© 2019 Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

PU-Net
      

Berita SDA

Kumpulan Berita Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Bendungan Randugunting Akan Reduksi Debit Banjir
Bendungan Randugunting Akan Reduksi Debit Banjir

Pembangunan bendungan, embung dan infrastruktur sumber daya air lainnya adalah upaya mencapai ketahanan air dan kedaulatan pangan sebagai bagian dari program Nawacita yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi.

Bendungan Randugunting dibangun melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana dimana kontraknya dimulai pada November 2018, saat ini telah mencapai progress fisik 32, 24 % dan progress keuangan 31, 28 % (per 27 Maret 2020). Bendungan Randugunting akan memiliki manfaat mereduksi debit banjir sebesar 81, 42 m3/detik, penyediaan air daerah irigasi Kedengsapen, Kabupaten Rembang sebesar 630 ha dengan pola tanam Padi-Padi-Palawija, penyediaan air baku di Kabupaten Blora 100 liter/detik dan Pati 50 liter/detik serta pengembangan pariwisata air.

Terletak di aliran Sungai Banyuasin, DAS Randugunting, Desa Kalinanas, Kecamatan Japah Kabupaten Blora 148 km dari kota Semarang, Bendungan ini direncanakan akan seesai pada tahun 2022 dengan nilai kontrak sebesar Rp 858 miliar (kompusda)

04 April 2020 Selengkapnya

BWS Sumatera VI Sosialisasikan Pencegahan Virus Corona
BWS Sumatera VI Sosialisasikan Pencegahan Virus Corona

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI Provinsi Jambi mengadakan sosialisasi mengenai Pencegahan Virus Corona di aula BWS Sumatera VI (12/3/20). Sosialisasi ini dihadiri oleh Kepala BWS Sumatera VI, Nurfajri, serta para pejabat dan seluruh karyawan/i di BWS Sumatera VI. Pemahaman mengenai Virus Corona hingga cara-cara menyikapinyaa dipaparkan langsung dengan jelas oleh DR. Dr. Ike Silviana, MKM dari Dinas Kesehatan Provinsi Jambi.

Novel Corona Virus (2019-nCoV) atau yang kita kenal dengan Virus Corona telah menjadi ancaman serius bagi seluruh dunia, termasuk Indonesia. Penyebaran Virus Corona yang semakin luas dari hari ke hari berakibat pada melemahnya sektor ekonomi yang kemudian akan sangat berdampak bagi kehidupan sehari hari. Dengan adanya sosialisasi mengenai Pencegahan Virus Corona ini, tingkat kewaspadaan pegawai di Lingkungan BWS Sumatera VI terhadap Virus Corona ini akan semakin tinggi.

Tuntutan pekerjaan dari kementerian mengaharuskan BWS Sumatera VI berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal atau Pembina di Pusat. Sehingga resiko terkait Virus Corona cukup besar, karena notabennya Kemeterian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berada di Ibu Kota Jakarta.  Sebagaimana kita ketahui bersama, Menurut Data Kementerian Kesehatan, per 10 Maret 2020 terdapat 34 orang yang positif terinfeksi Virus Corona diantaranya berada di wilayah Jakarta dan Bali. Bahkan 1 orang pasien WNA di Bali dinyatakan meninggal dunia. Oleh sebab itu, perlu kewaspadaan dan pencegahan dari setiap pegawai, terutama yang sedang dan selesai melakukan perjalanan dinas ke luar kota untuk melakukan self assessment terkait kondisi tubuhnya jika merasa ada gejala, segera memeriksakan diri.

Resiko terinfeksi Virus Corona cukup tinggi bagi usia 50 tahun ke atas, dengan riwayat penyakit serta daya tahan tubuh yang rendah. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi Virus Corona adalah membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun, makan dengan gizi yang seimbang, rajin berolahraga dan istirahat yang cukup. Kepala BWS Sumatera VI, Nurfajri,  menghimbau kepada seluruh pegawai di Lingkungan BWS Sumatera VI agar menajadi pegawai yang sigap, sehingga mampu mengantisipasi penyebaran Virus tersebut dengan menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh. (BWS Sumatera VI)

12 Maret 2020 Selengkapnya

Selamat Mengemban Tugas, Duta Hari Air 2020
Selamat Mengemban Tugas, Duta Hari Air 2020

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air merayakan peringatan Hari Air Dunia yang jatuh tiap tanggal 22 Maret dengan serangkaian kegiatan. Salah satunya dengan Pemilihan Duta Hari Air 2020 bagi siswa/i SMA/SMK/Se-derajat di Jabodetabek. Setelah dilaksanakan babak penyisihan dan semifinal, tibalah kemarin (11/3) masuk pada babak final untuk memilih peserta yang paling tepat menjadi Duta Hari Air 2020.
 
Dalam sambutannya mewakili Menteri PUPR, Widiarto selaku Inspektur Jenderal Kementerian PUPR dalam berharap bila Duta Hari Air dapat menyuarakan pentingnya pelestarian air.
 
"Duta Hari Air kami harapkan dapat menyuarakan sumber air untuk kita lestarikan. Urusan air itu urusan semua pihak termasuk masyarakat sebagai pemakai air, tidak ada diantara kita yang dapat hidup tanpa minum air sehingga kita wajib melestarikan air," ujarnya. 
 
Widiarto menyebut pemerintah selama ini bertugas mengelola sumber daya air dengan membangun embung, saluran irigasi, hingga bendungan. Lalu ada tugas masyarakat yakni menjaga agar sampah tidak masuk ke sungai.
 
