar), irigasi tersier dan irigasi desa yang dilakukan dengan cara Pemberdayaan Petani Pemakai Air (P3A) atau gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) atau Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Ir. Charisal Akdian Manu, M.Si didampingi oleh PPK Pendayagunaan Air Tanah Hariyo Priambodo S.T, MM dan PPK Operasi dan Pemeliharaan SDA III Wahyana S.T, M.T melaksanakan kunjungan ke P3-TGAI di Desa Mruwak dan Desa Sukosari Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun,  Jawa Timur (Rabu 10/10/2018).

“Pompa harus bekerja dengam baik, penjaga pompa harus peka, petani disini juga yang akan merasakan dampaknya sehingga semua berperan dalam menjaga pompa ini” Pesan Charisal.

P3-TGAI disambut hangat oleh petani daerah setempat yang diwujudkan dalam pengelolaan bersama melalui kelompok tani.

“Semenjak ada P3-TGAI ini ya cukup membantu, pasokan air tercukupi bahkan melimpah” Ungkap petani yang juga aktif dalam menjaga pompa air.

Kunjungan dilanjutkan ke Proyek Air Tanah (PAT) Desa Tawangrejo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan Jawa Timur sekaligus melihat proyek pembangunan Embung Kresek di Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.

“PAT ini diperlukan pengelolaan yang terpadu dan berkesinambungan yang berpijak kepada kegiatan konservasi, pendayagunaan tepat guna, serta pengendalian daya rusak air” Ungkap Charisal (DATINBBWSBS/sita)

PKM – SID Rehabilitasi D.I Kendungputri, Kab. Ngawi

Kabupaten Ngawi merupakan Kabupaten strategis dalam pembangunan pertanian yang membuat kebutuhan air di wilayah ini terus bertambah terutama di daerah hilir Irigasi Kedungputri. Ketersediaan air masih cukup dengan debit irigasi 500 meter kubik/detik untuk musim kemarau, namun air dari hulu tidak mengalir optimal sampai ke hilir dikarenakan kondisi jaringan irigasi di beberapa titik masih terdapat kerusakan.

Menanggapi hal tersebut BBWS Bengawan Solo untuk melakukan Survey Investigasi dan Desain (SID) di Jaringan Kedungputri. Dimana jaringan irigasi ini secara administratif berada di 8 desa, yaitu Tempuran, Dawu, Paron, Beran, Jururejo, Grudo, Watualang, dan Margomulyo.

Pada hasi Selasa (02/10/2018) PPK Perencanaan Umum dan Program Ery Suryo Kusumo, S.Pd, M.T dan Kepala Seksi Perencanaan Umum Gadhang Swastyastu, ST, M.Eng bersama konsultan dari PT Kencana Layana Konsultan dan PT Parama Krida Pratama melakukan Pertemuan Konsultasi Masyarakat yang pertama di Kantor UPTD Paron. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan Dinas PU, Dinas Pertanian, BAPPEDA, UPTD, dan berbagai lini Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) setempat.

Tujuan dari PKM ini adalah menampung aspirasi dan dukungan seluas-luasnya dari masyarakat yang nantinya akan dibuat desain. Ery Suryono mengungkapkan, “D.I Kedungputri merupakan salah satu dari D.I intervensi program IPDMIP. Adapun penyusunan desain sebagai salah satu tahapan sebelum pelaksanaan konstruksi. PKM yang dilaksanakan sebagai media penyampaian informasi dan masukan dari Juru, Mantri, dan OPD terkait lainnya nantinya diolah oleh Konsultan perencana (BBWSBS/edy).

Advis Teknis Percepatan Pembangunan Lumbung Air Sukodono

Pelaksanaan pekerjaan Pembangunan Lumbung Air Baku Sukodono di Kabupaten Gresik dipercepat yang sebelumnya 24 bulan menjadi 13 bulan. Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melalui PPK Penyediaan Air Baku Aditya Sidik Waskito, ST, M.Si, M.Sc dan Balai Bangunan Hidraulik dan Geoteknik Keairan  melakukan kajian teknis terkait perubahan desain dari lapisan kedap air konstruksi Beton K225  menjadi pemasangan Geomembran pada lereng tanggul bagian dalam Lumbung Air Sukodono. (Jumat 21/09/2018).

“Kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman dari  Balai Hidraulik yang telah menyempatkan waktunya untuk membantu kami dalam percepatan pembangunan lumbung air ini, karena waktunya tinggal 3 bulan, kami sudah berdiskusi material, stabilitas lereng dan kemampuan untuk menahan air” Kata Adit.

Pertemuan antara Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dan Balai Bangunan Hidraulik dan Geoteknik Keairan kali ini membahas terkait deskripsi perubahan desain, manfaat, kekurangan dan solusi agar pembangunan dapat dipercepat.

“Jika menggunakan Geomembran harus diperhatikan dalam kedapnya ke tanah bagaimana, jangan sampai ada air dari atas yang dapat beresiko” pesan Slamet Lestari selaku Kepala Balai Bangunan Hidraulik dan Geoteknik Keairan.

Proses pekerjaan Lumbung Air Sukodono ini terus dilakukan di berbagai aspek, mengingat sebentar lagi akan memasuki musim hujan (DATINBBWSBS/sita).