Publikasi
Arboretum
Pusat Publikasi & Berita Digital Arboretum
Kumpulan artikel, studi konservasi, dan laporan kegiatan terbaru dari laboratorium alam hulu DAS Cimanuk.
Dokumen Profil Arboretum
Klik untuk melihat detail dokumen PDF
Dokumen Profil Arboretum
Klik untuk melihat detail dokumen PDF
Arsip Arboretum
Kalpataru (Ficus religiosa L.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingkom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Hamamelididae Ordo : Urticales Famili : Moraceae Gaudich. Genus : Ficus L. Spesies : Ficus religiosa L. (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Kalpataru merupakan salah satu jenis tanaman berhabitus pohon yang berasal dari Bangladesh, India, Pakistan, Nepal, Myanmar, Thailand, dan Malaysia. Pohon kalpataru memiliki arti pohon kehidupan, biasanya juga disebut sebagai pohon bodhi atau pohon hayat. Pohon ini dapat tumbuh tinggi mencapai 30 m (Lukhey et al., 2022). Pohon kalpataru memiliki percabangan batang model holtum atau monopodial dengan batang tidak bercabang (Lindasari et al., 2015). Pohon kalpataru memiliki potensi medis dalam perawatan infeksi respirasi dan gangguan gastrointestinal. Kalpataru mengandung oroxin yang dapat mengurangi perkembangan prediabetes menjadi diabetes 66,7% tanpa merusak hati (hepatotoksisitas) dan kenaikan berat badan (Pandit et al., 2010). Selain itu, pohon kalpataru diketahui memiliki manfaat untuk mengobati sakit kulit, luka bakar, penyakit syaraf, jantung, diabetes, gangguan pencernaan, dan gigitan ular. Pohon kalpataru juga mengandung flavonoid, tanin, terpenoid, sterol, vitamin K, oktakosanol dan kandungan lain. Beberapa senyawa yang dikandung ini bersifat antifungi, antiplasmodial, antiulcerogenic, dan antioksidan (Nurjaya, 2015 dalam Susanti et al., 2020). Pustaka Lakhey, P., Pathak, J., IUCN SSC Global Tree Specialist Group & Botanic Gardens Conservation International (BGCI). (2022). Ficus religiosa. The IUCN Red List of Threatened Species 2022: e.T150222331A152201512. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2022-1.RLTS.T150222331A152201512.en. Diakses pada 30 Oktober 2025. Lindasari, A. M., Sari, L. E., Indriyani, E., Sulistiono, S., & Rahmawati, I. (2025, September). Model Arsitektur Percabangan Famili Moraceae Di Sumber Jembangan Wates Kediri. In Prosiding Seminar Nasional Kesehatan, Sains dan Pembelajaran, 5(1), 713–720. Pandit, R., Phadke, A., & Jagtap, A. (2010). Antidiabetic effect of Ficus religiosa extract in streptozotocin-induced diabetic rats. Journal of Ethnopharmacology, 128(2), 462–466. doi: 10.1016/j.jep.2010.01.025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Ficus religiosa L. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:853563-1. Diakses pada 30 Oktober 2025. Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:853563-1 Susanti, T., Musyaddad, K., Oryza, D., Utami, W., & Ash, M. A. (2020). Tumbuhan khas di kawasan Candi Muaro Jambi dalam kajian etnobotani dan potensi ekonomi. Al-Kauniyah: Jurnal Biologi, 13(2), 192–208. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Santalum album L. In The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/FIRE3 . Diakses pada 30 Oktober 2025.
