Publikasi

Arboretum

banner-aboretum
Konservasi BBWS Cimanuk Cisanggarung

Pusat Publikasi & Berita Digital Arboretum

Kumpulan artikel, studi konservasi, dan laporan kegiatan terbaru dari laboratorium alam hulu DAS Cimanuk.

Dokumen Profil Arboretum

Klik untuk melihat detail dokumen PDF

Koleksi Digital

Arsip Arboretum

Total Materi 66 Publikasi
Angsana (Pterocarpus indicus Wild.)
Aboretum
20 Aug 2025

Angsana (Pterocarpus indicus Wild.)

  Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Lindl.  Genus : Pterocarpus Jacq. Spesies : Pterocarpus indicus Willd. (USDA) Status Konservasi IUCN EN - Endangered Deskripsi Angsana banyak berasal dari Kepulauan Bismarck, Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Maluku), Kamboja, China, Myanmar, Papua Nugini, Filipina, Pulau Santa Cruz, Pulau Solomon, Taiwan, Thailand, Vanuatu, dan Vietnam. Hingga kini angsana sudah menyebar ke berbagai wilayah, seperti Pulau Andaman, Bangladesh, Komoro, India, Kenya, dan Sri Lanka (Kew). Angsana dapat tumbuh pada ketinggian 600 – 1.300 mdpl (IUCN) dengan kisaran curah hujan 1.300 – 4.000 mm/tahun (Thomson, 2006). Angsana dapat tumbuh tinggi hingga 25 – 35 m. Daun pohon angsana berwarna hijau muda hingga hijau gelap, bentuk daun menyirip dengan duduk daun berselang-seling. Bunga pohon angsana berwarna kuning cerah hingga jingga. Buah pohon angsana berbentuk polong dan bersayap tipis, berbentuk cakram dengan lebar 5 – 6 cm dan tumbuh berkelompok, berwarna hijau muda dan berubah menjadi cokelat ketika masak. Biji pohon angsana berbentuk bulat telur dengan panjang 6 – 8 mm (Thomson, 2006). Pohon angsana banyak dimanfaatkan kayunya sebagai bahan baku lemari, furniture, roda gerobak, alat musik, dan keperluan konstruksi (IUCN). Pustaka Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:516487-1  The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/33241/2835450  Thomson, L. A. (2006). Pterocarpus indicus (narra). Species profiles for Pacific Island agroforestry. www. traditionaltree. org, 17. https://www.doc-developpement-durable.org/file/Culture/Arbres-Bois-de-Rapport-Reforestation/FICHES_ARBRES/Arbres-non-classes/Pterocarpus-narra.pdf  United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=PTIN2 

Bambu Kuning (Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl.)
Aboretum
20 Aug 2025

Bambu Kuning (Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl.)

  Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Subkelas : Commelinidae Ordo : Cyperales Famili : Poaceae Barnhart. Genus : Bambusa Schreb. Spesies : Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. Wendl.  (USDA) Status Konservasi (NatureServe Explorer) No Status Rank Deskripsi Bambu kuning merupakan spesies asli yang berasal dari Kamboja, China, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Kini, bambu kuning sudah menyebar dan dibudidayakan di berbagai negara, seperti Bangladesh, Brazil, Kolombia, Costa Rica, India, Indonesia, Mexico, Papua Nugini, Vanuatu, dan Venezuela. Bambu kuning dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 100 – 1.500 mdpl. Tanaman ini dapat tumbuh tinggi hingga 16 m atau lebih, membentuk rumpun berkayu, dan mampu membuat percabangan yang menjalar. Batang muda bambu kuning biasanya memiliki panjang 15 – 30 cm dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Batang bambu kuning dewasa memiliki diameter 10 – 12 cm, berwarna hijau cerah atau kuning. Daun bambu kuning berbentuk lanset, runcing, panjang helai daun 10 – 25 cm dengan lebar 1 – 3 cm. Jumlah helai daun pada tiap rumpun berkisar antara 8 – 9 helai daun. Bambu kuning merupakan tanaman yang jarang berbunga. Bunga bambu kuning tersusun atas bulir-bulir kecil (spikelet) dengan panjang 15 – 20 mm dan tersusun atas 6 – 10 bunga. Bambu kuning dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, pakan ternak, bahan bakar, industri kayu, dan obat-obatan (Kew). Pustaka  NatureServe Explorer https://explorer.natureserve.org/Taxon/ELEMENT_GLOBAL.2.135869/Bambusa_vulgaris  Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:392574-1/general-information  United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=BAVU2 

Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana Miq.)
Aboretum
20 Aug 2025

Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana Miq.)

  Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Fagales Famili : Casuarinaceae Genus : Casuarina Spesies : Casuarina junghuhniana Miq. (KEW) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi   Cemara gunung (Casuarina junghuniana) merupakan jenis cemara yang berasal dari daerah pegunungan di bagian timur Indonesia. Tanaman ini tersebar di Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, dan di beberapa kelompok pulau di sekitar Sunda. Cemara gunung termasuk ke dalam suku Casuarinaceae. Spesies dari suku Casuarinaceae ini memiliki habitus pohon dengan tingginya dapat mencapai ukuran 15-25 meter. Diameter batang pohonnya mencapai 30-50 cm. Cemara gunung memiliki pertumbuhan yang cepat dan memiliki kemampuan yang baik untuk memperbaiki kandungan nitrogen. Daunnya berbentuk jarum dengan duduk daun berhadapan atau berseling dengan braktea yang bersatu. Terdapat daun pelindung buah dengan bentuk segitiga terbalik dengan lebar 0,5 mm. Bunga cemara gunung termasuk ke dalam bunga majemuk. Dalam satu karangan bunga terdiri dari 7-8 bunga. Sedangkan untuk buahnya termasuk ke dalam buah kering dengan ukuran 5-6 mm x 2-3 mm dengan ujung segitiga lancip. Cemara tergolong ke dalam tanaman berbiji terbuka (gymnospermae), sehingga memiliki strobilus. Strobilus jantan dan betina berada dalam satu pohon. Strobilus jantan memiliki bentuk menyerupai kerucut, sedangkan strobilus betina memiliki bentuk bulat. Untuk letaknya, strobilus-strobilus tersebut terletak axillaris atau ada pada ketiak-ketiak daun. Cemara gunung biasaanya tumbuh di daerah lereng gunung berapi dengan ketinggian 1.500 mdpl sampai 3.100 mdpl, namun dapat juga tumbuh dengan ketinggian di bawah 100 m. Cemara gunung merupakan tanaman pionir pada kondisi tanah rawan longsor atau konsentrasi asam sulfat rendah, seperti di Asia Tenggara dan Australia. Cemara gunung ditanam untuk meningkatkan kesuburan tanah, memulihkan tanah  terdegradasi, dan berfungsi sebagai penahan angin. Pohon cemara gunung juga menjadi salah satu spesies yang kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kayu bakar, tiang, dan membantu memperbaiki konservasi tanah.   Pustaka   Lindungi Hutan https://lindungihutan.com/blog/cemara-gunung/ Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:159877-1 The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/175671725/187270368  

Puspa (Schima wallichii (DC.) Korth)
Aboretum
20 Aug 2025

Puspa (Schima wallichii (DC.) Korth)

  Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Theales Famili : Theaceae Genus : Schima Spesies : Schima wallichii (DC.) Korth. (Plantamor) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Puspa merupakan spesies yang tersebar luas yang ditemukan di Cina (S Guangxi, S Guizhou, SE Xizang, S Yunnan), Bhutan, India utara, Laos, Myanmar, Nepal, Thailand dan Vietnam. Kehadirannya di Brunei, Indonesia, Papua Nugini dan Filipina dicatat oleh Orwa dkk (2009). Puspa adalah pohon yang tumbuh di berbagai iklim, habitat dan tanah. Persyaratan cahayanya moderat. Puspa sering berkelompok tumbuh di hutan primer dataran rendah hingga pegunungan. Umumnya tumbuh di hutan terganggu dan hutan sekunder, semak belukar dan padang rumput, bahkan tumbuh di daerah yang tergenang air payau (IUCN). Daun pohon puspa berbentuk lonjong, terletak di dahan dan tersusun secara spiral. Saat masih muda daun puspa berwarna kemerahan dan saat tua berwarna hijau muda. Bunga pohon puspa berbentuk tunggal dan memiliki bilangan kelopak berjumlah 5, mahkota dan putik saling melekat, memiliki benang sari yang cukup banyak dan mengumpul di tengah. Bunganya berwarna putih susu, sementara bagian tengah yaitu benang sari dan putih berwarna kuning. Bunga pohon puspa jika dilihat sekilas hampir mirip dengan bunga melati. Kehadiran pohon puspa memiliki manfaat bagi masyarakat di berbagai negara. Pohon ini termasuk serbaguna dan memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan hidup. Pohon puspa dapat digunakan sebagai pohon peneduh dan pelindung tanaman di area perkebunan. Di wilayah timur laut India, pohon ini memiliki peran dalam menjaga kelestarian tanah dan air pada perkebunan kapulaga. Puspa dapat digunakan untuk reboisasi dan penanaman di suatu daerah guna keperluan konservasi air dan tanah. Pohon puspa memiliki kemampuan untuk tumbuh cepat, menghasilkan tajuk yang lebat dan mengurangi pertumbuhan gulma di sekitar area pohon. Selain itu, pohon ini layak dijadikan tanaman reboisasi karena dapat menarik berbagai satwa liar yang dapat menyebarkan benih-benih seperti burung-burung maupun kelelawar. Kayu pohon puspa pun memiliki manfaat karena memiliki bobot berat, keras dan cukup kuat dalam ketahanan hama dan rayap. Pemanfaatannya umumnya dapat berupa furniture, bangunan kapal perahu, kolom dan balok, kerangka bangunan perahu hingga jembatan.   Pustaka Plantamor https://plantamor.com/species/info/schima/wallichii#gsc.tab=0  The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/63077/62085289 

Cempedak (Artocarpus integer (Thunb.) Merr.)
Aboretum
20 Aug 2025

Cempedak (Artocarpus integer (Thunb.) Merr.)

  Klasifikasi Kingdom : Plantae  Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta  Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Hamamelididae Ordo : Urticales Famili : Moraceae Gaudict. Genus : Artocarpus J.R. Spesies : Artocarpus integer (Thunb.) Merr. (USDA) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Cempedak merupakan tanaman yang berasal dari Indonesia (Kalimantan, Jawa, Maluku, dan Sulawesi), Malaysia, dan Thailand. Cempedak kemudian menyebar dan dibudidayakan ke berbagai negara seperti Assam, Laos, dan Vietnam (Kew). Cempedak merupakan tanaman berhabitus pohon yang dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 1.200 mdpl, curah hujan 2.200 – 3.500 mm/tahun, suhu 22 – 33 °C, dan pH 4,5 – 6,0. Pohon cempedak dapat tumbuh tinggi mencapai 35 m dengan diameter batang hingga 55 cm ketika dewasa. Tajuk pohon cempedak berbentuk bulat. Kulit batang berwarna abu-abu gelap atau cokelat kemerahan. Daunnya berbetntuk oval dan kasar. Buah cempedak termasuk dalam buah majemuk, berwarna kuning sampai cokelat, runcing, dan memiliki daging buah yang manis ketika masak. Ketika masih mentah, buah cempedak biasa dijadikan sebagai bahan sayuran. Biji yang telah masak juga bisa dikonsumsi dengan cara dipanggang atau direbus. Daun muda cempedak dapat dimanfaatkan sebagai sayur. Kulit kayu cempedak menghasilkan serat yang dapat digunakan dalam pembuatan tali. Kayu pohon cempedak juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar dan dijadikan sebagai bahan konstruksi. Resin yang dihasilkan oleh pohon cempedak juga dijadikan sebagai bahan pernis (PFAF). Pustaka   Plant For A Future https://pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Artocarpus+integer  Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:582622-1  The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/61220334/61220337  United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=ARIN17 

