Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
  • PU
  • 03 April 2026
blog-img-10

Posted by : kpisda_cimancis

Kedondong (Spondias dulcis Parkinson)

Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta 

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Rosidae

Ordo : Sapindales

Famili : Anacardiaceae R. Br.

Genus : Spondias L.

Spesies : Spondias dulcis Parkinson 

(USDA, t.t.)

Status Konservasi IUCN 

LC – Least Concern

Deskripsi

Kedondong merupakan jenis tanaman yang berasal dari Indonesia, Papua nugini, dan Kepulauan Solomon. Kedondong memiliki banyak nama lokal, seperti Kadondong (Sunda), Kedundung (Madura), Kecemcem (Bali), Inci (Bima, NTT), Karunrung (Makassar), dan Dau Kaci (Bugis). Kedondong tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 700 m dpl, suhu udara 22–27 ?, curah hujan 900–1.800 mm/tahun, dan pH tanah 5,5–6,5 (Socfindo Conservation, t.t.). Kedondong dapat diperbanyak secara generatif melalui biji dan secara vegetatif melalui stek, cangkok, atau okulasi.

Kedondong termasuk dalam habitus pohon dan dapat tumbuh tinggi mencapai 25 m dengan diameter batang mencapai 45 cm (Plant For A Future, t.t.). Batang pohon kedondong berbentuk silindris, tegak, dengan percabangan simpodial. Daun kedondong termasuk majemuk menyirip dengan 9–25 anak daun yang berbentuk elips. Daun mudanya dapat dikonsumsi secara langsung atau dijadikan sebagai bumbu masakan. Bunga kedondong berwarna putih yang tersusun dalam rangkaian perbungaan malai yang terletak di ujung ranting atau cabang. Buahnya berbentuk oval dengan biji yang berserat di dalamnya (Plant For A Future, t.t.). Buah kedondong dapat langsung dikonsumsi manusia atau diolah menjadi jus, manisan, atau selai. Buahnya kaya akan vitamin C, memiliki tekstur renyah, dan rasa asam manis dengan aroma seperti nanas (National Parks Board, 2023). Kedondong mengandung senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi pada daun, batang, buah, dan akarnya. Senyawa tersebut diantaranya fenolik, tanin, saponin, dan flavonoid (Hayatillah & Hapsari, 2023).

Pustaka

Energy Development Corporation (EDC) . 2024. Spondias dulcis. The IUCN Red List of Threatened Species 2024: e.T198990392A203234816. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2024-1.RLTS.T198990392A203234816.en. Diakses pada 18 November 2025.

Hayatillah, R. & Hapsari, W. K. (2023). Anti-Inflamasi Tanaman Kedondong (Spondias Dulcis G. Forst.). Jurnal Sains dan Pendidikan Biologi, 2(1), 63–69.

National Parks Board. (2023). Spondias dulcis Parkinson. National Parks Board. Diambil dari https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/3/1/3134. Diakses pada 19 November 2025.

Plant For A Future. (t.t.). Spondias dulcis - Sol. ex Parkinson. Plant For A Future. Diambil dari https://pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Spondias+dulcis. Diakses pada 18 November 2025.

Socfindo Conservation. (t.t.). Spondias dulcis. Socfindo Conservation. https://www.socfindoconservation.co.id/plant/364. Diakses pada 19 November 2025.

United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Spondias dulcis Parkinson. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/SPDU3. Diakses pada 18 November 2025.