Publikasi
Arboretum
Pusat Publikasi & Berita Digital Arboretum
Kumpulan artikel, studi konservasi, dan laporan kegiatan terbaru dari laboratorium alam hulu DAS Cimanuk.
Dokumen Profil Arboretum
Klik untuk melihat detail dokumen PDF
Dokumen Profil Arboretum
Klik untuk melihat detail dokumen PDF
Arsip Arboretum
Jambu Bol (Syzygium malaccense (L.) Merr. & L.M. Perry)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Juss Genus : Syzygium P. Br. ex Gaertn. Spesies : Syzygium malaccense (L.) Merr. & L.M. Perry (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Jambu bol merupakan jenis tanaman yang berasal dari Kamboja, Laos, Malaysia, Papua Nugini, Queensland, Thailand, Vanuatu, dan Vietnam. Jambu bol kemudian menyebar dan dibudidayakan di berbagai wilayah seperti Bangladesh, Indonesia (Kalimantan, Jawa, dan Sumatera), Africa, Cuba, Haiti, Hawaii, Jamaika, Filipina, Sri Lanka, Taiwan, dan Venezuela. Jambu bol dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 20 – 1.200 mdpl dengan habitat hutan, sabana, Semak belukar, padang rumput asli, lahan basah dan terestrial. Tumbuh sebagai pohon, jambu bol biasanya memiliki tinggi 6 – 18 m dengan tajuk rapat dan kulit batang halus bersisik. Pohon jambu bol memiliki daun berbentuk lonjong hingga elips dengan panjang 16 – 34 cm dan lebar 5 – 15 cm, bagian ujung dan pangkal daun runcing, serta panjang tangkai daun 1,5 – 1,5 cm. Bunga pohon jambu bol berwarna merah tua, panjang kelopak bunga 15 mm dan lebar 8 mm. Mahkota bunga berbentuk elips dengan panjang 10 mm dan lebar 8 mm. Buah jambu bol berwarna putih kuning, kemerahan, atau bercak merak muda. Buahnya berbentuk bulat telur atau lonjong dengan panjang 2,5 – 6,0 cm (Kew). Buah jambu bol merupakan buah yang dapat dikonsumsi manusia dan dapat diperjualbelikan. Daunnya kaya akan senyawa fenolik dan memiliki kemampuan antioksidan yang tinggi (Savi et al., 2020). Pustaka Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:601907-1 Savi, A., Calegari, M. A., Calegari, G. C., Santos, V. A. Q., Wermuth, D., da Cunha, M. A. A., & Oldoni, T. L. C. (2020). Bioactive compounds from Syzygium malaccense leaves: optimization of the extraction process, biological and chemical characterization. Acta Scientiarum. Technology, 42. https://www.redalyc.org/journal/3032/303265671038/303265671038.pdf The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/136055196/136139387 United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=SYMA2
Jambu Mawar (Syzygium jambos (L.) Alston)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Juss Genus : Syzygium P. Br. ex Gaertn. Spesies : Syzygium jambos (L.) Alston (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Jambu mawar merupakan spesies tumbuhan yang berasal dari Indonesia (Kalimantan, Jawa, dan Sumatera), Malaysia, Kamboja, Chona, Myanmar, Laos, Thailand, dan Vietnam. Tanaman ini kemudian menyebar dan dibudidayakan secara luas di berbagai negara seperti Bangladesh, Bolivia, Brazil, Africa, Guatemala, Hawaii, Jamaika, Kenya, Meksiko, Filipina, Sri Lanka, Tanzania, Vanuatu, dan Venezuela. Jambu mawar dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 30 – 2.350 m. Jambu mawar memiliki habitus pohon dan dapat tumbuh tinggi hingga 15 m. daun jambu mawar berbentuk lanset dengan ukuran helai daun 20,0 x 5,5 cm. Perbungaan mengelompok (5 – 6 bunga) di bagian ujung atau tumbuh secara terminal dengan panjang tangkai bunga 1 cm. Mahkota bunga berjumlah 4 dengan ukuran tiap kelopak 1,8 x 1,2 cm. Panjang tangkai sari 4 cm dan panjang tangkai putik 4,5 cm. Buah jambu mawar berbentuk buah pir dengan diameter hingga 4,5 cm, berwarna putih atau kekuningan, dan berbiji satu. Jambu mawar dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan karena termasuk buah yang dapat dikonsumsi manusia dan dapat dijadikan sebagai bahan obat-obatan. Kayu dari pohon jambu mawar juga dappat dijadikan sebagai bahan bakar (Kew). Pustaka Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:601802-1 The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/49487025/144800316 United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=SYJA
