Publikasi

Arboretum

banner-aboretum
Konservasi BBWS Cimanuk Cisanggarung

Pusat Publikasi & Berita Digital Arboretum

Kumpulan artikel, studi konservasi, dan laporan kegiatan terbaru dari laboratorium alam hulu DAS Cimanuk.

Dokumen Profil Arboretum

Klik untuk melihat detail dokumen PDF

Koleksi Digital

Arsip Arboretum

Total Materi 66 Publikasi
Ilat-ilatan (Ficus callosa Willd.)
Aboretum
28 Nov 2025

Ilat-ilatan (Ficus callosa Willd.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Rosales Famili : Moraceae Genus : Ficus Spesies : Ficus callosa Willd (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.) Status Konservasi IUCN LC - Least Concern Deskripsi  Ilat-ilatan atau pangsor merupakan salah satu jenis tanaman yang berasal dari Brunei Darussalam, China, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam. Pohon ini dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 1.500 m dpl di iklim tropis atau subtropis dengan musim hujan sepanjang tahun (Geopark Silokek Sijunjung, t.t). Habitat alami pohon ini adalah tempat dengan kelembaban tinggi seperti hutan hujan tropis, tepi sungai, hutan primer, hutan sekunder, hutan rawa, lereng berbatu, dan dataran rendah dengan kelembaban tinggi (Geopark Silokek Sijunjung, t.t.). Pohon ilat-ilatan dapat tumbuh tinggi mencapai 40 m (de Kok, 2024). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yelastri et al. (2023) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, pohon ilat-ilatan yang ditemukan memiliki diameter batang lebih dari 50 cm. Batang pohon ilat-ilatan berwarna coklat keabu-abuan dengan tekstur kasar dan serat yang terlihat jelas. Pohon ilat-ilatan memiliki daun tunggal bertangkai dengan susunan daun berseling dan tulang daun menyirip. Daun pohon ilat-ilatan berbentuk lonjong (ellipticus), ujung daun meruncing (acuminatus), pangkal daun tumpul (obtusus), tepi daun rata (integer), dan permukaan daun terasa kasar (scaber) (Rahmawati et al., 2025). Daun, kulit, dan akar dari pohon ilat-ilatan dapat dimanfaatkan dalam bidang medis karena mengandung senyawa yang bersifat antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba. Sedangkan kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan mebel, konstruksi, dan kerajinan (Geopark Silokek Sijunjung, t.t.).   Pustaka de Kok, R. (2024). (Ficus callosa). The IUCN Red List of Threatened Species 2024: e.T198111344A203234096. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2024-1.RLTS.T198111344A203234096.en. Diakses pada 30 Oktober 2025. Geopark Silokek Sijunjung. (t.t.). Tumbuhan Ilat-ilatan. Diambil dari https://geoparksilokek.sijunjung.go.id/tumbuhan-ilat-ilatan/. Diakses pada 28 Oktober 2025. Rahmawati, I., Arganata, F. D., khoirun Nadzifah, B., Fahriza, M. R., Ula, A. I., & taufan Insani, G. (2025). Variasi Morfologi Daun Tumbuhan Ficus di Sumber Jembangan Kediri. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya (JB&P), 12(1), 102-107. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Ficus callosa Willd. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:852543-1. Diakses pada 29 Oktober 2025. Yelastri, Y., Sulistijorini, S., & Djuita, N. R. (2023). Diversity and distribution of Ficus (Moraceae) in the karst ecosystem of Bantimurung Bulusaraung National Park. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology, 8(2), 78811.

