Dengan diresmikannya Bendungan Meninting di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) oleh Presiden Prabowo Subianto dipandang sebagai wujud nyata dari Asta Cita untuk memperkuat swasembada pangan, energi, dan air nasional.


“Arahan Bapak Presiden Prabowo melalui Asta Cita sangat jelas. Swasembada pangan, swasembada energi, dan swasembada air yang memerlukan tata kelola air yang tertib, berkelanjutan, dan benar-benar mampu memberikan manfaat yang maksimal kepada petani dan rakyat Indonesia,” kata Menteri Dody saat mendampingi Presiden Prabowo meresmikan lima bendungan pada Jumat (10/7)) di Nusa Tenggara Barat.


Dengan tinggi mencapai 74 meter dan luas genangan sekitar 46,16 hektare, bendungan ini memiliki kapasitas tampung 10 juta meter kubik yang dapat meningkatkan keandalan aliran irigasi yang selama ini bergantung pada musim penghujan.


“Alhamdulillah dengan adanya bendungan ini yang mampu menampung sampai dengan hampir 10 juta meter kubik, air dapat dimanfaatkan sepanjang tahun. Dan sawah yang tadinya bergantung pada tadah hujan menjadi sawah yang bisa kita airi dari bendungan seluas 1.600 hektare dengan jaringan irigasi kurang lebih 26 km. Dulu sebelum ada Bendungan Meninting hanya bisa satu kali tanam, saat ini sudah bisa menjadi tiga kali musim tanam,” jelas Menteri Dody.


Salah satu petani asal Kabupaten Lombok Barat, Fathul Faizi, mengungkapkan rasa kepuasannya atas beroperasinya Bendungan Meninting. Ia merasakan langsung dampak positif bendungan ini, terutama berupa hasil panen yang meningkat melimpah dari sebelumnya. 


“Sebelum adanya bendungan hasil panen belum berlimpah, tapi sejak adanya bendungan, hasil panen kita berlimpah. Dan sebelum bendungan ini dibangun, disini banjir terus-terusan. Tapi setelah adanya bendungan, banjir itu tidak pernah ada karena tertahannya air di bendungan. Alhamdulillah masyarakat disini sangat bersyukur dengan adanya bendungan terlebih petani,” ungkapnya.


Merujuk pada situs resmi Kementerian Sekretariat Negara, I Gede Darma Putra yang merupakan petani asal Desa Penimbung Barat menyampaikan pandangan senada dengan Fathul Faizi mengenai peran penting Bendungan Meninting dalam mendongkrak produktivitas pertanian. Ia menjelaskan bahwa kehadiran bendungan tersebut memungkinkan para petani meningkatkan frekuensi masa tanam, dari yang sebelumnya hanya dua kali menjadi tiga kali dalam setahun.

"Sebelumnya itu kita bisa menanam cuma dua kali. Pada musim kemarau itu terjadi kesulitan air atau paceklik, nah itu sekarang dengan adanya bendungan ini sangat bermanfaat kita bisa menanam tiga kali dalam setahun. Nah itu untuk mengatasi juga kebanjiran pada waktu musim hujan dan mitigasi pada waktu musim kemarau,” ucap I Gede Darma Putra.

Bendungan Meninting dibangun sejak tahun 2018 hingga rampung pada tahun 2025 oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara I. Sebagai bendungan multifungsi, bendungan ini dirancang untuk menyuplai pasokan air baku berkapasitas 150 liter per detik bagi masyarakat di Kecamatan Gunung Sari dan Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat.


Di samping melayani kebutuhan irigasi dan air baku, Bendungan Meninting turut mendukung pengembangan energi terbarukan lewat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 0,8 MW serta PLTS Apung berdaya 9 MW hingga 9,23 MW. Lebih dari itu, infrastruktur ini memiliki peran dalam mengendalikan banjir dengan mereduksi area genangan hingga 59 hektare, sekaligus menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

  • Kompu SDA

Bagikan Postingan Ini