/**Begin Google Analytics**/ /** End Google Analytics**/

Sosialisasi Tahap II P3TGAI Wilayah Hilir

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Sosialisasi dan Training of Trainer untuk Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) untuk Program Percepatan Peningkatakan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) Tahap II di Wilayah Hilir dengan menerapkan Protokol Kesehatan COVID-19, Rabu (10/06/2020).

Dalam Sosialisasi dipaparkan Pedoman Umum P3TGAI yang disampaikan oleh Samsi ST selaku Tenaga Ahli Konsultan Manajemen Balai (KMB) dan Petunjuk Teknis P3TGAI dan Penjelasan tugas fungsi pokok Konsultan Manajemen Balai (KMB), Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM), Petani Pemakai Air (P3A), Gabungan Petani Pemakai Air (GP3A) dan Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) yang disampaikan oleh Sigit Budi Widigdyo, ST selaku Tenaga Ahli Konsultan Manajemen Balai (KMB).

Di Wilayah Hilir yang meliputi wilayah Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Blora pada Tahap II terdapat 32 lokasi P3TGAI. Dengan menerapkan prinsip Partisipatif, Transparasi, Akuntabilitas dan Berkesinambungan P3TGAI diharapkan dapat meingkatkan kesejahteraan petani (bbwsbs/sita).

Selamatkan Kehidupan Masyarakat Bengawan Jero

Kabupaten Lamongan yang terkenal dengan Lumbung Padi Jawa Timur adalah salah satu daerah yang berada di wilayah daerah aliran sungai Bengawan Solo yang selalu meluap airnya saat musim penghujan. Memiliki kawasan yang lebih rendah dari daerah sekitar dan sungai Bengawan Solo, menjadikan daerah ini tergenang banjir setiap musim penghujan. Daerah yang terdampak banjir tersebut dikenal dengan Bengawan Jero atau Bonorowo yang mencakup hampir separuh dari luas Kabupaten Lamongan.

Situasi ini berdampak terhadap kehidupan masyarakat di kawasan Bengawan Jero yang sebagian besar memiliki lahan pertanian di dataran banjir. Situasi ini membuat masyarakat berupaya beradaptasi dengan lingkungannya dengan mengatur jadwal tanam menyesuaikan dengan musim, memelihara ikan, tambak udang, menyewakan perahu dan lain-lain.

Sub Direktorat Perencaan Irigasi Rawa Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR M. Tahid, ST, MPPM didampingi Pelaksana Harian Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Ir. Isgiyanto, ST, MT beserta Pejabat Esselon dan Kesatkeran dan Badan Perencanaan Daerah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Jawa timur melaksanakan koordinasi terkait perencanaa pembangunan kawasan Bengawan Jero, Jumat (24/01/2020).

Bengawan Jero dibagi 3 bagian yaitu barat, tengah dan timur. Bagian barat tergolong aman, namun di bagian tengah dan timur yang memiliki struktur tanah mencekung menyebabkan air menggenang dan banjir.

Dengan koordinasi ini diharapkan dapat membuat skala prioritas penanganan kawasan Bengawan Jero sehingga masyarakat dapat menjalankan kehidupannya dengan baik (bbwsbs/sita).

Sosialisasi Komisi Irigasi Antar Provinsi Wilayah Sungai Bengawan Solo

Daerah Irigasi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo memiliki luas sebesar 100.148 Ha. Daerah irigasi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo terbagi menjadi 12 daerah irigas yang terdiri dari 10 DI yang di TPOP- kan (Provinsi Jawa Timur) dan 2 DI yang dikelola sendiri yaitu D.I Colo dengan luas 25.056 Ha berada di Kabupaten Wonogiri, kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Ngawi di Provinsi Jawa Timur. D.I Semen Krinjo dengan luas 929 Ha berada di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Tuban Provinsi, Jawa Timur. Karena berada di lintas provinsi maka D.I Semen Krinjo menjadi D.I kewenangan pusat yang dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo.

