/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Apel Kesiapsiagaan Bencana 2019-2020

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Apel Kesiapsiagaan Bencana 2019 2020 di Lingkungan Kantor BBWS Bengawan Solo, Rabu (13/11/2019).

Apel dihadiri oleh Kepala Balai PUSDATARU Bengawan Solo, BPBD Provinsi Jawa Tengah, BPBD Kabupaten Klaten, Karanganyar, Sragen, Boyolali, Wonogiri, dan Kota Surakarta, Balai Litbang Sungai, Perum Jasa Tirta I, Kapolresta Surakarta, Korem 074 Warastratama Surakart, Polres Sukoharjo,Polsek Katasura, Kodim 0726 Sukoharjo, Danramil 06, Relawan, Petugas OP wilayah Bengawan Solo dan Karyawan BBWS Bengawan Solo.

Maksud dan tujuan Apel ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat serta tanggap dalam menghadapi bencana banjir. Dengan tema “Sigap dan Peka terhadap Bencana” diharapkan kita semua dapat bersiap diri untuk menghadapi bencana yang akan terjadi, serta meningkatkan kesadaran kita akan sikap tanggap dalam menghadapi bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan.

Pelaksana Harian Kepala BBBWS Bengawan Solo Ir. Isgiyanto, MT selaku komandan Apel mengajak seluruh hadirin untuk bekerjasama dan peduli terhadap bencana di tahun 2020. Apel Kesiapsiagaan Bencana 2019-2020 ditandai dengan pemukulan kentongan bersama yang memiliki makna siap siaga bencana.

Setelah Apel dilanjutkan dengan pengoperasian kembali posko Banjir yang ditandai dengan pemotongan pita oleh Sri Wahyu Kusumastuti, ST, M.Si selaku Ketua Harian Satgas Bencana.

Saat ini di Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo sudah membentuk Satgas Bencana yang terbagi atas Koordinator Jawa Timur dan Jawa Tengah. Satgas ini akan bertugas untuk melakukan koordinasi dan melakukan tanggap darurat (BBWSBS/sita)

Partisipasi BBWS Bengawan Solo Untuk Daerah Kekeringan

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo ikut berpatisipasi dalam memberikan bantuan untuk daerah kekeringan bersama Pemprov Jateng, BPDASHL Solo, Perhutani, Jamkrida Jateng, BAZNAS, SPHC, CV Bunga Kembang di Pendopo Balai Desa Banyuurip, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Senin (21/10/2019).

Kepala Kecamatan Jenar Widodo, S.Spt, M.Si menjelaskan untuk tahun ini di Desa Banyuurip sudah 8 bulan lebih tidak ada hujan, sehingga terjadi kelangkaan air bersih. “Kami mengupayakan untuk dapat mendatangkan air bersih dan bantuan-bantuan lainnya dari berbagai dinas-dinas terkait,” Jelasnya.

Penyerahan bantuan ini berupa bibit tanaman, listrik, rehab rumah tidak layak huni (RTLH), instalasi pemanen air hujan (IPAH), pemanen air hujan (PAH) dan alat elektrolisa air, droping air bersih, pembuatan sanitasi.

“Desa Banyuurip merupakan desa teringgal di daerah perbatasan, untuk itu saya selaku kepala desa mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan yang diberikan, karena kebutuhan infrastruktur yang dibutuhkan sangat luar biasa,” Ungkap Kepala Desa Banyuurip Suroto(BBWSBS/kharis).

Bersama Mengatasi Kekeringan di Kabupaten Sragen

Musim kemarau masih melanda Kabupaten Sragen yang mengakibatkan sejumlah wilayah terkendala aktivitas kehidupannya. Pemerintah Kabupaten Sragen dan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melakukan diskusi tentang Sinergitas Penanganan Bencana Kekeringan Secara Terintegritas di Kabupaten Sragen, Selasa (15/10/2019).

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Ir. Charisal A, Manu, M.Si bersama jajarannya dan Bupati Sragen dr. Kusdinar Untung Yuni Sukowati melakukan diskusi tentang bagaimana menyelesaikan permasalahan kekeringan di Kabupaten Sragen. Turut hadir Dinas Pertanian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan jajaran Pemerintah Kabupaten Sragen.