Jambu Mete (Anacardium occidentale L.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Anacardiaceae R. Br. Genus : Anacardium L. Spesies : Anacardium occidentale L. (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Jambu mete merupakan jenis tanaman yang berasal dari Bolivia, Brazil, Kolombia, Ekuador, Peru, Suriname, dan Venezuela. Jambu mete kemudian menyebar di berbagai negara seperti Bangladesh, Kamboja, Afrika, Kongo, Guatemala, Malaysia, Meksiko, Myanmar, Sri Lanka, Sudan, Indonesia, Taiwan, Tanzania, Thailand, Vietnam, dan Zimbabwe. Jenis ini memiliki habitat di hutan, sabana, lahan basah, dan terestrial. Jambu mete dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 0 – 900 mdpl. Tumbuh sebagai pohon, jambu mete dapat tumbuh tinggi hingga 12 m, namun sering dijumpai pohon jambu mete yang memiliki tinggi tidak lebih dari 5 m. pohon jambu mete memiliki percabangan yang menyebar dengan tajuk ringan. Daun jambu mete berbentuk lonjong hingga elips dengan panjang 7,5 – 15 cm dan lebar 4,5 – 12 cm. Panjang tangkai daun 2 cm, bagian ujung daun membulat, sedangkan bagian pangkal daun runcing. Termasuk dalam bunga majemuk, panjang malai bunga jambu mete berkisar antara 10 – 18 cm. Panjang tangkai bunga 2 – 5 mm dengan panjang kelopak bunga 3 – 5 mm. Mahkota bunga berbentuk lanset dengan panjang 7 – 15 mm, berwarna putih krem dengan garis-garis merah kemudian berubah menjadi merah. Panjang benang sari 2 – 12 mm dan panjang tangkai putik 4 mm. Buah jambu mete berdaging, berbentuk seperti ginjal, dan berwarna coklat zaitun, merah, atau kuning dengan panjang 1,9 – 2,7 cm. Buah jambu mete berbiji satu, berbentuk ginjal, testa atau kulit biji berwarna coklat kemerahan, dan memiliki dua kotiledon besar berwarna putih. Jambu mete biasa dimanfaatkan sebagai bahan makanan, baik manusia maupun hewan, bahan bakar, bahan perkakas, dan obat-obatan (Kew). Pustaka Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:319068-2/general-information The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/60761600/60761604 United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=ANOC
Kayu Manis (Cinnamomum verum J. Presl)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Laurales Famili : Lauraceae Juss. Genus : Cinnamomum Schaeff. Spesies : Cinnamomum verum J. Presl (USDA) Status Konservasi IUCN VU - Vurnerable Deskripsi Kayu manis merupakan tanaman yang berasal dari Sri Lanka. Tanaman ini kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai negara seperti Angola, Argentina, Bangladeh, Indonesia, Kamboja, Hawai, India, Myanmar, Filipina, Taiwan, Tanzania, dan Vietnam. Kayu manis dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 200 – 800 mdpl (Kew). Tanaman ini tumbuh di tempat dengan suhu udara sekitar 27 °C dengan curah hujan 2.000 – 2.500 mm/tahun dan pH tanah 5,5 – 6,5. Pohon kayu manis dapat tumbuh tinggi mencapai 12 m. Daunnya berwarna merah cerah ketika muda dan berubah menjadi hijau seiring bertambahnya usia daun. Duduk daun berhadapan, bentuk daun lonjong bulat telur, elips, atau lanset dengan panjang 5 – 19 cm dan lebar 5,0 – 9,5 cm. Bunga kayu manis berukuran kecil dengan warna putih kekuningan atau kehijauan. Buahnya berwarna coklat atau hitam dengan panjang 1,3 cm (Kew). Kulit batang kayu manis sangat terkenal sebagai bahan penyedap pada makanan dan digunakan juga dalam perasa tembakau dan dupa. Minyak atsiri yang diperoleh dari daun dan kulit kayu manis juga dapat digunakan sebagai penyedap pada makanan. Minyak kulit kayu manis dapat digunakan dalam berbagai sediaan dibidang kedokteran gigi dan farmasi. Ekstrak kayu manis juga dipercaya sebagai tonik, obat penenang, dan obat sakit sakit kepala. Ekstrak kayu manis juga dapat ditambahkan sebagai bahan aromatik pada produk kosmetik seperti parfum dan sabun (PFAF). Pustaka Plants for A Future (PFAF) https://pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Cinnamomum+verum#google_vignette Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:463752-1 The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/15441323/15441339 United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=CIVE2