Dalam pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi DI Colo dan DI Semen Krinjo, maka diperlukan lembaga yang dapat mengkoordinasikan pengelolaan irigasi tersebut di Wilayah Sungai Bengawan Solo. Lembaga koordinasi dan komunikasi antara wakil pemerintah daerah kabupaten/kota yang terkait, wakil komisi irigasi provinsi yang terkait, wakil perkumpulan petani pemakai air, dan wakil pengguna jaringan irigasi di suatu daerah irigasi lintas provinsi telah ditetapkan Permen PUPR No. 17/PRT/M/2015 tentang Komisi Irigasi, sebagai lembaga non struktural yang berfungsi sebagai forum koordinasi antara pemerintah dan masyarakat petani pemanfaatan air untuk irigasi dan lainnya. Hal tersebut yang melatarbelakangi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Sosialisasi Pengenalan Komisi Irgasi Antar Provinsi Wilayah Sungai Bengawan Solo, Rabu (19/12/2019).

Ir. Isgiyanto, MT dalam sambutanya menjelaskan dalam melaksanakan Pembentukan Komisi Komisi Irigasi Antar Provinsi, tahapan-tahapan yang dilakukan adalah Membentuk Panitia, Menyusun draft dan mengajukan SK Panitia, Panitia menyampaikan rancangan Pembentukan Komisi Irigasi Antar Provinsi Wilayah Sungai Bengawan Solo dalam bentuk surat dukungan kepada Dirjen SDA Kementerian PUPR, Melakukan telaahan jumlah anggota Komisi Irigasi Antar Provinsi dari instansi pemerintah dan non pemerintah Daerah Irigasi Wilayah Sungai Bengawan Solo yang telah ditetapkan, Sosialisasi Komisi Irigasi Antar Provinsi Wilayah Sungai Bengawan Solo, Menyusun rencana kerja, Menyusun draft dan mengajukan SK, Menyusun administrasi pengukuhan anggota dan Mempersiapkan penyelenggaraan pengukuhan anggota Komisi Irigasi Antar Provinsi Wilayah Sungai Bengawan Solo.

Dalam Sosialisasi dilakukan penyampaian materi tentang Konsep Pembentukan Komisi Irigasi Antar Provinsi Berdasarkan Permen PUPR No 17/PRT/M2015 oleh Ir. Arlinsyah MT, Pemberdayaan Kelembagaan Komisi Irigasi Antar Provinsi Menuju Modernisasi Pengelolaan Irigasi oleh Gunawan ST, MT dan Rencana dan Rekomendasi Pembutukan Komisi Irigasi Antar Provinsi DI Colo dan DI Semen Krinjo Wilayah Sungai Bengawan Solo yang dilanjutkan dengan diskusi.
Semoga melalui sosialisasi yang diselenggarakan hari ini dapat melakukan kesepakatan dan mendukung pembentukan Komisi Irigasi Antar Provinsi di Wilayah Sungai Bengawan Solo(bbwsbs/sita).

Serah Terima P3TGAI Wilayah Hilir Tahap II

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Serah Terima Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi Wilayah Hilir Tahap II, Kamis-Jumat (12-13/12/2019).

Peserta dalam kegiatan ini adalah Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) Wilayah Hilir, Konsultan Manajemen Balai (KMB) Wilayah Hilir dan Kepala Desa Penerima P3TGAI Tahap I.

Dalam pertemuan ini dilakukan serah terima Hasil Pelaksanaan P3TGAI Tahap II melalui perwakilan 5 Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) kepada PPK Operasi dan Pemeliharaan SDA IV Antonius Suryono, A.Md.T, SH, MMT dan juga serah terima dari perwakilan HIPPA dan perwakilan Kepalada Desa di masing-masing Kabupaten (Gresik, Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Cepu) kepada Satker Operasi dan Pemeiharaan SDA Surendro Adi Wibowo, ST, MT.

Dalam kegiatan ini diberikan materi tentang Pelaksanaan P3TGAI Tahap II dan materi tentang Evaluasi Kinerja P3TGAI Tahap II. Dengan adanya P3TGAI ini diperoleh manfaat meningkatnya kinerja layanan irigasi sehingga dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan petani (BBWSBS/sita).

