/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Peringatan Hari Air Sedunia tingkat Provinsi Jawa Tengah dipusatka di Rawa Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Brayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang diawali dengan menyebrangi Rawa Jombor, Kamis (04/04/2019).

Dibuka dengan Tarian LUyung alias Lurik Payung yang dilanjutkan dengan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya para hadirin bersuka cita menyemarakkan acara Peringatan Hari Air Sedunia yang XXVII ini. Acara hari ini merupakan puncak acara peringatan hari air dimana sebelumnya telah diselenggarakan berbagai lomba bagi pelajar seperti lomba menggambar untuk siswa Sekolah Dasar (SD), lomba Karya Ilmiyah Remaja (KIR) untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), lomba Fotografi dan lomba Gateball.

Bupati Klaten Sri Mulyani dalam sambutannya menyampaikan terimakasih atas terpilihnya Kabuapten Klaten sebagai tempat penyelenggaraan acara Hari Air Sedunia tahun 2019 ini. Sri Mulyani menyampaikan semoga dimasa depan Rawa Jombor selain untuk fungsi pengairan juga dapat menjadi destinasi wisata.

Pelaksana Harian Gubernur Jawa Tengah Sri Mulyono berpesan agar kita semua harus bijak dalam mengelola air, kita harus punya tabungan air dimasa mendatang. Dalam Acara Hari Air Sedunia yang ke 27 ini diberikan Unit Perahu untuk Komunitas Sungai Klaten dan Bak Sampah untuk Srikandi Sungai Klaten.

“Peringatan HAD merupakan momentum untuk mengajak generasi milenial berperan aktif menjaga keberadaan air, Kalau kita rawat air akan menjadi kawan namun kalua kita tidak peduli air akan menajdi musuh” Kata Muhammad Zainal Fatah selaku Staf Ahli Menteri PUPR bidang Ekonomi dan Investasi.

Peringatan Hari Air Sedunia ke XXVII ini ditandai dengan launching gerakan komunitas Goes To Tumblr untuk mengurangi sampah plastic. Ikrar Goes to Tumbler dipimpin langsung oleh Prof Suratman dari Universitas Gadjah Mada (UGM), diikuti jajaran pejabat propinsi, Muspida Klaten, guru, siswa, relawan, bidan, korporat dan elemen lainya.

Prof Suratman yang juga salah seorang inisiator sekolah sungai Klaten mengemukakan, gerakan Indonesia goes to tumbler, dan komunitas goes to tumbler dinilai penting, karena saat ini banyak sisa plastik yang tidak bisa dimusnahkan sehingga merusak kegiatan air. Merusak habitat ikan, merusak danau dan sungai, sehingga berdampak pada gangguan kesehatan masyarakat (BBWSBS/sita).