Harapan dalam pertemuan ini adalah semoga semua pihak dapat bekerjasama untuk mengatasi bencana kekeringan di Kabupaten Sragen dengan baik (BBWSBS/sita).

Evaluasi Kemarau dan Persiapan Menghadapi Musim Hujan

Dalam rangka menghadapi musim kemarau dan persiapan menghadapi musim penghujan tahun 2019-2020, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Sosialisasi Evaluasi Kemarau dan Persiapan Menghadapi Musim Hujan Tahun 2019-2020, Kamis (10/10/2019).

‘’Dalam hal kesiapsiagaan bencana, BBWS Bengawan solo telah membentuk tim Satgas Bencana yang harus menguasai wilayah kerjanya. Peserta diharapkan mengikuti rapat dengan serius agar siap saat menghadapi bencana dengan SOP yang telah dibuat BBWS Bengawan Solo” Pesan Sri Wahyu Kusumastuti, ST, M. Si dalam sambutannya.

Dalam diskusi ini disampaikan materi tentang Evaluasi Musim Kemarau yang disampaikan oleh Dr. Ir. Wanny K Adidarma, M.Sc, Perkiraan Musim Penghujan yang disampaikan oleh BMKG Provinsi Jawa Tengah, Penanggulangan Bencana oleh BPBD Provinsi Jawa Tengah dan SOP Bencana.

Diskusi ini menghasilkan kesimpulan bahwa Perubahan karakteristik kekeringan berpotensi menjadi ancaman sehingga harus punya Early Warning kekeringan, Perkiraan awal musim hujan mundur 10-30 hari sehingga awal musim hujan secara umum terjadi pada bulan November, Terdapat 2 satgas di BBWS Bengawan Solo yaitu Satgas Jawa Tengah dan Jawa Timur (BBWSBS/sita).

Kesepakatan Bersama Pemkab Magetan dengan BBWS Bengawan Solo

Musim kemarau mengakibatkan sejumlah wilayah di Kabupaten Magetan mengalami bencana kekeringan. Pemerintah Kabupaten Magetan dan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melakukan penandatanganan kerjasama tentang Sinergitas Penanganan Bencana Kekeringan Secara Terintegritas di Kabupaten Magetan, Senin (07/10/2019).

Penandatangan kerjasama dilakukan oleh Kepala Bidang Perencanaan Umum dan Program Dwi Agus Kuncoro, ST, MM, MT, Kepala Bapeda Litbang Kabupaten Magetan Ir. Purnomo MM, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magetan Ari Budi Santosa, SH, MM, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataaan Ruang Kabupaten Magetan Ir. Hergunadi MT, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan Saif Muchlissun S.Sos, MM, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Dra. Furiana Kartini dan Direktur Utama PDAM Lawu Tirta Kabupaten Magetan Drs. Welly Kristanto, M.Si.

Penandatanganan Kerjasama disaksikan oleh Kepala Bidang Pelaksanaan Pemanfaatan Sumber Air Ir. Isgiyanto, MT, Kepala Seksi Program Rifki Maulana ST, PPK Pendayagunaan Air Tanah Fathoro Trimariat, ST, MT dan PPK O&P SDA III Aditya Sidik Waskito ST, M.Sc.

Harapan dalam kerjasama ini adalah semoga semua pihak dapat bekerjasama untuk mengatasi bencana kekeringan di Kabupaten Magetan dengan baik (BBWSBS/sita).

Antisipasi Kekeringan Kabupaten Sragen 2019

Pemerintah Kabupaten Sragen bersama Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Perum Jasa Tirta 1 dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Forum Group Disscucion (FGD) Antisipasi Kekeringan Kabupaten Sragen Tahun 2019, Rabu (14/08/2019).

Kekeringan adalah suatu keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang berkepanjangan. Daerah Sragen sebagai wilayah ujung dari Provins Jawa Tengah yang merupakan Lumbung Padi Jawa Tengah bersiap siaga mengatasi kekeringan pada tahun 2019.

Dalam FGD ini Kepala Bidang Perencanaan Umum dan Program Dwi Agus Kuncoro ST, MT, MM dalam presentasinya menjelaaskan salah satu antisipasi yang bisa dilakukan pada saat kekeringan adalah dengan melakukan panen air hujan.