Cermai (Phyllanthus acidus (L.) Skeels)
Aboretum
20 Aug 2025

Cermai (Phyllanthus acidus (L.) Skeels)

  Klasifikasi Kingdom : Plantae  Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta  Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Juss. Genus : Phyllanthus L. Spesies : Phyllanthus acidus (L.) Skeels (USDA) Status Konservasi IUCN Belum terdata Deskripsi Cermai atau ceremai (Phyllanthus acidus) merupakan jenis pohon kecil yang berasal dari Brazil dan tersebar di beberapa wilayah seperti Amerika Tengah, India, sampai dengan Asia Tenggara. Tingginya mencapai 10 m dengan kulit kasar berwarna abu-abu. Cabangnya memiliki panjang 25-52 cm dengan 25-40 helai daun. Daunnya menyirip dengan panjang 20-40 mm. Bunganya kecil berwarna merah muda dalam bentuk bantalan padat pada ruas cabang tanpa daun pada kayu tua. Buahnya bulat dengan 6–8 rusuk, berwarna kuning keputihan menyerupai lilin, berdiameter hingga 2,5 cm, bergantungan sendiri atau dalam untaian. Daging buah berwarna keputihan denganrasa yang masam dan di tengahnya terdapat inti yang keras dengan 4–6 butir biji.  Cermai tumbuh dengan baik di daerah tropis pada ketinggian rendah dan sedang di tempat-tempat dengan musim kemarau yang pendek atau panjang. Jenis ini lebih menyukai dataran rendah tropis yang panas dan lembap. Di Brasil timur laut, Cermai ditemukan di hutan pantai dan di Asia Tenggara dibudidayakan di tempat-tempat yang lembap, hingga ketinggian 1.000 m. Pohon Cermai memiliki periode berbuah yang musiman akan tetapi ditemukan bahwa terjadi pembuahan sepanjang tahun pada daerah Jawa. Buahnya matang dalam waktu 90-100 hari. Pohon Cermai mulai menghasilkan panen yang banyak pada usia 4 tahun. Buah Cermai biasanya dimakan langsung atau di beri sedikit garam untuk menetralisir rasa masamnya. Selain itu, buahnya juga dapat di olah menjadi bahan acar. Di Indonesia, daun muda dari pohon cermai dianggap sebagai sayur. Selain itu, kayu dari pohon cermai dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan perkakas. Pustaka   Apps World Agroforestry https://apps.worldagroforestry.org/treedb/AFTPDFS/Phyllanthus_acidus.PDF   Brooks, R., Goldson-Barnaby, A. and Bailey, D., 2020. Nutritional and medicinal properties of Phyllanthus acidus L.(Jimbilin). International journal of fruit science, 20(sup3), pp.S1706-S1710.   Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:194610-2   United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.sc.egov.usda.gov/plant-profile/PHAC3

Delima (Punica granatum L.)
Aboretum
20 Aug 2025

Delima (Punica granatum L.)

  Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Myrtales Famili : Punicaceae Bercht. Genus : Punica L. Spesies : Punica granatum L. (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Delima merupakan jenis tanaman yang berasal dari Afghanistan, Iran, Iraq, Pakistan, Turki, dan Turkmenistan. Tanaman ini sudah banyak tersebar dan dibudidayakan di berbagai negara, seperti Albania, Bangladesh, California, India, Italia, Mexico, Korea, Laos, Sri Lanka, dan Vietnam. Pohon delima dapat tumbuh pada ketinggian 1.000 – 2.775 mdpl. Umumnya delima tumbuh sebagai perdu atau pohon kecil dengan bagian cabang yang terkadang berduri. Daun pohon delima berbentuk oblong hingga lanset dengan panjang helaian daun hingga 7,5 cm dan duduk daun berhadapan. Bunga pohon delima berwarna jingga hingga merah atau merah tua dengan lebar kurang lebih 2,5 cm. Buah pohon delima berbetuk bulat dengan diameter 5 – 10 cm, berwarna kuning atau merah. Biji buah delima tersusun rapat dengan diameter 3 – 5 mm dengan lapisan luar yang tebal, berair, dan berwarna kemerahan atau transparan. Buah delima seringkali dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau obat-obatan (Kew). Pustaka Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:554129-1  The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/63531/173543609  United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=PUGR2   

Ganitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb.)
Aboretum
14 Aug 2025

Ganitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb.)

  Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Viridiplantae Superdivisi : Embryophyta Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Malvales Famili : Elaeocarpaceae Genus : Elaeocarpus Spesies : Elaeocarpus ganitrus Roxb. (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Elaeocarpus ganitrus Roxb. atau biasa dikenal dengan Ganitri, Jenitri dan Janitri. Pohon Ganitri memiliki batang utama yang jelas, cabang dan ranting. Pohon dewasa mampu mencapai tinggi 25-30 m. Batangnya berwarna coklat dengan permukaan yang kasar. Percabangannya mendatar sampai agak menurun. Daunnya bertipe tunggal, tepinya bergerigi, ujungnya runcing dan pangkalnya runcing. Bunganya bertipe majemuk yang tersusun dalam malai. Bunganya sangat unik karena memiliki ujung mahkota yang menyerupai rumbai. Buahnya berbentuk bulat dengan diameternya 0,5 - 2 cm dan berwarna biru cerah. Warna biru cerah ini menjadi ciri khas yang unik. Bijinya keras, berbentuk bulat dan memiliki pola permukaan yang kasar, berlekuk-lekuk menjorok ke dalam dengan lima garis bujur yang jelas. Bijinya sering disebut rudraksha. Ganitri secara alami dijumpai tumbuh bersama jenis-jenis tumbuhan lainnya dalam suatu vegetasi. Ganitri menyukai tempat yang cukup teduh akibat dari naungan pohon-pohon lainnya dan juga lembap. Ganitri bukan jenis tumbuhan pioneer yang memulai terjadi suatu vegetasi. Ganitri tumbuh pada tempat dengan ketinggian 100 - 1500 m dpl, pada tanah subur hingga moderat. Pohon ganitri memiliki banyak manfaat baik pada kulit, batang, daun, buah maupun bijinya.  Berbagai fakta hasil penelitian berhasil dihimpun dari berbagai sumber ilmiah dan disajikan secara ringkas sebagai berikut: Lumatan buah dengan dosis 100 mg/Kg dapat digunakan sebagai obat analgesik (Almeida dkk, 2001). Nain dkk (2012) meneliti lebih lanjut dengan pendekatan metode yang berbeda menemukan konsentrasi efektif (sebagai analgesik) ekstrak daun dengan metanol sebesar 200 mg/Kg. Ekstrak dari buah jenitri dapat meringankan depresi (Dadhich, 2011). Ekstrak dari daun jenitri menunjukkan aktivitas antioksidan yang baik (mengandung clotrimazole, etamiphylline, 2′-O-Methylcytidine, aspidocarpine dan leupeptin) (Kumar dkk, 2008; Das dkk, 2017). Aktivitas anti penuaan (antiaging) dilaporkan oleh Tilak dkk (2017). Ekstrak biji Jenitri dapat digunakan untuk obat anti malaria dan anti kanker (Gholse dkk, 2017). Rangkaian biji-biji jenitri dalam bentuk kalung atau gelang yang dikenakan ternyata memancarkan gelombang elektromagnetik, paramagnetik, dan bahan-bahan induktif yang dapat