Ketapang (Terminalia catappa L.)
Aboretum
28 Nov 2025

Ketapang (Terminalia catappa L.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Myrtales Famili : Combretaceae R. Br Genus :Terminalia L. Spesies : Terminalia catappa L.  (USDA, t.t.) Sinonim (IUCN) : Terminalia burmanica King ex Prain Status Konservasi IUCN  LC – Least Concern Deskripsi Ketapang merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki distribusi alami dan buatan yang luas. Wilayah distribusinya mencakup Samudera Hindia, Samudera Pasifik, Asia Selatan, dan Asia tenggara. Jenis tanaman ini tersebar luas dan tidak memiliki ancaman terhadap keberadaannya, sehingga dinilai memiliki status konservasi Berisiko Rendah (LC) oleh IUCN (Thomson & Evans, 2019). Pohon ketapang berbentuk pagoda yang dapat tumbuh hingga 35 m dan akan menggugurkan daunnya dua kali dalam satu tahun terutama pada musim kemarau. Batang pohon ketapan memiliki kulit kayu berwarna abu-abu yang sedikit pecah-pecah. Ketapang memiliki daun yang tumbuh bergerombol pada ujung ranting. Daunnya berwarna hijau tua di bagian atas, hijau kekuningan di bagian bawah, dan akan berubah menjadi merah ketika rontok. Daun ketapang berbentuk seperti telur terbalik, memiliki panjang 8–38 cm dan lebar 5–19 cm dengan tulang daun 6–12 pasang dan memiliki sepasang kelenjar pada pangkal daun (National Parks Board, 2021). Ketapang termasuk tanaman berbunga berumah satu (terdapat bunga jantan dan betina yang terpisah namun masih dalam satu pohon). Bunga ketapang berwarna putih hingga hijau keputihan, berukuran 0,5 cm, terletak dalam satu karangan bunga tipe bulir dengan panjang 8–16 cm, dan terletak pada ketiak daun. Buah yang dihasilkan memiliki tipe drupa atau buah batu. Buahnya memiliki biji yang keras dan dilindungi cangkang keras seperti batu. Buahnya berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi kuning atau merah saat matang. Buah ketapang berbentuk pipih seperti telur dengan panjang 3,5–7 cm dan lebar 2–5,5 cm. Buah ketapang memiliki dua sayap sempit berukuran 3 mm yang terletak pada sepanjang sisi buah. Setiap buah mengandung satu biji ketapang (National Parks Board, 2021). Pohon ketapang memiliki banyak manfaat dan kegunaan. Kayunya digunakan sebagai bahan konstruksi, pembuatan furnitur, dan lemari. Biji ketapang merupakan biji yang dapat dikonsumsi langsung karena memiliki rasa yang enak seperti almond. Daun ketapang memiliki efek sudorifik (menyebabkan keringat) dan dapat digunakan untuk mengobati nyeri sendi akibat rematik. Kulit kayu dan daun ketapang mengandung tanin yang dapat dimanfaatkan untuk menyamak kulit, mewarnai kain, dan membuat tinta. Tanin tersebut juga bersifat astringen yang dapat mengobati disentri dan sariawan. Tanin juga dianggap bersifat diuretik (melancarkan buang air kecil) dan kardiotonik (menguatkan fungsi jantung) serta dapat dioleskan pada ruam kulit (Sosef, 1995).  Pustaka Sosef, M. S. M. (1995). Terminalia catappa L. Dalam R. H. M. J. Lemmens, I. Soerianegara, & W. C. (Eds.), Plant Resources of South-East Asia No 5(2): Timber trees; Minor commercial timbers. PROSEA Foundation, Bogor, Indonesia. Database record: prota4u.org/prosea. Thomson, L. & Evans, B. (2019). Terminalia catappa. The IUCN Red List of Threatened Species 2019: e.T61989853A61989855. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2019-3.RLTS.T61989853A61989855.en. Diakses pada 7 November 2025. National Parks Board. (2021). Terminalia catappa L. National Parks Board. Diambil dari https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/3/1/3181. Diakses pada 7 November 2025. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Terminalia catappa L. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/TECA. Diakses pada 7 November 2025.

