Kunjungan Delegasi MAFF Jepang ke Bendungan Jatigede Perkuat Kerja Sama Pengelolaan Sumber Daya Air
Delegasi Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Jepang melakukan kunjungan kerja ke Bendungan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu (4/2). Kunjungan tersebut diterima oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung sebagai bagian dari penguatan kerja sama dan pertukaran pengetahuan di bidang pengelolaan sumber daya air dan infrastruktur bendungan. Kegiatan ini mencerminkan komitmen kedua negara dalam mendorong pengembangan sistem pengelolaan air yang andal dan berkelanjutan.
Secara teknis, Bendungan Jatigede merupakan salah satu bendungan strategis nasional yang memiliki fungsi utama sebagai pengendali banjir, penyedia air baku, dan pendukung irigasi pertanian. Dalam kunjungan tersebut, delegasi MAFF meninjau sistem operasional bendungan, termasuk mekanisme pengaturan debit melalui pintu pelimpah, sistem pemantauan tinggi muka air, serta prosedur operasi standar pada kondisi normal maupun saat terjadi peningkatan inflow. Penjelasan teknis difokuskan pada upaya menjaga keseimbangan antara keselamatan struktur dan optimalisasi pemanfaatan air.
Dari sisi kapasitas, Bendungan Jatigede memiliki daya tampung besar yang berperan signifikan dalam mereduksi debit puncak banjir di wilayah hilir Daerah Aliran Sungai Cimanuk. Selain itu, bendungan ini mendukung layanan irigasi untuk puluhan ribu hektare lahan pertanian serta penyediaan air baku bagi masyarakat dan sektor industri. Data operasional menunjukkan bahwa pengaturan pola pelepasan air secara terukur dapat menekan risiko genangan sekaligus menjaga ketersediaan air pada musim kemarau.
Landasan regulasi pengelolaan bendungan di Indonesia mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air serta peraturan turunan yang mengatur penyelenggaraan bendungan dan keselamatan infrastruktur. Ketentuan tersebut menegaskan kewajiban pengelola untuk melaksanakan operasi, pemeliharaan, dan pemantauan secara berkala guna menjamin keamanan struktur serta perlindungan masyarakat di wilayah hilir.
Pertemuan antara BBWS Cimanuk Cisanggarung dan delegasi MAFF juga menjadi forum pertukaran pengalaman terkait inovasi teknologi, manajemen risiko banjir, serta efisiensi pemanfaatan air untuk sektor pertanian. Jepang dikenal memiliki sistem pengelolaan irigasi dan bendungan yang terintegrasi dengan teknologi pemantauan modern, sehingga diskusi teknis diharapkan memberikan nilai tambah dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan.
Melalui kunjungan ini, sinergi Indonesia–Jepang dalam pengembangan infrastruktur sumber daya air diharapkan semakin kuat. Kolaborasi yang berbasis pada pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik akan mendukung terwujudnya pengelolaan bendungan yang efektif, aman, dan berkelanjutan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
















PU