berfungsi sebagai anti hipoglikemik, anti ulsirogenik, dan anti mikroba (Gupta dkk, 2016). Aktivitas anti mikroba diungkap lebih mendalam oleh Kumar dkk (2011). Pandey dkk (2016) menemukan fakta dari hasil penelitian bahwa ekstrak daun jenitri signifikan dan efektif membunuh beberapa mikroba dari golongan bakteri dan jamur. Ekstrak jenitri dapat digunakan sebagai penurun tekanan darah (Hardainiyan dkk, 2015). Aktivitas anti hipertensi ini mulai dikenali oleh Sakat dkk (2009) dalam penelitiannya. Ekstrak biji dengan air menghasilkan manfaat sebagai obat antidiabetes (Hule dkk, 2011). Tripathi (2014) melanjutkan pengembangan anti diabetes atau anti hiperglikemia ini dengan hasil ditemukan 16 senyawa aktif. Secara uji faramsi, ekstrak biji jenitri ini setara obat anti diabetes glybenclamide. Ekstrak biji dengan etanol dapat menyembuhkan aterosklerosis pada hewan coba (tikus) yang menderita kolesterol tinggi (Jain dkk, 2017). Jenitri dilaporkan memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah sebagai obat untuk gejala asma dan gangguan pernafasan (Singh dkk, 2000; Joshi dkk, 2014). Ekstrak batang dengan kloroform menunjukkan hasil yang signifikan sebagai agen anti peradangan pada konsentrasi 500 ug/ml (Lakshmi dkk, 2016). Ekstrak daun, kulit batang, dan buah jenitri dipercaya dapat menjadi obat liver. Selain itu, menurut ilmu pengobatan tradisional masyarakat India, berbagai pola garis pada cangkang biji memiliki fungsi pengobatan dan terapi yang berbeda-beda (Pankaj dkk, 2017; Tilak dkk, 2017). Penelitian melaporkan bahwa jenitri ini juga dapat menjadi obat migrain. Selain itu, telah diketemukan senyawa utamanya berupa elaeocarpidine, elaeocarpine, epielaeocarpiline, isoelaeocarpine, alloelaeocarpiline, rudrakine, gallic acid, ellagic acid, dan linoleic acid (Pant dkk, 2013). Berdasarkan penelitian Peiris (2007), ekstrak jenitri juga dapat mengobati diare dan disentri. Secara mitologi dan spiritual, jenitri dipercaya mempunyai daya menyeimbangkan sistem tubuh, melancarkan peredaran darah, dan bahkan mampu meningkatkan konsentrasi dan daya kerja otak melalui gelombang elektromagnetik yang dihasilkan (Rashmi dkk, 2014; Tripathy dkk, 2016). Pada pertanaman agroforestri hutan rakyat, kayu jenitri ternyata juga dimanfaatkan masyarakat untuk kayu gergajian untuk bahan bangunan (Siarudin dan Widiyatno, 2013). Pustaka IPBiotics https://ipbiotics.apps.cs.ipb.ac.id/index.php/tumbuhanObat/740#:~:text=Pohon%20dengan%20tinggi%20mencapai%2025,daun%20menyirip%2C%20dan%20berwarna%20hijau.  LPDP UGM https://lpdpugm.or.id/tumbuhan-nusantara-jenitri-si-buah-biru-dengan-aneka-manfaat/  Plantamor https://plantamor.com/species/info/elaeocarpus/ganitrus#gsc.tab=0 

