Matoa (Pometia pinnata J.R.&G.Forst)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Sapindaceae
Genus : Pometia
Spesies : Pometia pinnata J.R.&G.Forst
(Plantamor)
Status Konservasi IUCN
LC - Least Concern
Deskripsi
Matoa berasal dari kawasan Indo-Pasifik. Matoa terdapat di sebagian besar Oseania mulai dari Filipina, Indonesia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji dan Polunesia. Hal ini juga terjadi di seluruh Asia Tenggara dengan perluasan ke Tiongkok bagian Selatan dan Asia Selatan (Sri Lanka dan Kepulauan Andaman.
Matoa dapat tumbuh sampai ketinggian 50 meter serta akar papan yang mencapai 5 meter. Matoa menyukai daerah tropis lembab yang hangat hingga panas dengan musim kemarau pendek hingga tiga bulan. Ia mencapai perkembangan terbaiknya pada tanah lempung dan tanah liat yang memiliki drainase baik dan subur. Hal ini terjadi di berbagai habitat termasuk di tepi sungai, lokasi rawa, hutan terbuka, aliran lava dan hutan dataran rendah. Spesies ini tumbuh cepat dan toleran (IUCN).
Karakteristik batang kayu matoa keras dan dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan, contohnya konstruksi. Di Tonga, kayunya juga digunakan dalam ukiran kayu. Kayu ini merupakan kayu bakar yang sangat baik. Buah - buahan yang dapat dimakan sehingga semakin banyak ditanam karena jenis buah-buahan unggul dengan musim yang lebih panjang, di Kepulauan Pasifik. Di beberapa wilayah dataran rendah Papua Nugini tanaman ini ditanam sebagai tanaman agroforestri, dengan daun keringnya digunakan sebagai mulsa pupuk pada budidaya ubi di Provinsi Sepik. Matoa ditanam di sekitar desa dan ditanam atau dilindungi di area taman di wilayah lain di Pasifik Selatan. Hal ini bertujuan untuk menyediakan buah-buahan, obat-obatan dan kayu bakar. Di kasus Tonga, diserbuki untuk menyediakan teralis rendah atau felei untuk ubi. Olahan dari daun dan kulit batangnya banyak digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit (IUCN).
Jenis akar pohon matoa berbentuk akar tunggang. Bentuk batangnya silinder dan berdiri tegak. Sistem percabangannya simpodial. Arah tumbuh cabangnya miring, kadang mendatar, sehingga membentuk pohon yang rindang. Daun pohon matoa majemuk dan tersusun berselang seling sebanyak 4 - 12 pasang anak daun. Warna daunnya merah cerah. Kemudian ketika pohon matoa dewasa warna daunnya berubah menjadi hijau. Bentuk daun matoa jorong. Panjang rata-rata daunnya 30-40 cm dan lebarnya 8-15 cm. Berdasarkan fisiknya, helaian daun pohon matoa berbentuk tebal dan kaku, runcing pada bagian ujungnya, bagian pangkal tumpul, bagian tepi rata. Bagian permukaan atas dan bawah daun halus. Di Bagian pertulangan daunnya melengkung.
Bunga pohon matoa tumbuh di bagian ujung pangkal daun dan majemuk. Di Bagian mahkota bunga, terdapat bulu pada bagian luarnya. Selain itu, bagian kelopak bunga matoa sedikit menyatu. Buah matoa berbentuk lonjong, menyerupai telur puyuh dengan kisaran 1,5-5 cm dan diameternya 1-3 cm. Bagian kulit luar buah matoa cenderung licin, warnanya kuning kehijauan pada saat muda dan berubah warna menjadi coklat kemerahan ketika sudah matang. Isi buah matoa menyerupai kulit air, warnanya putih transparan dan menempel pada biji.
(IUCN).
Pustaka
Lindungihutan
https://lindungihutan.com/blog/pohon-matoa/
Plantamor
https://plantamor.com/species/info/pometia/pinnata#gsc.tab=0
The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/96986556/129765464
















PU