"Misal penanganan sampah sebelum masuk sungai, penanganan sanitasi sebelum masuk sungai, itu upaya non struktrur yang tak kalah penting. Hari ini dalam pemilihan Duta Hari Air, kita mendorong upaya kultural dalam pengelolaan sumber daya air. Kita harapakan adik-adik generasi milenial menjadi duta kultural dalam konservasi air," ungkapnya.
 
Awalnya terdapat 106 peserta yang mengikuti ajang ini dan mengerucut hingga 12 peserta pada babak final. Dalam babak akhir ini, peserta diadu kemampuan berpidato di depan ratusan penonton dan 4 dewan juri. Acara kali ini semakin meriah dengan lomba yel yel dari berbagai sekolah sebagai bentuk dukungan bagi masing-masing peserta. 
 
Sementara itu, Plt. Sekretaris Ditjen SDA, Edy Juharsyah mengatakan bahwa generasi milenial banyak terlibat dalam lingkungan sosial karena mereka lebih aktif bersosialisasi sehingga semua bisa membuat jejaring untuk mereka bisa menyampaikan informasi terkait gerakan kita tentang sumber daya air seperti menghemat air dan melestarikan air. 
 
"Melalui pemilihan Duta Hari Air ini, saya berharap peserta dapat mengenal lebih banyak manfaat dan keberlangsungan air. Hingga akhirnya mereka terlibat aktif untuk berbuat dalam upaya melestarikan air," ujar Edy. 
 
Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, karena seluruh peserta memiliki kemampuan yang mumpuni. Para dewan juri pun akhirnya memilih Daniel Sebastien Widjaja dari SMA Kanisius Jakarta dan Jeevalraj Aulakh dari SMA Saint John Meruya sebagai Duta Hari Air 2020. Keduanya berhasil menyingkirkan 10 kontestan lain di babak final. 
 
Keduanya mengaku senang dan bangga atas pencapaian ini, tapi mereka sadar untuk melakukan berbagai hal demi mengkampanyekan pentingnya keberlangsungan air bagi masa depan. 
 
Jeevalraj mengungkapkan, awalnya cukup gugup dalam mengarungi babak demi babak sebelum akhirnya terpilih sebagai Duta Hari Air 2020 karena peserta lainnya memiliki kemampuan yang baik dalam berpidato. Namun dia bersyukur menjalaninya karena melalui ajang ini, ia memiliki banyak teman baru. 
 
"Gugup banget, tapi kalau bukan karena acara ini saya gak akan tahu Kementerian PUPR, Ditjen SDA, dan tidak akan kenal teman baru sebanyak ini," ujarnya ketika ditemui selepas acara. 
 
Sementara Daniel mengungkapkan hal serupa. Namun dia merasa kompetisi itu tidak terlalu penting mengingat persahabatan yang terjalin antar kontestan. Ia berharap bila kompetisi tahun depan akan berlangsung lebih seru. 
 
"Sudah cukup keren, semua sudah bagus, semoga lebih kreatif tahun depan dan lebih antusias tahun depan," ujarnya. 
 
Berikut ini adalah daftar lengkap seluruh pemenang Pemilihan Duta Hari Air 2020 :
 
Juara Duta Hari Air - Putra
1. Juara 1 : Daniel Sebastien Widjaja dari SMA Kanisius Jakarta
2. Juara 2 : Andika Putra dari SMAN 2 Tangerang Selatan 
3. Juara 3 : Dennis Winata dari SMA Tunas Bangsa Greenvilee
 
Juara Duta Hari Air - Putri
1. Juara 1 : Jeevalraj Aulakh dari Saint John Jakarta
2. Juara 2 : Bilbina Ratu Laila dari SMAN 6 Jakarta
3. Juara 3 : Zahrin Dzakiyya Anwar dari SMAN 2 Bekasi

12 Maret 2020 Selengkapnya

Kementerian PUPR Bangun Fasilitas Observasi COVID 19
Kementerian PUPR Bangun Fasilitas Observasi COVID 19

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sedang mempersiapkan pembangunan fasilitas observasi sebagai tempat pengendalian infeksi penyakit menular, khususnya COVID-19 (Corona) yang saat ini sedang mewabah. Pembangunan fasilitas tersebut di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Fasilitas dibangun dengan memanfaatkan lokasi tempat penampungan kamp pengungsi Vietnam yang difungsikan sejak tahun 1979 hingga 1996 di Pulau Galang, Batam. Kini lokasi tersebut merupakan kawasan wisata sejarah.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo, seluruh fasilitas kesehatan yang dibangun tersebut diharapkan selesai akhir Maret 2020.

"Target yang diberikan Bapak Presiden adalah 2-3 minggu harus selesai dan siap untuk dimanfaatkan. Berarti tidak hanya bangunan untuk observasi/penampungan/karantina (termasuk isolasi) saja, tetapi juga pendukungnya, seperti rumah dokter/perawat, dapur umum, gudang, laundry, dan lain-lain. Sekarang sudah mulai land clearing, pasokan listrik dari PLN juga akan segera kita sambungkan," kata Menteri

Selain itu di sekitar fasilitas utama juga akan dilengkapi sarana olahraga, ruang terbuka hijau serta sarana pengolahan sampah padat dengan insinerator khusus, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Untuk insinerator limbah padat, kita akan bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Sementara itu, Menteri Basuki mengatakan untuk menyediakan air baku, telah disiapkan 4 alternatif tampungan air yakni Waduk Monggak Rempang dengan debit 232 liter/detik berjarak 16 km, Embung Camp Vietnam (0,11 liter/detik) berjarak 1,6 km, Embung Setotok (1,5 liter/detik) berjarak 35 km, dan Waduk Sei Gong (400 liter/detik) berjarak 4,1 km, namun Waduk Sei Gong kondisi airnya masih payau. "Untuk menunjang fasilitas observasi dan isolasi, kami akan bangun instalasi pengolahan air (IPA) dengan kapasitas 5 liter/detik yang bersumber dari Waduk Monggak Rempang," jelas Menteri Basuki.

