Sebagai langkah antisipasi terhadap fenomena El Nino tahun 2026, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU) gencar memperkuat upaya mitigasi risiko kekeringan. Berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan berlangsung pada bulan Juli–September 2026 dengan durasi panjang yang berpotensi berlanjut hingga awal tahun 2027.
Beragam upaya antisipatif telah diimplementasikan sejak dini untuk mengamankan ketersediaan pasokan air, menjamin keandalan layanan irigasi, serta memperkuat ketahanan pangan nasional sepanjang musim kemarau, di mana salah satunya dilaksanakan di Wilayah Kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BBWS Cimanuk Cisanggarung mengoptimalkan langkah mitigasi melalui Unit Pengelola Prasarana Pengendali Banjir dan Kekeringan (UP3BK). Sistem terpadu ini menyatukan pengawasan bendungan, bendung, serta kawasan rawan kekeringan, yang ditunjang oleh manajemen operasi air, layanan call center, Tim Reaksi Cepat (TRC), dan sinergi antar instansi demi menjamin respons cepat terhadap segala hambatan layanan air.
Untuk menjaga fungsi optimal seluruh prasarana sumber daya air, sebanyak 290 personel disiagakan secara penuh selama musim kemarau. Pengawasan intensif dilakukan setiap hari terhadap 9 bendungan, 33 embung, 23 situ, 25 bendung, hingga jaringan irigasi di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung. Per 30 Juni 2026, akumulasi volume tampungan di sembilan bendungan—meliputi Jatigede, Cipanas, Darma, Kuningan, Malahayu, Setupatok, Sedong, Bolang, dan Rancabeureum—tercatat sekitar 1,10 miliar m3, yang diproyeksikan mampu memenuhi pasokan air bagi sekitar 136.254 hektare lahan irigasi.
Pelepasan air dari bendungan diatur secara ketat dan berbasis data dengan mengkondisikan pola operasi waduk berdasarkan ketersediaan tampungan serta realita kebutuhan lapangan, termasuk untuk mengamankan pasokan irigasi, penyediaan air baku, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan menjaga cadangan air waduk. Data elevasi, volume tampung, serta debit pengeluaran dipantau harian sebagai fondasi utama tata kelola air tersebut.
Dalam menyikapi musim kekeringan, BBWS Cimanuk Cisanggarung mengampanyekan pemanfaatan teknologi Irigasi Padi Hemat Air (IPHA). Melalui teknik pengairan berkala atau berselang (intermittent), efisiensi penggunaan air dapat diwujudkan tanpa menurunkan produktivitas komoditas. Implementasi metode IPHA ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan air, meningkatkan indeks pertanaman, serta mendorong produktivitas dan pendapatan sektor pertanian.
Secara umum, kesiapan seluruh infrastruktur sumber daya air di berbagai daerah dalam memitigasi dampak fenomena El Nino meliputi beberapa poin berikut:
240 bendungan dengan total volume tampungan 6.68 Miliar m3
593 situ dan danau dengan total volume tampungan 137.22 miliar m3
1.639 tampungan air baku dengan total volume tampungan 143.7 miliar m3
10.757 sumur bor dengan total kapasitas 114.806,5 m3/detik
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU memastikan bahwa mitigasi terhadap ancaman El Nino dilakukan sejak dini, bukan hanya saat bencana kekeringan melanda. Langkah antisipatif ini diwujudkan melalui pengelolaan infrastruktur sumber daya air yang terintegrasi, penguatan sistem operasi pada bendungan, waduk, dan jaringan irigasi, serta kesiapsiagaan penuh dari personel beserta peralatan pendukung di lapangan.
- Kompu SDA