Kecapi (Sandorium koetjapi (Burm. f.) Merr.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Meliaceae Juss. Genus : Sandorium Cav. Spesies : Sandorium koetjapi (Burm. f.) Merr. (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Kecapi merupakan jenis tanaman yang berasal dari Asia Tenggara, tepatnya di Brunei Darussalam, Indonesia (Sumatera, Maluku, Papua, Sulawesi, dan Kalimantan), Malaysia, Papua Nugini, dan Filipina. Pohon kecapi dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 1.200 m dpl (Barstow, 2018). Berhabitus pohon, kecapi dapat tumbuh tinggi hingga 50 m dengan akar tunjang yang kuat. Batang pohon kecapi berbentuk silindris lurus dengan cabang yang rendah. Pohon kecapi yang sudah tua dapat membentuk akar banir dengan tinggi hingga 3 m. Kulit batang berwarna abu-abu dengan permukaan yang halus, namun pada beberapa pohon juga ditemukan kulit yang mengelupas seperti serpihan atau memiliki retakan atau celah. Cabang yang masih muda biasanya memiliki banyak rambut halus berwarna cokelat. Daun kecapi termasuk dalam golong daun majemuk. Daunnya bertangkai panjang yang tersusun berseling dan spiral. Setiap daun memiliki 3 daun kecil (anak daun) yang berbentuk elips hingga lonjong dengan ujung runcing, pangkal membulat, dan tepi yang rata atau sedikit bergelombang. Helaian anak daun kecapi yang terletak di ujung daun memiliki panjang 6–26 cm dan lebar 3–16 cm, sedangkan anak daun kecapi yang terletak di samping memiliki ukuran lebih kecil, yaitu panjang 4–20 cm dan lebar 2–15 cm. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau mengkilap, sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna hijau pucat dan tertutup oleh rambut halus berwarna cokelat. Daun kecapi yang telah tua berubah warna menjadi merah cerah sebelum mati atau gugur. Bunga kecapi termasuk bunga majemuk dengan tipe perbungaan malai. Panjang malai dapat mencapai 15–30 cm. Bunga kecapi berwarna kuning kemerahan, hijau kekuningan. atau putih kuning dengan bau harum. Bunganya berukuran 1–1,3 cm dengan lima buah mahkota bunga yang terpisah atau bebas. Buah kecapi berwarna kuning atau kecokelatan, berbentuk bulat atau bola pipih dengan diameter 5–8 cm. Kulit buah kecapi memiliki permukaan yang keriput, berbulu halus, dan mengandung getah berwarna putih susu. Daging buahnya mengandung banyak air dengan rasa yang asam hingga manis. Dalam satu buah, terdapat 3–5 biji berwarna cokelat, berbentuk oval hingga elips, dan berukuran 2–3,5 cm. Keben memiliki buah yang dapat langsung dikonsumsi manusia. Buahnya juga dapat diolah menjadi permen, selai, manisan, atau dijadikan perasa dalam masakan. Pohon kecapi juga dapat dimanfaatkan sebagai pohon peneduh. Kayunya juga dapat dimanfaatkan untuk konstruksi, pertukangan, dan pembuatan perkakas rumah tangga. Daun segar yang ditempelkan ke kulit dipercaya bersifat sudorifik (pemicu keringat) untuk membantu menurunkan demam. Daunnya yang direbus juga dapat diminum sebagai obat demam. Kulit batang yang dihaluskan dapat digunakan sebagai obat kurap. Akar pohon kecapi juga dapat dimanfaatkan sebagai obat diare, meredakan kejang, mengatasi kembung, mengobati sakit perut, dan berfungsi sebagai tonik kesehatan bagi ibu setelah melahirkan (Sotto, 1991). Pustaka Barstow, M. (2018). Sandoricum koetjape. The IUCN Red List of Threatened Species 2018: e.T61803664A61803682. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2018-1.RLTS.T61803664A61803682.en. Diakses pada 5 November 2025. National Parks Board. (2025). Sandorium koetjapi (Burm.f.) Merr. National Parks Board. Diambil dari https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/3/1/3109. Diakses pada 6 November 2025. Sotto, R.C. (1991). Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr. Dalam E. W. M. Verheij & R. E. Coronel (Eds.), Plant Resources of South-East Asia No 2: Edible fruits and nuts. PROSEA Foundation, Bogor, Indonesia. Database record: prota4u.org/prosea. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Sandoricum koejtape (Burm. f.) Merr. In The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/SAKO4. Diakses pada 5 November 2025.
