Publikasi

Arboretum

banner-aboretum
Konservasi BBWS Cimanuk Cisanggarung

Pusat Publikasi & Berita Digital Arboretum

Kumpulan artikel, studi konservasi, dan laporan kegiatan terbaru dari laboratorium alam hulu DAS Cimanuk.

Dokumen Profil Arboretum

Klik untuk melihat detail dokumen PDF

Koleksi Digital

Arsip Arboretum

Total Materi 66 Publikasi
Pulai (Alstonia scholaris)
Aboretum
03 Mar 2026

Pulai (Alstonia scholaris)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Asteridae Ordo : Gentianales Famili : Apocynaceae Genus : Alstonia Spesies : Alstonia scholaris R. Br. (USDA) Status Konservasi IUCN LC - Least Concern Deskripsi Pulai merupakan spesies pohon besar yang penyebarannya luas di seluruh Asia Selatan dan Tenggara serta Australia. Pulai dapat ditemukan di India, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Bhutan, Pakistan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Cina, Laos, Vietnam, Malaysia, New Guinea, Filipina, Indonesia, Vietnam dan Australia dengan ketinggian 200 - 1.000 m dpl. Pulai tergolong pohon besar yang tumbuh di hutan primer dan sekunder. Pulai dapat tumbuh hingga ketinggian kurang lebih 40 meter. Pulai sumber utama yang dimanfaatkan yaitu kayunya yang digunakan untuk pembuatan barang-barang rumah tangga dan kertas berkualitas tinggi. Secara medis dapat digunakan sebagai tonik maupun dengan mengoleskan lateks pada bagian yang luka. Pulai ini pun dapat digunakan sebagai tanaman hias. Kulit kayu dan daunnya digunakan untuk mengobati sakit kepala, influenza, bronkitis dan pneumonia. Di Tiongkok, kayu ini digunakan untuk membuat peti mati. Suku Aborigin di Queensland Utara menggunakan kulit kayunya untuk pengobatan sakit perut, disentri dan demam, serta getahnya untuk neuralgia dan sakit gigi. Kulit kayu dan lateksnya banyak mengandung alkaloid yang merupakan unsur aktif (IUCN). Pohon pulai memiliki penampakan berukuran besar dan tinggi, batang lurus dan bulat. Bentuk percabangan bertingkat dengan bentuk tajuknya seperti pagoda. Kulit batang pulai pada bagian luar berwarna abu-abu hingga kehitaman, sedangkan pada bagian dalamnya berwarna putih atau kuning muda. Kulit batangnya mengandung getah berwarna putih. Tebal kulit sekitar 8-11 mm dengan tekstur keras. Daun pohon pulai berbentuk memanjang, panjang daun berkisar antara 12-25 cm dan lebar 3-8 cm. Helai daun pada bagian atas berwarna hijau mengkilap, sedangkan pada bagian bawahnya hijau muda buram tidak berbulu. Pulai memiliki bunga dan buah. Buah berbentuk polong dengan panjang 30-50 cm dan berisi biji dalam jumlah jumlah yang banyak (Wattimena, L., 2022). Pustaka Plantamor https://plantamor.com/species/info/alstonia/scholaris#gsc.tab=0  The International Union for Conservation of Nature (IUCN)  https://www.iucnredlist.org/species/32295/2812825  Wattimena, L. (2022). Pemanfaatan Pohon Pulai (Alstonia Scholaris) Oleh Masyarakat Kampung Puper Distrik Waigeo Timur Kabupaten Raja Ampat. J-MACE Jurnal Penelitian, 2(1), 68-81.

