/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Training of Trainer (TOT) Tenaga Pendamping Masyarakat P3TGAI Wilayah Jawa Tengah

Dalam rangka mendukung kedaulatan pangan Nasional sebagai perwujudan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik sebagaimana termuat dalam program nawa cita ketujuh melalui pemberdayaan masyarakat petani, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menggelar acara Training of Trainer (TOT) Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) Tahun Anggaran (T.A.) 2021 di Kota Solo, Jawa Tengah, Rabu-Kamis (31/03-01/04/2021), dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

P3TGAI merupakan salah satu program dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air (SDA) dengan maksud menumbuhkan partisipasi masyarakat petani dalam kegiatan rehabilitasi, peningkatan dan pembangunan jaringan irigasi sesuai dengan kebutuhan yang berdasarkan prinsip kemandirian. Hal ini dimaksud untuk mendukung program kedaulatan pangan dan upaya peningkatan kemampuan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.

Untuk BBWS Bengawan Solo jumlah desa penerima P3TGAI sebanyak 550 desa yang meliputi 164 desa di wilayah Jawa Tengah dan 386 desa di wilayah Jawa Timur.Dan pada kesempatan kali ini, dilaksanakan Pelatihan TPM Kegiatan P3TGAI untuk Wilayah Jawa Tengah pada lingkungan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan (OP) SDA II. Kegiatan tersebut dihadiri sebanyak 78 orang yang telah lulus dalam seleksi dan dinyatakan lolos sebagai TPM.

Kepala Bidang (Kabid) OP SDA Bengawan Solo, Sri Wahyu Kusumastuti, S.T. M.Si., menyampaikan bahwa Peran Tenaga Pendamping Masyarakat sangat penting karena sebagai ujung tombak pelaksanaan P3TGAI di tingkat desa dan langsung berhubungan dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air/Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air/ Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A/IP3A/GP3A) yang menerima P3TGAI.

“TPM diharapkan mampu membangkitkan peran serta masyarakat sebagai bagian satu sistem pengelolaan daerah irigasi sehingga dana yang disalurkan melaui P3TGAi ini dapat dimanfaatkan maksimal sesuai dengan sasaran kerja yang ditetapkan bersama dalam Rencana Kerja Kelompok Penerima P3TGAI (RKKP3-TGAI). Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan teknis, administrasi maupun komunikasi yang baik sebagai bekal untuk mendampingi P3A/IP3A/GP3A,” paparnya.

Kepala Satker OP SDA Bengawan Solo, Surendro Andi Wibowo S.T., M.P.S.D.A., juga berpesan bahwa melalui penyelenggaraan pelatihan TPM ini diharapkan seluruh peserta dapat memperoleh pengetahuan, diskusi dan komunikasi antar TPM dengan serta menumbuhkan prakarsa di bidang pendampingan masyarakat dalam menjalankan tugas di wilayah kerja masing-masing.

Dalam acara pelatihan TPM P3TGAI T.A. 2021 tersebut juga disampaikan materi untuk dilanjutkan diskusi, yang dipaparkan oleh narasumber dari Konsultan Manajemen Balai pada PPK OP SDA II BBWSBS, yakni Sigit Budi Widigdyo, S.T., dan Samsi, S.T.

Diharapkan nantinya setelah kegiatan pelatihan berakhir, rekan-rekan TPM sudah mempunyai pedoman pelaksanaan, siap dan mampu untuk menghadapi tantangan di lapangan serta menjalankan tugas sekaligus kewajibannya dalam melaksanakan salah satu program negara sesuai target kinerja yang telah ditetapkan. (BBWSBS/Ferri)

Bimbingan Teknis Tenaga Fasilitator – Counterpart Tahun 2021

Bendungan di samping memberi manfaat sekaligus menyimpan potensi bahaya yang sangat besar terutama bagi masyarakat yang tinggal di hilir waduk. Keruntuhan bendungan yang mengakibatkan banjir besar bisa saja terjadi kapan saja baik disebabkan faktor keamanan struktur bangunan, alam maupun perilaku manusia yang mengancam keamanan bendungan.

Untuk itu, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BWBSBS) menggelar acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Tenaga Fasilitator – Counterpart Tahun 2021 yang dilaksanakan di Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (30/03/2021), dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Salah satu faktor yang mengancam keamanan bendungan adalah sedimentasi yang berpangkal pada rusaknya Daerah Tangkapan Air (DTA) di hulu waduk maupun sekitarnya. Dalam rangaka pengamanan waduk, perlu adanya program dan kegiatan mitigasi sedimentasi di DTA hulu dan sekitar/sekeliling waduk berbasis peran serta masyarakat.