Kemenyan (Styrax benzoin Dryand.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Ebenales Famili : Styracaceae DC. & Spreng. Genus : Styrax L. Spesies : Styrax benzoin Dryand. (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Kemenyan merupakan tanaman yang berasal dari Indonesia (Jawa, Kalimantan, dan Sumatera), Laos, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Pohon kemenyan dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 10–1.500 m dpl (de Kok, 2024). Pohon kemenyan memiliki habitat di hutan primer campuran (spesies yang heterogen) dan hutan yang pernah mengalami campur tangan manusia. Pada literatur lain menyebutkan pohon kemenyan tumbuh dengan baik di tempat yang subur dengan ketinggian 100–1.600 mdpl (National Parks Board, 2021). Pohon kemenyan dapat tumbuh tinggi mencapai 34 m dengan akar banir kecil. Perlukaan pada kulit kayunya akan memicu keluarnya getah yang memiliki aroma harum. Daun pohon kemenyan memiliki tangkai, bentuk daun bulat telur hingga lonjong atau lanset. Daunnya memiliki panjang 6–20 cm dan lebar 2–9 cm. Permukaan daun bagian bawah tertutup oleh rambut halus berwarna putih. Tunas bunga kemenyan memiliki panjang 13–20 cm yang tumbuh pada bagian ujung ranting atau ketiak daun. Setiap tunas bunga akan menghasilkan bunga bertangkai, berwarna putih, dan berbau harum. Buah kemenyan termasuk buah yang tidak pecah saat matang (indehiscent). Buahnya berbentuk pipih dengan lebar 2–3,8 cm. Setiap buah kemenyan mengandung 1 atau 2 biji di dalamnya. Biji kemenyan berwarna cokelat pucat atau kusam dengan ukuran 1,5–2 cm. Kemenyan dapat dimanfaatkan sebagai sarana dalam upacara adat. Kemenyan dibakar dalam ritual pemanggilan arwah, seperti yang dilakukan masyarakat Desa Sugiharjo Kecamatan Batang Kuis (Kustioro & Mailin, 2023). Di PakPak Bharat, masyarakat menggunakan kemenyan yang telah dibakar sebagai obat tradisional untuk mengobati luka terbuka, gatal, atau luka karena terkena benda tajam (Harahap, 2019). Pustaka de Kok, R. (2024). Styrax benzoin. The IUCN Red List of Threatened Species 2024: e.T160993469A213399106. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2024-1.RLTS.T160993469A213399106.en. Diakses pada 6 November 2025. Harahap, M. I. M. (2019). Pengalaman Masyarakat Pakpak Bharat Merawat Luka Menggunakan Kemenyan. Jurnal Maternitas Kebidanan, 4(2), 62–72. Kustioro, K. Y., & Mailin, M. (2023). Nilai-nilai Sosial dalam Tradisi Bakar Kemenyan Pada Masyarakat Desa Sugiharjo Kecamatan Batang Kuis. Al-Mada: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 6(3), 426–439. National Parks Board. (2021). Styrax benzoin Dryand. National Parks Board. Diambil dari https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/4/7/4752. Diakses pada 6 November 2025. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Styrax benzoin Dryand. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/STBE4. Diakses pada 6 November 2025.
Loa (Ficus racemosa L.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingkom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Hamamelididae Ordo : Urticales Famili : Moraceae Gaudich. Genus : Ficus L. Spesies : Ficus racemosa L. (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN LC - Least Concern Deskripsi Pohon loa merupakan salah satu jenis tanaman yang berasal dari Pakistan dan bagian utara Australia (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Pohon loa dapat tumbuh tinggi mencapai 15–20 m. Batangnya berbentuk silindris dengan warna abu-abu. Tumbuh secara monopodial, pohon loa memiliki banyak percabangan dengan permukaan batang yang halus. Morfologi pohon loa yang seperti ini, membuat pohon loa sangat cocok dijadikan tanaman konservasi karena memiliki akar tunggang yang kuat bercabang, sehingga mampu mengikat tanah dengan baik. Pohon loa memiliki manfaat ekologis karena kemampuan daya serap airnya yang tinggi, sehingga sangat cocok ditanam di tepi sungai