Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Switch to desktop Register Login

Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) merupakan perhimpunan Profesi sebagai wahana bagi tenaga ahli yang berkecimpung dalam teknik hidroulik untuk saling tukar pengalaman dan saling asah secara berkelanjutan untuk memperkuat kesadaran bahwa manusia adalah bagian dan suatu sistem kehidupan yang senantiasa sadar akan segala kemampuan berfikir rasional, namun berbasis pada rasa-cipta-karsa dalam bingkai kearifan.

”Didalam suatu organisasi sangat diperlukan pengurus yang mempunyai peranan penting dalam memajukan dan mengembangkan fungsi organisasi,” ujar Ir. Harry Suprayogi,M.Eng selaku Ketua Umum HATHI dalam acara Pelantikan Pengurus HATHI Cabang Papua Periode 2014 – 2017 di Aula Fakultas Teknik, Jumat (26/9).

Adapaun Pengurus HATHI cabang Papua periode 2014-2017 yang dilantik adalah Dr. Ir. Happy Mulya, ME sebagai ketua, Ketua I (Litbang dan Organisasi) Ivonny Ajawaila, ST, MT, Ketua II (Humas dan Seminar) Dr. Janviter Manalu, M.Si, Ketua III (SDM dan Sertifikasi) Nimbrot Rumaropen, ST, MT, Ketua IV (Pengabdian Masyarakat) Lila Bauw, ST, MT, Sekretaris Apolo Safanpo, ST, MT, Sekretaris I Yulianus Mambrasar, SST., M. Si, Sektretaris II Kuji Murtiningrum ST. M.Tech.


Dr. Ir. Happy Mulya, ME dalam sambutannya mengatakan bahwa pelantikan pengurus HATHI cabang Papua periode 2014-2017 ini merupakan pelantikan Pengurus HATHI cabang Papua yang kedua kalinya mengikuti dan meneruskan kepengurusan periode sebelumnya . Beliau berharap agar pengurus HATHI yang baru, bekerja dengan konsisten dan profeional dalam melaksanakan visi dan misi HATHI sehingga dapat membantu dalam memberikan solusi dan masukan yang terkait dengan bidang sumber daya air dengan berpedoman pada kode etik HATHI yaitu mengutamakan keluhuran budi, menggunakan pengetahuan dan kemampuan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional teknik keairan.

Turut hadir dalam acara pelantikan pengurus HATHI cabang Jayapura, Gubenur Papua yang diwakili oleh staf ahli, Wusok Demianus Siep. Beliau berpesan agar pengurus HATHI yang merupakan tenaga profesional bidang sumber daya air harus dapat melihat permasalahan tidak hanya dari kacamata teknis, tetapi juga harus dapat mengkaji permasalahan dari segi sosial, budaya dan ekonomi agar pemikirannya dapat bersifat implementatif.

Usai acara pelantikan dilanjutkan dengan kuliah umum bidang perairan yang dibawakan oleh:

Prof. Dr. Ir. Sri Harto Br., Dip., HE (Analisa Hidrologi di Indonesia-Universitas Gajah Mada)
Prof. Dr. Ir. Indratmo Soekarno, M.Sc (Hidraulika Sungai dan Gerisan Lokal – Institut Teknologi Bandung)
Prof. Dr. Ir. Budi Wignyo Sukarto, Dip, HE (Perencanaan, Pengembangan dan Pemanfaatn Lahan rawa _ Universitas gajah  Mada)
Dr. Ir. Moch. Amron, M.Sc (Pengeloaan SDA di Indonesia _ Ditjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum)

Read more... 0

Keberadaan Gunung Merapi semestinya dilihat dari segi kemanfaatan, tidak hanya dari segi kebencanaan saja, meskipun gunung tersebut sudah beberapa kali memuntahkan erupsi. Gunung Merapi sejatinya adalah menara air untuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, material vulkanik dari erupsi Gunung Merapi merupakan material dengan nilai ekonomi tinggi, terutama pasir dan batu.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Pelaksanaan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Sigid Santoso saat memberikan presentasi di depan pengajar dan mahasiswa pascasarjana Jurusan Teknik Sipil Universitas Bandar Lampung yang berkunjung ke kantor BBWS Serayu Opak di Yogyakarta, Senin (22/9).

“Gunung Merapi merupakan salah satu Gunung Api teraktif di Indonesia. Gunung Api ini merupakan hulu dari 15 sungai yang mengelilinginya. Kejadian letusan terjadi  pada tanggal 26 Oktober 2010 dan 5 November 2010. Pada letusan terakhir, Gunung Merapi memuntahkan endapan material padat mulai yang berbentuk batu berukuran besar sampai dengan material pasir sejumlah 140 juta m³ di puncak Gunung Merapi dan sekitarnya. Bersamaan dengan turunnya hujan, material endapan tersebut mengalir ke hilir dalam bentuk lahar dingin ke semua sungai yang berhulu di Gunung Merapi,” papar Sigid.

