Publikasi

Berita Balai

Bendung Karet Jamblang: Air untuk Sawah, Harapan untuk Bangsa
Balai Berita
31 Oct 2025

Bendung Karet Jamblang: Air untuk Sawah, Harapan untuk Bangsa

Sobat Cimancis, Bendung Karet Jamblang yang berada di Desa Sambeng, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, menjadi salah satu infrastruktur strategis dalam mendukung ketahanan pangan di wilayah Jawa Barat. Dibangun pada tahun 2009, bendung tipe karet ini memiliki panjang sekitar 40 meter, tinggi efektif sekitar 2,75 meter, dan kapasitas tampung ±600.000 m³. Infrastruktur ini melayani lahan irigasi seluas 1.000 hektare, menjadikan Bendung Karet Jamblang pilar utama distribusi air pertanian di kawasan sekitarnya. Dengan pengelolaan yang cermat, bendung ini memastikan pasokan air irigasi tetap stabil sepanjang musim, termasuk saat musim kemarau. Aliran air yang teratur membantu petani menjaga pola tanam dan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP), sehingga sawah tetap hijau dan hasil panen melimpah. Keberadaan bendung ini secara langsung berdampak pada peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani. Selain berfungsi sebagai sumber irigasi, Bendung Karet Jamblang juga memiliki peran penting dalam pengendalian banjir dan erosi dasar sungai. Dengan kemampuan bendung untuk mengembang dan mengempis sesuai kebutuhan debit air, bendung ini mampu menyesuaikan aliran sungai dan menjaga stabilitas lingkungan perairan di sekitarnya. Keberadaan bendung ini turut mendukung ketahanan pangan nasional, selaras dengan tujuan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air. Melalui pengelolaan air yang efisien, Bendung Karet Jamblang menjadi salah satu langkah nyata dalam mewujudkan swasembada pangan, memastikan petani tetap produktif, dan menjamin pasokan pangan bagi masyarakat luas. Dengan semua manfaat strategisnya — dari penyediaan air irigasi hingga pengaturan tata air wilayah — Bendung Karet Jamblang menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air yang baik adalah fondasi utama bagi keberhasilan pertanian dan kesejahteraan bangsa.

Daerah Irigasi Kabuyutan: Air Terpadu, Pangan Tumbuh Berkelanjutan
Balai Berita
31 Oct 2025

Daerah Irigasi Kabuyutan: Air Terpadu, Pangan Tumbuh Berkelanjutan

Sobat Cimancis, Daerah Irigasi (D.I.) Kabuyutan menjadi salah satu contoh pengelolaan air yang terpadu dan berkelanjutan di Jawa Tengah. Dengan panjang saluran 37,65 km dan layanan irigasi seluas 3.555 hektar, D.I. Kabuyutan memanfaatkan aliran dari Bendung Nambo di Sungai Kabuyutan serta dukungan suplai tambahan dari Waduk Malahayu. Air dari bendung dan waduk ini dialirkan melalui Saluran Induk Kabuyutan serta beberapa saluran sekunder, antara lain Tanjung, Pabrik, Kersana, dan Kersana Barat, sehingga distribusi air ke lahan pertanian dapat berlangsung merata dan berkesinambungan. Kegiatan pengelolaan dan optimalisasi D.I. Kabuyutan dilaksanakan sebagai bagian dari program percepatan pembangunan infrastruktur sumber daya air yang diatur melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 (Inpres 02/2025). Program ini menegaskan pentingnya pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier serta pemberdayaan kelembagaan petani untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Sistem irigasi terpadu ini berperan penting dalam menjaga kontinuitas pasokan air, terutama pada musim kemarau. Dengan ketersediaan air yang stabil, petani dapat mengatur pola tanam dan menjaga produktivitas tanaman. Hal ini berkontribusi pada peningkatan Indeks Pertanaman (IP) serta mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan, sehingga ketahanan pangan daerah tetap terjaga. Keberadaan D.I. Kabuyutan juga berdampak pada kesejahteraan petani. Akses air yang terjamin memungkinkan para petani mengoptimalkan pengolahan lahan, meningkatkan hasil produksi, dan mendukung tercapainya swasembada pangan nasional. Dengan demikian, sistem irigasi ini bukan sekadar infrastruktur, tetapi menjadi pilar penting bagi ketahanan pangan dan pembangunan pertanian berkelanjutan. Selain itu, pengelolaan air di D.I. Kabuyutan membantu mengatur tata air wilayah, termasuk pengendalian banjir di sekitar saluran dan pemeliharaan kualitas tanah. Dengan sistem yang terintegrasi, bendungan, waduk, dan jaringan saluran bekerja sama untuk memastikan air dimanfaatkan secara efisien dan aman bagi masyarakat maupun lingkungan. Melalui D.I. Kabuyutan dan pelaksanaan Inpres 02/2025, terlihat jelas bahwa pengelolaan sumber daya air yang tepat menjadi fondasi keberhasilan pertanian, meningkatkan produktivitas, dan mendukung kesejahteraan petani. Infrastruktur ini menjadi bukti nyata bahwa air yang dikelola dengan baik mampu menumbuhkan pangan berkelanjutan dan masa depan pertanian yang lebih cerah.