Sawo Ijo (Chrysophyllum cainito L.)
Aboretum
03 Mar 2026

Sawo Ijo (Chrysophyllum cainito L.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae  Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta  Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Ebenales Famili : Sapotaceae Juss. Genus : Chrysophyllum L. Spesies : Chrysophyllum cainito L. (USDA) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Sawo ijo merupakan salah satu tanaman berbuah (edible fruit) yang berasal dari Panama (Amerika Tengah). Tanaman ini kemudian menyebar luas dan dibudidayakan di berbagai negara seperti Kolombia, Kuba, Ekuador, Guatemala, Haiti, Meksiko, Peru, dan Venezuela. Pohon sawo ijo dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 10 – 1.560 mdpl (Kew). Pohon sawo ijo tumbuh di tempat dengan suhu udara 12 – 35 °C dan curah hujan 800 – 2.200 mdpl. Pohon ini dapat tumbuh tinggi mencapai 25 m dengan lebar tajuk 4 – 8 m. Daunnya berwarna hijau mengkilap pada permukaan atas daun, sedangkan di permukaan bawah berwarna merah atau kuning dengan tekstur kasap. Buah sawo ijo berbentuk lonjong dengan diameter sekitar 10 cm berwarna ungu saat matang dan berkulit halus. Buah sawo ijo memiliki rasa manis dan dapat digunakan sebagai obat radang tenggorokan, pneumonia, serta digunakan dalam pengobatan diabetes, pendarahan, dan demam. Kulit kayunya digunakan dalam pengobatan diare, disentri, pendarahan, dan radang selaput lendir hidung. Kayu pohon ini dapat digunakan sebagai bahan konstruksi dalam ruangan dan bahan bakar (PFAF). Pustaka   Plants for A Future (PFAF) https://pfaf.org/User/Plant.aspx?LatinName=Chrysophyllum+cainito  Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:304384-2/general-information  The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/197735752/197789299  United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=CHCA10

Sawo (Manilkara zapota (L.) P.)
Aboretum
03 Mar 2026

Sawo (Manilkara zapota (L.) P.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Ebenales Famili : Sapotaceae Juss. Genus : Manilkara Adans Spesies : Manilkara zapota (L.) P. (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Spesies pohon ini secara alami terdapat di Belize, Guatemala dan Meksiko. Tanaman ini dibudidayakan dalam wilayah alaminya dan di negara-negara tropis Asia, Amerika Tengah dan Selatan serta Karibia untuk buah dan chicle yang dapat dimakan. Diperkirakan pertama kali dibudidayakan di Meksiko dan telah dibudidayakan pada waktu yang berbeda-beda di berbagai wilayah habitat alaminya. Pohon sawo berumur panjang dan pertumbuhannya lambat. Tingginya bisa mencapai 1m di tanah gipsum, namun bisa tumbuh hingga 25m. Bunganya diserbuki oleh serangga terutama lebah dan kelelawar. Buahnya dikonsumsi oleh burung dan juga mamalia seperti monyet howler, tapir, peccaries dan kelelawar yang membantu penyebaran. Spesies ini penting karena buahnya dapat dimakan dan untuk produksi lateks, yang dikenal sebagai chicle, yang digunakan sebagai permen karet. Ekstraksi lateks melemahkan pohon dan berpotensi menyebabkan kematian. Kayu berkualitas tinggi juga dimanfaatkan dan digunakan secara lokal untuk konstruksi dan kayu bakar. Kayu ini merupakan salah satu kayu paling tangguh di tingkat global, dan mampu menahan getaran. Kayu pohon ini pun dapat digunakan untuk bantalan rel kereta api. Produsen buah sawo terbesar adalah India, Thailand, Filipina dan Malaysia (IUCN). Pustaka Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:152641-2  The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/61964429/61964470  United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=MAZA