Tujuannya adalah untuk menurunkan nilai erosi daerah tangkapan air hulu waduk. Selanjutnya diharapkan dapat menurunkan jumlah sedimen yang masuk ke waduk, menurunkan gradien perubahan nilai Sedimen Delivery Ratio (SDR), mempertahankan kapasitas tampung waduk. Untuk itu diperlukan peran serta masyarakat dalam menjaga keberlangsungan fungsi waduk, dengan meningkatnya peran serta masyarakat dalam usaha konservasi daerah tangkapan guna menunjang kelancaran operasi dan keamanan bendungan.

Kepala BBWSBS Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan (OP) SDA Bengawan Solo, Sri Wahyu Kusumastuti, ST., M.Si., berharap kegiatan bimtek tersebut dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat di kawasan bendungan.

“Kami ucapkan terimakasih, atas kehadiran semua peserta. Semoga melalui Bimtek Tenaga Fasilitator Counterpart Tahun 2021, bisa menambah pengetahuan bagi tenaga fasilitator dan kegiatan community participatory ini dapat berjalan sesuai rencana,” pesannya.

Sumber daya manusia (SDM) di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang bertugas menangani keamanan waduk, jumlahnya terbatas. Berhasil tidaknya program pengamanan waduk melalui kegiatan mitigasi sedimentasi di DTA dan sekitar/sekeliling waduk sangat ditentukan oleh pelestarian kawasan waduk dengan melibatkan peran dan fungsi seluruh pemangku kepentingan secara sinergis baik pemerintah, masyarakat sipil maupun pihak swasta serta dunia pendidikan. Hal tersebut penting dilakukan karena keamanan waduk merupakan tanggung jawab bersama. (BBWSBS/Ferri)

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Pengelolaan Greenbelt Bendungan di Wilayah Sungai Bengawan Solo

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BWBSBS) menggelar acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara BBWSBS, Ikatan Pensiunan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (IPPU) Komisariat Sumber Daya Air (SDA), dan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Peduli Waduk dalam rangka Pengelolaan Sabuk Hijau (Greenbelt) Bendungan di Wilayah Sungai Bengawan Solo, yang dilaksanakan di Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (30/03/2021). Acara penandatanganan tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Wilayah Sungai Bengawan Solo mempunyai beberapa bendungan baik besar maupun kecil yang memerlukan pengelolaan secara intensif dan berkala. Untuk itu, pengelolaan bendungan dilakukan untuk menjamin kelestarian fungsi, manfaat, efektivitas, dan efisiensi pemanfaatan air beserta keamanan bendungannya.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan (OP) SDA Bengawan Solo, Sri Wahyu Kusumastuti, ST., M.Si., dalam hal ini mewakili Kepala BBWSBS Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., memaparkan bahwa untuk menjaga keberlangsungan fungsi waduk, peran serta masyarakat sangatlah dibutuhkan. “Berdasarkan Pedoman dan Pemanfataan Ruang Terbuka Hijau (RTH), yang dipakai sebagai acuan pemilik/pengelola bendungan dalam pengelolaan greenbelt, bertujuan untuk menjaga ketersediaan lahan hijau sekaligus menjaga keserasian lingkungan bendungan. Selain itu, sebagai prasarana penguat struktur bendungan sekaligus menjaga kesimbangan lingkungan dan partisipasi publik,” sambungnya.

Ketua IPPU Provinsi Jawa Timur (Jatim), Ir. Warno Harisasono, M.Eng., juga berpesan agar kegiatan pengelolaan greenbelt bendungan tersebut dapat terlaksana sesuai dengan tujuannya, yakni pelestarian fungsi dan manfaat bendungan itu sendiri.

“Pohon yang ditanam tentunya memiliki segi produktivitas dan bernilai ekonomis. Sebab, masyarakat sekitar yang ikut berpartisipasi dalam pengelolaannya akan dapat memanfaatkan hasilnya,” imbuhnya.

