|
TKPSDA WS SADDANG KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

Kilas informasi (1) :

Kunjungan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), di Bendungan Paselloreng dan Bendungan Karalloe

  • tag  menteri pu
Kunjungan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), di Bendungan Paselloreng dan Bendungan Karalloe


19 April 2017

Makassar, Sulsel – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono bersama Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Anggota Komisi V DPR RI Andi Irwan Aras secara simbolis melaksanakan dimulainya pengalihan aliran sungai (river closure) Sungai Gilireng ke saluran pengelak Bendungan Paselloreng, di Kabupaten Wajo dan Kunjungan ke Bendungan Karalloe di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (19/4/2017). 

Dalam sambutannya Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang mengatakan, ada lima kecamatan di Kab. Wajo yang akan dilayani kebutuhan airnya dari Bendungan Paselloreng, yang selama ini mengandalkan area sawah tadah hujan. Lima kecamatan itu yang dimaksud adalah, Kecamatan Gilireng, Penrang, Majauleng, Sajoangin dan Takalala.

Kemudian acara dilanjutkan penekanan tombol sirine yang bertanda dimulainya pengaliran air dari Sungai Gilireng ke saluran pengelak dan dilanjutkan dengan pemberian arahan-arahan bahwa Pembangunan Infrastruktur oleh Kementerian PUPR dilakukan secara cepat yang diibaratkan seperti music Rock and Roll.

“Kerja Rock and Roll inilah solusinya karena kita sudah jauh tertinggal dari negara-negara lain dalam hal penyediaan Infrastruktur,” kata Menteri Basuki.

Lebih lanjut dikatakan, saat ini kerja cepat saja tidak cukup, namun harus kerja lebih cepat dan kerja lebih keras. 

“dalam pembangunan Bendungan Paselloreng, kita terapkan kerja dengan 3 Shift selama tujuh hari dalam seminggu dan progresnya telah mencapai 54 Persen. Progresnya bagus, kami targetkan bisa selesai lebih cepat yakni Juli 2018 sudah dapat diselesaikan,” ungkapnya.

"Negara Tiongkok punya seratus ribu bendungan. Sementara kita (Indonesia) baru memiliki 231 bendungan dan dalam lima tahun ke depan akan kita bangun 49 bendungan baru," jelasnya.

Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengatakan pembangunan Bendungan Paselloreng merupakan wujud nyata yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan air pada daerah pertanian agar hasilnya dapat meningkat. Provinsi Sulsel adalah salah lumbung pangan nasional terbesar. 

"Pada akhirnya peningkatan taraf hidup petani dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai," ungkapnya.

Sementara itu anggota DPR Andi Irwan Aras memberikan apresiasi terhadap kerja Kementerian PUPR karena pembangunan yang rencananya akan selesai dalam 5 tahun dapat dipercepat menjadi tiga tahun.

Bendungan Paselloreng nantinya akan memiliki daya tampung 138 Juta m³  dan direncanakan dapat mengairi  Irigasi seluas 7.000 ha, air baku 305 liter/ detik dan mengurangi  banjir di kab. Wajo. Setelah menghadiri acara pengalihan aliran sungai (River Closure) Pembangunan Bendungan Paselloreng, Kab. Wajo, rombongan Menteri PUPR melanjutkan perjalanan kunjungan lapangannya menuju Kab. Gowa.

Selepas dari Bendungan Paselloreng Kab. Wajo, tepat pada pukul 14.50 wita, Helikopter Puma milik TNI yang membawa rombongan Menteri PUPR dan Gubernur Prov. Sulawesi Selatan mendarat di lokasi Pembangunan Bendungan Karalloe, Kec. Biring Bulu, Kab. Gowa. Rombongan langsung menuju kantor dan 

menggelar rapat terbatas. Kepala Satker Bendungan BBWS Pompengan Jeneberang menjelaskan progres dan site plan pembangunan Bendungan Karalloe yang dijadwalkan akan rampung pada tahun 2020.

"Masa cuma bikin bendungan 7 tahun? Ini (pembangunan Karalloe) harus dipercepat. Kalau saya lihat schedule-nya, masa pengerjaannya santai-santai. Sedangkan proyek sempat terhenti 3 tahun karena masalah pembebasan lahan,” ucap Basuki.

Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR meminta kepada Kepala BBWS Pompengan Jeneberang dan jajarannya, serta Kontraktor dan Konsultan Supervisi untuk membuat site plan baru. 

“saya minta site plan baru, dua minggu lagi kasih ke saya. Kami harap pembangunan bendungan ini bisa selesai sebelum tahun 2020. Kami merespon dan mengapresiasi  kerja keras bapak Bupati, pak Dandim, dan pak Kapolres Gowa yang telah turun langsung menyelesaikan pembebasan lahan Karalloe, jadi untuk menghargai itu, kita harus bekerja cepat, bekerja keras dan profesional,” tambahnya.

Bendungan Karalloe berada di perbatasan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Jeneponto yang aliran airnya bersumber dari air Gunung Lompobattang. Bendungan Karalloe ini akan mengatasi banjir yang tiap tahunnya terjadi Kabupaten Jeneponto pada musim penghujan tiba,  karena air dari Gunung Lompobattang tidak langsung mengalir menerjang pemukiman penduduk jika curah hujan tinggi.

Selain mengatasi banjir, Bendungan Karalloe juga bisa menampung air 40 juta kubik. Dari tampungan air itulah debit air bisa diatur untuk dialiri ke aliran irigasi areal pertanian warga di Kabupaten Jeneponto.

"Bendungan ini bisa mengatasi banjir, bisa mengaliri air irigasi di 7.000 areal pertanian warga saat musim kemarau datang. Bisa dirasakan langsung  manfaatnya oleh masyarakat Kabupaten Jeneponto. Areal pertanian yang tandus akan berubah nantinya menjadi subur berkat bendungan ini," ucap Basuki.

Menteri Basuki mengatakan jika Bendungan Karalloe ini rampung, selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 4,5 Megawatt. Selain itu Bendungan Karalloe juga bisa akan menjadi objek wisata baru di Kabupaten Gowa.

“Bendungan Karalloe ini sebagai penyedia air baku sebesar 440 liter per detik. Jadi bisa dimanfaatkan sebagai penyedia air bersih, jika pemerintah kabupatennya jeli. Termasuk juga bisa dimanfaatkan sebagai kawasan perikanan air tawar," tambah Menteri Basuki.

Pada kesempatan yang lain Gubernur Prov. Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo juga mengapresiasi keterlibatan Bupati Gowa dalam membantu penyelesaian pembebasan lahan Karalloe, harapannya pembangunan Bendungan Karalloe ini dapat cepat terselesaikan dengan dilakukan percepatan, sehingga dapat meningkatkan perekonomian terutama sektor pertanian.

Syahrul menambahkan, jika penyelesaian proyek bendungan Karalloe diulur-ulur sangat di sayangkan. Di mana dengan adanya bendungan Karalloe ini, kehidupan masyarakat di Kabupaten Jeneponto bisa bertambah maju.

“Jika dulu, petani hanya bisa panen 1 atau 2 kali dalam setahun. Dengan adanya bendungan Karalloe ini, bisa panen 3 kali dalam setahun. Pendapatan dalam sektor pertanian jagung mencapai Rp 2 triliun dan diharapkan dengan adanya bendungan Karalloe ini pendapatan jagung Rp 3,4 triliun pertahun," jelasnya.

Syahrul mengatakan, Kabupaten Jeneponto merupakan daerah paling miskin dan kering. Dengan adanya bendungan ini, masalah-masalah di Kabupaten Jeneponto bisa teratasi.

"Kalau ada yang menghambat-hambat pembebasan lahan, saya minta pak Dandim dan Kapolres membantu mengamankan situasi," pinta Syahrul.

Turut mendampingi Menteri Basuki, yakni Inspektur Jenderal Rildo Ananda Anwar, Dirjen Sumber Daya Air Iman Santoso, Kepala Pusat Bendungan Made Sumiarsih, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang Agus Setiawan, Kepala Pusat Komunikasi Publik Endra S Atmawidjaja dan Direktur Operasi Wika Chandra, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, Anggota DPR RI Irwan Aras.

(Unit Pemberitaan & Media Cetak TKPSDA)

Berita Terkait :

© Copyright (c) 2017 Unit Pemberitaan TKPSDA WS Saddang All rights reserved