Publikasi

Berita Balai

Bangunan Siphon: Penopang Sistem Irigasi Menuju Swasembada Pangan di Indramayu
Balai Berita
31 Oct 2025

Bangunan Siphon: Penopang Sistem Irigasi Menuju Swasembada Pangan di Indramayu

Bangunan siphon merupakan salah satu struktur hidrolik penting dalam sistem irigasi yang berfungsi mengalirkan air di bawah saluran atau sungai tanpa mengganggu aliran di atasnya. Desain ini memungkinkan distribusi air tetap lancar meskipun harus melewati rintangan alam seperti lembah, jalan, atau aliran sungai. Fungsinya sangat vital untuk menjaga kontinuitas aliran air menuju lahan pertanian, terutama di daerah dengan kondisi topografi kompleks. Dua contoh bangunan siphon yang memiliki peranan strategis terdapat di B.Bt 16 Desa Karangasem dan B.Bt 19 Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu. Kedua infrastruktur ini menjadi bagian penting dari jaringan irigasi di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung, yang berfungsi menyalurkan air ke areal persawahan secara stabil dan efisien. Dengan adanya bangunan ini, air dapat mengalir tanpa hambatan ke lahan pertanian, memastikan kebutuhan air petani terpenuhi sepanjang musim tanam. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu (2024), wilayah Kecamatan Terisi memiliki luas baku sawah sekitar 5.800 hektare, di mana lebih dari 70 persennya bergantung pada pasokan air dari sistem irigasi yang dikelola BBWS Cimanuk Cisanggarung. Dengan keberadaan siphon di dua lokasi tersebut, efisiensi distribusi air meningkat, sehingga risiko kekeringan berkurang dan produktivitas pertanian dapat naik hingga estimasi 15–20 persen per musim tanam, berdasarkan hasil monitoring lapangan proyek sejenis di wilayah Pantura. Pembangunan dan pemeliharaan bangunan irigasi seperti siphon ini juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air, yang menegaskan pentingnya peningkatan infrastruktur air guna memperkuat ketahanan pangan dan mendukung kesejahteraan petani. BBWS Cimanuk Cisanggarung terus memastikan setiap elemen jaringan irigasi, termasuk bangunan pelengkap seperti siphon, berfungsi optimal untuk menunjang keberlanjutan sistem pertanian di wilayah Indramayu. Dengan keberadaan bangunan siphon di Karangasem dan Plosokerep, air yang mengalir bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga simbol komitmen terhadap swasembada pangan nasional. Infrastruktur ini menjadi penghubung antara teknologi dan kearifan lokal petani dalam mengelola air secara bijak demi masa depan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.

GUAR BUMI: Wujud Syukur dan Kearifan Lokal Petani Majalengka Menyambut Musim Tanam
Balai Berita
31 Oct 2025

GUAR BUMI: Wujud Syukur dan Kearifan Lokal Petani Majalengka Menyambut Musim Tanam

Sobat Cimancis, GUAR BUMI atau sedekah bumi merupakan salah satu tradisi luhur masyarakat di Kabupaten Majalengka yang masih lestari hingga kini. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang telah diterima, sekaligus doa bersama untuk menyambut datangnya musim tanam padi berikutnya. Dilaksanakan hampir di setiap desa, GUAR BUMI mencerminkan kuatnya ikatan sosial dan spiritual antara manusia, alam, dan air sebagai sumber kehidupan. Pelaksanaan GUAR BUMI biasanya dilakukan di awal musim penghujan, saat para petani mulai menyiapkan lahan pertanian. Dalam prosesi ini, masyarakat berkumpul di balai desa atau dekat sumber air untuk berdoa bersama, menggelar tumpeng, serta melakukan ritual adat yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini juga menjadi momentum mempererat kebersamaan antarwarga dan menumbuhkan semangat gotong royong dalam pengelolaan lahan serta sistem irigasi desa. Bagi masyarakat Majalengka, keberhasilan musim tanam sangat bergantung pada ketersediaan air irigasi yang memadai. Karena itu, pelaksanaan GUAR BUMI tidak hanya bernuansa budaya, tetapi juga mengandung makna ekologis — sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya air. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka (2024), sekitar 58 ribu hektare lahan pertanian di wilayah ini masih bergantung pada irigasi teknis dan setengah teknis yang dikelola oleh BBWS Cimanuk Cisanggarung. Pelestarian tradisi GUAR BUMI sejalan dengan semangat aktif petani dalam menjaga saluran irigasi dan sumber air menjadi bukti bahwa kemandirian pangan tidak hanya dibangun dengan teknologi, tetapi juga dengan nilai-nilai budaya dan rasa syukur. Dengan menjaga tradisi GUAR BUMI, masyarakat Majalengka tidak hanya melestarikan warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah melalui harmoni antara manusia dan alam. Dari ritual sederhana ini, lahirlah kesadaran bahwa air adalah anugerah yang harus dijaga bersama demi keberlanjutan pertanian dan kesejahteraan generasi mendatang.