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama tersebut dilakukan oleh perwakilan IPPU dan Pokmas untuk enam bendungan, yakni Bendungan Ketro yang ditandatangani oleh perwakilan Komisariat SDA-Kementerian PUPR, Ir. Hartanto, Dipl.H.E., dengan perwakilan Pokmas Tirto Joyo, Susanto, perwakilan Pokmas Semut Ireng, Bayu Aji Prasetyo (Bendungan Nawangan), perwakilan Pokmas Ngudi Lestari, Suparmo (Bendungan Cengklik), perwakilan Pokmas Kyai Deling, Sigit Sugiyanto, S.E. (Bendungan Delingan). Selanjutnya, Bendungan Pondok yang ditandatangani oleh Ketua IPPU Provinsi Jatim, Ir. Warno Harsasono, M.Eng., dengan perwakilan Pokmas Petruk Pondok Indah, Kandi Wiyono, dan perwakilan Pokmas Gloso Pacal, Suyanto, untuk Bendungan Pacal. (BBWSBS/Ferri)

Pelatihan Petugas OP Kegiatan PAB dan Penyediaan Jaringan Irigasi Holtikultura D.I. Sukodono

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menyelenggarakan acara Pelatihan Petugas Operasi dan Pemeliharaan (OP) Kegiatan Penyediaan Air Baku Dan Penyediaan Jaringan Irigasi Holtikultura Daerah Irigasi (D.I.) Sukodono di Gresik, Jawa Timur, Senin-Selasa (29-30/03/2021). Acara pelatihan yang turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Tata Ruang Gresik tersebut dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Pengertian OP dalam jaringan irigasi pipa secara umum, meliputi kegiatan Operasi, yaitu prosedur dalam mengatur dan mengukur besarnya debit dengan cara membuka dan menutup gate valve/kran untuk mendapatkan besaran debit yang dibutuhkan. Hakikat irigasi teknis adalah besarnya kecepatan aliran dapat diatur dengan bukaan pintu/gate valve/ kran, sedangkan besarnya debit dapat diukur dengan flow meter atau alat yang setara dan sejenis. Sedangkan kegiatan Pemeliharaan yakni usaha dan kegiatan merawat jaringan dan aksesoris pipa dan bak penampung secara rutin dan berkala agar jaringan dapat berfungsi secara optimal dalam jangka waktu yang relatif lama.

BBWSBS telah melaksanakan pembangunan infrastruktur sumber daya air (SDA) untuk mendukung Penyediaan Air Baku (PAB) dan Pengembangan Jaringan Irigasi Holtikultura di Kabupaten Gresik yang meliputi Pembangunan Lumbung Air Baku Sukodono, Pembangunan Jaringan Air Baku Sukodono, dan Pembangunan Jaringan Irigasi D.I. Sukodono.

Kepala Bidang PJPA Bengawan Solo, Heriantono Waluyadi, S.T., M.T., dalam hal ini mewakili Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., menyampaikan bahwa pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) sangatlah penting untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, serta kemampuan dalam rangka mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan OP infrastruktur air baku dan penyediaan jaringan irigasi holtikultura di Sukodono.

“Dalam upaya menjaga keberlangsungan pelayanan air baku dan air irigasi agar dapat berjalan secara efektif juga efisien, serta menjaga sekaligus mengamankan infrastruktur yang telah terbangun agar dapat selalu berfungsi dengan baik, maka perlu adanya kegiatan OP. Oleh karena itu, pelatihan petugas OP ini sangat diperlukan, dan kami sangat mengapresiasi positif kegiatan ini, juga terimakasih atas dukungan dari rekan-rekan sekalian,” sambungnya.

Kepala SNVT Air Tanah dan Air Baku (ATAB) Bengawan Solo yaitu Nely Mulyaningsih, S.P., M.P.S.D.A., menambahkan bahwa lumbung air Sukodono ini merupakan kolaborasi antara Pemda Gresik melalui Dinas PU dan Tata Ruang Gresik dengan BBWSBS. Dan manfaatnya bukan hanya untuk irigasi, namun juga pemenuhan air baku, yang dialirkan dari lumbung air Sukodono lewat jaringan perpipaan ke sembilan desa melalui hidran umum (HU). “Pada tahun 2021 ini adalah persiapan OP untuk jaringan air baku, dan harapan kami untuk petugas OP yang dilatih mendapat pengetahuan terkait infrastruktur yang akan dikelola. Selain itu, mengetahui cara pengoperasian komponen-komponen pada infrastruktur yang ada. Semoga dengan pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitas SDM yang ada,” pesannya.