Kesemek (Diospyros kaki L. f.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Ebenales Famili : Ebenaceae Gurke. Genus : Diospyros L. Spesies : Diospyros kaki L. f. (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Kesemek berasal dari Assam, China, Hainan, Taiwan, dan Vietnam. Kesemek kemudian menyebar ke berbagai negara, seperti Bangladesh, Bulgaria, Jepang, Korea, Filipina, dan Queensland (Kew). Kesemek biasanya tumbuh di tempat dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl. Di Jawa, kesemek dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 800 – 1.500 mdpl dan memiliki curah hujan yang tinggi (Yuniastuti et al., 2021). Kesemek biasanya memiliki tinggi 6 – 7 m dengan sebaran tajuk lebih dari 4,5 – 6,0 m. Pohon kesemek memiliki duduk daun berseling, berbentuk bulat telur – elips atau lonjong – bulat telur dengan panjang daun 7,5 – 25 cm dan lebar 5 – 10 cm. Daun kasar dan mengkilat di permukaan atas dengan permukaan bawah berwarna cokelat kehijauan (Paudel & Heo, 2018). Buah kesemek biasanya langsung dikonsumsi, dikeringkan, dan diolah menjadi selai atau cuka, serta dijadikan bahan obat-obatan (Dong et al., 2023). Pustaka Dong, Y., Sun, W., Yue, Z., Gong, B., Yang, X., Wu, K., Liu, C., & Xu, Y. (2023). Phenotypic diversity and relationships of fruit traits in persimmon (Diospyros kaki Thunb.) germplasm resources. Agriculture, 13(9), 1804. https://www.mdpi.com/2077-0472/13/9/1804 Paudel, N., & Heo, K. (2018). Morphology and anatomy: leaf, petiole and seed of Disospyros kaki Thunb.(Ebenaceae). International Journal, 4(1), 1. https://www.researchgate.net/profile/Niroj-Paudel/publication/322152357_Morphology_and_anatomy_leaf_petiole_and_seed_of_Disospyros_kaki_Thunb_Ebenaceae/links/5a487a87458515f6b056a5ef/Morphology-and-anatomy-leaf-petiole-and-seed-of-Disospyros-kaki-Thunb-Ebenaceae.pdf Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:322553-1 The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/173538/197891373 United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=DIKA2 Yuniastuti, E., Saputro, M. A. A., & Delfianti, M. N. I. (2021). Characterization of persimmon (Diospyros kaki L.) as biodiversity originated from Indonesia. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 824, No. 1, p. 012040). IOP Publishing. https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/824/1/012040/pdf
Petai (Parkia speciosa Hassk.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Lindl. Genus : Parkia R. Br. Spesies : Parkia speciosa Hassk. (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Petai merupakan tanaman dari keluarga legum yang berasal dari Brunei Darussalam, Indonesia (Jawa, Kalimantan, dan Sumatra), Malaysia (Sarawak dan Sabah), Filipina, Singapura, dan Thailand. Tanaman ini dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 0 – 1.400 mdpl. Petai tumbuh sebagai pohon dengan ketinggian 15 – 40 m (IUCN). Petai dapat memiliki diameter batang hingga 100 cm (Abdullah et al., 2011). Pohon petai memiliki daun majemuk meyirip, berbentuk oblong dengan pinnae atau anak daun utama berjumlah 14 – 24 pasang dan helai daun berjumlah 31 – 38 pasang per pinnae. Pohon petai berbunga majemuk dengan letak bunga terminal atau di ujung ranting (Zaini & Mustaffa, 2017). Buah petai berbentuk polong dan tiap polong berisi 15 – 18 biji. Biji berwarna hijau muda dan dibungkus dalam kulit biji di dalam polong. Biji petai memiliki bau yang khas, berbentuk elips, dan dapat dimakan. Biji petai mengandung protein, asam lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin (Ahmad et al., 2019). Petai dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan bahan obat-obatan tradisional untuk mengobati penyakit hati atau liver, edema, radang ginjal, diabetes, dan sebagai obat cacing. Hal ini dikarenakan petai dipercaya sebagai antioksidan, antidiabetik, anti-hipertensi, antitumor, antiulkus, dan antimikroba (Zaini & Mustaffa, 2017). Pustaka Abdullah, M. H. R. O., Ch’ng, P. E., & Lim, T. H. (2011). Some physical properties of Parkia speciosa seeds. In International Conference on Food Engineering and Biotechnology (Vol. 9, No. 1, pp. 43-47). http://surl.li/sbvyo Ahmad, N. I., Rahman, S. A., Leong, Y. H., & Azizul, N. H. (2019). A review on the phytochemicals of Parkia Speciosa, stinky beans as potential Phytomedicine. Journal of Food Science and Nutrition Research, 2(3), 151-173. http://surl.li/sbvzb The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/153891869/153917800 United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=PASP15 Zaini, N. A. & Mustaffa, F. (2017). Parkia Speciosa as Valuable, Miracle of Nature. Asian J Med Health, 2, 1-9. http://surl.li/sbvmz
Sawo Mentega (Pouteria campechiana (Kunth) Baehni)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Ebenales Famili : Sapotaceae Juss. Genus : Pouteria Aubl. Spesies :Pouteria campechiana (Kunth) Baehni (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Jenis pohon ini mempunyai sebaran yang sangat luas dan populasi yang besar. Pohon sawo mentega memiliki penyebaran di dunia diantaranya Kuba, Hawai, Jamaika, Puerto Rico, Bahamas, Florida, Costa Rica, Kolombia, Guatemala, Venezuela, Filipina, Asia Tenggara, dan Indonesia. Saat ini tidak mengalami ancaman besar dan belum teridentifikasi adanya ancaman signifikan di masa depan. Oleh karena itu, spesies ini dinilai sebagai spesies yang paling tidak beresiko (IUCN). Sawo mentega atau biasa yang dikenal dengan nama sawo ubi, alkesah dan kanistel. Sawo mentega merupakan pohon yang berukuran sedang dengan tinggi rata-rata 8 m, akan tetapi bisa mencapai tinggi 27 meter sampai 30 meter. Kulit kayu bagian luar berwarna kelabu tua, berusuk halus, mengeluarkan getah susu (lateks) apabila dilukai. Kayunya yang berwarna coklat keabu-abuan hingga kemerah-merahan bertekstur halus, kuat, keras dan berbobot sedang hingga berat. Daun sawo ini tumbuh secara majemuk atau berkumpul di ujung ranting. Bentuk daunnya bulat telur dan memanjang. Ukuran panjangnya sekitar 6 cm sampai 25 cm dengan lebar 2,5 cm sampai 8 cm. Warna daun sawo mentega hijau dan berkilap. Tangkai daunnya berukuran 5 cm sampai 25 cm. Pohon sawo mentega juga memiliki bunga yang tumbuh di ketiak daun. Bunganya dapat tumbuh secara tunggal maupun majemuk. Kelopak bunganya berjumlah 5 helai dengan warna putih, serta mengeluarkan aroma harum. Ukuran dan bentuk buah sawo mentega sangat bervariasi, tergantung dari kultivarnya. Kultivar yang baik akan menghasilkan ukuran buah yang lebih besar, agak lonjong dengan kulit yang berkilau. Tekstur kulitnya hampir sama seperti paprika kuning. Berat satu buahnya dapat mencapai 400 gram. Daging buahnya agak pucat dan liat. Namun kultivar yang baik memiliki tekstur yang lebih seperti cream atau mousse. Rasa dagingnya manis dan gurih, mengingatkan pada krim telur atau egg custard. Daging buah bisa terdapat 1 sampai 6 buah biji berukuran besar dan berwarna coklat. Buah sawo mentega memiliki aroma harum dan manis yang samar - samar, tidak terlalu kuat, misalnya seperti aroma pada buah mangga. Pemanfaatan tanaman sawo mentega yang banyak dimanfaatkan bagian buahnya. Buahnya dapat dimakan langsung dan dapat diolah. Olahan buah sawo mentega dapat dijadikan seperti selai, marmalade, bahan pancake, dan tepung. Selain itu, bagian kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan. Kandungan pada buah sawo mentega diantaranya thiamine, niasin, karbohidrat, vitamin C, vitamin A, fosfor, kalsium dan lin sebagainya. Kandungan tersebut bermanfaat bagi kesehatan seperti menjaga kesehatan tulang, menjaga stamina, menjaga kesehatan mata, melancarkan sistem pencernaan, mencegah infeksi dan menurunkan risiko diabetes. Pustaka IPBiotics https://ipbiotics.apps.cs.ipb.ac.id/index.php/tumbuhan/1147 Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:209714-2 Rimba Kita https://rimbakita.com/buah-alkesa/ The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/146704277/146779773# United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=POCA23
