/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Antisipasi Melalui Rencana Tindak Darurat

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyiapkan sejumlah langkah antisipasi melalui Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan Songputri, Bendungan Nawangan dan Bendungan Parangjoho jika mengalami kegagalan konstruksi. Meskipun saat ini ketiga bendungan tersebut dalam kondisi normal, tetap harus dilakukan monitoring secara terus menerus.

Kegiatan Koordinasi Rencana Tindak Darurat ini dilakukan di Kantor Dinas Bupati Wonogiri, Jawa Tengah, Rabu (25/05/2022). Acara tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Kegiatan koordinasi ini dihadiri oleh BBWS Bengawan Solo, Bupati Wonogiri, Setda Wonogiri, serta sejumlah Camat dan Kepala Desa.

Kabid Operasi dan Pemeliharaan (O&P) SDA Bengawan Solo, Sri Wahyu Kusumastuti, ST, M.Si., dalam hal ini mewakili Kepala BBWSBS menyampaikan sesuai Peraturan Menteri PUPR Nomor 27 Tahun 2015 Pasal 2 bahwa konsepsi keamanan bendungan harus memiliki 3 pilar yang salah satunya adalah kesiapsiagaan tindak darurat. Maka dari itu pengelola bendungan harus menyusun dokumen RTD.

“Dokumen RTD merupakan dokumen yang digunakan sebagai pedoman atau petunjuk yang didalamnya memuat Pengamanan Bendungan dan Penyelamatan Masyarakat serta Lingkungan, dimana dokumen ini disiapkan secara baik, cermat, dan lengkap, sehingga pada saat keadaan darurat bendungan, dapat dilakukan tindakan pencegahan secara cepat, tepat, dan efektif yang pada akhirnya dapat dicegah atau setidaknya dikurangi risiko terjadinya kegagalan bendungan,” ujarnya.

Sri Wahyu mengatakan bahwa BBWS Bengawan Solo telah menyusun RTD guna menjaga keamanan bendungan dari Bendungan Songputri, Nawangan dan Parangjoho itu sendiri.
“Dengan adanya acara ini, kami mengharapkan masukan dari pihak-pihak terkait guna kesempurnaan Dokumen RTD ini sehingga kegagalan bendungan dapat diminimalisir dan bendungan selalu bermanfaat banyak bagi masyarakat sekitar,” katanya. (BBWSBS/Tamara)

Monitoring Pekerjaan Breakwater PPN Brondong di Kabupaten Lamongan

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melakukan kegiatan monitoring progres pekerjaan pembangunan breakwater di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong di Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Selasa (10/05/2022). Kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Kunjungan kerja dipimpin oleh Kepala BBWS Bengawan Solo,, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech, Kepala Bagian (Kabag) Umum dan Tata Usaha (TU) BBWS Bengawan Solo, Bambang, S.E., S.T., M.T., Kepala Bidang (Kabid) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA), Naryo Widodo, S.T., M.T., Kabid Operasi dan Pemeliharaan (O&P) SDA Bengawan Solo, Sri Wahyu Kusumastuti, ST, M.Si.,

Kepala BBWS Bengawan Solo,, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech mengatakan progres pekerjaan pembangunan breakwater di PPN Brondong pada hari ini mencapai 30 %. Pembangunan breakwater ini dibangun untuk menjaga tinggi gelombang yang berada di dalam kolam pelabuhan tetap tenang, sehingga kapal nelayan dan aktifitas bongkar muat dapat berjalan dengan lancar. Lingkup pekerjaann antara lain pekerjaan persiapan, penyelenggaraan SMK3 dan Pekerjaan Breakwater. Sisa waktu pelaksanaan kontrak sampai dengan 31 Desember 2022.

“ Manfaat dari pembangunan breakwater ini yakni melindungi kolam Pelabuhan seluas 17,2 Ha, penerima manfaatadalah masyarakat nelayan di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan khususnya dan nelayan pada umumnya,” ujarnya.