Bayur (Pterospermum javanicum Jungh.)
Aboretum
03 Mar 2026

Bayur (Pterospermum javanicum Jungh.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Malvales Famili : Malvaceae Genus : Pterospermum Spesies : Pterospermum javanicum Jungh. (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.) Status Konservasi IUCN  LC – Least Concern Deskripsi Bayur merupakan pohon yang berasal dari Indonesia (Sumatera, Jawa, dan Lombok). Pohon bayur dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 600–1.500 m dpl (Ganesan, 2020). Pohon bayur biasanya ditemukan di punggung bukit, tepi sungai, dan di tanah kapur. Pohon bayur termasuk tanaman yang intoleran terhadap cahaya (kecuali saat muda), sehingga membutuhkan cahaya matahari untuk pertumbuhannya. Selain itu, bayur menyukai daerah dengan tanah yang lembab, tidak tergenang air, tidak kering, dan beriklim basah.  Bayur memiliki akar tunggang yang berpotensi dijadikan tanaman konservasi untuk mencegah erosi. Batang pohon bayur berkayu dan berwarna cokelat dengan permukaan kulit yang kasar. Daun bayur termasuk dalam daun tunggal, duduk daun berseling, daun bagian bawah berwarna cokelat keputihan dan berbulu, Pangkal daunnya asimetris dan ujung daun meruncing. Bunga pohon bayur memiliki diameter sekitar 10 cm, tangkai bunga pendek, berwarna kekuningan, dan tersusun dalam gugusan helaian daun mahkota bunga yang panjang dan sempit. Tipe rangkaian perhubungan bayur adalah raceme atau rasemosa, artinya bunga-bunga baru akan terus tumbuh dari bawah ke atas di sepanjang sumbu utama. Buah bayur berbentuk seperti kapsul, berwarna hijau–cokelat, dan berbulu halus yang akan hilang ketika matang. Buah bayur mengandung banyak biji dengan tipe samara atau memiliki sayap (Socfindo Conservation, t.t.). Pohon bayur memiliki banyak manfaat, seperti pembuatan bahan bangunan, mebel, atau obat-obatan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2014) di Taman Nasional Gunung Rinjani, pohon bayur dengan diameter 40–50 cukup sedikit dibandingkan dengan pohon berdiameter 20–30. Hal ini dapat terjadi karena banyaknya penebangan liar, baik untuk diambil kayunya atau bagian lain seperti akar dan daun. Pustaka Ganesan, S.K. (2020). Pterospermum javanicum. The IUCN Red List of Threatened Species 2020: e.T61787032A61787059. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2020-1.RLTS.T61787032A61787059.en. Diakses pada 2 November 2025. Hidayat, S. (2014). Pola Sebaran dan Asosiasi Bayur (Pterospermum javanicum Jungh.) di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 11(3), 225–237. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Plinia cauliflora (Mart.) Kausel. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:427190-1. Diakses pada 2 November 2025. Socfindo Conservation. (t.t.). Bayur. Socfindo Conservation. Diambil dari https://www.socfindoconservation.co.id/plant/701. Diakses pada 2 November 2025.

Bisbul (Diospyros blancoi A. DC.)
Aboretum
03 Mar 2026

Bisbul (Diospyros blancoi A. DC.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingkom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Ebenales Famili : Ebenaceae Gürke . Genus : Diospyros L. Spesies : Diospyros blancoi A. DC. (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN NE - Not Evaluated Deskripsi  Bisbul merupakan salah satu jenis tanaman yang berasal dari Indonesia, Filipina, dan Taiwan. Tanaman ini dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 100–1.500 m dpl (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Keberadaan bisbul masih tersebar luas dengan populasi yang cukup banyak, meskipun demikian di beberapa daerah seperti di Filipina dan beberapa daerah di Indonesia seperti Cibinong, spesies ini dikategorikan sebagai jenis yang mulai langka karena banyak eksploitasi terhadap kayunya. Belum ada penilaian dari IUCN terhadap jenis ini, sehingga belum ada data terkait status konservasinya. Seperti eboni yang termasuk dalam marga Diospyros, bisbul juga merupakan jenis tanaman yang selalu hijau (evergreen) dengan pertumbuhan lambat (slow growing species). Memiliki habitus pohon, bisbul dapat tumbuh menjadi pohon kecil dengan banyak cabang atau menjadi pohon tegak dengan batang yang lurus dan biasanya memiliki tinggi hingga 18 m. Bahkan terdapat pohon yang dapat hidup mencapai 33 m dan diameter batang mencapai 80 cm dengan batang kokoh, berwarna hitam, dan beralur (Morton, 1987).  Daun pohon bisbul termasuk daun tunggal bertangkai, kasar, duduk daun berseling, daun berbentuk lonjong, berukuran panjang 8–30 cm dengan lebar 2,5–12 cm, pangkal daun membulat, sedangkan ujung daunnya runcing. Daun mudanya berwarna merah muda. Permukaan daun dewasa bagian atas berwarna hijau tua mengkilap, sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna keperakan dan berbulu.  Bunga jantan dan betina pada bisbul dihasilkan pada pohon yang terpisah (berumah dua). Pohon ini memerlukan agen penyerbuk untuk melakukan proses pembentukan buah. Pembuahan umumnya terjadi selama musim panas dengan buah yang matang selama 2–4 bulan setelah berbunga (Trade Winds Fruit, t.t.). Buah bisbul berbentuk bulat atau agak pipih dengan panjang 5–12 cm dan lebar 8–10 cm. Kulit buahnya seperti beludru berwarna cokelat kemerahan dengan daging buah berwarna putih krem hingga kuning dan memiliki rasa manis dan wangi (National Parks Board, 2025). Kayu pohon  bisbul biasa dimanfaatkan untuk membuat furnitur, veneer, ukiran, dan bahan pembuatan alat musik. Kayunya memiliki kekerasan, kehalusan, daya tahan, dan warna cokelat disertai corak garis abu-abu yang unik. Buah bisbul dapat dikonsumsi secara langsung dan memiliki banyak kandungan nutrisi seperti serat, vitamin C, vitamin A, kalsium, fosfor, dan zat besi. Pustaka Morton, J. F. (1987). Fruit of Warm Climates. Florida Flair Books. National Parks Board. (2025). Diospyros blancoi A. DC. National Parks Board. Diambil dari https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/8/2849. Diakses pada 3 November 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Diospyros blancoi A. DC. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:322146-1.  Diakses pada 2 November 2025. Trade Winds Fruit. (t.t.). Velvet apple. Diambil dari https://www.tradewindsfruit.com/content/velvet-apple.htm. Diakses pada 3 November 2025/  United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Diospyros blancoi A. DC. The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/DIBL3. Diakses pada 2 November 2025.