Kepala Dinas PU dan Tata Ruang Gresik, Ir. Gunawan Setijadi, M.M., juga menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur di bidang SDA ini berdasarkan komitmen dari Pemerintah Daerah (Pemda) Gresik, yang telah mengusulkan, dan disambut serta didukung oleh Provinsi Jawa Timur. “Melalui lumbung air Sukodono ini dapat dipergunakaan warga, salah satunya di wilayah utara, yakni untuk kebutuhan irigasi holtikultura. Dan harapan kami, setelah infrastruktur ini sepenuhnya siap, nantinya akan diserahkan ke Pemda Gresik,” harapnya. (BBWSBS/Ferri)

Sinergitas Terpadu Wujudkan Kemajuan SDA di Ngawi

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menerima kunjungan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Ngawi di Kantor BBWSBS, di Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (26/03/2021). Kunjungan kerja (kunker) kali ini bertujuan untuk berdiskusi tentang proyek infrastruktur sumber daya air (SDA) strategis di wilayah Ngawi, yang dilaksanakan dengan tetap menaati protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Dalam kegiatan tersebut turut dilakukan pembahasan usulan yang disampaikan saat pertemuan pada 5 Januari 2021 lalu terkait bidang sumber daya air (SDA) yang ada di Ngawi, diantaranya terkait rencana proses pengadaan tanah oleh Pemkab Ngawi untuk proyek perbaikan tanggul Kali Madiun (Ngawi-Kwadungan) serta rencana kegiatan pembangunan Embung Talang di Jogorogo, Ngawi. Selain itu terkait rencana pembangunan Waduk Sine, Pemkab Ngawi telah melaksanakan kegiatan Studi Pendahuluan.

Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., dalam sambutannya menyampaikan bahwa lingkup kerja BBWSBS tersebar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, konstruksi, hingga operasi dan pemeliharaan sebagai upaya konservasi SDA. “Kami akan mendukung terkait usulan-usulan yang diajukan, namun, Pemkab Ngawi juga diharapkan segera menyelesaikan proses terkait pengadaan tanahnya, dengan melakukan koordinasi lebih lanjut. Jangan sampai, ketika sudah berproses namun aset Pemkab Ngawi masih ada yang terkendala,” terangnya.

Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Ngawi, Ir. Hadi Suroso, M.T., juga menyampaikan bahwa pada tahun 2019, Pemkab Ngawi telah melaksanakan Studi Potensi dan DED Air Baku yang berlokasi di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo. “Mengingat lokasi tersebut sangat strategis untuk menambah pemenuhan air baku (embung, dll.), semoga nantinya dapat dilaksanakan pembangunan Embung Ngrayudan oleh Pemerintah Pusat,” paparnya.

Pada Tahun Anggaran (T.A.) 2021 BBWSBS telah melaksanakan kegiatan infrastruktur bidang SDA yang berdampak terhadap Ngawi, meliputi Rehabilitasi Jaringan Irigasi Daerah Irigasi (D.I.) SIM di Kabupaten Madiun (IPDMIP), Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I. SIM di Kabupaten Madiun (IPDMIP), DD Rehabilitasi D.I. Pondok di Kabupaten Ngawi, dan Persiapan Penataan Operasional dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi D.I. Colo di Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Sragen serta Ngawi. (BBWSBS/Ferri)

Sidang Pleno I TKPSDA Wilayah Sungai Bengawan Solo

Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai (WS) Bengawan Solo menggelar acara Sidang Pleno I TKPSDA WS Bengawan Solo di Kantor BBWSBS, di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (25/03/2021). Acara yang juga dilaksanakan secara teleconference tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Sebagai informasi, TKPSDA WS Bengawan Solo merupakan wadah koordinasi yang dibentuk melalui Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). TKPSDA WS Bengawan Solo mempunyai tugas dan fungsi membantu Menteri PUPR dalam koordinasi pengelolaan sumber daya air, khususnya WS Bengawan Solo. Susunan keanggotaan TKPSDA WS Bengawan Solo periode 2019 – 2023 berjumlah 74 (tujuh puluh empat) anggota dengan komposisi 37 (tiga puluh tujuh) anggota dari unsur Pemerintah dan 37 (tiga puluh tujuh) anggota dari unsur Non Pemerintah