Dewandaru (Eugenia uniflora L.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Juss. Genus : Eugenia L. Spesies : Eugenia uniflora L. (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Dewandaru merupakan salah satu jenis tanaman yang berasal dari Argentina, Bolivia, Brazil, Paraguay, dan Uruguay. Jenis ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah seperti Amerika, Angola, Ghana, India, Sri Lanka, Taiwan, Indonesia, dan Jepang. Dewandaru dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 1.000–1.850 m dpl (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.), suhu rata-rata 12–32 °C, curah hujan rata-rata 1.200–2.000 mm/tahun. Dewandaru termasuk tumbuhan yang cukup adaptif dan dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Meskipun demikian, dewandaru menyukai lingkungan yang subur, lembab, dan mendapatkan sinar matahari penuh (Plants For A Future, t.t.). Berhabitus pohon kecil atau semak besar, dewandaru dapat tumbuh tinggi hingga 7 m. Memiliki batang bercabang-cabang yang tumbuh di dekat tanah. Daun dewandaru muda berwarna ungu tua atau merah. Sedangkan daun yang sudah tua berwarna hijau tua, mengkilap, berbentuk oval, meruncing pada bagian ujung, dan berukuran panjang 2,5–6 cm serta lebar 1,5–3 cm (Plants For A Future, t.t.). Bunga dewandaru berukuran 1,5–2,5 cm dan berwarna putih serta tumbuh secara soliter. Kelopak bunga (sepal) berjumlah 4 dengan panjang 0,45 cm dan lebar 0,3 cm, berbentuk seperti segitiga–bulat telur, dan melengkung ke belakang. Sedangkan mahkota bunga (petal) memiliki ukuran sekitar 0,6 (panjang) dan 0,3 cm (lebar). Mahkota bunga berbentuk elips–bulat telur terbalik (melebar pada bagian ujung), juga melengkung ke belakang (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Buahnya berlekuk, berwarna merah, dan memiliki satu biji di dalamnya. Buah dewandaru memiliki diameter 1,5–2,5 cm. Dewandaru dapat berbuah mulai usia 3–4 tahun dan dapat berbuah beberapa kali dalam satu tahun. Dewandaru dapat dimakan secara langsung dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan karena kandungan vitamin C yang tinggi. Buah yang belum masak juga dapat digunakan sebagai pengganti acar dan campuran saus karena rasanya yang asam. Daunnya dapat digunakan sebagai pengganti teh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Victoria et al. (2012), menunjukkan bahwa ekstrak daun dewandaru menunjukkan aktivitas antioksidan dan antimikroba terhadap bakteri dan jamur. Pustaka Macdonald, F. & Canteiro, C. (2021). Eugenia uniflora (amended version of 2021 assessment). The IUCN Red List of Threatened Species 2021: e.T60330325A206965467. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2021-3.RLTS.T60330325A206965467.en. Diakses pada 1 November 2025. Plant For A Future. (t.t.). Eugenia uniflora L. Plant For A Future. Diambil dari https://pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Eugenia+uniflora. Diakses pada 1 November 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Eugenia uniflora L. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:596263-1. Diakses pada 1 November 2025. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Eugenia uniflora L. In The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/EUUN2. Diakses pada 1 November 2025. Victoria, F. N., Lenardão, E. J., Savegnago, L., Perin, G., Jacob, R. G., Alves, D., da Silva, W. P., da Motta, A. S., & Nascente, P. (2012). Essential oil of the leaves of Eugenia uniflora L.: antioxidant and antimicrobial properties. Food and chemical toxicology, 50(8), 2668-2674.
