Monitoring P3TGAI di Kabupaten Ende


Kategori : Berita Balai

14 Juli 2022, 17:10:00


Lokasi P3A Watumere di Desa Lokoboko Kecamatan Ndona (05/07)

Foto : Lokasi P3A Watumere di Desa Lokoboko Kecamatan Ndona (05/07)


Monitoring P3TGAI di Kabupaten Ende

Kabupaten Ende pada tahun 2022 mendapat 4 lokasi P3TGAI yaitu, P3A Mawar di Desa Romarea, Kec. Nangapanda pada Daerah Irigasi (D.I.) Malara I-II, P3A Watumere Desa Lokoboko, Kec. Ndona pada D.I. Tiwu Tana, P3A Tombas Desa Fataatu Kec. Wewaria dan P3A Welamosa Desa Welamosa. PPK OP SDA II, Aprianus M. Y. Kale, S.ST, MT mengatakan masing-masing lokasi menerima dana sebesar 195 juta rupiah yang digunakan untuk membangun saluran tersier dengan konstruksi pasangan batu. pembangunan Tahap I dimulai pada bulan Mei dan pada akhir bulan Juli 2022. Sesuai hasil monitoring pada sejumlah lokasi, bahwa hampir seluruhnya telah mencapai progress 100%. Setiap lokasi ditempatkan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) sebagai tenaga teknis dan administrasi serta dikoordinir oleh Konsultan Manajemen Balai (KMB).

P3A Watumere di Desa Lokoboko Kecamatan Ndona

Ketua P3A Watumere, Hermanus Hamsa Sambi yang ditemui dilokasi pekerjaan mengatakan, mereka berhasil membangun saluran tersier sepanjang 346 m, dari rencana 338 m, artinya ada sumbangsih dari swadaya kelompok untuk mencapai layanan seluruhnya sepanjang 8 m. Dalam mengerjakan Jaringan tersier dengan pasangan batu dilakukan oleh Kelompok P3A dimana melibatkan 46 orang petani setempat dengan 6 orang diantaranya ibu-ibu. Untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut hanya dalam waktu 18 hari kerja hingga pekerjaan mencapai 100% pada akhir bulan Juni.

Pada kesempatan Hermanus, mewakili kelompok petani setempat menyampaikan ucapan terima kasih dan mereka merasa senang sekali, “kami antusias menerima bantuan ini. Pengalaman kami sebelum ada saluran permanen atau masih saluran tanah, ada kesulitan mendapat air terutama dibagian bawah atau hilir areal sawah dan butuh banyak air untuk sampai kehilir, sedangkan pada bagian hulu terjadi genangan di saluran dan sekitarnya”, katanya. Ditambahkan dengan adanya bantuan ini kami merasa terbantu dan mengucapkan terima kasih kepada bapak Menteri PUPR, Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II dan PPK OPSDA II. Total lahan melalui program ini seluas 4 ha yang ditanami tanaman padi pada umumnya dan holtikultura pada musim kemarau. “Sebelumnya kami tanam padi 2 kali setahun, setelah ada saluran permanen ini kami harap bisa 3 kali setahun”, katanya. Untuk kedepannya mereka sangat mengharapkan bantuan lagi berupa pembangunan saluran tersier permanen sepanjang 600 m untuk mengairi lahan sawah yang berada di bagian atas yang airnya berasal dari sungai Wolowona.

PPK OP SDA II, Aprianus mengharapkan agas petani bisa menjaga dan memelihara saluran yang terbangun ini sehingga umurnya bisa Panjang.

P3A Tombas Di Desa Fataatu Kecamatan Wewaria

Ketua P3A Tombas, Robertus mengatakan panjang saluran tersier yang berada di Desa Fataatu Kecamatan Wewaria dari rencana 385 m dan dikerjakan sepanjang 400 m,  berarti ada sumbangsih dari swadaya kelompok untuk mencapai layanan seluruhnya sepanjang 15 m. Dijelaskan, tenaga kerja yang dilibatkan sebanyak 30 orang dan dikerjakan selama 30 hari, sejak tanggal 4 Juni 2022 dan selesai pada tanggal 4 Juli 2022. Menurutnya, program ini (P3TGAI) baik sekali, dan mereka mengharapkan program ini dapat berjalan terus. Peningkatan saluran tersier dari saluran tanah menjadi pasangan batu, sangat membantu petani terutama lahan yang berada di hilir. Robertus, atas nama kelompok P3A Tombas yang berada pada Daerah Irigasi Mautenda I mengharapkan pada tahun berikutnya dapat bantuan lagi sepanjang 1.600 m dengan luas lahan fungsional seluas 258 ha dengan anggota kelompok tani 387 orang.

Pada kesempatan itu Ketua P3A Lowomera Robert yang berada di Desa Wolofeo, Kec. Detusoko menyampaikan harapannya kepada Kementerian PUPR melalui BWS NT II agar mereka mendapat sentuhan manfaat dari P3TGAI untuk peningkatan saluran bagi lahan seluas 60 ha. Pemakai air meliputi 4 desa dengan anggota P3A sebanyak 400 petani. “Saat ini kami sangat membutuhkan saluran tersier permanen yang selama ini berupa saluran tanah. (Bai/Roy)

 

Bagikan :