untuk mencegah erosi dan banjir. Sedangkan tajuknya yang rapat dapat menahan air hujan agar tidak langsung jatuh mengikis tanah, juga sebagai habitat satwa arboreal dan burung (Ulfah et al., 2015). Pohon loa memiliki daun tunggal bertangkai, tulang daun menyirip, susunan daun berseling. Daunnya berbentuk lanset, ujung daun meruncing (acutus), pangkal daun tumpul (obtusus), tepi daun rata (integer), dan permukaan daun halus, licin, dan kadang berkilau (glaber) (Rahmawati et al., 2025). Bunga loa memiliki bentuk syconium atau jenis perbungaan yang tumbuh langsung dari batang dengan bagian dasar bunga yang menyatu, sehingga bunga tidak terlihat dari luar. Bunga berwarna cokelat dan berubah menjadi merah ketika matang. Buah loa berwarna merah muda saat matang dengan banyak biji kecil berwarna cokelat yang tersebar di dalam daging buah yang berwarna putih (Febriana et al., 2015). Buah loa merupakan buah yang tumbuh menggerombol pada batang utama (cauliflory). Memiliki rasa yang manis sedikit hambar, buah loa dapat dikonsumsi secara langsung atau dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan obat tradisional. Pustaka Botanic Gardens Conservation International (BGCI) & IUCN SSC Global Tree Specialist Group. (2019). Ficus racemosa. The IUCN Red List of Threatened Species 2019: e.T145362959A145371147. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2019-2.RLTS.T145362959A145371147.en. Diakses pada 30 Oktober 2025. Febriana, S. P., Sudiarta, N. P., Hardina, H., & Kartini, L. P. (2025). Organoleptic Quality of Jam Made from Loa Fruit (Ficus Racemosa). Indonesian Journal of Applied and Industrial Sciences, 4(5), 631–650. Rahmawati, I., Arganata, F. D., khoirun Nadzifah, B., Fahriza, M. R., Ula, A. I., & taufan Insani, G. (2025). Variasi Morfologi Daun Tumbuhan Ficus di Sumber Jembangan Kediri. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya (JB&P), 12(1), 102–107. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Syzygium cumini (L.) Skeels. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:853540-1. Diakses pada 30 Oktober 2025. Ulfah, M., Rahayu, P., & Dewi, L. R. (2015). Kajian morfologi tumbuhan pada spesies tanaman lokal berpotensi penyimpan air: Konservasi air di Karangmanggis, Boja, Kendal, Jawa Tengah. Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia, 1(3), 418–422. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Ficus racemosa L. The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/FIRA. Diakses pada 30 Oktober 2025.
Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Laurales Famili : Lauraceae Genus : Eusideroxylon Spesies : Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn. (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.) Status Konservasi IUCN VU – Vulnerable Deskripsi Ulin merupakan salah satu tanaman asli dari Indonesia, tepatnya di Kalimantan dan Sumatera (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Ulin tumbuh subur di tempat dengan curah hujan tinggi, kisaran 2.500–4.000 mm/tahun. Ulin juga tumbuh subur di tempat yang memiliki drainase yang baik, di lembah, lereng bukit, atau punggung bukit dengan tanah yang lembab. Ulin ditemukan di tempat dengan ketinggian 500–625 m dpl (Kostermans et al., 1993). Pohon ulin dapat tumbuh tinggi mencapai 50 m dengan akar banir mencapai diameter 220 cm. Kulit batangnya berwarna abu-abu kecokelatan dan mengelupas dalam potongan kecil dengan bentuk hampir persegi. Daunnya berbentuk elips hingga bulat telur dengan panjang 14–18 cm dan lebar 5–11 cm. Daun ulin bertekstur seperti kulit, tebal, dan kaku. Pangkal daunnya membulat dengan sedikit menyerupai hati, ujung daunnya tumpul hingga meruncing pendek, dan tepi daun rata. Permukaan daun bagian atas halus tidak berbulu, sedangkan bagian bawah biasanya memiliki sedikit bulu halus terutama pada tulang daun primer. Tangkai daunnya pendek dengan panjang 0,6–1,5 cm (National Parks Board, 2022). Bunga