Kehadiran Bendungan Sidan yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada hari Jumat, 10 Juli lalu menjadi harapan baru bagi ribuan petani di Provinsi Bali. Secara administratif, Bendungan Sidan berlokasi di wilayah Daerah Aliran Sungai Ayung dengan areal genangan mencakup beberapa wilayah, yaitu Desa Sidan di Kabupaten Badung, Desa Buahan Kaja di Kabupaten Gianyar, serta Desa Bunutin, Mengani, dan Langgahan di Kabupaten Bangli.
Proses konstruksi Bendungan Sidan dimulai sejak Oktober 2018 dan telah rampung diselesaikan pada tahun 2024 oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai Bali Penida.
Di tengah meningkatnya kebutuhan air serta tantangan perubahan iklim yang kian besar, bendungan tersebut berperan sebagai penyangga utama ketersediaan air irigasi bagi lahan pertanian demi menjaga produktivitas pangan sepanjang tahun.
Menurut Menteri PU Dody Hanggodo, bendungan merupakan infrastruktur dasar dengan peran yang sangat vital dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan. Beliau menekankan bahwa keberhasilan pembangunan sebuah bendungan baru hanya benar-benar terwujud saat airnya telah mengalir sampai ke lahan pertanian dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.
"Swasembada pangan, swasembada energi, dan swasembada air memerlukan tata kelola air yang tertib, berkelanjutan, dan benar-benar sampai kepada rakyat. Bendungan adalah hulu dari pelayanan itu,” kata Menteri Dody.
Keberadaan Bendungan Sidan dapat memperkokoh jaringan irigasi di Bali, sekaligus memegang peran penting dalam melestarikan subak sebagai warisan budaya setempat. Sebagai penopang utama sektor pertanian, bendungan ini menyokong pengairan untuk 9.598 hektare daerah irigasi eksisting, yang terbagi di Daerah Irigasi (DI) Mambal seluas 5.963 hektare dan DI Kedewatan seluas 3.635 hektare. Adanya jaminan pasokan air yang lebih stabil ini membantu para petani merencanakan pola tanam secara lebih baik, mendongkrak indeks pertanaman, dan meminimalkan risiko gagal panen yang disebabkan oleh kekeringan.
Bendungan Sidan memiliki kapasitas tampung sebesar 5,76 juta meter kubik dengan luas genangan mencapai 37,15 hektare, yang berfungsi menyimpan cadangan air saat musim hujan untuk kemudian dimanfaatkan kembali ketika musim kemarau tiba. Melalui keberadaan infrastruktur ini, Indeks Pertanaman (IP) diproyeksikan naik dari 265% menjadi 271%, sehingga membuka peluang lebih besar bagi petani untuk meningkatkan frekuensi masa tanam sekaligus mendorong produktivitas hasil pertanian.
Di samping menyokong sektor pertanian, Bendungan Sidan juga berfungsi dalam menyediakan air baku dengan kapasitas 1.750 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Gianyar. Lebih dari itu, infrastruktur ini memainkan peran penting dalam mengamankan ketahanan air bagi sektor pariwisata di Provinsi Bali yang terus berkembang pesat.
Selain itu, bendungan bertipe zonal inti aspal dengan tinggi puncak mencapai 68 meter ini diproyeksikan memiliki potensi sebagai destinasi wisata baru di Bali. Bendungan ini juga dirancang untuk mereduksi potensi banjir pada kawasan seluas 108 hektare, serta mampu menghasilkan energi baru terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 0,65 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung dengan kapasitas 7,43 MW.
Guna memaksimalkan dampak positif bagi masyarakat, Ditjen SDA Kementerian PU berkomitmen untuk terus mengoptimalkan pengelolaan Bendungan Sidan beserta seluruh sistem irigasinya di masa mendatang. Melalui jaminan pasokan air yang stabil, produktivitas sektor pertanian diharapkan dapat terus meningkat, yang pada akhirnya akan mendorong kesejahteraan para petani serta mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.
- Kompu SDA