Buni (Antidesma bunius (L.) Spreng.)
Aboretum
03 Mar 2026

Buni (Antidesma bunius (L.) Spreng.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Juss. Genus : Antidesma L. Spesies : Antidesma bunius (L.) Spreng.  (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Buni merupakan jenis tanaman yang berasal dari China, India, Indonesia, Myanmar, Papua Nugini, Filipina, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam. Buni kemudian diperkenalkan dan menyebar ke berbagai negara seperti Hawaii dan Kepulauan Caroline. Pohon buni biasanya tumbuh setinggi 6 m, namun dapat tumbuh hingga 15 – 30 m. Pohon buni memiliki kulit batang berwarna merah keabu-abuan dan daun berwarna hijau. Daun pohon buni berbentuk oblong dengan panjang 10 – 22,5 cm dan lebar 5 – 7,5 cm (Islam et al., 2018). Perbungaan buni berasal dari ketiak daun atau ujung cabang. Bunga jantan memiliki panjang 6 – 25 cm dengan jumlah cabang 3 – 14 cabang, sedangkan bunga betina memiliki panjang 4 – 18 m, umumnya tidak bercabang dan kadang bercabang dengan jumlah cabang maksimal empat. Bunga jantan memiliki 3 atau 4 benang sari dan bunga betina memiliki 3 atau 4 putik (Li dan Hoffman, 2018 dalam Silalahi dan Mustaqim, 2020 dalam Silalahi et al., 2022). Buah pohon buni sedikit berdaging dan berbentuk bulat dengan ukuran sekitar 8 mm. Buah buni muda berwarna hijau hingga kuning pucat dan memiliki rasa yang sangat masam. Ketika masak, Buah buni berwarna merah hingga merah kehitaman dan berasa manis (Islam et al., 2018). Buah buni dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan (sirup, jeli, dan saos) dan obat-obatan tradisional (Silalahi et al., 2022).   Pustaka  Islam, S., Ahammed, M. S., Sukorno, F. I., Koly, S. F., Biswas, M. M., & Hossain, S. (2018). A review on phytochemical and pharmacological potentials of Antidesma bunius. J Anal Pharm Res, 7(5), 602-604. https://www.researchgate.net/profile/Md-Islam-702/publication/328491585_A_review_on_phytochemical_and_pharmacological_potentials_of_Antidesma_bunius/links/5bd1984092851cabf266578a/A-review-on-phytochemical-and-pharmacological-potentials-of-Antidesma-bunius.pdf  Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:338853-1  Silalahi, M., Purba, E. C., Sawitri, I. R., Wahyuningtyas, R. S., & Sitepu, N. (2022). Antidesma bunius (L.) Spreng.(Foodstuffs and Its Bioactivity). Journal of Tropical Ethnobiology, 5(1), 19-29. http://www.jte.pmei.or.id/index.php/jte/article/view/104/123  The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/18435638/147626023  United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=ANBU3