ulin terletak di ketiak daun dan termasuk bunga majemuk, panjangnya 10–20 cm. Bunganya berwarna kehijauan, kuning, atau keunguan. Bunganya memiliki 6 tepal (kelopak dan mahkota yang tidak bisa dibedakan). Tepal tersebut tersusun dalam 2 lingkaran (masing-masing 3 tepal). Buah yang dihasilkan hanya ada 1 atau 2 dalam setiap rangkaian bunga. Buahnya bertipe drupa atau batu, berbentuk elips atau lonjong dengan panjang 7–16 cm dan lebar 5–9 cm. Ketika matang, buahnya berubah warna menjadi hitam mengkilap. Dalam setiap buah, terdapat satu biji besar dengan kulit biji yang keras dan permukaan yang beralur (National Parks Board, 2022). Pohon ulin menghasilkan kayu yang keras dan tahan lama sehingga diberi julukan Kayu Besi (Ironwood). Di Kalimantan, kayunya digunakan untuk konstruksi berat dan pembangunan rumah tradisional. Saking kerasnya, alat yang digunakan untuk menggergaji kayu ulin akan cepat tumpul (National Parks Board, 2022). Kayu ulin juga digunakan dalam pembangunan tiang pancang, dermaga, pintu air, bagian kapal, dan jembatan. Meskipun memiliki kualitas yang baik, kuat, dan keras, kayu ulin tidak cocok digunakan untuk produksi kayu lapis atau papan partikel karena tekstur, kepadatan, dan kekerasan kayunya (Kostermans et al., 1993). Pustaka Barstow, M. (2025). Eusideroxylon zwageri. The IUCN Red List of Threatened Species 2025: e.T31316A68076738. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2025-2.RLTS.T31316A68076738.en Diakses pada 12 November 2025. Kostermans, A. J. G. H., Sunarno, B., Martawijaya, A. & Sudo, S. (1993). Eusideroxylon Teijsm. & Binnend. Dalam I. Soerianegara & R. H. M. J. Lemmens (Eds.), Plant Resources of South-East Asia No 5(1): Timber trees; Major commercial timbers. PROSEA Foundation, Bogor, Indonesia. Database record: prota4u.org/prosea. National Parks Board. (2022). Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn. National Parks Board. Diambil dari https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/8/2891. Diakses pada 12 November 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:464565-1. Diakses pada 12 November 2025.
Mangga (Mangifera indica L.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Anacardiaceae Genus : Mangifera L. Spesies : Mangifera indica L. (USDA) Status Konservasi IUCN DD - Data Deficient Deskripsi Mangga merupakan salah satu jenis tanaman berbuah yang berasal dari Assam, Belize, China, Myanmar, dan Thailand. Tanaman ini kemudian menyebar dan dibudidayakan di berbagai negara seperti Angola, Bangladesh, Brazil, Kamboja, Kolombia, Kuba, Guatemala, Indonesia, Malaysia, Meksiko, Sri Lanka, Taiwan, dan Venezuela (Kew). Pohon mangga dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 0 - 2.850 mdpl (Kew), suhu udara 24 - 30 °C, dan curah hujan 600 - 1.500 mm/tahun serta pH tanah 6 - 7 (PFAF). Pohon mangga dapat memiliki tinggi 10 m hingga 40 m dengan tajuk berbentuk bulat dan kulit batang pecah-pecah berwarna coklat keabu-abuan (Kew). Memiliki daun tunggal dengan panjang tangkai daun 2,0 - 4,5 cm dan biasanya berwarna kemerahan kemudian berubah menjadi hijau tua. Helai daun berbentuk lonjong atau lonjong-lanset dengan panjang 8 - 40 cm dan lebar 2 - 10 cm. Pohon mangga memiliki bunga majemuk dengan tipe perbungaan malai, berada di ujung tangkai daun (terminal) dengan panjang 10 - 60 cm, dan berwarna merah. Kelopak bunga sebanyak 5, panjang 2,0 - 2,5 mm, lebar 1,0 - 1,5 cm, dan memiliki warna hijau dengan pinggiran keputihan atau hijau kekuningan. Mahkota bunga berjumlah 5 dengan panjang 3 - 5 mm dan lebar 1,0 - 1,5 mm, memiliki warna krem kemudian menjadi merah muda. Benang sari memiliki panjang 4 - 5 mm, berwarna merah muda dan menjadi ungu ketika mekar. Putik berbentuk bulat dengan panjang 1,5 mm dan tangkai putik sepanjang 2 mm. Buah mangga memiliki bentuk bulat hingga bulat telur-lonjong dengan panjang 8 - 30 cm dan lebar 7 - 12 cm, berwarna hijau sampai kuning