Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Switch to desktop Register Login

Palu - Stand Water Resources meraih gelar juara tiga pada Pameran Sulteng Expo 2015 untuk stand terbaik kategori stand SKPD Prov. Sulawesi Tengah. Pengumuman pemenang stand terbaik ini merupakan rangkaian dari acara penutupan Sulteng Expo 2015 pada sabtu malam (18/4).

Stand Water Resources merupakan kerja sama antara Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Sulawesi Tengah dan Balai Wilayah Sungai Sulawesi III yang menampilkan potensi sungai-sungai yang ada di Sulawesi Tengah, dokumentasi pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Sulawesi Tengah dan Balai Wilayah Sungai Sulawesi III serta animasi hasil perencanaan desain bendung D.I. Modo di Kabupaten Buol dan D.I. Binsil di Kabupaten Banggai.

Sulteng Expo merupakan pameran berskala nasional yang menampilkan beragam potensi daerah, produk unggulan UMKM, pameran otomotif, perbankan, pesta rakyat, seni budaya serta berbagai hiburan menarik lainnya Peserta yang berpartisipasi dalam antara lain, Instansi di lingkup Pemprov Sulteng sebanyak 2 Biro, 9 Badan dan 16 SKPD, kemudian Pemprov Sulawesi Barat, Pemda Kabupaten/Kota se Provinsi Sulawesi Tengah, BUMN, BUMD dan Swasta.

Read more...

Pembangunan infrastruktur sabo dam Gunung Merapi perlu dipercepat, dengan tanpa mengabaikan faktor biaya dan kualitas pekerjaan. Sebagai sebuah kegiatan yang pernah dikerjakan sebelumnya (berulang), pembangunan sabo dam Merapi semestinya dapat dilaksanakan dengan lancar. Demikian disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mudjiadi pada acara penandatanganan kontrak pekerjaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sabo Dam Merapi Kabupaten Sleman dan Kabupaten Magelang (8 buah) serta pekerjaan Supervisi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sabo Dam Merapi Kabupaten Sleman dan Kabupaten Magelang (1 laporan) di Yogyakarta, Rabu (1/4).

“Khusus untuk pekerjaan supervisi, saya mohon agar para pengawas segera dimobilisasi. Dan, ke depan, kalau bisa dilakukan semacam assessment terhadap sabo dam kita yang sudah direhabilitasi, sejauh mana efektivitasnya. Kepada PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) saya minta untuk meningkatkan pengawasannya. Harapan saya, sekarang kita bertemu dalam keadaan senyum, besok November (saat kontrak selesai) kita bertemu dalam keadaan senyum juga,” tegas Dirjen SDA.

Kontrak pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi sabo dam yang ditandatangani bernilai Rp 132, 469 miliar dengan kontraktor KSO/kemitraan PT. Pembangunan Perumahan (PP) dan PT. Waskita Karya sedangkan kegiatan supervisinya senilai Rp 1,899 miliar dengan penyedia jasa PT. Indra Karya. Kegiatan ini merupakan bagian dari pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi sabo dam yang rusak akibat erupsi Gunung Merapi tahun 2010 lalu. (humas bbws so)

Read more...

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono didampingi Kepala BWS Sumatera V M. Adek Rizaldi meninjau salah satu proyek strategis BWS Sumatera V bidang pengendalian daya rusak air, beberapa waktu lalu di Padang, Sumatera Barat. Proyek tersebut yaitu pembangunan sarana/prasarana pengendali banjir dan sedimen pada Sungai Batang Kuranji.

Sungai Batang Kuranji merupakan salah satu sungai di kawasan Kota Padang serta merupakan salah satu DAS pada Wilayah Sungai Indragiri – Akuaman dengan total luas DAS 202,7 km2 terdiri dari 5 sub daerah aliran sungai yaitu Sub DAS Batang Sungai Sapiah, Sub DAS Batang Danau Limau Manih, Sub DAS Batang Sungkai, Sub DAS Batang Bukik Tindawan dan Sub DAS Batang Padang Janiah. Batang Kuranji mengalir dari hulu bukit barisan dengan elevasi tertinggi + 1.605 mdpl pada puncak Bukit Tinjau Laut dan bermuara ke pantai padang dengan panjang sungai utama ± 32,41 km dan panjang total beserta seluruh anak sungainya sepanjang 274,75 Km.

Curah hujan rata-rata tahunan pada DAS Batang Kuranji adalah antara 3.500 – 4.000 mm/tahun yang termasuk kategori curah hujan yang tinggi. Besarnya curah hujan ini juga menjadi salah satu variabel pemicu tingginya tingkat kebencanaan pada aliran Sungai Batang Kuranji. Banjir Bandang / debris flow adalah merupakan salah satu bencana yang sangat dikhawatirkan terjadi pada sungai Batang Kuranji dikarenakan alirannya yang melintasi daerah padat pemukiman dengan topografi yang terjal dan jenis material pembentuk dasar dan tebing sungai sehingga mudah lepas jika terkena air.