Waduk Monggak Rempang memiliki volume tampung 5,1 juta m3 dengan luas genangan 154, 6 hektar. Untuk pengerjaannya, saat ini Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera IV Ditjen SDA tengah menyiapkan pipa transmisi sepanjang 16,2 km dan pipa distribusi di dalam kawasan untuk sepanjang 6,7 km. Total anggaran diperkirakan sekitar Rp 17 miliar.

Saat ini pekerjaan Land clearing telah dimulai dengan memobilisasi alat berat dozer 7 unit, excavator 7 unit, dump truck 4 unit, genset 2 unit, 2 mobil tangki air dan 1 toilet mobile.

Kementerian PUPR juga akan meningkatkan akses keluar masuk pulau dengan membangun helipad dan disiapkan penataan dermaga di Pelabuhan Pulau Galang yang dikelola UPT Dinas Perhubungan Pemkot Batam. (Birkom/BWS Sumatera IV)

10 Maret 2020 Selengkapnya

Menteri Basuki Lantik 10 Pejabat Tinggi Madya di Lingkungan Kementerian PUPR
Menteri Basuki Lantik 10 Pejabat Tinggi Madya di Lingkungan Kementerian PUPR

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono melantik 10 Pejabat Tinggi Madya (eselon I) di lingkungan Kementerian PUPR, di Jakarta (5/3). Pelantikan dilakukan untuk mengukuhkan dan menggantikan beberapa pejabat yang telah memasuki masa purna bhakti, salah satunya melantik Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air yang kini dijabat oleh Ir. Jarot Widyoko, Sp-1.

Adapun sembilan Pejabat Tinggi Madya lainnya yang dilantik yaitu Prof. (R) Anita Firmanti Eko Susetyowati, M.T sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian PUPR, Ir. Widiarto, Sp-1 sebagai Inspektur Jenderal (Irjen), Dr. Ir Hedy Rahadian, M. Sc sebagai Dirjen Bina Marga, Dr. Ir. Danis Hidayat Sumadilaga, M.Eng.Sc sebagai Dirjen Cipta Karya, dan Dr. Ir. H Khalawi. A.H., M.M.,M.Sc sebagai Dirjen Perumahan.

Lalu Ir. Trisasongko Widianto, Dipl, He sebagai Dirjen Bina Konstruksi, Dr. Ir. Eko Djoeli Heriepoerwanto, M.C.P sebagai Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan; Ir. Hadi Sucahyono, M.P.P., Ph.D. sebagai Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW), dan terakhir, Ir. Sugiyartanto, M.T sebagai Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM).

Dalam sambutannya, Menteri Basuki mengatakan di tengah ketidakpastian ekonomi akibat merebaknya virus corona, pejabat yang dilantik untuk segera melakukan percepatan pengadaan barang dan jasa anggaran infrastruktur Tahun 2020. Dimana lelang dini paket kontraktual pekerjaan infrastruktur TA 2020 telah dilakukan sejak 6 November 2019. Hal ini untuk meningkatkan kualitas belanja anggaran pembangunan infrastruktur karena pekerjaan dapat dimulai lebih awal.

“Saya meminta kepada pejabat yang dilantik sebagai komandannya untuk mempercepat. Untuk itu, unit organisasi agar dapat mempersiapkan dokumen tender dengan lebih baik,” kata Menteri Basuki.

Selain itu, Menteri Basuki meminta agar pembangunan infrastruktur berbasis masyarakat seperti Program Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di lingkup Ditjen SDA dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) serta Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di lingkup Ditjen Cipta Karya untuk dipercepat realisasinya, sehingga dapat mempertahankan daya beli masyarakat.

Menteri Basuki juga berpesan kepada pejabat dilantik dapat memberikan kontribusinya untuk meningkatkan kinerja organisasi dengan melakukan Bimbingan Teknik (Bimtek) dan membentuk Unit Kepatuhan Internal di setiap unit organisasi sebagai first line of defense.

“Selanjutnya saya mengingatkan apa yang sudah disepakati dalam membelanjakan uang negara dengan mengacu pada peraturan yang ada. Ingat 4 Big No’s: No Bribery, No Kick Back, No Gift, No Luxurious Lifestyle,” ujar Menteri Basuki.

Dalam kesempatan ini, Menteri Basuki mengucapkan terima kasih kepada para Pejabat Tinggi Madya yang telah menyelesaikan tugas dan atas dedikasi yang luar biasa dalam pembangunan infrastruktur yakni kepada Dr. Ir. Hari Suprayogi (mantan Dirjen SDA), Dr. Ir. Syarif Burhanuddin (mantan Dirjen Bina Konstruksi), dan Ir. Lolly Martina Martief, M.T. (mantan Kepala BPSDM). Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Komisi V DPR RI sebagai mitra kerja Kementerian PUPR yang diwakili oleh Wakil Ketua Komisi V Ahmad Riza Patria. Turut hadir Pejabat Tinggi Madya dan Paratama di lingkungan Kementerian PUPR, perwakilan Kementerian/Lembaga dan BUMN. (ech/ams – Kompu SDA)

 

05 Maret 2020 Selengkapnya

Komisi V DPR RI Tinjau Progress Bendungan Karian
Komisi V DPR RI Tinjau Progress Bendungan Karian

Komisi V DPR RI bersama jajaran Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kemarin (20/2) melakukan kunjungan kerja spesifik ke  Bendungan Karian di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak Provinsi Banten.
 