Embung Leuwigede: Berkah Air Hujan Mengalir Hingga Kemarau
Balai Berita
31 Oct 2025

Embung Leuwigede: Berkah Air Hujan Mengalir Hingga Kemarau

Sobat Cimancis, Embung Leuwigede merupakan salah satu infrastruktur vital yang dikelola oleh BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam upaya menjaga ketersediaan air di wilayah Indramayu. Dengan luas irigasi 55 hektare, luas tampungan 2,23 hektare, dan volume tampungan 149.500 m³, embung ini berfungsi menampung air hujan pada musim penghujan dan menyalurkannya pada musim kemarau, sehingga kebutuhan air untuk pertanian dan masyarakat tetap terpenuhi sepanjang tahun. Infrastruktur ini menjadi penopang penting bagi sistem irigasi, memastikan aliran air merata hingga ke lahan-lahan pertanian, dan membantu petani menjaga pola tanam agar hasil produksi tetap optimal. Sebagai bagian dari implementasi Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025, pengelolaan Embung Leuwigede diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan fungsi jaringan irigasi tersier dan pemberdayaan petani. Keberadaan embung ini tidak hanya menjaga pasokan air, tetapi juga mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan stabilitas hasil panen, sehingga berkontribusi pada upaya swasembada pangan di wilayah Indramayu. Embung Leuwigede juga berperan sebagai cadangan air musiman yang mampu mengurangi risiko kekeringan pada lahan pertanian. Dengan aliran air yang terkontrol, petani dapat memanfaatkan air secara efisien dan menjaga kesinambungan pola tanam, sehingga produktivitas lahan meningkat dan ketahanan pangan daerah semakin kokoh. Infrastruktur ini membantu menciptakan distribusi air yang merata, bahkan di musim kemarau panjang, sehingga panen tetap terjaga. Selain fungsi irigasi, embung ini mendukung pengendalian banjir lokal dan pelestarian ekosistem. Air yang tertampung mampu menahan aliran permukaan berlebih saat hujan deras, menjaga kelembapan tanah, serta mendukung keberlanjutan lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitar kawasan. Dengan demikian, Embung Leuwigede bukan hanya sumber air, tetapi juga alat strategis dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat. Manfaat nyata dari Embung Leuwigede mencakup ketersediaan air untuk irigasi pertanian, penjamin ketahanan pangan, cadangan air musiman, pengendalian banjir dan kekeringan, pelestarian ekosistem, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan dukungan Inpres 02/2025 dan pengelolaan BBWS Cimanuk Cisanggarung yang berstandar teknis, embung ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan air yang berkelanjutan mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.

Daerah Irigasi Kamun: Denyut Air yang Menghidupi Ribuan Hektar Sawah
Balai Berita
31 Oct 2025

Daerah Irigasi Kamun: Denyut Air yang Menghidupi Ribuan Hektar Sawah

Sobat Cimancis, Daerah Irigasi (D.I.) Kamun menjadi salah satu penopang utama pertanian di Kabupaten Majalengka, khususnya di Kecamatan Kadipaten, Jatitujuh, Dawuan, Kertajati, dan Ligung. Dengan panjang saluran mencapai 60,53 kilometer dan layanan irigasi seluas 8.462 hektare, D.I. Kamun mengalirkan air dari Bendung Kamun di Sungai Cilutung ke lahan pertanian melalui jaringan saluran induk Cilutung Kepala, Barat, dan Timur, serta 12 saluran sekunder, termasuk Tarisi, Kertawinangun, Jatitujuh, dan Banjarwaru. Sistem irigasi terpadu ini memastikan distribusi air yang merata dan efisien, sehingga lahan pertanian tetap subur dan produktif sepanjang musim. Ketersediaan air irigasi dari D.I. Kamun menjadi faktor penting dalam peningkatan produktivitas pertanian. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka (2024), produktivitas padi di wilayah layanan irigasi ini rata-rata mencapai 6,0 ton per hektare, sementara intensitas tanam rata-rata 2,4 kali per tahun. Dengan distribusi air yang lancar, risiko gagal panen akibat kekeringan dapat diminimalkan, sehingga pendapatan petani meningkat dan ketahanan pangan lokal serta nasional semakin kuat. D.I. Kamun juga berperan strategis dalam pengaturan tata air wilayah. Air yang dikelola dengan baik tidak hanya menunjang kebutuhan pertanian, tetapi juga mengurangi risiko banjir, mengendalikan erosi dasar sungai, serta menjaga keseimbangan ekosistem perairan di sekitarnya. Dengan demikian, sistem irigasi ini menghadirkan manfaat ganda: produktivitas pertanian meningkat sekaligus lingkungan tetap terjaga. Keberadaan D.I. Kamun selaras dengan pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air. Inpres ini menekankan percepatan pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui program ini, BBWS Cimanuk Cisanggarung terus memastikan bahwa jaringan irigasi tersier, sekunder, dan induk berfungsi optimal, sehingga air sampai ke setiap petak sawah yang membutuhkan. Manfaat utama dari D.I. Kamun mencakup: sebagai sumber irigasi pertanian, penjamin ketahanan pangan, peningkatan indeks pertanaman (IP), pengurangan risiko gagal panen akibat kekeringan, pengaturan tata air wilayah, serta peningkatan kesejahteraan petani. Infrastruktur ini menjadi denyut nadi pertanian yang menjaga swasembada pangan nasional sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi dan lingkungan di Majalengka dan sekitarnya.