WS Bengawan Solo yang pengelolaannya menjadi kewenangan BBWSBS ini sangat luas cakupannya, yaitu sekitar 19.552 km2, yang meliputi Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur serta sedikit bersinggungan dengan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Gunungkidul. Hal ini tentunya BBWSBS tidak bisa bekerja sendiri, namun memerlukan bantuan/dukungan dari berbagai lintas sektor, khususnya yang tergabung dalam TKPSDA WS Bengawan Solo.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan SDA Bengawan Solo selaku Kepala Sekretariat TKPSDA WS Bengawan Solo, Sri Wahyu Kusumastuti, ST., M.Si., menyampaikan bahwa TKPSDA sebagai wadah koordinasi pengelolaan SDA diharapkan dapat memberikan pertimbangan/rekomendasi dalam aspek konservasi dan pendayagunaannya, serta pengendalian daya rusak air, baik pada saat perencanaan, pelaksanaan, maupun pemantauan juga pengawasan di lapangan.

“Dengan adanya kerjasama dan sinergitas seluruh unsur pemerintah maupun non pemerintah diharapkan pengelolaan SDA di WS Bengawan Solo ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, serta tidak menimbulkan konflik di dalam pemanfaatannya,” tuturnya.

Dalam acara tersebut juga dilanjutkan dengan diskusi terkait Mengerakan Relawan dan Stakeholder untuk Gerakan Sekolah Sungai dan Gerakan Restorasi Sungai yang Berkelanjutan di Klaten untuk Indonesia yang disampaikan oleh narasumber Arif Fuad Hidayat selaku Ketua Yayasan Sungai Lestari dan Materi Monitoring dan Evaluasi (Monev) Alokasi Air Waduk Wonogiri Tahun 2020/2021 yang disampaikan oleh narasumber Ariet Setiawan, S.T., M.T., selaku Kepala Departemen Hidroinformasi Perum Jasa Tirta I. (BBWSBS/Ferri)

Pelantikan Pejabat Fungsional di Lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Menindaklanjuti Surat Edaran Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor 10/SE/IV/2020 tentang Pelantikan dan Pengambilan Sumpah/ Janji PNS atau Sumpah/Janji Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona dan sehubungan dengan Surat Plt. Sekretaris Jenderal Nomor KP.05.01-SJ/966 tanggal 10 Desember 2020 tentang Pembinaan dan Pelantikan Pejabat Fungsional di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) mengikuti acara Pelantikan Pejabat Fungsional di Lingkungan Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air (SDA) yang dilaksanakan secara jarak jauh (teleconference) di Kantor BBWSBS, di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (24/03/2021). Acara yang berlangsung tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Pelantikan jabatan tersebut merupakan hal yang biasa dalam sebuah organisasi, yang berjalan sesuai dengan semangat reformasi birokrasi. Penempatan jabatan pun sesuai dengan kompetensi dan berbasis keahlian. Hal ini demi menunjang kinerja birokrasi yang lebih efektif dan efisien.

Adapun 11 pejabat fungsional BBWSBS yang dilantik, diantaranya Tika Morena Nuramini, S.T., Samuel Harjanto, S.T., Rhobertus Mahadi Yudhi Prasetyo, S.T., Reinhart Hadthya, S.T., Hanif Aqroburrochman Al Anshori, S.T., Farida Ayu Dewayanti, S.T., Dwi Siswo Riyanto, S.T., Destiana Wahyu Pratiwi, S.T., Alif Ramadhan Medisia, P.g.S.T., Rury Septiani, S.T., dan Marina Putri Prastuti.

Direktur Jenderal (Dirjen) SDA, Ir. Jarot Widyoko, SP-1., berpesan agar pejabat fungsional yang baru dilantik untuk terus meningkatkan kompetensinya sesuai bidang keahlian masing-masing serta menjaga integritas dan loyalitas, sehingga amanah terhadap tanggungjawab yang diberikan untuk membangun infrastruktur khususnya bidang SDA, yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak.

“Jabatan yang diberikan adalah sebuah amanah. Oleh karena itu, kami mohon pergunakan hati kecil kita, karena itulah yang paling jujur. Bekerja sebaik-baiknya dan lebih menjaga integritas serta loyalitas dalam menjadi insan PUPR yang bertanggung jawab dalam pembangunan infrastruktur untuk masyarakat,” pesannya. (BBWSBS/Ferri)

Kepala SNVT ATAB Sapa Kantor BBWSBS di Bojonegoro

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., melakukan kunjungan kerja (kerja) di Kantor BBWSBS di Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (23/03/2021). Kunker dengan penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 tersebut dalam rangka memperkenalkan Kepala SNVT Air Tanah dan Air Baku (ATAB) Bengawan Solo yaitu Nely Mulyaningsih, S.P., MPSDA.

