free log

Sharing Session in WINNER: Water and Climate Change


Kategori : Berita Sabo     Tim Penulis : Balai Sabo

  1 year ago



Sharing Session in WINNER: Water and Climate Change

Foto : Sharing Session in WINNER: Water and Climate Change


Sejak tahun 2011, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda melakukan kerja sama melalui kegiatan Joint Cooperation Program (JCP). Tujuan kerja sama ini adalah pengelolaan air di Indonesia, dengan memperkuat lembaga yang bergerak dalam bidang iklim dan sumber daya air di kedua negara tersebut. Program ini berfokus pada pengenalan dataset maupun model hidrometeorologi yang langsung dapat diterapkan oleh pemangku kepentingan. Salah satu bukti nyata program JCP adalah dengan adanya Pusat Studi Hidroinformatik, dimana pusat studi tersebut sebagai dasar kemitraan yang berkelanjutan dan memastikan bahwa pengetahuan JCP akan terus tersedia dan digunakan kedepannya. Adapun lembaga mitra dari JCP ini adalah: Dirbintek SDA-Kemen PUPR, BMKG, BIG, BPPT, Lapan yang merupakan instansi pemerintah Indonesia, sedangkan lembaga mitra dari pemerintah Belanda adalah: Deltares (lembaga penelitian bidang sumber daya air dan subsoil), KNMI (lembaga meteorologi Kerajaan Belanda), WEnR (Wageningen Environmental Research (former Alterra)), dan ITC (Faculty of Geo-information Science and Spatial Information) (https://www.jcp-indonesia.org/).

Pada tahun 2021, JCP mengagendakan "The Week of Indonesia-Netherlands Education Research (WINNER)". Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual pada 27 Oktober 2021 dengan agenda "Sharing Session in Winner: Water and Climate Change"Â diikuti oleh perwakilan dari ITC, KNMI, Deltares. Adapun perwakilan dari Kementerian PUPR yang mengikuti agenda tersebut adalah Prof. R. Dr. Ir. Eko Winar Irianto, M.T. (Direktur Bina Teknik Bidang Sumber Daya Air) dan Yunitta Chandra Sari, S.E., S.T., M.T. (Kepala Balai Teknik Sabo).

Sharing session kali ini, Yunitta Chandra Sari, S.E., S.T., M.T. melakukan paparan dengan tema "Sistem Peringatan Dini Longsor (LEWS)" yang dikembangkan oleh Deltares, BHLK (Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan) serta Balai Teknik Sabo sejak tahun 2017 yang merupakan modifikasi dari Sistem Peringatan Dini Banjir (FEWS). Hasil dari LEWS adalah, prediksi longsor dalam 3 hari kedepan dengan lingkup kabupaten/ kodya. Tantangan kedepannya adalah, mengembangkan LEWS hingga cakupan terkecil hingga area kecamatan.





Bagikan :

Cetak