/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Pengembangan Sarana dan Prasarana Sumber Daya Air di Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro

Charisal A Manu selaku Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Amir Hamzah selaku Kepala Pusat Air Tanah dan Air Baku melakukan survey lapangan di wilayah Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (21/11/2018).

Wilayah Dolokgede merupakan wilayah padat penduduk yang sangat kekurangan air. Sumber air yang ada hanya bergantung pada curah hujan. Berdasarkan hasil survey dilapangan dihasilkan beberapa alternative penanganan yaitu pembangunan embung, pembuatan sumur dalam, serta pemanfaatan air sungai bengawan solo untuk dimanfaatkan di wilayah tambakrejo.

Jarak intake pengambilan di sungai bengawan solo ke desa dolokgede sejauh 10 km sehingga diperlukan pipa dan sarana penunjang lainnya. Untuk sumber ir tanah, daerah ini merupakan daerah non cat yang diperkirakan tidak terdapat kandungan air tanah. Namun upaya pendugaan menggunakan geolistrik diperlukan dengan kedalaman minimal 200 m untuk lebih mengetahui detail struktur tanahnya. Untuk alternative pembangunan embung masalah utama yang dihadapi adalah ketersediaan lahan. Dengan komtur yang berbukit-bukit agak sulit untuk menemukan daerah yang memiliki potensi daerah tangkapan air yang baik.

Setelah survey lapangan hari ini kemungkinan akan dilakukan peninjaun teknis secara lebih detail dan akan dikomunikasikan dengan masyarakat setempat. Semoga segera menghasilkan keputusan, sehingga ketersediaan air di Dolokgede dapat terpenuhi (DATINBBWSBS/sita-ari)

Sosialisasi Strategi Keterpaduan Pengelolaan Air Tanah Dalam Mengatasi Kekeringan di WS Bengawan Solo

Indonesia merupakan negara yang lokasinya berada di atas garis khatulistiwa sehingga membuat Indonesia hanya memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan musim pengghujan. Selain itu Indonesia merupakan negeri yang memiliki karakteristik geografis rawan bencana, baik itu bencana gempa bumi, banjir maupun kekeringan.

Bencana banjir merupakan bencana yang bersifat cepat dengan jumlah korban yang langsung terlihat cepat pula sehingga reaksi penanganannya dapat dilaksanakan dengan cepat. Lain hal nya dengan bencana kekeringan yang bersifat lebih lambat dalam tempo yang lama, sehingga lambat juga dalam reaksi pemasokan airnya.

Hal tersebut melatarbelakangi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dalam melakukan Sosialisasi Strategi Keterpaduan Pengelolaan Air Tanah Dengan Mengembangkan Sistem Informasi Sumur Air Tanah Dalam Mengatasi Kekeringan di Wilayah Sungai Bengawan Solo, Rabu (17/10/2017).

“Semoga apa yang kita rancang pada hari ini dapat berlajan dengan lancar dan mendapat manfaat yang optimal, mengingat permasalahan kekeringan merupakan permasalahan yang krusial” Kata Ir. Budi Sucahyono, M.Si sekaligus membuka acara sosialisasi hari ini.

Sosialisasi kali ini dimoderatori oleh Ir. Isgiyanto, MT selaku Kepala Bidang Pelaksanaan Pemanfaatan Sumber Air (PJPA) Bengawan Solo dengan narasumber Dr. Ir. TB Hisni M.Si yang memberikan materi tentang Mengatasi Kekeringan di Suatu Daerah, Dr. Agung Setianto yang menyampaikan materi tentang Keterpaduan Sistem Informasi Air Tanah Wilayah Sungai Bengawan Solo dan Ir. Windarto yang menyampaikan materi tentang Keterpaduan Pengelolaan Air Tanah Di Wilayah Sungai Bengawan Solo.

Narasumber menjelaskan materi secara teoriris, memberikan contoh aplikatif di lapangan, menceritakan permasalahan yang terjadi selama ini dan memberikan solusi. Hal tersebut membuat para peserta aktif bertanya dan memberi saran.

“Di wilayah kami di Gresik apabila musim hujan kerap terjadi banjir dan saat musim kemarau sering kekeringan, kami berharap agar diberi pelatihan terkait cara penangannya agar kami bisa menyampaikan pada masyarakat” Kata Gunawan.

Harapan Kedepannya

Dengan dilaksanakannya acara ini dan beberapa rangkaian acara kedepan diharapakan tersedianya informasi yang akurat dan terkini mengenai data kondisi sumur air tanah dengan sistem geografis sehingga dapat melakukan upaya penanganan kekeringan dan pada akhirnya dapat melakukan  Pengelolaan Air Tanah yang terintegrasi dengan air permukaan untuk menjamin tingkat layanan terjaga sesuai tuntutan masyarakat dan berfungsi secara berkelanjutan (DATIN BBWSBS/maw,sita).