Sungai Progo bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga sumber kehidupan, budaya, dan identitas masyarakat kita. Namun, perlu disadari adanya tantangan besar terkait pengelolaan sedimen dan aktivitas penambangan pasir. Untuk itu, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan mendorong agar aktivitas penambangan dilakukan secara manual, dan tidak merusak ekosistem sungai.
“Rapat koordinasi ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah, agar pengelolaan sungai tetap berkelanjutan, adil, dan menyejahterakan masyarakat. Dengan demikian, Sungai Progo tidak hanya menjadi sumber pasir, tetapi juga menjadi pusat kegiatan ekonomi kreatif, wisata, dan budaya yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat,” katanya.
Rapat koordinasi di Bulan Ramadhan penuh berkah ini menjadi tonggak awal perubahan, dari pola eksploitasi menuju pola pengelolaan yang berkelanjutan. Dengan semangat kebersamaan, Sungai Progo akan tetap menjadi berkah bagi masyarakat DIY dan sekitarnya.





