Serah Terima dan Evaluasi P3TGAI Wilayah Madiun Tahap I

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan kegiatan Serah Terima dan Evaluasi Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) Wilayah Madiun Tahap I di Madiun, Kamis (07/11/2019).

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan (O&P) SDA Bengawan Solo Sri Wahyu Kusumastuti, ST, M.Si menjelaskan pemerintah pusat telah banyak membangun infrastruktur khususnya dalam rangka pengelolaan sumber daya air, salah satunya adalah Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI). Pelaksanaan P3TGAI Tahun 2019 di BBWS Bengawan Solo sebanyak 400 Desa yang meliputi 3 wilayah kerja, untuk wilayah madiun sendiri tersebar di 5 Kabupaten yaitu Ngawi, Madiun, Pacitan, Ponorogo, dan Magetan.

“Dengan diserahkannya hasil pekerjaan P3TGAI dari Pemerintah melalui Kepala Satuan Kerja O&P SDA BBWS Bengawan Solo Kepada Kepala Desa Penerima diharapkan untuk kedepannya pemanfaatan dan pemeliharaannya menjadi tugas dan tanggungjawab Kepala Desa beserta HIPPA/P3A maupun warga masyarakat petani didaerah penerima,” Sambung Wahyu saat menyampaikan sambutan Kepala BBWS Bengawan Solo.

Semoga dengan kegiatan P3TGAI ini diperoleh manfaat meningkatnya layanan irigasi sehingga dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan petani (bbwsbs/charisma).

TPM P3TGAI Wilayah Hulu

Dalam rangka mengupgrade ilmu, pengetahuan dan keterampilan bagi Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Wilayah Hulu, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Training of Trainer, Rabu (24 Juli 2019).

“Pembekalan ini diharapkan sebagai ruang untuk berkomunikasi dengan pihak balai sehingga apabila terjadi masalah dilapangan teman teman dapat memberikan solusi” Pesan Charisal dalam sambutannya.

Maksud dari kegiatan ini adalah untuk melakukan pembekalan kepada petugas TPM di wilayah Hulu seperti di Klaten, Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali dan Sragen agar dalam melaksanakan pemberdayaan Petani Pemakai Air (P3A), Gabungan Petani Pemakai Air (GP3A) dan Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) dengan baik.

Materi dalam TOT ini adalah Pedoman Umum P3TGAI yang disampaikan oleh Sigit Budi Widgdyo, ST, Petunjuk Teknis Pelaksanaan P3TGAI dan Tugas serta Tanggung Jawab TPM dan P3A yang disampaikan oleh Konsultan Manajemen Balai (KMB) yang dilanjutkan dengan diskusi (BBWSBS/sita).

Setengah Perjalanan Kegiatan Perencanaan

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo mengadakan Rapat Evaluasi Paket Perencanaan di Ruang Sidang Bengawan Solo, Kamis (27/06/2019).

Dalam diskusi tersebut dibahas tentang Pekerjaan -pekerjaan jasa konsultansi yang dilakukan pada tahun anggaran 2019 ini. Perencanaan SID-DI Kewenangan Pusat (IPDMIP), SID-DI Kewenangan Provinsi (IPDMIP), SID-DI Kewenangan Kabupaten, Pelaksanaan dan Penyusunan PSETK-DI Pusat, SID DD Pembangunan Bendung Plesungan merupakan paket-paket yang berpengaruh terhadap capain bidang perencanaan.

Profesionalisme itu yang sangat penting, bekerja semaksimal mungkin niscaya perusahaan dan personal akan mempunyai nilai tambah tersendiri, tandas Charisal A Manu Kepala BBWS Bengawan Solo. Dalam evaluasinya kepala balai juga menekankan bahwa hasil desain haruslah menjadi dokumen yang efektif yang nantinnya bisa diimplementasikan.

Mudah-mudahan setelah ini lebih cepat lagi dan harus selalu berkoordinasi dengan direksi tutup Ery Suryo Kusumo PPK Perencanaan dan Program (BBWSBS/charis).