Lerak (Sapindus rarak DC.)
Aboretum
28 Nov 2025

Lerak (Sapindus rarak DC.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Sapindales Famili : Sapindaceae Genus : Sapindus Spesies : Sapindus rarak DC. (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.) Status Konservasi IUCN  LC – Least Concern Deskripsi Lerak merupakan tumbuhan yang berasal dari Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Di Indonesia, tanaman ini memiliki banyak sebutan lain seperti Lamuran (Palembang, Sumatera), Rerek (Sunda), dan Lerak (Jawa). Lerak juga tersebar di berbagai daerah seperti Sumatera, Jawa, Lombok, dan Sumbawa (Widowati, 2003). Lerak dapat ditemukan di tempat dengan ketinggian hingga 1.600 m dpl dengan musim yang jelas. Lerak berhabitus pohon, dapat tumbuh tinggi hingga 42 m dengan diameter 100 cm. Batangnya berwarna kecokelatan hingga kehitaman dengan bulu halus berwarna kekuningan yang seiring waktu akan rontok. Daun lerak termasuk daun majemuk dengan panjang hingga 50 cm. Jumlah anak daun 9–13 pasang, helaian daun tidak berbulu, tangkai daun berbentuk bulat, agak pipih, dan menebal pada bagian pangkal. Panjang tangkai daun hingga 9 cm, sedangkan tangkai anak daun sepanjang 2–5 mm. Anak daun lerak tersusun hampir berhadapan hingga berseling. Helaian daun berbentuk lanset dengan tekstur seperti kertas (chartaceous), panjang 7–16 cm dan lebar 2–3,5 cm (Adema et al., 1994). Bunga lerak termasuk ke dalam golongan bunga majemuk dengan panjang mencapai 35 cm. Bunga lerak berbentuk zygomorphic (simetri bilateral) dan berwarna putih. Kelopak bunga lerak berbentuk pipih, lebar, bulat telur hampir bulat. Kelopak luar berukuran 2–3 mm dengan lebar 1,5–2 mm. Pada bagian luarnya tertutupi oleh rambut kuning kecokelatan. Kelopak bagian dalam berbentuk bulat telur terbalik dengan ukuran 3–4 mm dan lebar 1,8–2 mm. Mahkota bunga berjumlah 4 dengan bentuk lanset, bulat telur, hingga elips, berukuran 3 mm dan lebar 1–2 mm. Mahkota bunga bertangkai pendek dan pada bagian luarnya tertutup rambut panjang berwarna kuning kecokelatan (Adema et al., 1994). Lerak merupakan salah satu tumbuhan yang dikenal sebagai sabun alami karena mengandung saponin. Air rendaman buah lerak dapat digunakan untuk mencuci jerawat, sedangkan daging buahnya dapat dipakai sebagai obat kudis. Daging buah lerak dapat dimanfaatkan sebagai pengganti sabun untuk mencuci pakaian dan sebagai sampo untuk menghilangkan kutu rambut (Widowati, 2003). Pustaka Adema, F., Leenhouts, P. W., & van Welzen, P. C. (1994). Sapindaceae. Dalam Flora Malesiana: Series I, Spermatophyta: Flowering Plants, 11(3), 1–111. Rijksherbarium/Hortus Botanica, Leiden University. IUCN SSC Global Tree Specialist Group, Botanic Gardens Conservation International (BGCI), Lakhey, P. & Pathak, J. (2022). Sapindus rarak. The IUCN Red List of Threatened Species 2022: e.T150296444A152201937. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2022-1.RLTS.T150296444A152201937.en. Diakses pada 8 November 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Sapindus rarak DC. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:784673-1. Diakses pada 8 November 2025. Widowati, L. (2003). Sapindus rarak DC. Dalam R. H. M J. Lemmens & N. Bunyapraphatsara (Eds.), Plant Resources of South-East Asia No 12(3): Medicinal and poisonous plants 3. PROSEA Foundation, Bogor, Indonesia. Database record: prota4u.org/prosea.