Sebagai informasi, Pusat Pemasaran dan Distribusi Ikan (PPDI) Brondong yang berlokasi di PPN Brondong menjadi tempat bongkar muat dan fasilitas penunjang perdagangan perikanan bagi nelayan dan industri perikanan setempat. Kabupaten Lamongan sendiri memiliki potensi perikanan yang cukup besar. (BBWSBS/Tamara)

Kolaborasi JIIPE Terkait Penertiban Izin Rekomtek

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo berkunjung ke kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Selasa (10/05/2022). Kegiatan tersebut tetap dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., Kepala Bagian (Kabag) Umum dan Tata Usaha (TU) BBWS Bengawan Solo, Bambang, S.E., S.T., M.T., Kepala Bidang (Kabid) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA), Naryo Widodo, S.T., M.T., Kabid Operasi dan Pemeliharaan (O&P) SDA Bengawan Solo, Sri Wahyu Kusumastuti, ST, M.Si..

Dalam kunjungan kali ini, BBWS Bengawan Solo melihat langsung kawasan JIIPE untuk keperluan penerbitan izin Rekomendasi Teknis (Rekomtek). Rekomtek merupakan persyaratan teknis yang harus dipenuhi dalam pemberian izin, sehingga merupakan komitmen bersama yang harus dimengerti oleh masyarakat, oleh karena itu semua yang berkepentingan dalam menggunakan air dapat mengelola sumber daya air dengan baik dan benar

Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., menjelaskan bahwa penyiapan air baku dan drainase bagi kawasan industri harus dijamin. Sehingga perlu dilakukan peninjauan di lapangan.

“Dengan adanya Rekomtek yang akurat bagi pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha, dalam rangka perizinan pengusahaan dan penggunaan SDA tentunya akan menjamin kelangsungan dari sebuah proyek kawasan industri kedepannya,” ujarnya.

Sebagai informasi, JIIPE adalah kawasan terintegrasi pertama di Indonesia, dengan total area 3.000 hektar, yang terdiri dari kawasan industri, pelabuhan umum multifungsi,dan hunian berkonsep kota mandiri. JIIPE menjadi kawasan percontohan bagi pengembangan industri di Indonesia.

Kawasan industri tersebut juga dilengkapi dengan empat dermaga multifungsi dengan area sandar sepanjang 6.200 meter, yang diharapkan bisa melayani kapal-kapal besar dengan muatan lebih dari 100.000 DWT. Akses internasional dan domestik diakomodir dengan konektivitas laut, tol dan kereta. (BBWSBS/Tamara)

Generasi Muda Bina Marga Kunjungi Proyek Penanganan Rembesan Bendungan Cengklik

Direktur Pembangunan Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Ir. Yudha Handita Pandjiriawan, MT, MBA berserta Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jateng-DI Yogyakarta Wida Nurfaida, didampingi Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech beserta sejumlah pejabat di lingkungan BBWS Bengawan Solo meninjau proyek Penanganan Rembesan Bendungan Cengklik yang berada di Desa Ngargorejo dan Sobokerto Kecamatan Ngemplak Boyolali, Kamis, (17/03/2021).

Dalam kunjungan tersebut, tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19.

Kunjungannya ke Bendungan Cengklik, dalam rangka studi banding terkait Pelaksanaan Pekerjaan Diaphragm Wall.

Ir. Yudha Handita Pandjiriawan, MT, MBA mengatakan kegiatan studi banding ini dalam rangka mengajak para generasi muda untuk meninjau lapangan ke sejumlah proyek.

“Kami berharap para generasi muda Bina Marga ke depan bisa mendapatkan pengalaman serta pengetahuan yang baik dalam penyusunan konsep pembangunan Diaphragm wall. Diaphragm wall merupakan sebuah dinding beton yang proses pembuatannya / pengecorannya dilakukan didalam tanah, dimana biasanya memiliki fungsi yaitu sebagai dinding penahan tanah galian,” katanya.

Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech menyambut hangat kunjungan studi banding para generasi muda Bina Marga tersebut dan berharap agar nantinya kegiatan tersebut bisa meningkatkan kemampuan SDM khususnya bagi generasi muda.

