/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Dalam sebuah pembangunan bendungan diperlukan aspek teknis & non teknis. Dalam aspek teknis pembangunan bendungan harus aman secara struktural, hidrolis dan rembesan. Kondisi geologis suatu wilayah dan material perlu menjadi perhatian khusus. Selain itu juga perlu memperhatikan estetika dan ramah lingkungan. Membangun bendungan berarti membangun obyek vital negara yang membutuhkan sumber daya manusia yang handal.

Hal tersebut yang melatarbelakangi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Bersama Komite Nasional Indonesia Untuk Bendungan Besar (KNIBB) menyelanggarakan Seminar Nasional Bendungan Besar tahun 2019 dengan tema “Pembangunan dan Pengelolaan Bendungan Untuk Pencapaian Visium 2030”, (26-28/04/2019).

“Kita harus banyak belajar dari negara lain yang lebih berkembang dalam hal pembangunan Bendungan agar kita dapat menerapkan dalam pembangunan Bendungan di Indonesia” Ucap Dr. Ir. Hari Suprayogi, M.Eng selaku Dirjen Sumber Daya Air sekaligus Ketua Komite Nasional Indonesia Untuk Bendungan Besar dalam sambutannya.

Dalam membangun sebuah bendungan diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni. Maka dari itu nantinya Kementerian PUPR Bersama KNIBB akan melibatkan banyak tenaga muda ahli Indonesia dalam pembangunan bendungan.

“Bendungan yang kita bangun diharapkan dapat menjadi bendungan yang berkelanjutan jadi umur bendungan harus sesuai dengan desainnya, jadi kita tidak hanya fokus pada bangunannya tetapi juga memeprhatikan lingkungan masyarakat sekitar untuk kedepannya” Pesan Menteri Basuki.

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo ikut berpartisipasi dalam seminar ini seperti yang dilakukan Surendro Andi Wibowo, Sri Wahyu Kusumastuti dan Denny Syafrudin yang menulis tentang Best Paractice Pengelolaan Bendungan dengan Instrumen Maturity Matrix pada Komponen Surveillance di Unit Pengelolaan Bendungan (UPB) BBWS Bengawan Solo, juga Heriantono Waluyadi, Dony Faturochman, Andi Arwik, Abdul Mahmud dan Elly Nurhayati yang menulis tentang Penanganan Sedimen Dengan Tanggul Penutup (Closure Dike) di dalam Waduk Wonogiri serta Dony Faturochman, Khoirul Murod, Yoga Darmawan, Bambang P Oetomo dan Nur Eko yang menulis tentang Dinding Halang Sebagai Solusi Lapisan Piroklastik di Tubuh Bendungan Pidekso Wonogiri Jawa Tengah.

“Dengan tulisan akan lebih dikenang dari pada perkataan dan perbuatan sebagai bekal dalam pembangunan bendungan” Pesan Charisal yang begitu mengapresiasi seminar ini (BBWSBS/sita).