Cemara Udang (Casuarina equisetifolia L.)
Aboretum
03 Mar 2026

Cemara Udang (Casuarina equisetifolia L.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Hamamelididae Ordo : Casuarinales Famili : Casuarinaceae R. Br. Genus : Casuarina Rumph. ex L. Spesies : Casuarina equisetifolia L.  (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN  LC – Least Concern Deskripsi Cemara udang merupakan tanaman yang berasal dari Asia Tenggara dan Oceania, termasuk beberapa pulau dan kepulauan di wilayah Pasifik seperti Tuvalu, Vanuatu, Polinesia Prancis, Kepulauan Marshall, Palau, dan Mariana Utara (Barstow, 2019). Cemara udang tumbuh optimal di tempat dengan ketinggian 0–1.400 m dpl, beriklim tropis–subtropis, dengan curah hutan 700–5.000 mm/tahun (Parotta, 1993).  Berhabitus pohon, cemara udang memiliki tinggi 7–25 m dengan diameter batang 30 cm. Pohon cemara udang biasanya berbentuk seperti piramida dan memiliki banyak cabang. Bagian pangkal batang atau akar dapat tumbuh trubusan individu baru. Hal ini menunjukkan bahwa pohon cemara udang memiliki kemampuan untuk tumbuh berumpun. Kulit kayunya berwarna abu-abu tua atau cokelat pekat dengan tekstur kasar atau halus. Pada ranting muda terdapat lentisel yang berfungsi sebagai pori-pori. Pada ranting ini juga terdapat sisa-sisa karangan daun yang berwarna putih yang seiring waktu akan meninggalkan bekas luka melingkar pada setiap ruas batang (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Cemara udang merupakan tanaman berbunga berumah satu dengan bunga jantan dan betina yang terpisah namun ada pada pohon yang sama. Bunga jantan banyak tumbuh pada cabang yang banyak menggugurkan daunnya. Bunga jantan berukuran 1–3 cm dengan diameter 1,2–2 mm. Sedangkan bunga betina berada pada ketiak daun menuju ujung cabang-cabang muda dan dapat tumbuh secara tersebar atau mengelompok, biasanya sering ditemukan pada cabang yang sama dengan bunga jantan. Bunga betina berbentuk oval atau hampir bulat dengan panjang 3–5 mm dengan panjang tangkai 3–10 mm. Buah cemara udang termasuk dalam tipe samara dengan ukuran 5–7 mm. Sayapnya berukuran panjang 3,5–4,5 mm dan lebar 2–3 mm, berwarna keputihan atau cokelat muda transparan. Bagian dasar buah mengandung biji berbentuk oval pipih dengan ukuran 1,5–2,5 mm dan tebal hingga 1 mm. Bijinya berwarna terang seperti jerami pucat, bertekstur halus bergelombang (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Akar pohon cemara udang memiliki kemampuan untuk berasosiasi dengan bakteri Frankia, sehingga mampu membentuk bintil akar. Bintil akar ini berperan untuk menambat nitrogen bebas di udara sehingga mampu menyuburkan tanah (Atmanto et al., 2012). Hal ini pula yang menyebabkan pohon cemara udang disebut sebagai salah satu jenis pioneer karena mampu tumbuh dengan baik, bahkan di lahan marginal seperti gumuk pasir (Maheut dan Dommergues, 1959). Selain dianggap sebagai pohon pioneer untuk rehabilitasi lahan, cemara udang juga dijadikan sebagai tanaman penahan angin laut (windbreak) yang ditanam di pantai-pantai. Cemara udang penting ditanam untuk mengurangi potensi erosi di pantai. Cemara udang juga mengandung tanin pada bagian akar, kayu, kulit batang, daun, dan buahnya yang dimanfaatkan sebagai bahan penyamak kulit, pewarna kain, pembuatan tinta, dan keperluan medis (Plant For A Future, t.t.). Pustaka Atmanto, W. D., Sumardi, S. D., & Kabirun, S. (2012). Karakteristik morfologi dan pembentukan bintil akar pada cemara udang. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 9(3), 155–163. Barstow, M. (2019). Casuarina equisetifolia. The IUCN Red List of Threatened Species 2019: e.T16728404A16728408. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2019-1.RLTS.T16728404A16728408.en. Diakses pada 1 November 2025. Maheut, J., and Y. Dommergues. (1959). “Fixation of the Dunes of Cape Verde Island through Afforestation and the Biological Evolution of the Soils.” Revue Bois et Forets des Tropiques, 63, 3–16. Parotta, J. A. (1993). Casuarina Equisetifolia L. Ex J.R. and G. Forst. Casuarina, Australian pine. Diambil dari https://www.researchgate.net/profile/John-Parrotta/publication/288324349_Casuarina_equisetifolia_L_ex_JR_and_G_Forst_Casuarina_Australian_pine/links/567fe94b08aebccc4e07389b/Casuarina-equisetifolia-L-ex-JR-and-G-Forst-Casuarina-Australian-pine.pdf. Diakses pada 1 November 2025.  Plant For A Future. (t.t.). Casuarina equisetifolia L. Plant For A Future. Diambil dari https://pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Casuarina+equisetifolia. Diakses pada 1 November 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Casuarina equisetifolia L. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:159856-1/general-information.  Diakses pada 1 November 2025. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Casuarina equisetifolia L. In The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/CAEQ. Diakses pada 1 November 2025.