atau merah (Kew). Buah mangga dapat dikonsumsi langsung atau dibuat menjadi berbagai macam olahan makanan. Daun muda dari pohon mangga juga dapat dikonsumsi sebagai sayur. Daun mangga bersifat astringen dan odontalgik. Ekstraknya diminum untuk menurunkan tekanan darah dan digunakan dalam pengobatan penyakit asma, batuk, dan diabetes. Daunnya juga dapat digunakan sebagai obat kumur untuk mengatasi masalah mulut dan gigi. Bunganya dipercaya sebagai pengusir nyamuk. Kayu pohon mangga dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi, furniture, pertukangan, lantai, kotak, dan peti. Biji buah mangga yang dipanggang bersifat astringen dan anti diare serta dapat digunakan sebagai obat cacing, diare, dan wasir. Biji yang dihaluskan dapat dijadikan teh untuk mengobati disentri. Selain itu, biji yang telah digiling juga dimanfaatkan untuk mengobati serangan kalajengking. Kulit kayu pohon mangga bersifat astringen, homeostasis, dan antirematik yang dapat digunakan dalam pengobatan pendarahan, diare, dan tenggorokan (PFAF). Pustaka Plants for A Future (PFAF) https://pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Mangifera+indica Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:69913-1/general-information The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/31389/67735735 United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=MAIN3
Sirsak (Annona muricata L.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsidae Subkelas : Magnoliidae Ordo : Magnoliales Famili : Annonaceae Juss. Genus : Annona L. Spesies : Annona muricata L. (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Sirsak merupakan tanaman yang berasal dari Belize, Bolivia, Kolombia, Costa Rica, Ekuador, Guatemala, Guyana, Honduras, Meksiko, Nikaragua, Panama, Peru, Suriname, dan Venezuela. Sirsak kemudian menyebar dan dibudidayakan di berbagai negara seperti Bangladesh, Benin, Brazil, Kamerun, China, India, Jamaika, Laos, Gambia, Thailand, Vanuatu, dan Vietnam. Sirsak dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 100 – 2.000 mdpl (Kew). Habitat pohon sirsak adalah di hutan, sabana, semak belukar, padang rumput, lahan basah, dan lahan buatan – terrestrial (IUCN). Pohon sirsak dapat tumbuh tinggi mencapai 8 m dengan cabang muda yang ditutupi oleh bulu-bulu kecil berwarna coklat kemerahan yang kemudian mengkilap. Daun sirsak berkilau, berbentuk lonjong – bulat telur dengan panjang 8 – 15 cm dan lebar 3 – 6 cm. Bunga sirsak termasuk dalam bunga tunggal, jumlah mahkota bunga 6, bagian luar berbentuk bulat telur dan runcing di bagian ujung, tebal dengan panjang 2,5 – 3,5 cm. Buah sirsak berbentuk lonjong – bulat telur asimetris dengan panjang kurang lebih 20 cm, berwarna hijau, dan ditutupi oleh duri-duri. Buah sirsak tebal dan berdaging, dapat dimakan (edible) dengan biji yang berwarna hitam. Selain buah yang dapat dimakan, buah sirsak juga dapat digunakan sebagai bahan untuk obat-obatan (Kew) Pustaka Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:14308-2/general-information The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/143323191/143323193 United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=ANMU2
Suren (Toona sinensis)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Sapindales Famili : Meliaceae Genus : Toona Spesies : Toona sinensis (Kew) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Suren merupakan tanaman berhabitus pohon yang berasal dari Indonesia (Kalimantan, Jawa, dan Sumatera), China, Laos, Malaysia, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam. Tanaman ini kemudian menyebar ke berbagai negara seperti Afghanistan, Korea, Tanzania, dan Uganda (Kew). Suren hidup di tempat dengan ketinggian 100 – 2.500 mdpl, berhabitat di hutan yang lembab dan teduh (IUCN). Pohon suren dapat tumbuh tinggi mencapai 30 m dengan kulit batang yang kasar, hitam kecoklatan, dan pecah-pecah. Suren berdaun majemuk dengan jumlah