Dalam kunjungannya, mereka mendorong percepatan pembangunan dan memastikan bahwa pembangunan Bendungan ini nantinya dapat berfungsi meminimalisir banjir sebesar 30 perser dengan mengendalikan aliran Sungai Ciberang sebesar 60,8 juta m3. Hal ini sekaligus untuk penanganan pasca banjir bandang sungai ini yang merendam enam kecamatan, yaitu Cipanas, Lebakgedong, Sajira, Curugbitung, Maja dan Cimarga. 
 
Selain sebagai pengendalian banjir, bendungan ini digadang akan bermanfaat untuk irigasi dan suplai air baku. Tak hanya itu, bendungan ini juga memiliki potensi energi mini hidro dan wisata. Pada musim hujan, Bendungan Karian yang berkapasitas 314,7 juta m3 ini akan mampu menahan aliran air Sungai Ciberang hingga 60,8 juta m3," ungkap Wakil Ketua Komisi V DPR RI Ridwan Bae saat memimpin Tim Kunfik Komisi V DPR RI. 
 
Dalam laporannya pasca terjadi banjir, Wakil Bupati Lebak, Ade Sumardi mengatakan bahwa terdapat 1 bukit di kecamatan yang longsor, ada 40 desa yg terkena dan 900 kk yg harus direlokasi.
 
Sementara dalam penanganan banjir yang terjadi di Banten, Kepala Pusat Air Tanah dan Air Baku Iriandi Azwartika mengatakan Ditjen SDA membangun bendungan dengan tujuan untuk menyiapkan ketahanan air. Menahan air sebanyak-banyaknya ketika musim hujan, melepaskan air sebanyak2nya ketika musim kemarau.
 
"Secara teknis kami menangani banjir bahwa untuk menangani banjir yang masuk ke waduk, di hulu harus ada sabo dam. Itu skala teknisnya untuk mengurangi air dan sedimentasi. Sementara secara non teknis ada GNKPA, dengan salah 1 nya komunitas peduli sungai,"
 
Senada dengan Iriandi, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian Tris Raditian juga mengatakan bahwa pihaknya selain membangun juga akan mengecek sampah-sampah dari hulu yang membawa sedimentasi karena kalau masuk ke daerah tampungan bendung maka akan mengurangi life cycle. 
 
Dirinya juga mengatakan bahwa penyebabnya memang air. "Namun bersama Cipta Karya, Bina Marga dan juga perumahan kita melakukan survei dan perencanaan kemudian masuk ke penganggaran. Pasca bencana, kita lakukan tanggap darurat di pintu air irigasi dan jembatan, Pondok latansa sudah kita berikan bantuan sebanyak 6.000 kantong pasir, 715 bronjong, serta 200-an bahan banjiran. Terutama yang daerah Sajira akan kita bebaskan, sudah 276 bidang sudah dibayarkan, " jelas Tris. 
 
Bendungan Karian merupakan tipe bendungan urugan batu dengan inti tegak dengan kapasitas total 314.7 juta m3 dengan tinggi bendungan utama 63.5 m dan panjang 516 m. Manfaat dari Bendungan Karian ini adalah sebagai air RKI ( rumah tangga kantor dan industri) untuk kabupaten Lebak, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, kota Tangerang Selatan dan wilayah Provinsi DKI Jakarta dengan penyediaan air sebesar 9,1 M3 per detik melalui Serpong conveyance sistem. 
 
Penyediaan kebutuhan suplesi ke daerah irigasi Ciujung dengan luas 22. 000 hektar dan pemenuhan kebutuhan air RKI kota Cilegon serta Kabupaten Serang sebanyak 5,5 m kubik per detik. Selain itu Bendungan Karian juga menyediakan sarana rekreasi dan tujuan wisata air serta potensi pembangkit energi listrik sebesar 1,8 megawatt melalui pembangkit listrik tenaga mini hidro. Adapun total alokasi air baku dari waduk karian adalah 14, 6 m3/detik dibagi untuk satu titik untuk RKI sebesar 13, 9 m3/detik dan untuk irigasi sebesar 0,7 m3/detik lalu alokasi RKI untuk Provinsi Banten sebesar 9, 7 m3/detik dan untuk DKI sebesar 4, 2 m3/detik. Saat ini pembangunan progres fisik sebesar 58 % dan ditargetkan selesai pada Maret 2021. Bendungan ini memiliki kapasitas tampung 314,7 juta m3 dan luas genangan maksimum sebesar 1,740 hektar yang dapat dimanfaatkan untuk menambah kebutuhan suplesi ke Daerah Irigasi (DI) Ciujung. (kompusda/din-ket) 
 
 
 

21 Februari 2020 Selengkapnya

DPR RI Tinjau Pembangunan Kolam Retensi Andir dan Terowongan Nanjung
DPR RI Tinjau Pembangunan Kolam Retensi Andir dan Terowongan Nanjung

Komisi V DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke infrastruktur sumber daya air diantaranya Kolam Retensi Andir dan Terowongan Nanjung yang ada di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kunjungan kerja spesifik pada 20 Februari 2020 ini merupakan program kerja DPR RI yang nantinya menjadi bahan evaluasi untuk program kerja pemerintah kedepannya.