Situ Cicabe: Penyimpan Air Strategis untuk Mendukung Swasembada Pangan
Balai Berita
31 Oct 2025

Situ Cicabe: Penyimpan Air Strategis untuk Mendukung Swasembada Pangan

Sobat Cimancis, Situ Cicabe berperan penting sebagai sumber air irigasi bagi lahan pertanian di sekitarnya. Dengan luas tampungan 12 hektare dan volume tampungan mencapai 275.473 m³, situ ini mampu menyuplai air secara berkelanjutan untuk lahan pertanian seluas 1,7 hektare. Keberadaan Situ Cicabe memastikan air tetap tersedia, terutama saat musim kemarau, sehingga petani dapat menjalankan pola tanam secara konsisten. Melalui ketersediaan air yang terjaga, petani di sekitar Situ Cicabe dapat meningkatkan produktivitas lahan dan menjaga kualitas hasil pertanian. Air irigasi yang cukup dan tepat waktu sangat menentukan pertumbuhan tanaman, sehingga panen lebih optimal dan pendapatan petani meningkat. Situ Cicabe juga menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan swasembada pangan daerah. Dengan aliran air yang stabil, petani dapat menanam padi, sayuran, dan komoditas lainnya sesuai jadwal tanam, sehingga produksi pertanian lebih terjamin sepanjang tahun. Selain aspek pertanian, pengelolaan Situ Cicabe mengikuti prinsip keberlanjutan yang selaras dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air. Infrastruktur seperti ini mendukung ketahanan air sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui distribusi air yang efektif dan merata. Dengan fungsi strategisnya, Situ Cicabe bukan hanya sebagai penyimpan air, tetapi juga sebagai penopang harapan petani, menjaga kesinambungan produksi pertanian, dan menjadi pilar penting menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Keseimbangan Ekosistem Pertanian Melalui Kegiatan Bersih Sungai Kedungpane
Balai Berita
31 Oct 2025

Keseimbangan Ekosistem Pertanian Melalui Kegiatan Bersih Sungai Kedungpane

Sobat Cimancis, Sungai Kedungpane yang mengalir di Kelurahan Sukapura, Kota Cirebon, memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan pertanian dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Melalui kegiatan Bersih Sungai Kedungpane yang dilaksanakan secara kolaboratif antara masyarakat, perangkat kelurahan, dan BBWS Cimanuk Cisanggarung, aliran sungai dijaga agar tetap bersih, lancar, dan berfungsi optimal sebagai sumber kehidupan. Upaya ini tidak hanya menjaga kualitas air, tetapi juga menjadi bentuk nyata kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Sungai berperan besar dalam mendukung swasembada pangan nasional. Di wilayah Cirebon, lebih dari 65 persen lahan sawah masih mengandalkan irigasi berbasis aliran sungai (BPS Kota Cirebon, 2024). Sungai Kedungpane berfungsi sebagai sumber air utama bagi petani di sekitar Sukapura, sekaligus menopang kegiatan pertanian hortikultura dan perikanan kecil yang tumbuh di sepanjang bantaran sungai. Selain sebagai sumber irigasi, sungai juga menjadi penyedia air bersih, sumber pangan langsung seperti ikan air tawar, serta berperan penting dalam mencegah kekeringan di musim kemarau. Kegiatan bersih sungai juga berkontribusi terhadap keseimbangan ekosistem pertanian. Dengan aliran yang terjaga, kualitas tanah di lahan pertanian tetap subur karena tidak tercemar limbah dan sedimentasi berlebih. Keseimbangan ini memungkinkan sistem pertanian berkelanjutan yang mendukung keanekaragaman hayati di sekitar aliran sungai. Selain itu, aktivitas ekonomi masyarakat seperti usaha tani, perikanan, dan pengolahan hasil pertanian menjadi lebih produktif karena ketersediaan air yang terjamin sepanjang tahun. Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan arah kebijakan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air, yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan air dan konservasi sungai. Program ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, instansi teknis, dan masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan serta menjaga keseimbangan ekosistem melalui pengelolaan sungai yang berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan Bersih Sungai Kedungpane tidak hanya menjadi kegiatan lingkungan semata, tetapi juga investasi jangka panjang bagi ketahanan air, keberlanjutan pertanian, dan kesejahteraan masyarakat Kota Cirebon. Sungai yang bersih adalah fondasi bagi pertanian yang kuat, ekosistem yang seimbang, dan kehidupan desa yang berdaya.