Perbaikan Saluran Sekunder Randegan Dorong Efisiensi Irigasi dan Produktivitas Petani Majalengka
Balai Berita
31 Oct 2025

Perbaikan Saluran Sekunder Randegan Dorong Efisiensi Irigasi dan Produktivitas Petani Majalengka

Taufik Hidayat, seorang perwakilan desa sekaligus petani asal Desa Randegan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, menyampaikan rasa syukurnya atas selesainya kegiatan perbaikan saluran sekunder Randegan. Ia menuturkan bahwa sebelum dilakukan perbaikan, saluran tersebut mengalami kebocoran yang cukup parah sehingga distribusi air ke lahan pertanian kerap terhambat. Akibatnya, banyak petani di wilayah tersebut kesulitan memperoleh pasokan air yang cukup untuk kebutuhan tanam, terutama pada musim kemarau. Kini, setelah dilakukan perbaikan oleh BBWS Cimanuk Cisanggarung, aliran air irigasi dapat mengalir lebih lancar dan stabil hingga ke area hilir. Kondisi ini memberikan dampak positif bagi petani, karena distribusi air menjadi lebih efisien dan merata, sehingga pengelolaan lahan dapat dilakukan secara optimal. Menurut Taufik, keberhasilan perbaikan saluran ini tidak hanya membantu menjaga keberlanjutan pertanian, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan hasil panen para petani di Desa Randegan. Secara umum, peningkatan fungsi saluran sekunder ini diperkirakan mampu meningkatkan efisiensi distribusi air hingga 25–30 persen dibandingkan kondisi sebelumnya. Angka ini merupakan estimasi berbasis proyek rehabilitasi saluran serupa di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung. Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, petani kini dapat melaksanakan pola tanam hingga dua kali dalam setahun, yang pada gilirannya berpotensi menaikkan hasil panen padi rata-rata dari 5,8 ton menjadi sekitar 6,5 ton per hektar. Upaya rehabilitasi saluran sekunder Randegan merupakan bagian dari implementasi Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air. Program ini menekankan pentingnya percepatan pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan petani. BBWS Cimanuk Cisanggarung sebagai pelaksana lapangan berkomitmen memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai standar teknis dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Dengan perbaikan saluran sekunder Randegan, masyarakat Desa Randegan kini memiliki akses air yang lebih baik untuk mendukung kegiatan pertanian mereka. Air yang mengalir di saluran ini tidak hanya menjadi sumber kehidupan bagi tanaman padi, tetapi juga menjadi simbol harapan baru bagi petani dalam mewujudkan pertanian yang produktif, berkelanjutan, dan mendukung swasembada pangan nasional.

Sumur JIAT Desa Kroya Jadi Solusi Ketersediaan Air Bersih di Musim Kemarau
Balai Berita
31 Oct 2025

Sumur JIAT Desa Kroya Jadi Solusi Ketersediaan Air Bersih di Musim Kemarau

Warji, selaku Operator Sumur JIAT Desa Kroya, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, menyampaikan rasa syukurnya atas berfungsinya fasilitas air bersih di desanya. “Rasa syukur kami panjatkan, kini warga Desa Kroya dapat menikmati air bersih berkat terbangunnya Sumur JIAT. Terima kasih kepada BBWS Cimanuk Cisanggarung atas perhatian dan dukungannya. Kehadiran sumur ini menjadi solusi bagi kebutuhan air masyarakat, terutama di musim kemarau,” ungkapnya. Pembangunan Sumur JIAT ini merupakan bagian dari upaya BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam meningkatkan akses air bersih di wilayah yang rawan kekeringan. Sumur ini dilengkapi dengan pompa dan sistem distribusi yang mampu menyalurkan pada lahan pertanian skala kecil. Infrastruktur ini dirancang agar tahan terhadap fluktuasi muka air tanah dan tetap berfungsi optimal di musim kering. Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Indramayu, sekitar 28 persen wilayahnya tergolong rawan kekeringan pada musim kemarau panjang. Dengan adanya Sumur JIAT di Desa Kroya, diperkirakan kebutuhan air pada lahan pertanian dapat terpenuhi. Angka ini merupakan estimasi berbasis kapasitas rata-rata sumur dengan debit sekitar 2–3 liter per detik yang dikelola di bawah program serupa di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung. Kehadiran infrastruktur air bersih ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air, yang menekankan pentingnya penyediaan sarana air untuk mendukung ketahanan sumber daya air nasional. Melalui pembangunan Sumur JIAT, BBWS Cimanuk Cisanggarung berupaya menghadirkan manfaat langsung yang dapat dirasakan oleh masyarakat desa, khususnya dalam menjaga keberlanjutan akses air pada lahan pertanian. Kini, warga Desa Kroya tidak lagi kesulitan mendapatkan air pada musim kemarau. Sumur JIAT tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar Masyarakat petani, tetapi juga menjadi bukti bahwa pengelolaan sumber daya air yang tepat dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat dan mendukung pembangunan berkelanjutan di daerah.