Sementara itu, berdasarkan Master Plan 2001, direncanakan pembangunan bangunan sabo sejumlah 277 buah. Sejak tahun 1976 sampai dengan 2010, telah dibangun 244 buah. Akibat erupsi Merapi 2010, bangunan sabo rusak atau hilang sebanyak 77 buah. Dan, dalam rangka antisipasi dan mengurangi terjadinya bencana akibat banjir lahar dingin, maka diperlukan penanganan berupa tanggap darurat dan rehabilitasi rekonstruksi.

Kepala Bidang Pelaksanaan BBWS Serayu Opak menjelaskan, untuk proses tanggap darurat, beberapa pekerjaan yang sudah dilaksanakan antara lain normalisasi alur sungai (bukan penambangan), perkuatan tebing sungai dengan bronjong kawat, dan peningkatan kapasitas bangunan Sabo. Ditanya mengenai penggunaan sabo dam sebagai jembatan penghubung, Sigid menegaskan perlu adanya pembatasan tonase kendaraan. “Perlu dibuat adanya portal sehingga kendaraan dengan tonase lebih tidak lewat di sabo dam. Sebab, jika dibiarkan, bisa merusak konstruksi sabo, seperti yang belum lama ini terjadi,” katanya.

Sementara itu, untuk pekerjaan rehabilitasi rekonstruksi, ada beberapa kriteria infrastruktur yang menjadi prioritas, antara lain berfungsi sebagai jangkar, mengalami kerusakan pada subdam/subsubdam, berfungsi melindungi jembatan, atau berfungsi sebagai intake irigasi.

Dalam kesempatan tersebut, Sigid juga menjelaskan tentang pembangunan pemecah gelombang Glagah di Kabupaten Kulon Progo. Dirinya menjelaskan, pembangunan pemecah gelombang tersebut antara lain dilatarbelakangi fakta bahwa DIY mempunyai pantai samudera Indonesia sepanjang kurang lebih 110 km dengan potensi sumber daya perikanan yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

Alasan lainnya adalah, Pantai Glagah mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai pelabuhan perikanan. Lokasi Pantai Glagah didukung oleh aksesibilitas yang mudah, daerah pengaruh (hinterland) yang baik yaitu dekat dengan kota-kota di sekitarnya (Wates, Yogyakarta, Bantul, Purworejo, Magelang, Kebumen, dll). Selain itu, pada musim kemarau muara sungai Serang selalu tertutup oleh endapan pasir. Pada musim penghujan endapan tersebut mengganggu kelancaran pengaliran debit banjir ke laut, sehingga menyebabkan terjadinya banjir di hulu sungai. Dan, pembangunan muara sungai Serang di pantai Glagah selain sebagai fasilitas penunjang pelabuhan nelayan, juga dimaksudkan sebagai pengendalian banjir. (ifn/humas bbws-so)

Read more... 0

Ambon, Rabu/02 September 2014, BWS Maluku kembali mendapat kunjungan. Kali ini yang berkunjung adalah Dr. Permana Hendrawansyah. ME, Kepala Bagian Kepegawaian dan Ortala Ditjen SDA dan Kepala Bagian Hukum Setjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum beserta tim.

Rombongan disambut oleh Kepala Balai Wilayah Sungai Maluku, Muhamat Marasabessy dan kegiatan dihadiri oleh para pejabat struktural dan fungsional serta para pegawai di lingkungan BWS Maluku. Kepala Balai Wilayah Sungai Maluku pada awal kegiatan memaparkan tentang Balai Wilayah Sungai Maluku kepada tim serta kinerja dan pencapaian BWS Maluku dalam usahanya terkait pengelolaan Sumber Daya Air di Maluku.

Pada kesempatan ini Permana menyampaikan pengarahan terkait reformasi birokrasi yang sedang digalakkan dilingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dalam hal ini khususnya dilingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum. Sebelum menyampaikan pengarahan yang di maksud, oleh Permana secara khusus disampaikan apresiasi kepada jajaran pegawai di lingkungan BWS Maluku atas capaian kinerja dalam usaha-usaha pengelolaan SDA di Maluku yang telah dilakukan dengan baik, mulai dari konservasi, kemudian pengendalian daya rusak, pemanfaatan, kemudian data dan informasi relatif sudah dijalankan semuanya. Ia mengingatkan “bahwa kedepan kalau kita membangun itu tidak boleh keluar dari pola”, ujarnya.

 

Disampaikan juga oleh Permana bahwa semua kegiatan itu hanya bisa dilaksanakan oleh sumber daya aparatur yang profesional dan yang paling penting dari profesionalisme sumber daya aparatur itu adalah integritas moral. “Salah satunya yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga kekompakan tim, karena tanpa kekompakan tim apapun akan sia-sia”, imbuhnya.

 

Pada akhir acara, Ibu Nilawati Lubis dari Ortala juga mengingatkan bahwa sebagai aparatur negara ada peraturan, undang-undang dan peraturan pemerintah yang harus ditaati, dicermati, dipahami dan harus dilaksanakan dalam setiap menjalankan tugas yang di emban.

SISDA BWS Maluku

Read more... 0

Copyright by Pengembangan Sistem, Data dan Informasi SDA. ©2012 All rights reserved.

Top Desktop version