Pronojiwo (Kopsia arborea Blume)
Aboretum
28 Nov 2025

Pronojiwo (Kopsia arborea Blume)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Ordo : Myrtales Famili : Apocynaceae Genus : Kopsia Spesies : Kopsia arborea Blume (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Pronojiwo merupakan tanaman yang berasal dari Australia, China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam (Yu et al., 2019). Selain dengan nama Pronojiwo, tanaman ini juga memiliki sebutan seperti Purnajiwa (Bali) dan Pranajiwa (Indonesia). Pronojiwo memiliki sebaran yang luas dan populasi yang besar serta tidak mengalami ancaman kepunahan, sehingga dinilai sebagai spesies dengan status konservasi Berisiko Rendah (LC) menurut IUCN.   Pronojiwo merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan ketinggian 1.000–2.000 m dpl (Sutomo dan Mukarromah, 2010). Pohon pronojiwo dapat tumbuh tinggi hingga 15 m dengan tajuk rapat. Batangnya memiliki diameter antara 0–30 cm dengan kulit kayu berwarna keabu-abuan dan cenderung mengelupas seiring usia. Hasil dari pengelupasan kulit batang ini membuat batang pronojiwo mengeluarkan getah berwarna putih. Bunga pronojiwo menghasilkan bau yang wangi. Buahnya soliter berisi satu biji berbentuk bulat telur dengan warna biru kehitaman, panjang 1,5–3 cm dan diameter 1–2 cm.  Pronojiwo dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan karena mengandung antioksidan alami. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Purwanto et al. (2017), diketahui bahwa ekstrak buah pronojiwo mengandung senyawa metabolit sekunder dari jenis senyawa flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, dan steroid. Pronojiwo juga dapat berperan sebagai penangkal racun, ekspektoran, dan tonikum yang dipercaya dapat menetralkan bisa ular dan TBC. Ekstrak etanol dari kulit batang pronojiwo dapat digunakan sebagai antimikroba seperti penghambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum (Daus et al., 2023). Di Bali sendiri, buah pronojiwo telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat tradisional yang memiliki efek untuk meningkatkan seksualitas pria karena mengandung komponen alkaloid yang dapat meningkatkan kadar testosteron plasma (Wirawan et al., 2023).   Pustaka Daus, S. D., Sapanca, P. L., & Ariati, P. E. P. (2023). Uji aktivitas ekstrak etanol kulit batang k.arborea terhadap jamur Fusarium oxysporum f. sp. lycopersici. AGRIMETA: Jurnal Pertanian Berbasis Keseimbangan Ekosistem, 13(25), 23–30. Purwanto, D., Bahri, S., & Ridhay, A. (2017). Uji aktivitas antioksidan ekstrak buah purnajiwa (Kopsia arborea Blume.) dengan berbagai pelarut. Kovalen, 3(1), 24–32. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Kopsia arborea Blume. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:79490-1/general-information.  Diakses pada 31 Oktober 2025. Sutomo, S., dan Mukarromah, L. (2010). Autekologi K. arborea (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn. (Fabaceae) di sebagian kawasan hutan bukit tapak Cagar Alam Batukahu Bali. Jurnal Biologi, 14(1), 24–28.   Wirawan, I. G. P., Sasadara, M. M. V., Jawi, I. M., Darmawati, I. A. P., Wijaya, I. N., Krisnandika, A. A. K., & Wirya, I. G. N. A. S. (2023). Balinese K. arborea (Kopsia arborea Blume.) extract stimulates male rats' sexual behavior and plasma testosterone level. Yu, S.-X., Qin, h., Botanic Gardens Conservation International (BGCI) & IUCN SSC Global Tree Specialist Group. (2019). Kopsia arborea. The IUCN Red List of Threatened Species 2019: e.T147643327A147643329. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2019-2.RLTS.T147643327A147643329.en. Diakses pada 30 Oktober 2025.