Sumur JIAT Desa Plosokerep Jadi Penopang Ketahanan Air dan Pertanian di Musim Kemarau
Balai Berita
31 Oct 2025

Sumur JIAT Desa Plosokerep Jadi Penopang Ketahanan Air dan Pertanian di Musim Kemarau

Karno, perwakilan P3A Wisanggeni Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, menyampaikan rasa syukur atas keberadaan Sumur JIAT yang dibangun oleh BBWS Cimanuk Cisanggarung. Menurutnya, sejak sumur tersebut berfungsi, warga tidak lagi kesulitan mendapatkan air, terutama pada musim kemarau. “Sebelumnya, kami harus menempuh jarak cukup jauh untuk memperoleh air, namun kini kebutuhan para pertanian dapat terpenuhi dengan lebih mudah,” ujarnya. Pembangunan Sumur JIAT di Desa Plosokerep merupakan bagian dari upaya BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam memperkuat ketahanan air di wilayah rawan kekeringan. Sumur dimanfaatkan untuk kebutuhan penyediaan air bagi lahan pertanian skala kecil. Dengan kapasitas debit air yang tersedia, infrastruktur ini mampu memenuhi kebutuhan air untuk area pertanian. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu tahun 2024, sekitar 30 persen wilayah Kecamatan Terisi termasuk dalam kategori rawan kekeringan setiap musim kemarau. Kondisi tersebut sering kali berdampak pada penurunan produktivitas pertanian hingga 15–20 persen per musim tanam. Kehadiran Sumur JIAT menjadi solusi strategis dalam mengurangi risiko tersebut dan menjaga stabilitas pasokan air di tingkat masyarakat. Langkah ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air, yang menekankan pentingnya peningkatan ketersediaan air dan dukungan terhadap ketahanan pangan nasional. Melalui pembangunan sumur ini, BBWS Cimanuk Cisanggarung berkontribusi langsung dalam memperkuat kapasitas desa menghadapi musim kemarau dan mendorong produktivitas pertanian yang berkelanjutan. Kini, warga Desa Plosokerep dapat merasakan manfaat dari pengelolaan sumber daya air yang baik. Sumur JIAT bukan hanya menjadi sumber air bersih, tetapi juga simbol kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemandirian air di tingkat desa — pondasi penting menuju ketahanan pangan nasional.

Pelaksanaan Program P3-TGAI Tahap I Tahun 2025 di Desa Pabean Ilir: Wujud Gotong Royong Petani dan Pemerintah dalam Meningkatkan Layanan Irigasi
Balai Berita
31 Oct 2025

Pelaksanaan Program P3-TGAI Tahap I Tahun 2025 di Desa Pabean Ilir: Wujud Gotong Royong Petani dan Pemerintah dalam Meningkatkan Layanan Irigasi

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Mitra Cai Srikandi Jaya melaksanakan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahap I Tahun 2025 di Desa Pabean Ilir, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu. Program ini merupakan bagian dari implementasi Surat Edaran Direktur Jenderal Sumber Daya Air Nomor 02 Tahun 2024 tentang Petunjuk Teknis P3-TGAI, yang menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat petani dalam peningkatan fungsi jaringan irigasi secara partisipatif dan berkelanjutan. Kegiatan ini meliputi pembangunan jaringan irigasi sepanjang 283 meter dengan luas layanan sekitar 65 hektare lahan pertanian produktif. Berdasarkan data teknis yang digunakan dalam perencanaan, peningkatan jaringan ini diperkirakan mampu mengoptimalkan distribusi air hingga ke lahan paling hilir dan mengurangi kehilangan air akibat kebocoran saluran. Pelaksanaan pekerjaan dilakukan secara swakelola oleh P3A Mitra Cai Srikandi Jaya dengan pendampingan langsung dari tim teknis BBWS Cimanuk Cisanggarung untuk memastikan kualitas dan ketepatan sasaran pembangunan sesuai standar teknis Direktorat Jenderal SDA. Manfaat dari pelaksanaan P3-TGAI ini telah mulai dirasakan oleh masyarakat setempat. Petani mengungkapkan bahwa dengan kondisi saluran yang kini lebih baik, air dapat mengalir lebih stabil, terutama pada musim tanam kedua dan ketiga. Berdasarkan estimasi berbasis data proyek sejenis yang telah terealisasi di wilayah Indramayu pada tahun sebelumnya, peningkatan efisiensi distribusi air melalui program ini dapat mendorong kenaikan produktivitas hasil pertanian antara 10 hingga 15 persen per musim tanam. Dampak ekonomi yang dihasilkan turut memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat tani di kawasan tersebut. Program P3-TGAI juga menjadi wadah nyata dalam membangun budaya gotong royong dan kemandirian petani. Melalui pendekatan padat karya, kegiatan ini menyerap tenaga kerja lokal serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap infrastruktur irigasi yang dibangun. Kolaborasi aktif antara masyarakat, pemerintah desa, dan BBWS Cimanuk Cisanggarung menjadi faktor kunci keberhasilan program dalam mewujudkan sistem irigasi yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini juga selaras dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air, yang menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sistem irigasi di seluruh Indonesia.