 

Plh. Dirjen SDA Jarot Widyoko menjelaskan bahwa kolam retensi yang terletak di Kelurahan Andir yang rencananya akan dibangun pada Mei hingga Desember 2020 tersebut merupakan upaya Ditjen SDA untuk meminimalisir banjir yang selalu melanda daerah Kelurahan Andir dan sekitarnya. “Kami mengharapkan kerjasama dari pemerintah daerah setempat untuk membebaskan lahan yang akan digunakan untuk membangun kolam retensi, agar pembangunannya bisa dengan lancar dilaksanakan oleh BBWS Citarum,” jelas Jarot ke Komisi V DPR RI.

 

Kolam Retensi Andir akan memiliki luas genangan seluas 2,78 hektar dengan volume tampungan sebanyak 139.000 meter kubik. Ada 4 pompa yang akan dibangun dengan kapasitas masing-masing 2000 liter per detik. Kolam ini akan menjadi kolam retensi banjir di wilayah Kelurahan Andir yang akan mengamankan permukiman dengan kurang lebih 1.500 Kepala Keluarga dan juga mengamankan jalan kabupaten dari genangan air. Selain Kolam Retensi Andir, Ditjen SDA juga akan segera membangun beberapa polder yang tersebar di Kabupaten Bandung, salah satunya Polder Bojongsoang yang terletak di Desa Bojongsoang, Dayeuhkolot. Polder ini nantinya akan mengamankan permukiman sebanyak kurang lebih 4000 Kepala Keluarga, juga jalan provinsi.

 

Di lokasi kunjungan berikutnya, Terowongan Nanjung, Kepala BBWS Citarum Bob Artur Lombogia menjelaskan kepada Komisi V DPR RI bahwa Terowongan Nanjung menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meminimalisir banjir di kawasan Bandung Selatan. Pembangunan Terowongan Nanjung yang berada di kawasan hulu Citarum di Curug Jompong ini dibangun pada November 2017 dan tuntas pada Desember 2019 yang terdiri dari 2 tunnel dengan panjang masing-masing 230 meter dan diameter 8 meter yang berfungsi untuk memperlancar aliran Sungai Citarum ke hilir sehingga lama dan luas genangan banjir di kawasan Bandung Selatan bisa berkurang.

 

Jika pengendalian banjir sudah selesai semua, seperti Embung Gedebage, Pembangunan Kolam Retensi, dan Floodway Cisangkuy, maka genangan akan benar-benar terkurangi. Dari 490 hektar yang tergenangi oleh banjir, berkurang menjadi 80 hektar. Memang beberapa masih proses dan tahun 2020 ini akan kita selesaikan, dan setelah itu baru kita kerjakan di hilirnya. Kita tidak bisa mengerjakan bagian hilirnya saja atau hulunya saja, jadi harus keseluruhan,” jelas Bob ke Komisi V DPR RI.

 

Dengan keberadaan Terowongan Nanjung bisa memperlancar aliran Sungai Citarum, kapasitas sungai meningkat menjadi 669 m3/detik dari semulanya kapasitas air di Sungai Citarum 570 m3/detik, sehingga dapat mengurangi luas daerah genangan banjir seluas 700 hektar, yang semula 3.461 hektar menjadi 2.761 hektar di kawasan Bandung Selatan yaitu wilayah Dayeuhkolot, Baleendah, Andir dan sekitarnya yang dihuni oleh sekitar 14.000 KK. (kompusda sandro/amsori) 

20 Februari 2020 Selengkapnya

Sabo sebagai Pengendali Aliran Lahar Dingin
Sabo sebagai Pengendali Aliran Lahar Dingin

 
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, melakukan kunjungan kerja ke Provinsi DI Yogyakarta, dan salah satu agenda dari kunjungan kerja ini adalah Pengendalian Banjir Lahar Gunung Merapi. Kunjungan kerja yg berlangsung pada hari ini, 14 Februari 2020, Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimoeljono, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubono X, dan Plt. Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Widiarto di Taman Nasional Gunung Merapi Jurang Jero, Kali Putih, DI Yogyakarta.
 
“Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api yang teraktif di Indonesia, erupsi besar terjadi setiap 10 tahun sekali, erupsi kecil terjadi 2 kali dalam 10 tahun, erupsi terbesar terjadi tahun 2010 ( sejak 170 tahun). Erupsi Gunung Merapi menyebabkan terjadinya banjir lahar yang mengakibatkan terjadinya kerusakan pemukiman, sarana dan prasarana jalan dan bangunan pengairan dan fasilitas umum lainnya,” sebut Widiarto, dalam paparannya yang disampaikan kepada Presiden Joko Widodo.
 
Program pengendalian banjir layar gunung merapi sudah dilaksanakan sejak tahun 1969 untuk penanggulangan dampak erupsi gunung merapi. Dalam rangka penanggulangan banjir lahar Gunung Merapi pada tahun 1977-1980 disiapin Master Plan (kerjasama Indonesia-Jepang), yang direview tahun 2001 (pasca erupsi 1994) dan tahun 2017 (pascal erupsi besar 2010 yang menghasilkan 140 juta  m3 lahar).
 
Lanjut Widiarto, berdasarkan master plan tersebut dilaksanakan pembangunan Sabo Dam dan Prasarana Pengendali Banjir Lahar secara besar-besaran (272 unit Sabo Dam) yaitu tahun  1986-1992 sebanyak 21 unit, tahun  1995-2001 sebanyak 97 unit, tahun 2005-2020 ada 115 unit dan tahun 2015-2021 terdiri dari 1 unit sand pocket (4 Sabo Dam), Diversion Channel (2,7 km) dan on going 4 unit Sabo Dam baru serta rehab 6 unit Sabo Dam.
 
Kementerian PUPR melaksanakan Pekerjaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sabo Dam yang salah satu pelaksanaannya di area Taman Nasional Gunung Merapi Jurang Jero di Kali Putih.
 