Sawo Kecik (Manilkara kauki (L.) Dubard)
Aboretum
28 Nov 2025

Sawo Kecik (Manilkara kauki (L.) Dubard)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Ebenales Famili : Sapotaceae Juss. Genus : Manilkara Adans. Spesies : Manilkara kauki L. Dubard  (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN  DD – Data Deficient Deskripsi Sawo kecik merupakan tanaman yang berasal dari Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku), Malaysia, Kamboja, Thailand, Vietnam, Filipina, Papua Nugini, dan Queensland (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Sawo kecik umumnya tumbuh di wilayah pesisir dengan iklim yang relatif kering. Sawo kecik termasuk pohon yang tahan terhadap kekeringan (wilayah dengan curah hujan rendah). Umumnya, sawo kecik tumbuh di tempat dengan ketinggian di bawah 500 m dpl (Lemmens, 1993). Pohon sawo kecik dapat tumbuh tinggi hingga 25 m dengan diameter hingga 100 cm. Batang utamanya sering kali bengkok dan memiliki percabangan yang rendah. Daun sawo kecik tersusun menggerombol pada bagian ujung ranting. Permukaan daun bagian bawah memiliki warna putih keperakan dengan tekstur seperti beludru yang halus dan lembut. Kuncup bunga sawo kecik berbentuk bulat telur. Kelopak bunganya berwarna hijau dengan panjang maksimal 7 mm. Bakal buah sawo kecik memiliki struktur seperti cakram (pangkalnya berbentuk seperti piringan) dengan permukaan halus dan tidak berbulu. Buah sawo kecik berbentuk bulat telur atau bulat telur terbalik dengan panjang maksimal 3,7 cm.  Pohon sawo kecik memiliki banyak manfaat. Kayu pohon sawo kecik memiliki kualitas yang baik, kuat, dan tahan lama. Biasanya kayunya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, furnitur atau mebel, dan sebagai sarana seni ukir. Sedangkan buahnya dapat dikonsumsi secara langsung oleh manusia. Bunga dan biji sawo kecik diyakini memiliki khasiat obat, sehingga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Selain itu, penanaman pohon sawo kecik biasanya dilakukan dengan tujuan estetika dan budaya. Pohon sawo kecik biasa dijumpai di dekat istana dan pura atau candi (Lemmens, 1993). Pustaka Lemmens, R. H. M. J., (1993). Manilkara kauki (L.) Dubard. Dalam I. Soerianegara & R. H. M. J. Lemmens (Eds.), Plant Resources of South-East Asia No 5(1): Timber trees; Major commercial timbers. PROSEA Foundation, Bogor, Indonesia. Database record: prota4u.org/prosea. Olander, S. B., Armstrong, K. E. & Wilkie, P. (2024). Manilkara kauki. The IUCN Red List of Threatened Species 2024: e.T61964393A61964395. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2024-1.RLTS.T61964393A61964395.en. Diakses pada 10 November 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Manilkara kauki (L.) Dubard. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:787653-1. Diakses pada 10 November 2025. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Manilkara kauki (L.) Dubard. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/MAKA3. Diakses pada 10 November 2025.