“Saya senang bisa memberikan kesempatan kepada generasi muda dan memberikan keilmuannya di BBWS Bengawan Solo. Semoga kegiatan ini bisa meningkatkan kemampuan SDM Generasi Muda PUPR karena SDM merupakan penggerak utama pembangunan di berbagai sektor, termasuk infrastruktur.,” paparnya.

Sebagai Informasi, Bendungan Cengklik di bangun pada tahun 1923-1931 oleh pemerintah Hindia Belanda dengan tinggi tubuh bendungan maximum 14,50 m dan panjang puncak 750 m dengan tampungan sebesar 9,86 juta m3 (pada Muka air normal) yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air daerah irigasi seluas 1.041 ha, pariwisata dan perikanan. Tipe bendungan berupa urugan tanah homogen sedangkan permasalahan yang di jumpai adalah di bagian hilir bendungan pelana (sekitr 200 m) dijumpai beberapa titik rembesan di area permukiman warga. (BBWSBS/Tamara)

Monitoring Progres Pekerjaan Pembangunan Breakwater di PPN Brondong

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melakukan kegiatan monitoring progres pekerjaan pembangunan breakwater di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong di Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jumat (11/02/2022). Kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Kunjungan kerja dipimpin oleh Kepala BBWS Bengawan Solo,, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech, Kepala Satuan Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (SNVT PJSA), Panji Satrio, ST, MT, MDM., dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai dan Pantai (Supan) I SNVT PJSA Bengawan Solo, Yuhanes Widi Widodo, ST., M.Eng.

Kepala BBWS Bengawan Solo,, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech mengatakan bahwa progres pekerjaan pembangunan breakwater di PPN Brondong pada hari ini mencapai 11 %. Pembangunan breakwater ini dibangun untuk menjaga tinggi gelombang yang berada di dalam kolam pelabuhan tetap tenang, sehingga kapal nelayan dan aktifitas bongkar muat dapat berjalan dengan lancar.
Agus Rudyanto berpesan agar dalam pelaksanaan paket pekerjaan pembangunan breakwater di PPN Brondong dapat dilaksanakan sesuai dengan targetnya.

“Semoga hasil pekerjaan memenuhi kualitas, kuantitas, dan sesuai dengan spesifikasinya. Namun, yang paling penting adalah fungsi infrastruktur yang ada dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat sekitar, selain itu manfaatnya dapat melindungi kolam Pelabuhan seluas 17,2 Ha,” katanya.

Sebagai informasi, Pusat Pemasaran dan Distribusi Ikan (PPDI) Brondong yang berlokasi di PPN Brondong menjadi tempat bongkar muat dan fasilitas penunjang perdagangan perikanan bagi nelayan dan industri perikanan setempat. Kabupaten Lamongan sendiri memiliki potensi perikanan yang cukup besar. (BBWSBS/Tamara).

Pengendalian dan Pengaturan Anak Sungai Kali Kebo

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melakukan kegiatan monitoring anak sungai Kali Kebo tepatnya di Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo, Mojosongo, Jebres, Surakarta, Senin (31/01/2022).

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Bidang (Kabid) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA), Naryo Widodo, S.T., M.T., Kabid Operasi dan Pemeliharan (O&P) SDA Bengawan Solo, Sri Wahyu Kusumastuti, ST, M.Si., Kepala Bidang Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur (KPI) Sumber Daya Air (SDA), Ali Rahmat, S.T., M.T., dan beberapa pejabat di lingkungan BBWS Bengawan Solo. Kegiatan monitoring tersebut sebelumnya telah memenuhi protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19.

Kali Kebo merupakan sungai orde 3 dari Sungai Bengawan Solo yang memerlukan pengendalian dan pengaturan dalam rangka menambah volume tampungan debit banjir dan mengendalikan pencemaran air pada ruas sungai yang masuk di daerah pembuangan sampah.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengalihkan aliran Kali Kebo mengitari gunungan sampah pada TPA Putri Cempo, yang dalam perencanaannya diperlukan kajian secara detail sebagaimana disampaikan oleh Kepala Bidang (Kabid) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA), Naryo Widodo, S.T., M.T.

“Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya dampak negatif dari pengalihan alur sungai, maka perlu dilakukan kajian pengaruh pengalihan sungai terhadap tren perubahan hidrolik, morfologi, dan banjir di hulu dan hilir ruas pengalihan sungai,” katanya.

Naryo menjelaskan bahwa BBWS Bengawan Solo melakukan pengendalian dan pengaturan anak sungai Kali Kebo dengan melakukan pengalihan alur sungai melalui tepi area Blok C kearah sungai eksisting yang salahsatu tujuannya adalah dalam rangka mendukung operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional sesuai tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2019. (BBWSBS/Tamara)

Wujudkan Keterpaduan SDA Melalui Embung Kresek di Madiun

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech, beserta pejabat di lingkungan BBWSBS dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Madiun, Tontro Pahlawanto melakukan kunjungan lapangan di Embung Kresek yang terletak di Kali Plupuh, Desa Bolo, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, Rabu (12/1/2022).

Kegiatan tersebut diselenggarakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo telah menyelesaikan pembangunan Embung Kresek

Embung kresek ini mempunyai kapasitas tampungan sebesar 61 ribu m3, luas genangan 3,21 ha dan luas daerah aliran sungai 8,90 km2 dengan manfaat sebagai layanan kebutuhan air irigasi daerah eksisting (intensifikasi pertanian) 100 ha.

Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr.Ir. Agus Rudyanto, M.Tech mengatakan pembangunan embung dilakukan untuk membantu mencukupi kebutuhan air di beberapa wilayah di Kabupaten Madiun. Bukan hanya untuk kebutuhan air untuk pertanian, pembangunan embung juga bisa ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

“Dengan adanya Embung Kresek ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air irigasi lahan pertanian di tiga kecamatan yakni Kecamatan Geger, Dagangan, dan Wungu, selain itu sebagai resapan air, kawasan pariwisata, serta untuk konservasi Sumber Daya Air ,” ujarnya. (BBWSBS/Tamara)

Koordinasi Lintas Sektor Guna Mengantisipasi Banjir di Kabupaten Lamongan

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech, beserta pejabat di lingkungan BBWSBS berkoordinasi dengan Bupati Lamongan, Dr. Yuhronur Efendi, M.B.A., perwakilan dari Dinas PU Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Timur, perwakilan dari Perum Jasa Tirta dan perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan, Selasa (11/01/2021) di Kantor Dinas Bupati Lamongan, kegiatan tersebut diselenggarakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19.

Kegiatan koordinasi ini dalam rangka diskusi terkait Penanganan Banjir di wilayah Bengawan Jero. Bengawan Jero merupakan wilayah yang berbentuk mangkuk dengan dasar yang bergelombang dengan elevasi -0,70 m di sebagian wilayah bahkan sampai -1,20 m.

Air dari perbukitan selatan dan area sebelah barat melalui sungai Moropelang, Gondang, Kruwul, Plalangan dan Dapur berkumpul di Bengawan Jero. Bengawan Jero merupakan daerah yang sering tergenang dan banjir pada saat musim penghujan.

Sistem drainase Bengawan Jero sangat tergantung dengan elevasi muka air di Bengawan Solo di bagian hilir. Sampai saat ini, pengaturan muka air Bengawan Solo di hilir Bendung Gerak Babat belum bisa dilaksanakan sesuai rencana terkait kendala penyelesaian Jabung Ring Dike.

Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr.Ir. Agus Rudyanto, M.Tech mengatakan BBWS Bengawan Solo sudah memiliki langkah langkah yang paling optimal untuk mengantisipasi banjir di Bengawan Jero.

“Untuk mengatasi banjir BBWS Bengawan Solo mengupayakan untuk melakukan penyedotan dengan menggunakan pompa air dengan kapasitas penuh. Selain itu BBWS Bengawan Solo akan mengirimkan alat berat untuk melakukan pengerukan Enceng Gondok, harapannya dapat membantu mengurangi banjir,” paparnya.