FGD DI Gondang Lamongan

Kabupaten Lamongan terkenal dengan julukan lumbung padi jawa timur dengan hasil pertanian yang sangat baik. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani diperlukan system yang mendukung, salah satunya adalah air melalui sistem irigasi.

Sesuai dengan Permen PUPR No 30 PRT/M2015, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Focus Group Disscusion dalam penyusunan Profil Sosial Ekonomi Teknik dan Kelembagaan (PSETK) Daerah Irigasi Gondang Lamongan, Kamis (22/03/2019).

Diantara beberapa permasalahan yang terdapat di DI Gondang Lamongan adalah kekurangan air pada musim tanam tertentu, jalan inspeksi yang rusak, tanggul jebol, beberapa aluran yang tidak berfungsi, ketersediaan air yang tidak merata dan beberapa permasalahan lainnya.

Winda Agustin selaku perwakilan dari BBWS Bengawan Solo menyampaikan bahwa segala permasalahan nantinya akan menjadi bekal dalam penyusunan PSETK sehingga dapat menjadi bekal dalam perbaikan Daerah Irigasi Gondang Lamongan (BBWS/sita).

Menjaring Aspirasi DI Pacal

Kabupaten Bojonegoro merupakan kabupaten yang mayoritas penduduknya berusaha pada sector pertanian. Untuk menunjang perkembangan sector pertanian di wilayah Kabupaten Bojonegoro khususnya Daerah Irigasi Pacal, diperlukan perencanaan, pengembangan serta pengelolaan irigasi yang berkelanjutan. Hal tersebut yang melatarbelakangi BalaiBesar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Foccus Grup Disscusion dalam penyusunan Profil Sosial Ekonomi Teknik dan Kelembagaan (PSETK) Daerah IrigasiPacal, Jum’at (15/03/2019).

Dalam FGD kali ini petani masing-masing perwakilan petani menyampaikan beberapa permasalahan yang dihadapi dalam melakukan pengelolaan irigasi danu sahatani. Diantara permasalahan yang dihadapi petani adalah kurang aktifnya HimpunanPetaniPemakai Air (HIPA), tidak ada pembiayan atau iuran untuk kelompok tanidan HIPA, pembagian air yang tidakmerata, rusaknya pintu air dan perbedaan perlakuan dalam pembagian air dan lain-lain.

Segala permasalahan tersebut nantinya akan menjadi bekal buntuk menyusun Profil Sosial Ekonomi Teknik dan Kelembagaan (PSETK) Daerah IrigasiPacal (BBWSBS/sita)

FGD PSTEK DI Pondok

Penyelenggaraan Pemberdayaan Kelembagaan yang berbasis pada peran serta partisipasi petani dan kelompoknya dalam pengelolaan irigasi diharapkan dapat dilaksanakan sejak dari tahap pemikiran awal, perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pengembangan infrastruktur irigasi, operasional dan pemeliharaan, sampai dengan tahap monitoring dan evaluasi. Hal tersebut yang melatarbelakangi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo menyelenggarakan Foccus Grup Disscusion dalam penyusunan Profil Sosial Ekonomi Teknik dan Kelembagaan (PSETK) Daerah Irigasi Pondok, Kamis (21/02/2019).

Daerah Irigasi (DI) Pondok adalah daerah irigasi teknis seluas 3,163 ha yang terletak di Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan hasil pemantauan kebutuhan air irigasi di DI Pondok terus mengalami peningkatan yang disebabkan karena peningkatan areal sawah yang semula tadah hujan menjadi sawah beririgasi pompa dengan pengambilan air dari saluran induk Pondok secara illegal dan menyebabkan kekurangan air.

“Pertemuan kali ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah agar nantinya dapat menyusun skala prioritas” Ungkap Winda selaku perwakilan BBWS Bengawan Solo.
Diskusi berjalan dengan baik dengan harapan DI Pondok yang terdiri dari DI Dero, DI Sambiroto, DI Plesungan dan DI Padas dapat mendapatkan pasokan air secara merata (BBWSBS/sita).