Jakaranda (Jacaranda mimosifolia D. Don)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Asteridae Ordo : Scrophularies Famili : Bignoniaceae Juss. Genus : Jacaranda Juss. Spesies : Jacaranda mimosifolia D. Don (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN VU – Vulnerable Deskripsi Jakaranda merupakan tumbuhan yang berasal dari Argentina dan Bolivia. Tumbuhan ini dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 2.600 m dpl (Hills, 2020). Jakaranda tumbuh dengan baik di tempat yang mendapat sinar matahari penuh dan jenis tanah agak berpasir dengan drainase baik dan pH sedikit asam. Jakaranda masih dapat tumbuh pada tanah liat atau lempung, namun jakaranda tidak dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang berat dengan drainase buruk (tanah yang mudah tergenang). Di habitat aslinya (iklim tropis atau subtropis hangat), yakaranda dapat tumbuh sangat cepat hingga 3 m per tahun (North Carolina State Extension, t.t.). Berhabitus pohon, jakaranda memiliki tinggi 10–20 m dengan diameter 10–20 cm (Hills, 2020). Yakaranda memiliki kulit batang yang tipis dan berwarna abu-abu kecokelatan. Ketika muda, tekstur kulit pohonnya halus, namun seiring bertambahnya usia, kulitnya akan menjadi bersisik halus. Ranting jakaranda berwarna cokelat kemerahan muda. Daunnya termasuk daun majemuk ganda menyirip, di mana daun utama memiliki tangkai daun yang bercabang menyirip, dan di setiap cabang terdapat anak-anak daun yang tersusun menyirip. Panjang daun majemuk ini dapat mencapai 45 cm (BioNET-EAFRINET, t.t.). Cabang daunnya bisa tumbuh sepanjang 12,7 cm dengan anak-anak daun berukuran kecil, sekitar 0,6 cm, dan berwarna hijau (Gilman et al., 2019). Jakaranda memiliki bunga berwarna ungu yang muncul serentak pada awal musim semi. Tajuknya yang berbentuk seperti vas bunga, menambah nilai estetika pada pohon, sehingga banyak digemari untuk ditanam di pinggir jalan. Buah yang dihasilkan berbentuk bulat seperti diska atau cakram dengan panjang 7,6 cm, berwarna cokelat dan berwarna cokelat (Gilman et al., 2019). Pustaka BioNET-EAFRINET. (t.t.). Jacaranda mimosifolia. Invasive Plants. https://keys.lucidcentral.org/keys/v3/eafrinet/weeds/key/weeds/Media/Html/Jacaranda_mimosifolia_(Jacaranda).htm. Diakses pada 12 November 2025. Gilman, E. F., Watson, D. G., Klein, R. W., Koeser, A. K., Hilbert, D. R., & McLean, D. C. (2019). Jacaranda mimosifolia: Jacaranda. UF/IFAS. https://edis.ifas.ufl.edu/publication/ST317. Diakses pada 12 November 2025. Hills, R. (2020). Jacaranda mimosifolia. The IUCN Red List of Threatened Species 2020: e.T32027A68135641. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2020-3.RLTS.T32027A68135641.en Diakses pada 12 November 2025. North Carolina State Extension. (t.t.). Jacaranda mimosifolia. North Carolina Extension Gardener Plant Toolbox. Diambil dari https://plants.ces.ncsu.edu/plants/jacaranda-mimosifolia/. Diakses pada 12 November 2025. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Jacaranda mimosifolia D. Don. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/JAMI. Diakses pada 12 November 2025.