Adanya SNVT ATAB, dikarenakan Integrated Water Resources Management adalah termasuk integrasi antara air tanah dan air permukaan. Jadi integrasi dalam hal ini bukan berarti semua, tetapi bagaimana cara menyinergikan dan mengintegrasikan ATAB bersama-sama dengan Kementerian ESDM.

Dalam sambutannya, Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., mengatakan bahwa tuntutan bekerja di BBWSBS sangat tinggi, karena harus diiringi dengan niat dan tentunya kejujuran. “Ibu Nely, nantinya akan dibantu oleh rekan-rekan dari dua Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), yakni Pendayagunaan Air Tanah (PAT) dan Penyediaan Air Baku (PAB). Sekaligus saya sampaikan, menjelang musim kemarau, akan ada banyak paket pekerjaan yang menanti, namun, diharapakan untuk tetap menomorsatukan keselamatan dan kesehatan, sehingga jangan melupakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19,” pesannya.

Sebagai informasi, Kepala SNVT ATAB Bengawan Solo, Nely Mulyaningsih, S.P., MPSDA., pertama masuk di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada Tahun 2010 lalu di Direktorat Irigasi dan Rawa. Kemudian di Tahun 2014, dipindahkan di Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III sebagai PPK ATAB dan selama dua tahun juga sempat menjabat sebagai PPK Irigasi dan Rawa (Irwa).

“Saya senang sekali bisa bertemu dengan tim yang baru dan menjadi keluarga BBWS Bengawan Solo ini. Mohon kerjasamanya untuk rekan-rekan sekalian, saya siap untuk selalu berkoordinasi setiap waktu, baik secara langsung ataupun secara daring,” jelas Nely Mulyaningsih, S.P., MPSDA. (BBWSBS/Ferri)

Rencana Tindak Lanjut Pengendalian Banjir Kali Lamong

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menghadiri acara rapat koordinasi bersama Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, S.E., di Ruang Putri Cempo, kompleks Kantor Bupati Gresik, Jawa Timur, Selasa (23/03/2021). Acara rakor tersebut dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Dalam rakor, turut membahas rencana tindak lanjut pengendalian banjir Kali Lamong. Disampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik terus mengebut normalisasi sungai dengan luas DAS total sekitar 720 Km2 tersebut. Namun, dalam pengerjaan terbentur aturan serta kewenangan daerah yang hanya meliputi pembebasan lahan. Padahal, pembebasan tersebut dinilai memperlambat penanganan.

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, S.E., menyampaikan bahwa untuk percepatan pengerjaan Pemkab Gresik meminta pembagian tugas kepada BBWSBS yang nantinya akan disepakati dalam bentuk memorandum of understanding (MoU). “ Kami berharap segera dilakukan penandatanganan MoU, agar kami bisa segera bergerak dan membantu menurunkan alat berat guna melakukan pengerukan sedimentasi Kali Lamong, dan inisiatif dari kami ini juga memiliki payung hukum yang jelas. Sebab saat musim hujan luapan Kali Lamong tidak hanya terjadi pada induk sungai saja tetapi juga anak sungainya,” terangnya.

Sementara itu, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., selaku Kepala BBWSBS menegaskan, pihak BBWSBS siap dengan pendanaan normalisasi Kali Lamong, asalkan lahannya pun sudah siap. Sehingga, dana yang dikucurkan pada tahun 2021 ini, ini bisa terserap sepenuhnya. “Kalau lahan siap, dananya bisa terserap semua. Kita tinggal mengikuti daerah saja, kami dari BBWSBS siap menganggarkan kalau tanahnya juga sudah siap. Tergantung dari Pemkab Gresik, mudah-mudahan sudah siap semua jadi tinggal menunggu,” terangnya.