Agus mengatakan BBWS Bengawan Solo sebisa mungkin mengantisipasi banjir dan selalu meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan penanganan sesuai prosedur yang ada. “Diperlukan koordinasi yang baik, secara internal maupun eksternal,” katanya.

Bupati Lamongan, Dr. Yuhronur Efendi, M.B.A. menyampaikan bahwa melalui koordinasi ini kami membentuk Tim Penanggulangan Banjir Bengawan Jero dari BBWS Bengawan Solo, Perum Jasa Tirta, Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Lamongan.

“Melalui koordinasi ini kami akan melakukan penanganan jangka pendek dengan normalisasi Kali Dinoyo dan Kali Keputran sepanjang 3 Km dan pembersihan Enceng Gondok. Dari BBWS Bengawan Solo akan membantu alat berat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan akan membentuk tim dan melakukan kerja sama dengan TNI,” katanya. (BBWSBS/Tamara)

Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Pidekso

Presiden Joko Widodo meresmikan Bendungan Pidekso yang berada di Desa Pidekso, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, yang ditandai dengan penandatanganan prasasti, Selasa (28/12/2021).

Hadir dalam acara peresmian tersebut diantaranya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahli Lahadalia. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Bupati Wonogiri, Joko Sutopo.

Bendungan Pidekso merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Pidekso yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya Desa Pidekso, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri.

Bendungan Pidekso nantinya akan memberikan manfaat untuk pemenuhan kebutuhan air untuk irigasi seluas 1.500 Ha, penyediaan air baku sebesar 300 lt/detik dan dapat mereduksi banjir sebesar 322,60 m3/detik, meningkatkan indeks pertanian di kabupaten wonogiri dari 133% ke 240%.

Pemenuhan kebutuhan air tersebut dapat dipenuhi dari tampungan Bendungan Pidekso sebesar 25 juta m3 yang berada di area genangan seluas 232 Ha. Selain irigasi, juga sebagai pengendali banjir dan lahan konservasi sekaligus pariwisata sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Jokowi mengatakan pada hari ini dua bendungan telah diresmikan yakni Bendungan Ladongi di Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara dan Bendungan Pidekso di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Nantinya dua bendungan ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

“Dengan mengucap bismillahirahmanirahim Bendungan Pidekso yang berada di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah pada siang hari ini saya nyatakan diresmikan,” ujar Presiden.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Jarot Widyoko mengatakan, pembangunan Bendungan Pidekso telah diinisiasi sejak tahun 2014, dan berjalan hingga 2018 untuk pembebasan lahan. Dilanjutkan pada tahun 2018-2021 untuk konstruksi.

“Untuk konstruksinya ini lebih cepat dari rencana target sesuai kontrak yang harusnya selesai pada 2022 akhir,” katanya.

Jarot mengatakan, fungsi utama Bendungan Pidekso untuk mengairi irigasi lahan pertanian seluas 1.500 ha, sehingga diharapkan akan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari sekali dalam setahun, bisa menjadi tiga kali setahun dengan pola tanam padi, padi, dan palawija.

“Bendungan multifungsi ini juga untuk memenuhi kebutuhan air baku warga Wonogiri dengan kapasitas 300 liter/detik. Ditargetkan untuk pembangunan fasilitas pengolahan air bakunya akan selesai 2023,” ujar Jarot.

Selanjutnya dikatakan Jarot, bendungan tersebut juga untuk mereduksi debit banjir, sekitar 11%. Menurutnya bendungan yang berada di hulu Sungai Bengawan Solo ini merupakan satu kesatuan pengelolaan sungai yang terhubung ke Waduk Serba Guna Kabupaten Wonogiri atau dikenal dengan sebutan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dibangun dari tahun 1976 sampai dengan tahun 1981 tepat di bagian hilir.

“Bendungan ini juga memiliki potensi destinasi pariwisata baru, yang pengembangannya akan dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Wonogiri sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar,” tutur Jarot.

Kepala BBWS Bengawan Solo Agus Rudyanto mengatakan dengan selesainya konstruksi bendungan yang merupakan salah satu Program Strategis Nasional (PSN) ini juga akan mendukung peningkatan irigasi premium yakni irigasi yang sumber airnya dari bendungan.