Sabo Dam Kali Putih merupakan salah satu bendungan yang dimanfaatkan untuk menampung aliran sedimen atau aliran debris di sungai yang menjadi arah aliran erupsi Gunung Merapi. Gunung yang saat ini sedang diwaspadai aktivitasnya oleh BMKG dan masyarakat, dipredisksi akan mengeluarkan banjir lahar hujan dari Gunung Merapi. Bendungan biasa gunanya untuk menahan air, sedangkan Sabo Dam menahan pasir dan batu sementara airnya bisa tetap lewat. Konstruksi Sabo juga di bandung secara bertingkat dengan ukuran berbeda, di mana yang terbesar berada di atas untuk menahan batu-batu besar dan yang paling kecil untuk menahan pasir.
 
Manfaat lainnya sebagai jembatan penghubung antar desa, intake air baku dan irigasi, area wisata. Dan bagian hulu Sabo sebagai lokasi penambangam pasir dan batu secara  terkendali. (tin, din kompuSDA)
 

14 Februari 2020 Selengkapnya

SDA Goes To School Dalam Rangka Hari Air Dunia 2020
SDA Goes To School Dalam Rangka Hari Air Dunia 2020

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melaksanakan kegiatan SDA Goes To School sebagai salah satu rangkaian dari kegiatan Peringatan Hari Air Dunia ke-28 Tahun 2020 yang selalu diperingati setiap tanggal 22 Maret tiap tahunnya dan masih melibatkan keikutsertaan para pelajar SMA/SMK/sederajat di Jabodetabek.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan SDA Goes To School ini tidak lagi dilaksanakan di lingkungan kantor PUPR, untuk tahun ini DItjen SDA menjemput bola ke 3 sekolah di wilayah Jakarta, Bekasi dan Tangerang Selatan. Masih dalam bentuk berkolaborasi dengan anak muda generasi milenial atau generasi Z, dengan agenda Pemilihan Duta Hari Air

Mengajak para anak muda generasi milenial atau generasi Z untuk dapat mengkampanyekan cara mengelola sumber daya air dan memberikan kontribusi serta menjadi positive influencer kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian sumber air agar di masa depan kita bisa menciptakan mata air, bukan air mata.

Tahun 2020 ini tema yang diusung oleh Hari Air Dunia adalah “Water and Climate Change” yang diaplikasikan ke dalam tema nasional yaitu Air dan Perubahan Iklim. Tentunya tema HAD mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dimana air memiliki peran penting dalam mitigasi bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Kepala Bagian Hukum dan Komunikasi Publik Ditjen SDA, Citra Fara Agnestasia dalam sambutannya mewakili Plt. Sekretaris Ditjen SDA menuturkan bahwa  pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara bersama-sama baik itu oleh Pemerintah, masyarakat, akademisi maupun stakeholder terkait lainnya.

“Salah satu upaya pengelolaan sumber daya air yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian PUPR cq Ditjen SDA adalah pembangungan infrastruktur sumber daya air seperti bendungan beserta waduknya, bendung, embung dan prasarana irigasi,” ujarnya.

SDA Goes To School 2020 dilaksanakan di 3 sekolah antara lain SMAN 6 Jakarta pada tanggal 11 Februari 2020, SMAN 1 Kota Bekasi tanggal 12 Februari 2020, dan SMAN 2 Tangerang Selatan 17 Februari 2020.

SDA Goes To School yang diselenggarakan hari ini di SMAN 1 Bekasi diikuti oleh ± 150 siswa/i, sedangkan Pemilihan Duta Hari Air 2020 di sekolah ini diikuti oleh 30 siswa/I se-JABODETABEK. (kompusda)

12 Februari 2020 Selengkapnya

Pengelakan Sungai Ciliwung Bendungan Ciawi
Pengelakan Sungai Ciliwung Bendungan Ciawi

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui BBWS Ciliwung Cisadane melaksanakan pengelakan Sungai Ciliwung atau river closure yang merupakan salah satu tahap keberlanjutan pekerjaan bangunan utama Bendungan Ciawi (Cipayung), 4 Februari 2020, di Bogor, Jawa Barat. Bendungan Ciawi merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) dan bendungan kering yang berlokasi di  Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, masa pelaksanaan konstruksinya dimulai pada tahun 2016 dan diharapkan selesai 2021 dengan nilai kontrak sebesar Rp. 798 miliar.

Plt. Direktur Jenderal SDA, Widiarto, mengatakan bahwa bendungan Ciawi adalah salah satu dari dua bendubgan kering (dry dam) yang berada di hulu sungai Ciliwung. “Bendungan ini merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir di Ibukota Jakarta sebagai wujud komitmen Kementerian PUPR untuk pengendalian banjir dari hulu hingga hilir sungai Ciliwung. Progres fisik Bendungan Cuawi saat inu adalah 45 persen. Sedangkan pembebasan lahan telah mencapai 92,1 persen,” jelas Plt. Direktur Jenderal SDA, Widiarto.

Lanjut Widiarto, Bendungan Ciawi memiliki volume tampung total sebesar 6,05 juta m3 bermanfaat dalam mereduksi banjir bagian hulu sebesar 111, 75 m3/det (30,6%). Kontribusi Bendungan Ciawi dalam pengendalian banjir pada pintu air Manggarai sebesar 11,9 persen .

 “Kendala-kendala yang dihadapi pasti banyak tapi saya yakin dengan  kerjasama semua pihak, semua dapat teratasi. Semoga bendungan ini dapat selesai tepat waktu meskipun masih ada beberapa tahapan penting yang harus dilalui antara lain penimbunaan bendungan utama,” kata Widiarto.