Potensi kebencanaan yang tinggi akibat faktor alamiah juga akibat ulah manusia yang melakukan penambangan material galian C. Kegiatan tersebut berdampak pada hancurnya infrastruktur bangunan air dan pelindung tebing akibat gerusan lokal (scouring).

Bencana debris (non vulkanik) yang terjadi di Sungai Batang Kuranji, tercatat kejadian banjir bandang atau galodo tahun 1988 dan tanggal 16 Maret 2008 pada aliran Batang Kuranji dan Batang Limau Manih a di Kelurahan Limau Manih Kecamatan Pauh. Dua kejadian bencana tersebut disusul dengan bencana galodo lainnya pada tahun 2012 yang terjadi dua kali yaitu pada Tanggal 24 Juli 2012 dan Tanggal 12 September 2012. Untuk itu dilakukan upaya tanggap darurat dengan pemasangan bronjong sepanjang 1,7 Km dengan total biaya sebesar Rp. 33.158.506.000,-. Lokasi pekerjaan dan ilustrasi bronjong yang terpasang ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Pada TA 2013 BWS Sumatera V melakukan penanggulangan bencana banjir bandang Sungai Batang Kuranji secara simultan dibarengi pembangunan Checkdam Batu Busuk. Dari hasil perencanaan teridentifikasi permasalahan di Sungai Batang Kuranji cukup beragam. Menurut segmen sungai di hulu permasalahan dominan adalah alih fungsi lahan yang mengakibatkan tingginya aliran permukaan, tebing yang terjal rawan longsor serta kemiringan dasar sungai yang curam yang secara keseluruhan meningkatkan potensi terjadinya aliran debris / banjir bandang. Sementara untuk segmen tengah permasalahan utama yang teridentifikasi adalah penurunan dasar sungai akibat penambangan galian C yang tidak terkendali, kecepatan aliran yang masih tinggi ekspansif dan cenderung menggerus tebing serta pada segmen hilir dengan permasalahan utama tanggul sungai yang rendah, tingkat sedimentasi yang tinggi mengakibatkan pendangkalan sungai serta pencemaran yang menurunkan kualitas air.

Berdasarkan identifikasi tersebut, BWS Sumatera V memprogramkan pelaksanaan pembangunan Sarana/prasarana pengendalian banjir dan sedimen pada segmen tengah sebagai prioritas utama dikarenakan kerusakan yang terjadi serta potensi kerusakan lanjutan terhadap infrastruktur keairan dan fasilitas publik lainnya ditemukan sangat tinggi. Prioritas selanjutnya adalah melakukan pengendalian sedimen pada segmen hulu dan pengendalian banjir pada segmen hilir.

Rencana penanganan pada segmen tengah meliputi pembangunan sistem Checkdam Batu Busuk, Checkdam Gunung Nago serta pembangunan checkdam baru sebanyak lima buah ditambah dengan pembangunan pelindung tebing dan pembangunan jalan inspeksi dengan total kebutuhan dana Rp. 248.439.700.000,- (dua ratus empat puluh delapan milyar empat ratus tiga puluh sembilan juta tujuh ratus ribu rupiah).

Kepala BWS mengatakan, salam tinjauan tersebut Menteri PUPR mengintruksikan untuk melaksanakan pekerjaan dalam waktu tiga tahun (36 bulan) dari yang semula dalam kurun waktu lima tahun anggaran terhitung mulai TA 2015 hingga TA 2019. Hal tersebut menjadi satu tantangan tersendiri bagi BWS Sumatera V untuk mewujudkannya.

Sementara penanganan pada segemen hulu akan difokuskan pada pembangunan checkdam baru yang terletak di kawasan hutan lindung. Diharapkan pada Kabinet Kerja ini tercipta koordinasi pemanfaatan kawasan hutan lindung untuk pembangunan infrstruktur dapat terlaksana dengan lebih cepat dan didukung penuh oleh seluruh aparatur pemerintahan dan masyarakat pada umumnya. Untuk total kebutuhan biaya penanganan segmen hulu adalah sebesar Rp. 222.970.300.000,- (dua ratus dua puluh dua miliar sembilan ratus tujuh puluh juta tiga ratus ribu rupiah).

Sebagai langkah penanganan akhir dari rangkaian penanganan pengendalian banjir dan sedimen Batang Kuranji secara komprehensif akan dilaksanakan pembangunan tanggul banjir dan jalan inspeksi pada segmen hilir guna melindungi masyarakat dari bahaya banjir disamping pelaksanaan normalisasi sungai secara periodik dibawah kegiatan operasi dan pemeliharaan SDA guna mengantisipasi pendangkalan sungai akibat sedimentasi. Diperkirakan total kebutuhan biaya pembangunan pada segmen hilir Sungai Batang Kuranji adalah sebesar Rp. 216.700.000.000,- (dua ratus enam belas miliar tujuh ratus juta rupiah). (bws sumatera V/ind)

Read more...

Copyright by Pengembangan Sistem, Data dan Informasi SDA. ©2012 All rights reserved.

Top Desktop version