“Selanjutnya jaringan irigasi premiumnya akan dibangun tahun 2022 hingga 2023, dan segera difungsikan pada 2024 sepanjang 36 km,” ujar Agus.

Agus menyatakan, pembangunan bendungan yang dilaksanakan kontraktor PT. PP, dengan konsultan supervisi PT. Virama Karya dilaksanakan dengan mengadopsi kearifan lokal dalam desain fasilitas umumnya.

“Kita gunakan desain bentuk watu item/watu ireng yang kita aplikasikan di bangunan gedungnya, rumah dinas, dan gardu pandang,” ujarnya. (BBWSBS/Tamara)

Tingkatkan Kapasitas Petugas Bendungan Melalui Kegiatan Pelatihan Operasi dan Pemeliharaan

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo berupaya meningkatkan kemampuan kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan operasi dan pemeliharaan (OP) Bendungan Tukul dan Bendungan Gondang di Kantor SNVT Pembangunan Bendungan BBWS Bengawan Solo, Rabu – Jumat (15-17/12/2021). Kegiatan ini tetap menerapakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Kegiatan Pelatihan OP Bendungan ini dimaksudkan untuk menambah wawasan bagi petugas OP dalam melaksanakan kegiatan operasi, dan pemeliharaan bendungan. Selain itu petugas OP yang di lapangan mampu lebih terampil dan berkompeten serta memahami tugas pokok dan fungsi dalam penyelenggaraan OP secara baik dan benar.

Dalam kegiatan pelatihan ini disampaikan beberapa materi yaitu tentang Penjelasan secara Umum mengenai Bendungan oleh Ir. Hasan Bisri, M.T. Materi kedua mengenai Peralatan Hidromekanikal/Elektrikal Bendungan Gondang & Tukul yang disampaikan oleh Ir. Fachrudin Leddy, M. Tech. Selanjutnya materi mengenai Pengamatan / Pemantauan dan O & P Instrumentasi di Bendungan Gondang & Tukul disampaikan oleh Dani Sunandar, S.T. Dan untuk materi terakhir yang diberikan Penyiapan Pola Operasi Waduk & Hidrologi Harimukti Rosita, S.T., M.T.

Setelah mendapat materi secara general, para peserta mengunjungi bangunan intake dan outlet di Bendungan Gondang Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Bendungan Tukul, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., dalam sambutannya menyampaikan suatu bangunan dapat dimanfaatkan jika dilakukan pemeliharaan secara baik. Sehingga secara keberlanjutan manfaat itu dapat diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.

“Ilmu yang disampaikan narasumber dapat diserap semua oleh teman – teman sekalian, supaya nanti kedepannya didalam pelaksanaan operasi dan pemeliharaan berjalan lancar,” pesannya.

Kepala Bidang (Kabid) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA), Naryo Widodo, S.T., M.T mengatakan dalam kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari 11 orang Petugas O&P Bendungan dan 19 orang dari SNVT Bendungan.

“ Semoga dengan acara ini rekan-rekan petugas O&P baik yang berasal dari SNVT Bendungan sendiri maupun dari Bidang O&P dapat bersinergi bersama untuk mencari ilmu dan mencari bekal yang lebih banyak sehingga nanti pada saat pelaksanaan dilapangan bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin,” katanya.

Kepala SNVT Pembangunan Bendungan Bengawan Solo Dony Faturochman, ST, MT berharap teman-teman O&P agar kedepannya ada yang bisa menjaga melaksanakan O&P di Bendungan Gondang dan Bendungan Tukul.

“Proses operasi dan pemeliharaan prinsipnya sebetulnya kita memelihara fungsi tujuan dari bendungan ini agar tetap berfungsi sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk pengendali banjir, air baku, irigasi, dan listrik, bagaimana menjaga fungsi-fungsi bendungan ini tetap terjaga dengan operasi dan pemeliharaan ini,” jelasnya. (BBWSBS/Tamara)