Pengelolaan Sungai Perlu Penanganan Menyeluruh dan Dukungan Masyarakat

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) tidak dapat ditangani secara sendiri-sendiri (individualistik) dan segmentatif. Sebaliknya, pengelolaan sungai memerlukan penanganan yang komprehensif, menyeluruh, dari hulu hingga hilir secara terpadu dalam kerangka perencanaan untuk waktu yang berkesinambungan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 04 Tahun 2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai, terdapat 128 Wilayah Sungai di Indonesia dengan sungai-sungainya yang menjadi kewenangan Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Hal ini membutuhkan dukungan dari masyarakat luas, terutama dalam konteks pengelolaan berkelanjutan (sustainable).

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak yang diwakili oleh Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan (OP) Pramono saat memberikan sambutan dalam acara webinar bertajuk “Pengelolaan Sungai Berbasis One River, One Plan, and One Integrated Management” yang diadakan secara online pada hari Kamis (10/9).

“Melalui kegiatan webinar ini kami berharap dapat membangun sinergi dan kemitraan para pegiat sungai, memperoleh pengetahuan teknis, pemahaman peraturan,  serta dapat membangun karakter yang positif dan networking kuat antara masyarakat/pegiat sungai dari hulu hingga hilir dalam rangka menjaga dan melestarikan sungai, sehingga ke depannya pengelolaan sungai terencana dengan baik dalam konsep One River, One Plan, One and One Integrated Management,” ujar Pramono.

Dalam acara webinar tersebut hadir pula beberapa narasumber yaitu Widyaiswara Utama Kementerian PUPR Agus Suprapto Kusmulyono dan Hanugrah Purwadi selaku Jafung Teknik Pengairan Ahli Madya BBWS Serayu Opak.

Agus Suprapto, yang pernah menjabat sebagai Kepala BBWS Serayu Opak, memaparkan materi tentang Gotong Royong Mengelola Sungai. Dalam paparannya, ia membahas berbagai macam hal terkait pengelolaan sungai dari pengalaman yang pernah dilakukan. Dimulai dari contoh visual kondisi sungai di berbagai negara, Gerakan Restorasi Sungai Indonesia (GRSI), hingga memberikan contoh keberhasilan dalam melakukan penataan sungai yang semakin berkembang.

“Salah satu peran gotong royong masyarakat adalah mau memahami bahwa mereka harus mau berkorban. Masyarakat mau dipindah mengikuti program yang disusun dalam One River, One Plan, and One Integrated Management sudah merupakan peran gotong royong yang sangat besar,” kata Agus.

Sementara, Hanugrah Purwadi menjelaskan materi tentang Konsep Pengelolaan Sungai dalam Rangka Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air (RPSDA). Hanugrah menjelaskan berbagai macam poin tentang pengelolaan sumber daya air. Bahwa aspek pengelolaan sumber daya air sebagai sesuatu yang urgen. “Tujuan dalam pengelolaan sumber daya air yaitu mewujudkan kemanfataan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” tutur Hanugrah.

Adapun materi dengan tema “Pengelolaan Sungai Berbasis Keterpaduan Teknik Keairan dan lingkungan” disampaikan dengan oleh Djoko Legono akademisi Universitas Gadjah Mada yang juga merupakan anggota HATHI (Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia)dan IAHR (International Association for the History of Religions).

Webinar ini mendapat antusiasme yang luar biasa, diikuti oleh unsur pemerintah baik pusat maupun daerah, perguruan tinggi/akademisi, komunitas peduli sungai, swasta/badan usaha, dan stakeholders terkait lainnya. Kedepan BBWS Serayu Opak akan menyelenggarakan webinar series 2 pada bulan Oktober 2020, sampai jumpa pada series selanjutnya #SahabatSungai(put/ifn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *