/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

BBWS Bengawan Solo Berpartisipasi dalam Seminar Internasional HATHI Ke-36

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo ikut berpartisipasi dalam Seminar Internasional Pertemuan Ilmiah Tahunan HATHI (Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia) Ke-36 dengan “Tema Kemajuan Manajemen Sumber Daya Air dalam Tantangan Global” diselenggarakan di Politeknik Negeri Kupang, Jumat-Sabtu ( 22-23/11/2019).

Dalam Seminar Internasional ini BBWS Bengawan Solo ikut memberi paparan yang disampaikan oleh Kabid Perencanaan Umum dan Program Dwi Agus Kuncoro dengan Judul Forensic Engineering Untuk Kekeringan, Ali Assegaf dengan Judul Aplikasi Sikering Untuk Penanganan Kekeringan Terintegrasi dan Securing Water Resources and Reducing Future Risks Through Forward-Looking Decisions, Antonius Suryono yang diwakili Soessy Sriwidjajanto dengan Judul Simulasi Pemeberian Air Irigasi Pada DI. Pacal di BBWS Bengawan Solo, Ery Suryo Kusumo dengan Judul Teknologi Konservasi Air Pada Daerah Semi Kering Melalui Rice Ratoon, dan Sapratisto Daim Fakhriyanto dengan Judul Hubungan Kekeringan Meteorologis Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo Terhadap El Nino Southern Oscillation.

Pertemian Ilmiah Tahunan HATHI ini diikuti 856 peserta yang bertujuan memberikan kesempatan bagi para ilmuwan, praktisi, dan profesional mendapatkan pemahaman yang lebih baik dalam memajukan manajemen sumber daya air, menyediakan forum bagi para ahli untuk bertukar pengetahuan, pemikiran, dan pengalaman dalam mengelola sumber daya air untuk mengatasi tantangan global(BBWSBS/charis).

Partisipasi BBWS Bengawan Solo Untuk Daerah Kekeringan

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo ikut berpatisipasi dalam memberikan bantuan untuk daerah kekeringan bersama Pemprov Jateng, BPDASHL Solo, Perhutani, Jamkrida Jateng, BAZNAS, SPHC, CV Bunga Kembang di Pendopo Balai Desa Banyuurip, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Senin (21/10/2019).

Kepala Kecamatan Jenar Widodo, S.Spt, M.Si menjelaskan untuk tahun ini di Desa Banyuurip sudah 8 bulan lebih tidak ada hujan, sehingga terjadi kelangkaan air bersih. “Kami mengupayakan untuk dapat mendatangkan air bersih dan bantuan-bantuan lainnya dari berbagai dinas-dinas terkait,” Jelasnya.

Penyerahan bantuan ini berupa bibit tanaman, listrik, rehab rumah tidak layak huni (RTLH), instalasi pemanen air hujan (IPAH), pemanen air hujan (PAH) dan alat elektrolisa air, droping air bersih, pembuatan sanitasi.

“Desa Banyuurip merupakan desa teringgal di daerah perbatasan, untuk itu saya selaku kepala desa mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan yang diberikan, karena kebutuhan infrastruktur yang dibutuhkan sangat luar biasa,” Ungkap Kepala Desa Banyuurip Suroto(BBWSBS/kharis).