Eboni (Diospyros celebica Bakh.)
Aboretum
03 Mar 2026

Eboni (Diospyros celebica Bakh.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Ericales Famili : Ebenaceae Genus : Diospyros Spesies : Diospyros celebica Bakh. (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.) Status Konservasi IUCN VU – Vulnerable Deskripsi Eboni merupakan salah satu jenis tanaman berhabitus pohon yang berasal dari Indonesia, terutama di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan (Samedi dan Kurniawati, 2002). Eboni dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian mencapai 700 m dpl dengan suhu udara rata-rata berkisar antara 22°C–28°C pada jenis tanah berkapur, latosol, podsolik merah kuning, dan tanah dangkal berbatu (Alrasyid, 2002). Curah hujan yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan eboni berkisar antara 2.000–2.500 mm/tahun (Soerianegara, 1967). Meskipun demikian, eboni masih dapat tumbuh di tempat dengan curah hujan 1.230 mm/tahun seperti di daerah Tomi, Sulawesi Tengah, curah hujan 700 mm/tahun di Parigi dan Pantai Timur Sulawesi Tengah, dan curah hujan 2.400–2.750 mm/tahun seperti di Malili dan Wotu, Sulawesi Selatan serta Mamuju, Sulawesi Barat (Santoso, 1997). Eboni termasuk ke dalam jenis pohon yang toleran terhadap naungan dan termasuk jenis yang pertumbuhannya lambat (riap 2,44 mm/tahun) menurut Seren et al. (1991). Eboni dapat tumbuh tinggi mencapai 40 m dengan tinggi batang bebas cabang mencapai 10–21 m. Kulit batangnya hitam beralur banyak dan mengelupas kecil-kecil. Kayu teras eboni memiliki kualitas yang sangat bagus, juga memiliki corak garis kecokelatan yang mengelilingi bagian teras yang berwarna hitam (Oka, 2002). Corak unik pada kayu teras eboni ini yang menyebabkan harganya mahal. Daun eboni berbentuk jorong dengan ukuran panjang 12–35 cm dan lebar 2,5–7 cm. Daun mudanya berwarna hijau muda dengan bulu-bulu halus berwarna perak pada bagian belakang daun. Permukaan daun bagian atas mengkilap dan licin, sedangkan permukaan daun bagian bawah berbulu halus dengan warna cokelat keemasan ketika tua. Eboni merupakan jenis tanaman berbunga berumah satu (bunga jantan dan betina yang terpisah). Bunga eboni berukuran panjang 1,2–1,4 cm dan lebar 0,7–0,9 cm. Benang sari sebanyak 8–12 dengan panjang 0,6–0,8 cm. Bunga eboni terletak pada ketiak daun (aksial). Buah eboni bertipe buni yang berbentuk bulat hingga bulat telur. Panjang buah 2–3 cm dan lebar 1–4 cm. Bijinya berwarna cokelat kehitaman (Santoso et al., 2002).    Pustaka Alrasyid, H. (2002). Kajian Budidaya Pohon Eboni. Berita Biologi, 6 (2). Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Diospyros celebica Bakh. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:322219-1/general-information. Diakses pada 31 Oktober 2025. Oka, N. P. (2002). Pendekatan Teknis Pelestarian Eboni (Diospyros celebica Bakh.) Secara Ex-situ. Berita Biologi, 6(2), 353–361.  Samedi, S., dan Kurniawati, I. (2002). Kajian Konservasi Eboni (Diospyros celebica Bakh.). Berita Biologi, 6(2), 231–237 Santoso, B. (1997). Pedoman Teknis Budidaya Eboni (Diospyros celebica Bakh.). Informasi Teknis, 6.  Santoso, B., Anwar, C., & Nompo, S. (2002). Pembudidayaan Pohon Eboni (Diospyros celebica Bakh.). Berita Biologi, 6(2), 277–282.  Seran, D., Santoso, B., & Ginoga, B. (1991). Pertumbuhan Eboni di Cagar Alam Calaena, Kab. Luwu Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Kehutanan, 4(12). Soerianegara, I. (1967). Beberapa Keterangan Tentang Jenis-Jenis Pohon Eboni. Pengumuman. No. 12. Lembaga Penelitian Hutan Bogor. World Conservation Monitoring Centre. (1998). Diospyros celebica. The IUCN Red List of Threatened Species 1998: e.T33203A9765120. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.1998.RLTS.T33203A9765120.en. Diakses pada 31 Oktober 2025.