Terkait kewenangan Pemkab Gresik dalam pembebasan lahan, rencananya akan dilakukan mulai April 2021 mendatang. Tanah tersebut ada yang berstatus milik warga, sehingga harus dibebaskan untuk melakukan proyek normalisasi Kali Lamong. Adapun untuk rencana prioritas proyek pengendalian banjir Kali Lamong yang akan dilakukan oleh BBWSBS meliputi rencana konstruksi parapet beton dan tanggul tanah di Desa Jono, rencana konstruksi parapet beton di Desa Tambak Beras pada titik jebolan tanggul non teknis yang mengakibatkan banjir. Selanjutnya, rencana tanggul-tanggul yang belum tersambung dan normalisasi sungai pada area-area yang kritis. (BBWSBS/Ferri)

Mengelola Air untuk Menjaga Kehidupan

Air merupakan kebutuhan pokok manusia dan untuk makhluk hidup lainnya. Tidak ada kehidupan tanpa air, ironisnya saat ini masalah lingkungan sekitar menjadi masalah utama. Salah satu permasalahan adalah berkurangnya daerah tangkapan air yang mengakibatkan sumber mata air berkurang pula debitnya. Salah satu faktornya adalah berkurangnya vegetasi berupa pohon-pohon yang mampu menyimpan air tanah.

Dalam rangka memperingati Hari Air Dunia (HAD) ke-29 Tahun 2021 Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menggelar acara penanaman bibit pohon dan benih ikan di kawasan Bendungan Ketro, Tanon, Sragen, Jawa Tengah, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, Senin (22/03/2021).

Valuing Water menjadi tema besar dalam peringatan Hari Air Dunia XXIX tahun 2021 ini, yang kemudian diaplikasikan ke dalam tema Nasional yaitu Mengelola Air Menjaga Kehidupan. Dan, rangkaian kegiatan HAD ke-29 yang dilaksanakan oleh BBWSBS meliputi acara penanaman 400 bibit pohon bernilai ekonomis yang dilaksanakan di empat lokasi bendungan, yaitu area sabuk hijau (greenbelt) Bendungan Ketro di Sragen, Bendungan Pacal di Bojonegoro, Bendungan Cengklik di Boyolali, dan Bendungan Delingan di Karanganyar.

Selain itu, juga dilakukan penebaran sebanyak 35.000 benih ikan air tawar yang disebar di Bendungan Ketro, Bendungan Pacal, dan Bendungan Cengklik. BBWSBS juga mengumumkan juara Lomba Acara Aksi Bersih Daerah yang meliputi lomba kebersihan lingkungan kantor Operasi dan Pemeliharaan (OP) Bendungan, di 31 bendungan di wilayah Sungai Bengawan Solo dan lomba kebersihan lingkungan kantor OP Irigasi daerah irigasi (D.I.) Colo dan Semen Krinjo wilayah Sungai Bengawan.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jhon Wempi Wetipo, mewakili sekaligus menyampaikan sambutan Menteri PUPR, M. Basuki Hadi Moeljono secara virtual, bahwa peringatan HAD ke-29 ini merupakan upaya bersama untuk meningkatkan perhatian publik dan masyarakat internasional akan pentingnya air bagi kehidupan untuk selanjutnya bersamasama melindungi pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. “Masyarakat perlu diberikan pemahaman dan kesadaran bahwa mereka tidak hanya memiliki hak sebagai pengguna air, tetapi juga bertanggung jawab serta wajib memberikan konstribusi dalam memelihara alam dan lingkungan yang menjadi sumber air,” pesannya.

Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., juga menyampaikan bahwa penanaman pohon adalah salah satu upaya dalam rangka mempertahankan kondisi tampungan air waduk khususnya di Bendungan Ketro.

“Melalui aksi nyata ini, kami berharap agar dapat terbentuk pemahaman pada masyarakat bahwa tidak hanya mereka memiliki hak sebagai pengguna air, tetapi juga memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk memberikan kontribusi dalam mengelola sumber air, serta meningkatkan kelestarian lingkungan. Sehingga permasalahan terkait air dapat dipecahkan bersama melalui solusi yang efektif dan tepat sasaran,” jelasnya.

Sebagai informasi, Bendungan Ketro dibangun mulai tahun 1975 dan selesai pada tahun 1984. Rehabilitasi terakhir Bendungan Ketro dilaksanakan pada tahun 2017 yang kemudian dilakukan pengerukan kembali pada tahun 2019 sehingga mengalami peningkatan tampungan sebesar 700.000 M3 menjadi 2,885 juta M3, agar tidak mengalami penurunan kembali. Selain itu, dengan adanya kegiatan penanaman pohon ini, nantinya diharapkan mampu mendorong peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. (BBWSBS/Ferri)