Untuk mengatasi kekeringan perlu keterlibatan pemberdayaan masyarakat untuk membangun daya saing juga mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran untuk mengelola pembangunan desa secara mandiri, berkesinambungan dan bebas dari kemiskinan (BBWSBS/sita).

Mengatasi Kekeringan di Kabupaten Pacitan

Kabupaten Pacitan tepatnya di Kecamatan Sudimoro terjadi kekeringan dan menyebabkan ketersediaan air bersih berkurang sehingga menjadi salah satu penyebab penyebaran penyakit Hepatitis A didaerah tersebut.

Dalam rangka menindaklanjuti hal tersebut Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melalui Kepala Bidang Program dan Perencanaan Umum Dwi Agus Kuncoro ST, MM, MT berserta Kasi Pengendalian Pelaksanaan Air Baku & Air Tanah M. Arwan Fattchul Aziz, ST, M.Eng melakukan peninjauan lapangan di Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan, Kamis (04/072019).

Dari hasil peninjauan di Kecamatan Sudimoro ada 5 Desa yang paling terdampak penyakit Hepatitis A yaitu Desa Sukorejo, Desa Sudimoro, Desa Gunungrejo, Desa Ketanggung, Desa Karangmulyo.
Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melakukan penanganan awal dengan memberi bantuan air kesehatan dan diberikan tandon air serta distribusi air bersih selama musim kemarau untuk penanganan jangka pendek. Sedangkan untuk jangka panjang nantinya akan dibuat tampungan air di Desa Sukorejo (BBWSBS/charis).

Pelatihan Pembuatan Alat Elektrolisa Air di Kampung Sewu Surakarta

Akhir-akhir ini kita dihantui oleh masalah krisis air bersih, banjir saat musim hujan, kekeringan saat musim kemarau dan berbagai permasalahan air yang belum ada solusi. Hal tersebut yang melatarbelakangi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melalui bidang Pengelolaan Sumber Daya Air menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan Alat Elektrolisa Air di Kelurahan Kampung Sewu, Kecamatan Jebres, Surakarta, Rabu (18/06/2019).

“Dimulai dari sekarang kita bisa membangun budaya baru untuk peduli menampung dan mengelola air hujan di saat musim penghujan sehingga kita dapat punya tabungan air di saat musim kemarau dan berbagai keadaan” Pesan Sri Rahayu dalam sambutannya.

Pelatihan Pembuatan Alat Elektrolisa Air dihadiri oleh Komunitas Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) Kelurahan Kampung Sewu, Paguyuban Sumur Dalam, Ibu-Ibu PPK, Remaja Masjid, Pelajar dan perwakilan warga masyarakan kampong sewu.

Henoch Sadono S.Sos selaku Lurah Kampung Sewu sangat mengapresiasi kegiatan ini, Ia berharap melalui kegiatan ini dapat meningkatkan kepedulian masyarakat Kampung Sewu dalam mengelola air.
Narasumber dalam pelatihan ini adalah Anton Sujarwo dari Komunitas Banyu Bening Yogyakarta. Anton menjelaskan tentang Cara Memanen Air Hujan dan Proses Elektrolisa Air. Dalam pelatihan para peserta diajarkan praktek langsung tentang cara membuat Alat Elektrolisa Air secara berkelompok.

Peserta yang hadir sangat antusias mengikuti pelatihan ini, kata Ibu Retno selaku salah satu peserta Ia menyampaikan kekagumannya bahwa ternyata air hujan banyak sekali manfaatnya.
BBWS Bengawan Solo juga memberikan alat Elektrolisa Air kepada Kelurahan Kampung Sewu yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari (BBWSBS/sita).

Pengembangan Sarana dan Prasarana Sumber Daya Air di Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro

Charisal A Manu selaku Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Amir Hamzah selaku Kepala Pusat Air Tanah dan Air Baku melakukan survey lapangan di wilayah Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (21/11/2018).

Wilayah Dolokgede merupakan wilayah padat penduduk yang sangat kekurangan air. Sumber air yang ada hanya bergantung pada curah hujan. Berdasarkan hasil survey dilapangan dihasilkan beberapa alternative penanganan yaitu pembangunan embung, pembuatan sumur dalam, serta pemanfaatan air sungai bengawan solo untuk dimanfaatkan di wilayah tambakrejo.

