Manglid (Manglietia glauca Bl.)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Filum : Streptophyta
Kelas : Equisetopsida
Subkelas : Magnoliidae
Ordo : Magnoliales
Famili : Magnoliaceae
Genus : Magnolia
Spesies : Magnolia sumatrana var. glauca
Manglietia glauca Bl.
(KEW)
Status Konservasi IUCN
LC – Least Concern
Deskripsi
Manglid (Manglietia glauca Bl.) merupakan tanaman yang tersebar secara alami di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan Sulawesi. Manglid memiliki beberapa sebutkan lokal seperti Baros, Manglid (Sunda), Cempaka Bulus (Jawa), Cempaka, Kepelan (Bali), Jatuh (Karo), Medang Limpaung, dan Sitibai (Minangkabau). Manglid memiliki tinggi mencapai 25-40 m dengan bebas cabang 25 m dan diameter mencapai 150 cm, tersebar di ketinggian 1.000-1.500 mdpl. Hidupnya berkelompok dan di tempat yang lembap. Tajuknya membulat, lebat, percabangannya berbentuk garpu yang dimulai jauh dari atas tanah, Daunnya tunggal berbentuk elips memanjang atau elips melebar, kebanyakan bulat telur memanjang dengan ukuran 13-25 cm. Ujung dan pangkal daun runcing, tangkai daun panjang. Bunganya terminal, soliter, besar, tangkai panjang 2,5-4 cm, berwarna kuning muda, harum, kelopak 9-13 tersusun dalam 3 lingkaran, benang sari banyak dan tersusun spiral, tangkai benang sari panjang atau pendek. Buahnya majemuk, berbentuk kerucut dengan panjang 6-8 cm, pada permukaan berwarna hijau dengan titik-titik putih, kemudian menjadi coklat hitam. Bijinya berwarna merah berjumlah 2-6, kadang sampai 12.Tanaman manglid dapat diperbanyak menggunakan biji, namun kulit buah serta seludung bijinya berwarna merah liat sehingga sulit utuk dikecambahkan dan perlu perlakuan awal (pre-treatment) untuk ekstraksi buah sebelum disemaikan. Manglid juga dapat diperbanyak secara vegetatif seperti cangkok dan lain-lain (UPTPTH JATIM).
Kayu pohon manglid memiliki struktur yang padat, halus, ringan dan kuat sehingga sering digunakan untuk bahan baku jembatan, perkakas rumah, ukiran, dan lain-lain. Selain itu, manglid juga dapat dimanfaatkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis (bakteri antagonis yang banyak digunakan dalam pengendalian patogen tular tanah) serta jamur Alternaria solani (patogen penyakit) dan Sclerotium oryzae (penyakit busuk batang)(UPTPTH JATIM). Di Jawa Barat dan Bali kayu jenis ini sangat disukai karena selain kayunya mengkilat, strukturnya padat, halus, ringan dan kuat. Kekuatan kayunya digolongkan dalam kelas III dan keawetanya kelas II. Adapun keuntungan dari kayu Manglid tersebut karena ringan yaitu dengan berat jenis 0,41 sehingga mudah dikerjakan, dan karena kekuatan dan keawetannya jenis kayu tersebut sering dijadikan bahan baku pembuatan jembatan, perkakas rumah, dan barang-barang. Pengeringan kayu dibutuhkan 4 bulan dengan cara kering angin dengan ketebalan papan 40 mm dan mencapai 320-580 kg/m³ dengan kadar air 15%. (Djam’an, 2006)
Pustaka
Djam'an, D. F. 2006. Mengenal manglid Baros (Manglietia glauca Bl.) Manfaat dan Permasalahan.
Flora and Fauna Web National Parks
https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/8/2806
Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew)
https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:77115201-1
The International Union for Conservation of Nature (IUCN)
https://www.iucnredlist.org/species/66772941/66772945
UPT Perbenihan Tanaman Hutan DisHut Prov Jawa Timur
https://uptpth.dishut.jatimprov.go.id/manglid-manglietia-glauca/
















PU