Winong/Binong (Tetrameles nudiflora R.Br.)
Aboretum
28 Nov 2025

Winong/Binong (Tetrameles nudiflora R.Br.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Cucurbitales Famili : Tetramelaceae Genus : Tetrameles Spesies : Tetrameles nudiflora R.Br. (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.) Status Konservasi IUCN  LC – Least Concern Deskripsi Winong merupakan salah satu tanaman yang berasal dari Australia, Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Papua Nugini, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam. Tanaman ini tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 1.000 m dpl (de Kok, 2024). Pohon winong dapat dimanfaatkan kulit kayu dan tanaman mudanya sebagai obat tradisional untuk meningkatkan kesehatan dan energi. Selain itu, juga digunakan untuk mengobati sembelit, penyakit hati (liver), dan rematik (Pha Tad Ke Botanical Garden, t.t.).  Pohon winong dapat tumbuh hingga 25–50 m dengan akar banir setinggi 2–4,5 m (kadang mencapai 6 m). Kulit batangnya berwarna abu-abu dengan permukaan yang kasar. Permukaan batang juga ditutupi oleh tonjolan kecil, runcing, atau duri kecil yang tumpul. Daun winong memiliki tangkai berbentuk silinder atau bulat torak dengan panjang tangkai mencapai 20 cm. Helai daunnya berbentuk hati, hati–bulat telur, atau hampir bulat. Daunnya memiliki panjang 10–26 cm dan lebar 9–20 cm. Permukaan daun bagian atas cenderung menjadi halus seiring bertambahnya usia daun. Sedangkan bagian bawah daun memiliki rambut halus yang jarang, terutama tumbuh di sepanjang tulang daun. Tulang daunnya berjumlah 3–5 yang menyebar dari pangkal daun (seperti menjari). Tepi daun bergerigi seperti mata gergaji dengan ujung daun runcing atau meruncing (Flora of China, t.t.). Bunga winong termasuk bunga berkelamin tunggal, artinya setiap pohon hanya memiliki bunga jantan atau bunga betina saja. Bunganya berwarna kehijauan. Bunga betina tidak memiliki tangkai dan tersusun dalam rangkaian bunga tipe bulir yang menggantung. Sedangkan bunga jantan bertangkai sangat pendek yang berbulu halus. Diameter bunga  sekitar 4 mm. Buah yang dihasilkan termasuk tipe kapsul dengan panjang 5–6 mm. Buahnya berbentuk seperti tempayan atau kendi. Permukaan buah terdapat 8 rusuk, terdapat kelenjar kecil, bagian atasnya terdapat mahkota bunga yang tetap menempel setelah bunga menjadi buah. Buah winong akan membuka bagian atasnya saat matang untuk melepaskan bijinya. Biji winong berukuran sangat kecil dan berwarna cokelat (eFlora of India, t.t.).   Pustaka de Kok, R. (2024). Tetrameles nudiflora. The IUCN Red List of Threatened Species 2024: e.T32376A67810951. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2024-1.RLTS.T32376A67810951.en. Diakses pada 12 November 2025. eFlora of India. (t.t.). Tetrameles nudiflora R. Br. https://efloraofindia.com/efi/tetrameles-nudiflora/. Diakses pada 12 November 2025.  Flora of China. (t.t.). Tetrameles nudiflora R. Brown. http://www.efloras.org/florataxon.aspx?flora_id=2&taxon_id=200014478. Diakses pada 12 November 2025. Pha Tad Ke Botanical Garden. (t.t.). Tetrameles nudiflora. https://www.pha-tad-ke.com/plant/tetrameles-nudiflora/. Diakses pada 12 November 2025.  Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Tetrameles nudiflora R.Br. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:316103-1. Diakses pada 12 November 2025.