Ilat-ilatan (Ficus callosa Willd.)
Aboretum
03 Mar 2026

Ilat-ilatan (Ficus callosa Willd.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Rosales Famili : Moraceae Genus : Ficus Spesies : Ficus callosa Willd (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.) Status Konservasi IUCN LC - Least Concern Deskripsi  Ilat-ilatan atau pangsor merupakan salah satu jenis tanaman yang berasal dari Brunei Darussalam, China, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam. Pohon ini dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 1.500 m dpl di iklim tropis atau subtropis dengan musim hujan sepanjang tahun (Geopark Silokek Sijunjung, t.t). Habitat alami pohon ini adalah tempat dengan kelembaban tinggi seperti hutan hujan tropis, tepi sungai, hutan primer, hutan sekunder, hutan rawa, lereng berbatu, dan dataran rendah dengan kelembaban tinggi (Geopark Silokek Sijunjung, t.t.). Pohon ilat-ilatan dapat tumbuh tinggi mencapai 40 m (de Kok, 2024). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yelastri et al. (2023) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, pohon ilat-ilatan yang ditemukan memiliki diameter batang lebih dari 50 cm. Batang pohon ilat-ilatan berwarna coklat keabu-abuan dengan tekstur kasar dan serat yang terlihat jelas. Pohon ilat-ilatan memiliki daun tunggal bertangkai dengan susunan daun berseling dan tulang daun menyirip. Daun pohon ilat-ilatan berbentuk lonjong (ellipticus), ujung daun meruncing (acuminatus), pangkal daun tumpul (obtusus), tepi daun rata (integer), dan permukaan daun terasa kasar (scaber) (Rahmawati et al., 2025). Daun, kulit, dan akar dari pohon ilat-ilatan dapat dimanfaatkan dalam bidang medis karena mengandung senyawa yang bersifat antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba. Sedangkan kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan mebel, konstruksi, dan kerajinan (Geopark Silokek Sijunjung, t.t.).   Pustaka de Kok, R. (2024). (Ficus callosa). The IUCN Red List of Threatened Species 2024: e.T198111344A203234096. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2024-1.RLTS.T198111344A203234096.en. Diakses pada 30 Oktober 2025. Geopark Silokek Sijunjung. (t.t.). Tumbuhan Ilat-ilatan. Diambil dari https://geoparksilokek.sijunjung.go.id/tumbuhan-ilat-ilatan/. Diakses pada 28 Oktober 2025. Rahmawati, I., Arganata, F. D., khoirun Nadzifah, B., Fahriza, M. R., Ula, A. I., & taufan Insani, G. (2025). Variasi Morfologi Daun Tumbuhan Ficus di Sumber Jembangan Kediri. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya (JB&P), 12(1), 102-107. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Ficus callosa Willd. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:852543-1. Diakses pada 29 Oktober 2025. Yelastri, Y., Sulistijorini, S., & Djuita, N. R. (2023). Diversity and distribution of Ficus (Moraceae) in the karst ecosystem of Bantimurung Bulusaraung National Park. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology, 8(2), 78811.