Sebagai informasi, sistem dry dam merupakan pengendalian banjir dilakukan dengan mengalirkan debit banjir melalui terowongan. Pada awal banjir, elevasi muka air berada pada elevasi yang rendah, air mengalir dengan kondisi bebas melalui terowongan. Hal tersebut akan memperlambat kenaikan muka air di hulu bendungan sehingga debit banjir hanya mengalir sesuai kapasitas terowongan.

Widiarto memberikan apresiasi terhadap kerja keras, dukungan dan peran aktif BBWS Ciliwung Cisadane, Pemda Jawa Barat, Pemkab Bogor, BPN, BPKP, LMAN dan masyarakat yang juga bersinergi untuk mendorong kelancaran pembangunan Bendungan Ciawi.

Pembebasan lahan

Pada kesempatan yang sama, Kepala BBWS Ciliwung Cisadane, Bambang Hidayah, mengatakan bahwa total kebutuhan lahan pembangunan Bendungan Ciawi seluas 78, 35 ha dengan jumlah bidang sebanyak 935 bidang. “Sampai dengan saat ini lahan yang telah dibebaskan seluas 66,0 ha sebanyak 862 bidang atau sebesar 92 %.  Dengan total realisasi pembayaran pembebasan lahan  sebesar Rp. 762, 6 miliar sedangkan sisanya akan tuntas pada akhir Maret 2020,” jelas Bambang Hidayah.

Proses pembebasan lahan pembangunan Bendungan Ciawi, menurut Bambang Hidayah, menjadi pengalaman yang berharga karena sejak proses pengumpulan data awal yabg melibatkan langsung jajaran di tingkat kecamatan, desa dan pemuka masyarakat kemudian dilanjutkan oleh BPN Kabupaten Bogor dan BPKP Pusat.

Dengan pengelakan sungai Ciliwung ke saluran pengelak (bottom outlet), merupakan tanda akan dimulainya pelaksanaan pekerjaan bangunan utama, yaitu meliputi pekerjaan galian pondasi tubuh bendungan, peebaikan pondasi bendungan, pekerjaan timbunan tubuh bendungan yang kemudian diharapkan Bendungan Ciawi dapat selesai keseluruhan pada akhir 2020 ini.

Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Pusat Bendungan, Ni Made Sumiarsih, Direktur Bina OP, Agung Djuhartono, Kepala BBWS Ciliwung Cisadane, Bambang Hidayah, seluruh jajaran BBWS Ciliwung cisadane, Pemkab Bogor, Bappenas, dan pemuka masyarakat. ( tin/nan-kompuSDA)

 

04 Februari 2020 Selengkapnya

Terowongan Nanjung Diresmikan oleh Presiden Joko Widodo
Terowongan Nanjung Diresmikan oleh Presiden Joko Widodo

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo hari ini (29/1) meresmikan Pembangunan Terowongan Nanjung yang merupakan bagian sistem pengendali banjir di cekungan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

“Sistem pengendali banjir di cekungan Bandung ini terdiri dari banyak pekerjaan besarnya, yaitu normalisasi di hulu sungai;Pembangunan Embung Gedebage;Pembangunan kolam retensi Cieunteung;Pembangunan floodway di Cisangkuy dan yang menjadi lokasi sekarang adalah Pembangunan Terowongan Nanjung,” ujar Presiden RI dalam sambutannya.

Dirinya juga berharap masih ada 1-2 pekerjaan yang ingin diselesaikan di tahun ini (2020), yakni 1 sodetan dan 1 kolam retensi. “Kalau ini sudah diselesaikan, setelah tahun 2020 InsyaAlloh banjir-banjir yang dulunya selalu terjadi di cekungan Bandung ini bisa tidak terjadi lagi,”

Pembangunan Terowongan Nanjung dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal SDA dengan 2 buah terowongan sepanjang 230 meter/terowongan. Memiliki kapasitas debit 350 m3/detik untuk satu terowongannya, Terowongan Nanjung memiliki manfaat untuk mengurangi dan mempercepat luas genangan serta menurunkan elevasi muka air pada saat banjir hingga 2-4 kali lipat.

Sebelumnya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa banjir terjadi karena ada Curug Jompong “Karena ada yang namanya Curug Jompong, jadi sungainya ada lengkungan sehingga airnya tertahan. Karena ada curug Jompong makanya saya desain terowongan ini," kata Basuki di Proyek Terowongan Nanjung, Bandung, Jawa Barat.

Dia menyampaikan, sebelum adanya terowongan ini luas banjir sekitar 490 km2 Namun dengan adanya terowongan luasnya tinggal 80 km2 dan lebih cepat surut.

Selain membangun terowongan kembar, upaya pengendalian banjir DAS Citarum terus dilakukan pemerintah pusat hingga 2024 sesuai Program Citarum Harum dalam Perpres Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Terowongan Nanjung merupakan salah satu pengendalian banjir Sungai Citarum di bagian hulu. Penanganan banjir Sungai Citarum sendiri terbagi menjadi 3 bagian yakni zona hulu, tengah dan hilir. Pengendalian banjir di bagian hulu ada beberapa sistem yang sedang Ditjen SDA kerjakan dan ada juga yang sudah selesai, antara lain penanganan normalisasi sungai-sungai di hulu dari mulai Rancaekek dan pelaksanaan akan selesai di tahun 2020 ini. Sementara yang selesai di bagian tengah adalah Embung Gedebage untuk mengurangi beban ke arah Dayeuh Kolot dan Bale Endah.

