BBWS Cimanuk Cisanggarung Perkuat Mitigasi Kekeringan melalui Pengelolaan Operasi Bendungan Jatigede Menghadapi Potensi El Niño 2026

BBWS Cimanuk Cisanggarung Perkuat Mitigasi Kekeringan melalui Pengelolaan Operasi Bendungan Jatigede Menghadapi Potensi El Niño 2026

28 July 2026 31 views

Berdasarkan pembaruan informasi iklim dari BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati hingga Juni 2026, wilayah Jawa Barat diperkirakan menghadapi potensi kekeringan yang meningkat seiring berkembangnya fenomena El Niño. Hasil pemantauan menunjukkan anomali Sea Surface Temperature (SST) Nino 3.4 mencapai +1,61 dengan probabilitas El Niño kategori kuat sebesar 98 persen. Kondisi tersebut diproyeksikan memengaruhi pola curah hujan di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung, khususnya pada daerah hilir Sungai Cimanuk.

Proyeksi iklim tersebut diperkuat oleh prakiraan curah hujan kategori rendah berkisar 0–20 mm serta durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori Panjang hingga Sangat Panjang di sejumlah wilayah. Berkurangnya intensitas hujan berpotensi menurunkan ketersediaan air permukaan sehingga diperlukan pengelolaan sumber daya air yang cermat untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat, sektor pertanian, dan pemanfaatan lainnya selama musim kemarau.

Sebagai langkah antisipasi, BBWS Cimanuk Cisanggarung melaksanakan pemantauan intensif terhadap kondisi Bendungan Jatigede melalui evaluasi Tinggi Muka Air (TMA) harian. Pemantauan dilakukan dengan mengacu pada ketentuan Rule Curve dan Real Time Operation of Water (RTOW) Tahun Operasi 2025/2026 sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengaturan operasi waduk. Informasi hidrologi dan meteorologi terus diperbarui untuk memastikan pola operasi bendungan dapat menyesuaikan perkembangan kondisi di lapangan.

Pengelolaan operasi Bendungan Jatigede diarahkan pada pemenuhan kebutuhan air irigasi sebagai prioritas utama selama periode kemarau. Pengaturan pelepasan air dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan ketersediaan tampungan waduk, kebutuhan daerah irigasi, serta proyeksi kondisi hidrologi agar suplai air bagi lahan pertanian tetap terjaga sesuai rencana operasi yang telah ditetapkan.

Selain pengaturan operasi waduk, upaya mitigasi juga mencakup pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk meningkatkan peluang penambahan inflow ke waduk sebelum periode puncak kemarau. Di sisi lain, pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 110 MW disesuaikan dengan kondisi tampungan melalui pengaturan beban pembangkitan sehingga elevasi muka air waduk tetap berada di atas batas teknis yang dipersyaratkan. Sinergi berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari pengelolaan Bendungan Jatigede dalam menghadapi potensi dampak El Niño dan menjaga keandalan layanan sumber daya air selama musim kemarau 2026.