helai daun 18 – 40. Daun bergerigi, lonjong dengan ukuran hingga 20 x 4 cm, ujung daun runcing, pangkal daun membulat, dan asimetris. Suren memiliki bunga majemuk dengan panjang hingga 90 cm. Buah suren berbentuk kapsul dengan ukuran kurang lebih 2,5 cm (Kew). Suren dimanfaatkan kayunya sebagai bahan untuk membuat furniture, jembatan, dan pertukangan. Suren juga dipercaya sebagai antioksidan, antibakteri dan memiliki kandungan flavonoid dan asam fenolik. Hal ini membuat suren dapat dijadikan sebagai obat tradisional (IUCN). Batang dan daun suren secara tradisional digunakan untuk pengobatan disentri, radang usus, karminatif, dan gatal-gatal (Dong et al., dalam Peng et al., 2019). Akar suren digunakan sebagai bahan korektif, kulit batangnya digunakan sebagai astringent dan depurative (pemurnian), sedangkan buahnya dapat digunakan sebagai zat untuk mengobati infeksi mata (Perry, 1980 dalam Pang et al., 2019). Pustaka Peng, W., Liu, Y., Hu, M., Zhang, M., Yang, J., Liang, F., Huang, Q., & Wu, C. (2019). Toona sinensis: a comprehensive review on its traditional usages, phytochemisty, pharmacology and toxicology. Revista Brasileira de Farmacognosia, 29, 111-124. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0102695X18301674?ref=pdf_download&fr=RR-2&rr=86d94034e9a95e9c Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:579315-1 The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/125202132/61795742
Waru (Hibiscus tiliaceus L.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Malvales Famili : Malvaceae Genus : Hibiscus Spesies : Hibiscus tiliaceus L. (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Waru memiliki daerah penyebaran yang banyak di Indonesia. Tumbuh pada habitat pantai yang tidak berawa, di tanah datar dan di pegunungan hingga ketinggian 1700 m dpl. Waru banyak ditanam di pinggir jalan dan di sudut pekarangan sebagai tanda batas pagar. Pada tanah yang baik, waru memiliki batang yang lurus dan daunnya kecil. Pada tanah yang kurang subur, batangnya bengkok dan daunnya lebih lebar. Waru termasuk pohon cepat tumbuh yang memiliki tinggi 5 - 15 meter, garis tengah batang 40-50 cm, bercabang dan berwarna coklat. Daun tergolong daun tunggal, bertangkai, berbentuk jantung, lingkaran lebar/ bulat telur, tidak berlekuk dengan diameter kurang dari 19 cm. Daun menjari, sebagian dari tulang daun utama dengan kelenjar berbentuk celah pada sisi bawah dan sisi pangkal. Sisi bawah daun berambut abu-abu rapat. Daun penumpu bulat telur memanjang, panjang 2,5 cm, meninggalkan tanda bekas berbentuk cincin. Bunga waru merupakan bunga tunggal, bertajuk 8-11. Panjang kelopak 2,5 cm beraturan bercangap 5. Daun mahkota berbentuk kipas, panjang 5-7 cm, berwarna kuning dengan noda ungu pada pangkal, bagian dalam orange dan akhirnya berubah menjadi kemerah-merahan. Tabung benang sari keseluruhan ditempati oleh kepala sari kuning. Bakal buah beruang 5, tiap rumah dibagi dua oleh sekat semu dengan banyak bakal biji. Buah berbentuk telur berparuh pendek, panjang 3 cm, beruang 5 tidak sempurna, membuka dengan 5 katup. Waru dapat digunakan untuk pengobatan tradisional. Akar waru digunakan sebagai pendingin bagi sakit demam. Daun waru membantu pertumbuhan rambut, sebagai obat batuk, obat diare berdarah/berlendir, dan amandel. Bunga waru dapat digunakan untuk obat trakhoma dan masuk angin. Kandungan kimia daun dan akar waru adalah saponin dan flavonoid. Daun wari juga paling sedikit mengandung lima senyawa fenol, sedangkan akar waru mengandung tanin. Pustaka Cancer Chemoprevention Research Center https://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/ensiklopedia/ensiklopedia-tanaman-antikanker/w/waru-hibiscus-tiliaceus/ Plantamor https://plantamor.com/species/info/hibiscus/tiliaceus#gsc.tab=0 The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/61786470/223047685 Plants USDA https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=HITI