Plt Direktur Jenderal SDA Widiarto mengatakan di sekitar Dayeuh Kolot dan Bale Endah juga sudah diselesaikan pembangunan kolam retensi Cieunteung untuk mengurangi beban. “Untuk memperkuat sistem pengendalian banjir di Citarum itu kita juga kerjakan saat ini adalah pembangunan floodway Cisangkuy, kita harapkan selesai akhir 2020 ini. Ada beberapa titik cekungan-cekungan lokal kita selesaikan 2020 – 2021. Nanti di 2021 PUPR akan fokus di bagian hilir  rencananya ada pembangunan Bendungan Cibeet dan Bendungan Cijurai di Bogor,” ujar Widiarto.


Penanganan banjir tentunya bukan hanya menjadi urusan di hulu, demikian dikatakan juga oleh Presiden Joko Widodo. “Urusan di hulu bukan hanya urusan yang berhubungan dengan infrastruktur tapi juga rehabilitasi lahan yang di atas Citarum. Reboisasi, penghijauan kita juga harus kerjakan secara pararel kalau ini rampung baru kita masuk ke hilirnya yang juga memerlukan perhatian kita. Ini sebuah pekerjaan besar yang satu persatu kita selesaikan, sekali lagi dengan selesainya di akhir 2020 ini ke depan banjir bisa kita minimalisir di Bandung ini,” jelas Jokowi.

Dalam kesempatan yang sama pada peresmian tersebut, turut dilaksanakan Peninjauan Penandatanganan Kontrak Hasil Tender Dini TA 2020 Kementerian PUPR. Menteri Basuki mengatakan bahwa ini dilakukan untuk dapat mengelola APBN lebih berkualitas maka dilakukan tender dini sehingga dimulai bulan Januari ini semua bisa bekerja dan ada penyerapan di DIPA tahun 2020.

“Kementerian PUPR mendapatkan alokasi pembangunan infrastruktur sebesar 120 T di tahun 2020 ini, sebanyak 98 persen akan dibelanjakan secara kontraktual yaitu sebanyak 93 T. Itu telah dibagi di dalam 7426 paket pekerjaan. Pelaksanaan tender dini sudah dilaksanakan sejak 6 November 2019, dan hingga 29 januari hari ini telah terikat kontrak sebnayak 3.086 paket pekerjaan sebesar 36,2 T atau 48 persen. Pada hari ini,  akan ditanda tangani 100 paket kontraktual sebagai simbol dari seluruh indonesia bahwa kita mulai bekerja pada januari sebesar 4,8 T,” tutup Menteri PUPR.(kompusda-ech/arg/dan/dnd)

29 Januari 2020 Selengkapnya

Komisi V DPR RI Kunjungi Bendungan Lempake di Samarinda
Komisi V DPR RI Kunjungi Bendungan Lempake di Samarinda

“Banjir tidak bisa dihilangkan sama sekali, hanya bisa diminimalisir saja,” ucap Direktur Bina OP Agung Djuhartono saat mendampingi Komisi V DPR RI yang melakukan kunjungan kerja spesifik ke Bendungan Lempake yang ada di Samarinda, Kalimantan Timur pada 23 Januari 2020.

 

Ia menambahkan bahwa bencana yang satu ini, dimanapun ia menghampiri, memang tidak bisa dihilangkan sama sekali. Kenapa? Karena semakin ke sini, curah hujan semakin tinggi, belum lagi durasinya yang semakin lama. Tapi bukan itu saja penyebabnya. Daya serap tanah yang terus berkurang akibat aktivitas manusia, tentu tidak bisa lagi dengan maksimal menyerap air hujan yang turun. Bisa jadi karena di bagian hulu sungai sudah semakin gundul akibat penebangan pohon sembarangan. Bisa juga karena semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk yang menuntut naiknya rumah hunian, juga gedung lainnya yang artinya drainase semakin berkurang. Belum lagi, hunian di bantaran sungai yang semakin marak, sehingga banjir kerap melanda beberapa daerah.

 

Banjir yang melanda Samarinda pada bulan Juni 2019 lalu, terjadi akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi hujan lebih dari 8 jam. Dampaknya, banyak wilayah yang digenangi air setinggi 50-150 cm. Banyak kegiatan yang lumpuh, juga kerugian yang menimpa warganya.

 

Kepala BWS Kalimantan III Anang Muchlis terkait solusi jangka panjang apa yang akan dilakukan untuk meminimalisir banjir di Samarinda, memaparkan bahwa akan segera dilaksanakan kegiatan yang telah disusun dalam Masterplan Pengendalian Banjir Kota Samarinda. “Program ini akan dibagi ke beberapa segmen yang disesuaikan dengan kondisi wilayahnya, misalnya pada bagian hulu akan diperbanyak kolam retensi yang berguna untuk menampung air hujan sebelum dialirkan ke Sungai Karangmumus yang akan berakhir ke Sungai Mahakam, melakukan revitalisasi terhadap Bendungan Lempake, juga menaturalisasi sungai di kawasan Bayur,” papar Anang ke para anggota Komisi V DPR RI.

 

Di beberapa segmen lainnya, akan dibangun tanggul untuk meminimalisir dampak banjir, revitalisasi rawa, pembuatan sistem polder dan pompa pada beberapa perumahan yang berpotensi terkena dampak banjir, juga memperbanyak kolam retensi sebagai tampungan air. Anang menambahkan bahwa ia akan segera bekerjasama dengan pemerintah kota Samarinda terkait pembebasan lahan agar program Masterplan Pengendalian Banjir Kota Samarinda bisa terlaksana dengan baik. (dro/ams KompuSDA) 

24 Januari 2020 Selengkapnya