Jarak intake pengambilan di sungai bengawan solo ke desa dolokgede sejauh 10 km sehingga diperlukan pipa dan sarana penunjang lainnya. Untuk sumber ir tanah, daerah ini merupakan daerah non cat yang diperkirakan tidak terdapat kandungan air tanah. Namun upaya pendugaan menggunakan geolistrik diperlukan dengan kedalaman minimal 200 m untuk lebih mengetahui detail struktur tanahnya. Untuk alternative pembangunan embung masalah utama yang dihadapi adalah ketersediaan lahan. Dengan komtur yang berbukit-bukit agak sulit untuk menemukan daerah yang memiliki potensi daerah tangkapan air yang baik.

Setelah survey lapangan hari ini kemungkinan akan dilakukan peninjaun teknis secara lebih detail dan akan dikomunikasikan dengan masyarakat setempat. Semoga segera menghasilkan keputusan, sehingga ketersediaan air di Dolokgede dapat terpenuhi (DATINBBWSBS/sita-ari)

Sosialisasi Strategi Keterpaduan Pengelolaan Air Tanah Dalam Mengatasi Kekeringan di WS Bengawan Solo

Indonesia merupakan negara yang lokasinya berada di atas garis khatulistiwa sehingga membuat Indonesia hanya memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan musim pengghujan. Selain itu Indonesia merupakan negeri yang memiliki karakteristik geografis rawan bencana, baik itu bencana gempa bumi, banjir maupun kekeringan.

Bencana banjir merupakan bencana yang bersifat cepat dengan jumlah korban yang langsung terlihat cepat pula sehingga reaksi penanganannya dapat dilaksanakan dengan cepat. Lain hal nya dengan bencana kekeringan yang bersifat lebih lambat dalam tempo yang lama, sehingga lambat juga dalam reaksi pemasokan airnya.

Hal tersebut melatarbelakangi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dalam melakukan Sosialisasi Strategi Keterpaduan Pengelolaan Air Tanah Dengan Mengembangkan Sistem Informasi Sumur Air Tanah Dalam Mengatasi Kekeringan di Wilayah Sungai Bengawan Solo, Rabu (17/10/2017).

“Semoga apa yang kita rancang pada hari ini dapat berlajan dengan lancar dan mendapat manfaat yang optimal, mengingat permasalahan kekeringan merupakan permasalahan yang krusial” Kata Ir. Budi Sucahyono, M.Si sekaligus membuka acara sosialisasi hari ini.

Sosialisasi kali ini dimoderatori oleh Ir. Isgiyanto, MT selaku Kepala Bidang Pelaksanaan Pemanfaatan Sumber Air (PJPA) Bengawan Solo dengan narasumber Dr. Ir. TB Hisni M.Si yang memberikan materi tentang Mengatasi Kekeringan di Suatu Daerah, Dr. Agung Setianto yang menyampaikan materi tentang Keterpaduan Sistem Informasi Air Tanah Wilayah Sungai Bengawan Solo dan Ir. Windarto yang menyampaikan materi tentang Keterpaduan Pengelolaan Air Tanah Di Wilayah Sungai Bengawan Solo.

Narasumber menjelaskan materi secara teoriris, memberikan contoh aplikatif di lapangan, menceritakan permasalahan yang terjadi selama ini dan memberikan solusi. Hal tersebut membuat para peserta aktif bertanya dan memberi saran.

“Di wilayah kami di Gresik apabila musim hujan kerap terjadi banjir dan saat musim kemarau sering kekeringan, kami berharap agar diberi pelatihan terkait cara penangannya agar kami bisa menyampaikan pada masyarakat” Kata Gunawan.

Harapan Kedepannya

Dengan dilaksanakannya acara ini dan beberapa rangkaian acara kedepan diharapakan tersedianya informasi yang akurat dan terkini mengenai data kondisi sumur air tanah dengan sistem geografis sehingga dapat melakukan upaya penanganan kekeringan dan pada akhirnya dapat melakukan  Pengelolaan Air Tanah yang terintegrasi dengan air permukaan untuk menjamin tingkat layanan terjaga sesuai tuntutan masyarakat dan berfungsi secara berkelanjutan (DATIN BBWSBS/maw,sita).