Silver Dollar (Eucalyptus cinerea F.Muell. ex Benth.)
Aboretum
28 Nov 2025

Silver Dollar (Eucalyptus cinerea F.Muell. ex Benth.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Juss. Genus : Eucalyptus L'Hér Spesies : Eucalyptus cinerea F.Muell. ex Benth.  (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN  NT – Near Threatened Deskripsi Silver dollar merupakan tumbuhan yang berasal dari wilayah tenggara New South Wales hingga timur laut Victoria di Australia (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Silver dollar merupakan tanaman yang tahan dengan kekeringan setelah akarnya mapan atau dewasa. Saat baru ditanam, tanaman ini membutuhkan air yang cukup untuk menunjang pertumbuhan. Silver dollar tumbuh dengan baik di tempat dengan penyinaran penuh (cahaya matahari lebih dari 6 jam) dam media tanam dengan drainase baik (North Carolina State Extension, t.t.). Silver dollar memiliki tinggi 7,5–18 m. Termasuk tumbuhan evergreen (selalu hijau), memiliki kulit batang berwarna cokelat kemerahan dan mengelupas. Batangnya bertekstur kasar dan berserabut. Karena bentuk pohon yang unik dan estetik, ranting dan daunnya sering kali dijadikan oleh para penjual bunga dalam rangkaian bunga segar (Missouri Botanical Garden, t.t.). Silver dollar sering dimanfaatkan kulit kayunya oleh hewan seperti burung, tikus, atau tupai untuk membangun sarang karena sifatnya yang berserabut dan mudah mengelupas (Trees of Stanford & Environs, t.t.). Daun muda silver dollar berbentuk bulat dengan warna perak kebiruan dan berbentuk seperti koin besar. Daun silver dollar tumbuh secara berhadapan dengan jarak antar pasangan daun semakin lebar saat ranting terus tumbuh memanjang. Semakin dewasa, posisi daun yang awalnya berhadapan akan berubah menjadi berseling. Bunga dan buah silver dollar tumbuh pada ketiak daun. Bunga silver dollar memiliki 4–5 kelopak berwarna kuning, keemasan, atau putih (North Carolina State Extension, t.t.). Baik buah maupun ranting muda memiliki lapisan lilin biru muda yang memberikan kesan warna perak (Trees of Stanford & Environs, t.t.). Buah yang dihasilkan termasuk dalam tipe kapsul yang di dalamnya mengandung banyak biji-biji kecil.   Pustaka Fensham, R., Laffineur, B. & Collingwood, T. (2019). Eucalyptus cinerea. The IUCN Red List of Threatened Species 2019: e.T133378580A133378583. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2019-3.RLTS.T133378580A133378583.en. Diakses pada 11 November 2025. Missouri Botanical Garden. (t.t.). Eucalyptus cinerea. Missouri Botanical Garden. https://www.missouribotanicalgarden.org/plantfinder/plantfinderdetails.aspx?taxonid=282867. Diakses pada 11 November 2025.  North Carolina State Extension. (t.t.). Eucalyptus cinerea. North Carolina Extension Gardener Plant Toolbox. Diambil dari  https://plants.ces.ncsu.edu/plants/eucalyptus-cinerea/. Diakses pada 11 November 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Eucalyptus cinerea F.Muell. ex Benth. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:592798-1. Diakses pada 11 November 2025. Trees of Stanford & Environs. (t.t.). Eucalyptus cinerea, Argyle apple, mealy stringybark. Trees of Stanford & Environs. https://trees.stanford.edu/ENCYC/EUCcin.htm. Diakses pada 11 November 2025.  United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Eucalyptus cinerea F. Muell. ex Benth. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/EUCI80. Diakses pada 11 November 2025.

Gayam (Inocarpus fagifer (Parkinson.) F.R. Fosberg)
Aboretum
28 Nov 2025

Gayam (Inocarpus fagifer (Parkinson.) F.R. Fosberg)