Pucuk Merah, Bibir Merah, Minyak Kelat (Syzygium oleana)
Aboretum
14 Aug 2025

Pucuk Merah, Bibir Merah, Minyak Kelat (Syzygium oleana)

  Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Myrtales Famili : Myrtales Genus : Syzygium Spesies : Syzygium myrtifolium Walp  Syzygium oleina Wight    Syzygium campenallum in Fl. Ned. Ind. 1(1): 451 (1855)   Eugenia oleina Wight,    Eugenia parva C.B.Rob.    Eugenia sinubanensis Elmer    Syzygium campanellum Miq.   Syzygium campanulatum Korth.    Syzygium campanulatum var. longistylum Chantar. & J.Parn.,    Syzygium sinubanense (Elmer) Diels  (KEW) (POWO 2019)   Status Konservasi IUCN (2023) NE – Not Evaluated  Deskripsi Syzygium myrtifolium atau dikenal sebagai “Pucuk Merah” atau “Bibir Merah” adalah tanaman hias dari keluarga Myrtaceae yang memiliki persebaran alami di Asia Tenggara, termasuk Bangladesh, Borneo, Jawa, Malaya, Myanmar, Filipina, Sumatera, dan Thailand. Habitat tumbuhan ini berada di hutan primer dan sekunder dataran rendah, di hutan pantai, dekat rawa air tawar dan di sepanjang tepi sungai (POWO, 2019). Umumnya tanaman pucuk merah memiliki tinggi 0,75-3 m. Daunnya saat masih pucuk berwarna kuning, orange kemerahan lalu berubah menjadi merah kecokelatan lalu hijau ketika dewasa. Bunganya mirip tepung berwarna kuning sampai putih, dengan perbungaan bercabang panjangnya sampai 4 cm. Buahnya yang berbentuk bulat hingga elipsoid berwarna ungu tua atau kehitaman, dengan lebar sekitar 9 mm (Nurasyikin, et al., 2019; Salsabila, 2020; Haryanti et al., 2021). Pucuk merah banyak digunakan sebagai tanaman hias yang mudah dibudidayakan. Tingginya minat pemanfaatan tanaman pucuk merah sebagai tanaman hias sehingga memiliki nilai ekonomis yang berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat melalui jual beli tanaman hias. Tanaman pucuk merah memiliki manfaat luas, mulai dari estetika hingga kesehatan. Sebagai tanaman hias, pucuk merah sangat diminati karena daun mudanya berwarna merah cerah yang menambah keindahan di berbagai lanskap. Di bidang kesehatan, kandungan fitokimia dalam daun seperti flavonoid, alkaloid, dan tanin memberikan manfaat antioksidan, antibakteri, antijamur, dan antidiabetes, yang mendukung penggunaannya dalam pengobatan tradisional dan produk antiseptik. Selain itu, pucuk merah berperan dalam mitigasi lingkungan dengan menyerap karbon, menahan tanah untuk mencegah longsor, dan mengurangi kebisingan. Tanaman ini juga digunakan sebagai bahan ajar dalam kegiatan reboisasi serta dalam upacara adat Hindu di Bali. Daunnya bahkan dimanfaatkan sebagai bioherbisida, sedangkan buahnya digunakan sebagai pewarna alami dan sirup, menjadikan pucuk merah tanaman yang kaya fungsi dan nilai ekonomi tinggi (Setiawan, 2023).  Pustaka Haryanti D, Budyaningrum L, Denisa E, Hanik NR. 2021. Identifikasi Hama dan Penyakit pada Tanaman Pucuk Merah (Syzygium oleana) Di Desa Nglurah Tawangmangu. Florea : Jurnal Biologi dan Pembelajarannya 8(1): 39-47. Mudiana, D., & Ariyanti, E. E. (2021). Syzygium myrtifolium Walp. flowering stages and its visitor insects. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 22(8). Nurasyikin, Maimunah S, Soleha U, Heryani. 2019. Teknologi Tepat Guna Sirup Buah Pucuk Merah Mudah dan Aman. Aktualita Jurnal Penelitian Sosial Dan Keagamaan 9(1): 32-48. POWO. 2023. Plants of the World Online. Facilitated by the Royal Botanic Gardens, Kew. Published on the Internet; http://www.plantsoftheworldonline.org/ Diakses Oktober 2024 Salsabila FS, 2020. Efektivitas ekstrak daun pucuk merah (Syzygium myrtifolium Walp.) sebagai antimikroba terhadap Salmonella typhi. (Undergraduate Thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim). Setiawan, D. A. (2023). Botani, ekologi, fitokimia, bioaktivitas, dan pemanfaatan pucuk merah (Syzygium myrtifolium Walp.) di Indonesia: Suatu Kajian Pustaka (Doctoral dissertation, IAIN Metro).