Klasifikasi Kingdom : Plantae  Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta  Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Lindl. Genus : Inocarpus J.R. Forst. & G. Forst. Spesies : Inocarpus fagifer (Parkinson.) F.R. Fosberg (USDA) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Gayam merupakan tanaman berhabitus pohon yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Vanuatu, dan Tonga. Tanaman ini kemudian menyebar di berbagai wilayah seperti Pulai Caroline, Pulau Gilbert, Kepulauan Cook, Kepulauan Mariana, Kepulauan Marquesas, Kepulauan Marshall, dan Samoa (Kew). Pohon gayam tumbuh di dataran rendah tropis yang panas dan lembab pada ketinggian di bawah 500 m dengan curah hujan berkisar antara 1.500 – 4.300 mm/tahun. Suhu tahunan rata-rata sekitar 27 °C dengan suhu pada bulan terpanas berkisar antara 29,4 – 34,5 °C dan suhu pada bulan terdingin berkisar antara 20 – 23 °C. Pohon gayam dapat tumbuh di berbagai jenis tanah seperti tanah berkapur, tanah dengan kandungan gayam yang tinggi, lembah, dan rawa-rawa. Pohon gayam memiliki sistem perakaran yang kuat dan batang yang kokoh sehingga cukup stabil terhadap angin kencang. Akar yang kuat ini juga memungkinkan untuk menstabilkan tanah, terutaman kawasan dekat pantai dan sepanjang tepi sungai (PFAF). Pohon gayam dapat tumbuh tinggi mencapai 20 m. Pohon gayam mulai berbunga pada umur 3 – 5 tahun dan dapat menghasilkan 75 kg buah per pohon per tahun yang diperoleh dari pohon berusia 25 tahun atau lebih. Biji gayam dapat dikonsumsi dengan cara direbus atau dipanggang. Selain dikonsumsi secara langsung, biji gayam juga dimanfaatkan dalam pembuatan kue, roti, dan pudding. Gayam juga dimanfaatkan kulit batangnya sebagai obat-obatan. Infus kulit kayanya dapat dimanfaatkan untuk mengobati luka bakar, diare, dan masalah gigi pada bayi. Rebusan kulit kayanya juga digunakan untuk mengobati kudis. Ekstrak kulit kayu juga digunakan dalam pengobatan pneumonia. Kulit kayu bagian dalam yang dikeringkan dan dicampurkan dengan minyak kelapa dapat digunakan sebagai obat oles untuk patah tulang. Akar gayam juga dapat digunakan untuk mengobati sakit perut. Cairan dari batangnya juga dapat digunakan untuk mengobati nyeri pada tulang (PFAF). Pustaka   Plant For A Future https://pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Inocarpus+fagifer  Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:500944-1  The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/136055142/136055148  United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=INFA3

Jamblang (Syzygium cumini (L.) Skeels.)
Aboretum
28 Nov 2025

Jamblang (Syzygium cumini (L.) Skeels.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Myrtales Famili : Myrtales Juss. Genus : Syzygium P. Br. ex Gaertn. Spesies : Syzygium cumini (L.) Skeels.  (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Jamblang berasal dari Bangladesh, China, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, Sulawesi, dan Vietnam. Jamblang kemudian menyebar dan dibudidayakan secara luas di berbagai negara seperti Bolivia, Kuba, Republik Dominika, Florida, Guatemala, Haiti, Hawaii, Kenya, Filipina,Tanzania, Vanuatu, dan Venezuela. Jamblang merupakan pohon yang dapat hidup pada tempat dengan ketinggian 150 – 2.430 mdpl dan habitat di hutan, sabana, semak belukar, dan lahan basah. Pohon jamblang dapat tumbuh tinggi mencapai 25 m dengan tajuk yang menyebar. Kulit batang bagian luar berwarna coklat kekuningan agak pucat, putih atau abu-abu, dan kasar, sedangkan kulit bagian dalam kasar, tebal, dan berserat. Daun pohon jamblang berbentuk oblong-elips, elips, atau bulat telur-lanset. Panjang helai daun 6 – 17 cm dan lebar 2,5 – 8,5 cm, ujung daun runcing hingga membulat (ujung daun sering melengkung ke bawah), sedangkan panjang tangkai daun 0,8 – 2,0 cm. Bunga pohon jamblang termasuk dalam bunga majemuk dan biasanya tumbuh secara lateral di ketiak daun. Panjang bunga sekitar 10 cm dengan warna mahkota bunga putih, berbentuk elips, panjang 4 mm, dan lebar 3 mm. Benang sari berwarna putih dengan panjang 4 – 6 mm, sedangkan panjang putik 5 – 6 mm. Buah pohon jamblang berwarna ungu tua – merah, berbentuk elips atau lonjong dengan panjang 2,4 – 3,5 cm dan lebar 2 cm. Setiap buah menghasilkan satu biji dengan daging buah berwarna putih. Jamblang dapat dimanfaatkan sebagai makanan, obat-obatan, pakan ternak, dan bahan bakar (Kew). Pustaka  Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:601603-1  The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/49487196/145821979   United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=SYCU